Daurah Aqidah (Edisi ke-3) Pembahasan: Kitab Ushul As-Sunnah
Bismillah
Daurah Aqidah
(Edisi ke-3)
Pembahasan:
Kitab Ushul As-Sunnah
(Karya Imam Ahmad رحمه الله)
Bersama:
Ustadz Dr. Firanda Andirja حفظه الله
Hari, Tanggal:
Sabtu, 7 Dzulqa'dah 1447 / 25 April 2026
Waktu:
Pukul 08:00 - 11:00 WIB
Tempat: Masjid Jami’ Al-Barkah Cileungsi
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Kitab Ushul As-Sunnah
(Karya Imam Ahmad رحمه الله)
Pondasi berakidah yang benar adalah mengikuti pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum, yang juga dikenal sebagai manhaj Salafus Shalih. Ini merupakan jalan yang lurus dan selamat.
Sebagaimana Imam ahmad mengatakan pondasi dalam berakidah yaitu mengikuti dan meneladani para sahabat.
Berpegang Teguh dengan Jalannya Sahabat
Keutamaan sahabat
Inilah jalannya Rasulullahu dan para sahabat.
Allah Subhānahu wa Ta’ālā isyaratkan dalam firman-Nya:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas ilmu, aku beserta orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”
Orang-orang yang mengikuti Nabi yang dimaksud dalam ayat ini adalah para sahabat mereka juga berdakwah bersama Nabi ﷺ.
Perbedaan mendasar Ahlus sunnah dan ahli bid'ah.
● Seluruh bid'ah (firkah-firkah yang menyimpang) pasti menyelisihi dan keluar dari metode manhaj para sahabat.
● Selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah Ta’ala. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi.
Dalil-dalil dalam Alqur'an:
Allah ta’ala berfirman:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa: 115).
Surat Al-Baqarah Ayat 137:
فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا۟ ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّمَا هُمْ فِى شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Surat Yusuf Ayat 108:
قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".
Para sahabat tegas dengan orang kafir dan mereka saling menyayangi satu sama lain.
QS. Al-Fatḥ: 29
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud. Mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.”
Nabi bahagia melihat hasil didikannya berhasil.
Surat At-Taubah Ayat 100:
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."
Syarat diridhai Allah dan masuk surga harus mengikuti jalannya para sahabat. Kita disuruh mengikuti umat terbaik. Allah menguji sahabat, maka kita harus mengikutinya.
Surat Ali ‘Imran Ayat 110:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
Dalil-dalil dari hadist mengutamakan sahabat:
Solusi selamat dari perselisihan:
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau, dan mati dalam keadaan muslim. Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Merekalah manusia yang paling paham tentang Al-Qur’an, karena mereka telah mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi Bersabda: "Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.”
Nash khusus:
Nabi bersabda: "Ikutilah dua orang setelahku dari sahabatku: Abu Bakar dan Umar."
Syarat selamat dari neraka adalah mengikuti jalannya para sahabat.
Hadis Iftiraq al-Ummah dan Golongan yang Selamat
Jalan Nabi dan para sahabat inilah yang datang dalam hadis tentang iftirāq al-ummah / terpecah-pecahnya umat ini.
Kata Nabi ﷺ:
تَفْتَرِقُ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفْتَرِقُ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً
“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu.”
Maka para sahabat bertanya:
مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ / مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟
“Siapa kelompok yang selamat itu, wahai Rasulullah?”
Dalam riwayat, Nabi ﷺ menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“Yaitu orang-orang yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.”
Inilah jalan keselamatan jalan yang ditempuh oleh Nabi, dan diperinci lebih jelas lagi oleh para sahabat. Jalan inilah yang dikenal dengan Manhaj al Salaf, yang kemudian diikuti oleh generasi berikutnya yang dikenal dengan al-qurūn al-mufaḍḍalah generasi yