Kitab Ushul As-Sunnah

Bismillah

Daurah Aqidah
(Edisi ke-1)

Pembahasan:
Kitab Ushul As-Sunnah
(Karya Imam Ahmad رحمه الله)

Bersama:
Ustadz Dr. Firanda Andirja حفظه الله

Hari, Tanggal:
Ahad, 4 Jumadal Ula 1447 / 26 Oktober 2025

Tempat: Masjid Jami’ Al-Barkah Cileungsi

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Kitab Ushul As-Sunnah
(Karya Imam Ahmad رحمه الله)

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Menuntut ilmu adalah ibadah. Allah ridha bagi penuntut ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” 

Ada beberapa makna terkait hadits ini:

● Pertama, maknanya: Para malaikat itu merendahkan diri di hadapan penuntut ilmu dan menaruh hormat padanya.

● Ada ulama pula yang mengungkapkan bahwa yang dimaksud adalah malaikat itu mendoakan para penuntut ilmu karena membentangkan sayap sama seperti membentangkan tangan untuk berdo’a.

● Ibnul Qayyim juga menjelaskan dalam Miftah Dar As-Sa’adah bahwa malaikat meletakkan sayapnya sebagai bentuk merendahkan dirinya pada penuntut ilmu serta sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan karena penuntut ilmu telah membawa warisan nabi.

■Mukadimah Mengenal ilmu akidah■

Urgensi ushulu sunnah merupakan landasan dan lebih utama untuk dipelajari. Supaya bisa beribadah kepada Allah dengan benar dan mantap.

Fokus pada nama-nama dan sifat Allah. Keutamaan ilmu ditinjau dari apa yang dipelajari.

■Akidah yang benar sesuai fitrah■

Sebagainana Allah berfirman dalam surah QS. Surat Ar Rum ayat 30 :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Fitrah adalah sesuatu yang dipasang Allah kepada seorang manusia. Seperti: seorang laki-laki menyukai wanita.

Kecenderungan manusia kepada tauhid. Mereka mengakui Allah sebagai Tuhan.

Surat Al-A’raf Ayat 172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

■ Fitrah itu bisa berubah karena faktor syubhat  dan syahwat.

Benteng dari syubhat dan syahwat terkait dengan pemikiran, yang bisa mengantarkan pada bid’ah dan kekufuran, bahkan sampai pada ateisme.

Tidak ada seorang anak lahir dilahirkan diatas fitrah, akan tetapi kedua ortunya yang menjadikan dia beragama yahudi, nasrani dan majusi.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau menjadikan dia Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” 

■ Akidah bisa berubah Karena pengaruh syaitan, fanatik dengan sesuatu dan pengaruh lingkungan.

Dalam sebuah hadits qudsi Shahih Muslim, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’” maknanya di atas fitrah, yaitu tauhid. Namun setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka, artinya menyesatkan mereka dari agama mereka (tauhid).”

Fitrah manusia itu  hanya memiliki satu Tuhan.

● Lahir dalam keadaan fitrah bukan berarti sejak lahir sudah berakidah dengan benar. Akan tetapi secara fitrah, tauhid diajarkan dengan mudah.

● Maksud manusia lahir diatas fitrah yakni  hatinya selamat, mudah menerima kebenaran, mencari kebenaran dan dia pasti muslim.

● Fitrah pasti menolong kebathilan.

¤ Fitrah dengan kebenaran seperti matahari dengan cahaya mata. Dia akan condong deengan akidah islam yang benar.

¤ Semua nabi islam.
Makna islam disini adalah tauhid.
Para rasul seperti saudara yang memiliki bapak yang sama namun lain ibu.

¤ Akidah islam secara bahasa maknanya ikatan yang kuat, yakin/pasti, kokoh, yang tidak dihinggapi keraguan.

¤ Akidah islam Menurut istilah: iman yang pasti, yang tidak tidak dihinggapi keraguan bagi yang meyakininya.

Jadi makna Akidah:
1. Mengikat dan mengencangkan dengan kuat
2. Janji
3. penekanan
4. Melazimi

Semua makna kembali pada kemantapan.
Yaitu keyakinan yang mantap yang tidak dicampuri dengan keraguan terkait perkara keyakinan tentang Ketuhanan, hari akhirat dan rukun iman lainya. Untuk itu diperlukan belajar dan praktek supaya kokoh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَ حْزَا بَ ۙ قَا لُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَ صَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖ وَمَا زَا دَهُمْ اِلَّاۤ اِيْمَا نًـا وَّتَسْلِيْمًا 
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 22)

Adapun orang munafik berkebalikan dengan orang mukmin.

■ Akidah yang benar sebagai pondasi/ praktek ilmu dalam beribadah.

■Urgensi Ilmu akidah:■

1. Pokok-pokok agama / syarat diterimanya amal

● Iman dan amal

2. Akidah adalah tauhid

Semua nabi menyeru pada tauhid termasuk nabi nuh, nabi shaleh dan seluruh nabi diisyaratkan seperti saudara (1 bapak beda ibu).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِ ذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya dan menunjukkan ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 16)

3. Akidah Sebab bahagia dunia dan akherat.
 
Orang yang punya aqidah yang kuat akan mudah mengakui semuanya dari Allah. Agar tidak terjerumus pada aqidah yang keliru, sehingga membuat dia bahagia di dunia dan akherat.

4. Syarat memperoleh kekuasaan.

Sukses menjadi penguasa di muka bumi.

Surat An-Nur Ayat 55:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

5. Orang yang berakidah benar akan terlindungi dari Khurafat dan syubhat.

6. Akidah adalah Pondasi amal shaleh.

Semangat dalam beramal shaleh, seperti: rajin shalat dhuha, tahajud, rajin bersedekah, berbakti kepada kedua ortu dan semua amal kebaikan lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.” 

Allah akan menghisab dia secara langsung.
Kalau imannya kuat, pelitnya akan kecil. Dan sebaliknya kalau tauhidnya kurang, dia akan menjadi orang yang pelit (perhitungan).

■Keistimewaan ilmu akidah islam:■

1. Akidah Sumbernya dari Allah
Akidah islam Berdasarkan dari dalil Al Qur'an dan As-Sunnah.

Akidah itu gaib. Bukan karangan manusia, tidak bisa diterka-terka, bukan seperti mimpi, khalayan, pengalaman, dan lain-lain.

Surat Al-An’am Ayat 153:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa."

2. Akidah islam Lengkap/sempurna/ komprehensif (mencakup segala aspek kehidupan).

● Seperti proses janin dalam rahim hingga menjadi bayi, kehidupan alam barzah hingga sampai kehidupan akherat (surga dan neraka) serta 6 rukun iman dan cabang-cabangnya.

● Konsekuensi nabi terakhir: agamanya lengkap (syariat dan akidahnya sempurna).

3. Saling melengkapi, tidak ada kontradiksi.
Baik fikihnya maupun akidahnya.

Al Qur'an diturunkan oleh Allah dan disampaikan kepada malaikat jibril.

Surat Al-Baqarah Ayat 97:

قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

" Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman."

Allah  memuji Nabi Muhammad dengan pujian yang tidak pernah diberikan kepada orang selainnya.

Allah memuji akalnya: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru.” (QS.An-Najm:2)

Allah memuji penglihatannya: “Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS.An-Najm:17)

Allah memuji lisannya: “Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya.” (QS.An-Najm:3)

Allah memuji hatinya: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS.An-Najm:11)

¤ Contoh iman kepada takdir.

● Menurut Imam ahmad: takdir itu adalah kekuasaan Allah.

● Sangat mudah bagi Allah untuk melakukan segala sesuatu. Semua yang terjadi sesuai dengan konsep Allah.

4. Tengah (moderat).
Akidah islam berada di tengah. Jika dibandingkan dengan agama lain dan firkah-firkah sesat.

● Yahudi: mereka mencela para nabi. Seperti: Mereka mengatakan Nabi Nuh mabuk dan menggauli putri-putrinya. Nabi sulaiman musyrik, Nabi daud berzina dengan seorang wanita, nabi Harun ikut-ikutan dengan proses pembuatan sapi. Bahkan mereka membunuh para nabi.

● Nasrani: Nabi Isa terlalu diagungkan dan menjadikan nabi Isa sebagai Tuhan.

● Islam: Nabi Muhamad adalah seorang hamba Allah dan rasul yang menyampaikan risalah dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya.

● Ibnu Taimiyah: Ahlu sunnah berada ditengah fikrah-fikrah yang ada diantara agama yang lain.

■ Terhadap hal-hal yang haram:

● Yahudi: Tidak akan pernah berubah.

● Nasrani: akan berubah-berubah. Tuhan-tuhan selain Allah. Kalau ulama mereka  mengatakan haram, mereka ikutan mengatakan haram. Dan jika ulama mereka mengatakan halal, mereka akan  ikut-ikutan juga mengatakan halal.

● Islam: syariat itu hak Allah dan RassulNya.

■ Dilihat dari Materilistik/dunia:

● Agama itu diperoleh untuk akherat.
Agama adalah gabungan antara materi / fisik dan rohani. Contoh: mereka bisa jadi seorang pejabat yang mulia disisi Allah.

Contoh kisah:
Abu Darda berlebih-lebihan dalam akherat ditegur oleh sahabat Salman Al farizi.

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).

Ahlu sunnah berada di tengah diantara aliran/ firkah-firkah sesat, seperti: mu'tazillah, syiah, murjiah dan aliran sesat lainnya.

● Fungsinya: Menjaga umat untuk tidak ghuluw / tidak berlebih-lebihan.

5. Kokoh untuk seluruh zaman.

● Tidak menerima itjihad karena ini masalah keyakinan.

● Tidak menerima pengembangan akidah, tapi menjelaskan yang lebih detail hukum-hukum syariat.

6. Tidak menerima pembaharuan dalam akidah dan tidak menerima perubahan.

Seperti: pemikiran yang sesat mengatakan semua agama masuk surga.

● Akidah bukan urusan khalifah, pendeta, dan lain-lain.

■Sejarah Ilmu Akidah■

■Faktor-faktor Ilmu Akidah■

1. Wasiat nabi untuk berpegang teguh dengan alquran dan As sunnah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

■Pembukuan Al Qur'an dan Hadits■

Dalam Al qur'an dan hadist banyak perkara tentang akidah agar tidak tersesat. Karenanya di zaman Khalifah Utsman Bin Affan Al qur'an dibukukan dan Pembukuan hadits di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Pembukuan hadits adalah bagian dari penjagaan terhadap hadits Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam yang berarti penjagaan terhadap kemurnian syariat Islam yang bersumber pada hadits-hadits.

Pembukuan hadits melewati 3 tahap secara umum:
• Penulisan Hadits.
• Pengumpulan hadits
• Pembukuan hadits.

■ Khawarij
Khawarij muncul ketika mereka membelot dan keluar (khuruj) dari pasukan Ali bin Abi Thalib ketika terjadi peristiwa tahkim antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu anhuma.

■ Kemudian Syiah
Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan.

Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya.

Mereka terbagi menjadi tiga golongan:
• Golongan yang menganggap Ali sebagai Tuhan.

Dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah (dibakar), akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabda:
من بدل دينه فاقتلوه
Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia

● Golongan Sabbah (pencela). Ali mendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya.

● Golongan Mufadhdhilah, yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,
خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر
Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”.

■ Mu'tazillah (Hasan Al Bashri). Mereka mengatakan nasib pelaku dosa besar.

Mu’tazilah dari kata اعتزل yang artinya adalah meninggalkan, karena pendirinya yaitu Wasil bin Atha’ meninggalkan majelisnya Hasan Al-Bashri.

Sebelumnya dia bertanya kepada Hasan Al-Bashri bagaimana kedudukan dia (pelaku dosa besar) kemudian Hasan Al-Bashri menjawab dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

Dia adalah seorang yang fasiq kemudian Wasil bin Atha’ tidak menyetujui dan mengatakan dia berada diantara dua manzilah sehingga kemudian dia meninggalkan Hasan Al-BashrI.

Dan sejak saat itu dinamakan dengan al-mu’tazilah karena dia dan juga pengikutnya meninggalkan majelisnya seorang ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah di zamannya yaitu Hasan Al-Bashri.

Orang-orang mu’tazilah mengatakan bahwasanya dia bukan Islam tapi juga bukan kafir artinya keluar dari agama Islam tetapi tidak masuk kepada kekafiran.

Dia di sebuah manzilah bainal manzilatain, manzilah yang pertama manzilatul Islam kemudian manzilah yang kedua adalah manzilatul kufr, dia ada di sebuah kedudukan diantara dua manzilah, dia bukan muslim dan bukan kafir. 

■Jahmiyah dan murji'ah■
Mereka menolak sifat-sifat Allah.

Dan antara orang-orang murji’ah dan jahmiyah, ini dalam satu pihak. Karena orang-orang murji’ah dan jahmiyah sama-sama meyakini bahwasanya pelaku dosa besar muslim sempurna keimanannya.

Al-jahmiyyah ini termasuk murji’ah di dalam masalah ini, karena jahmiyyah keyakinan mereka iman itu adalah suatu yang berada dalam hati, membenarkan dalam hati itu dinamakan dengan iman, ucapan hati itulah iman, dan ini adalah murji’ah. 

Bahkan dia adalah murji’ah yang paling parah keadaannya, sehingga orang-orang jahmiyyah itu dalam masalah ini. Dia termasuk murji’ah tapi tidak semua murji’ah masuk dalam jahmiyah. Dari sisi ini murji’ah lebih umum, setiap yang mengakhirkan amalan dari iman maka dia murji’ah.

● Banyaknya bermunculah fikrah-fikrah sesat itu, Sehingga bertumpuklah bid'ah. Puncaknya di zaman Iman ahmad, mereka menyebut al qur'an itu makhluk.

● Muncullah berbagai fikrah sesat, maka munculah tulisan-tulisan sebagai bantahan-bantahan.

2. Munculnya banyak bid'ah dan perpecahan, seperti khawarij, jabariyah, qadariyah, mu'tazillah dan lain-lain.

3. Interaksi kaum muslim dengan agama lain, dengan nasrani dan yahudi. Agar tidak terpengaruh dengan pemikiran agama lain.

Allâh Azza wa Jalla  memberitakan perkataan sombong Fir’aun:

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٢٣﴾ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ ﴿٢٤﴾ قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ ﴿٢٥﴾ قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ ﴿٢٦﴾ قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ

Fir’aun bertanya,”Siapa Rabb semesta alam itu?” Musa menjawab,”Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa saja yang di antara keduanya (Itulah Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”.  Fir’aun berkata kepada orang-orang sekelilingnya,”Apakah kamu tidak mendengarkan?”Musa berkata (pula),”Rabb kamu dan Rabb nenek-nenek moyang kamuyang dahulu”.  Fir’aun berkata,”Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.”

4. Diterjamahkannya buku-buku filsafat

● Berpengaruh dengan akidah islam.

■Penulisan Buku Akidah■

1. Tersebarnya dalam buku hadist.

2. Pembahasan dalam buku akidah shahih bukhari.

- Bab-bab tertentu dalam kitab-kitab hadits
- Kitab bantahan

Dalam shahih bukhori:
Kitab iman, kitab tauhid.

3. Kemudian turunlah buku-buku akidah.

Ulama membantah buku-buku tertentu, isinya matan.

4. Ditulis lebih spesifik lagi buku-buku akidah.

● Muncul juga Kitab-kitab akidah dengan istilah sunnah.

● Makna as-sunnah secara syar’i, yaitu dalam istilah para ulama, artinya adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dimaknai dengan makna umum, baik itu perkara yang wajib atau yang selainnya, menurut ahli bahasa dan ahli hadis.

● Secara bahasa, sunnah artinya as-sirah (perjalanan) hidup atau thariqah (cara hidup).

● Menurut fuqaha / ulama fiqih: siapa yang mengerjakan dapat pahala dan ditinggalkan tidak berdosa. Semua ibadah yang tidak wajib.

● Dan terkadang juga, maksud as-sunnah adalah lawan dari bid’ah, sebagaimana dalam perkataan ulama: Fulan adalah ahlussunnah. Berdasarkan al qur'an dan sunnah.

■Ushulu Sunnah■

Nama kitab ini adalah Ushulu Sunnah & yang dimaksud dengan Ushul adalah jamak dari ashlun yg artinya adalah pondasi/pokok/asas maksudnya adalah sesuatu yang menjadi yang bercabang dari nya yg lain, disana ada cabang ada pokok.

Maka yang dimaksud dengan pokok adalah sesuatu yang bercabang dari nya yang lain atau yang menjadi tumpuan yang lain.

Jumlahnya lebih dari 250 kitab dengan nama  sunnah.

Diantara Buku-buku dengan judul sunnah:
1. Risalah sunnah
2. As sunnah waljamaah
3. As sunnah
4. Syarhu As-Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahariy.
5. Ushulu sunnah karya imam ahmad, dll

■ Buku kedua tentang akidah: Asyari'ah.

■ Buku ketiga tentang akidah: buku Ushuludin

Istilah lain aqidah adalah ushuludin.
Tanpa mencampakkan yang furu’.
Abu Hasan Al Asyari menjelang akhir hidup menulis buku al ibanah ushuludin.

● Akidah saya adalah akidah imam ahmad.

Akidah Imam Ahmad bin Hanbal adalah akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah (hadis) yang shahih, mengikuti jejak para sahabat Nabi, menolak segala bentuk bid'ah dan debat kusir, serta beriman pada takdir dan hal-hal gaib lainnya yang disebutkan dalam dalil-dalil syar'i. Ia juga mempercayai bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (firman Allah) dan bukan makhluk. 

■ Buku akidah: I'tiqad
● Imam bukhari, iman Syufan Atsauri.
● Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan.
● Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah.

■ Buku akidah dengan nama tauhid:
● Buku Ibnu Khuzaimah

■ Buku akidah Al Fikh Al Akbar.
● Buku Imam Abu Hanifah

■ Buku akidah dinisbahkan dengan nama tempat.
Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

■ Akidah yang benar itu sesuai dengan sanad.

- Buku-buku lain tanpa sanad.
- Tanpa penjelasan dalam bentuk matan.
- Dalam bentuk penjelasan (syarah).

5. Kitab-kitab khusus permasalahan tertentu.

■ Allah berbicara dengan huruf dan suara.

Dalil-dalil dan atsar para salaf telah menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara dan huruf.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يحشر الله العباد فيناديهم بصوت يسمعه من بعد كما يسمعه من قرب أنا الملك أنا الديان

Artinya: “Allah akan mengumpulkan hamba-hamba pada hari kiamat, kemudian Allah memanggil mereka dengan suara yang terdengar dari jarak jauh seperti suara yang terdengar dari jarak dekat: Aku adalah Al-Malik (Maharaja), Aku adalah Ad-Dayyaan (Maha Membalas)…”

■ Pembahasan Ilmu Akidah■

● Permasalahan inti: Masalah iman

- Masalah 6 rukun iman.
Iman kepada Allah, Malaikat, kitab, Rasul, hari akhir, dan Iman kepada takdir.

Contoh: nabi mengajarkan orang arab badui.

● Perbedaan iman dan ihsan.

● Hukum pelaku dosa

● Pembatal keimanan.
Harus Berpegang teguh dengan sunnah nabi.

- Sempurna syariat
- Pengagungan terhadap nabi/ hak nabi
- Bagaimana tentang sisi pendalilan dan sudut pandang sunnah.
- Bahaya bid'ah.
- Tentang aliran sesat atau fikrah-fikrah sesat.
- Plularisme, sekularisme, atheisme, liberasme, reinkarnasi dan semuanya merusak akidah.

- Tentang perbandingan agama, yang sudah rusak kaum yahudi dan nasrani, serta agama buatan (hindu, budha, dll.)

Contoh: Sahabat Muadz bin jabbal diutus oleh nabi untuk mengajarkan akidah yang benar.

● Harus diutus para ulama yang ahli akidah untuk memberikan penjelasan tentang akidah yang benar.

● Adapun masalah bid'ah untuk dijauhi.
- Keburukan untuk dijauhi.

Dengan mengenal akidah yang benar, kita akan Semakin tegar diatas sunnah.

■ Terakhir: keutamaan para sahabat

Para sahabat adalah Sanad al qur'an dan hadist yang benar.

- Banyak akidah dibangun diatas hadits-hadits ahad.

- Karena ada ghuluw atau berlebih-lebihan dan banyak yang mentakwil ayat-ayat (tafsir kebatilan).

● Membantah aliran-aliran sesat seperti khawarij, syiah, mu'tajillah, dll.

● Hadist Mutawatir: hadist pasti dari nabi, tapi ditolak..seperti: diiingkari oleh khawarij.

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayahNya. Allah istiqamahkan kita dalam berpegang teguh diatas akidah yang benar sesuai Al Qur'an dan As Sunnah hingga ajal menjemput. Aamiin.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts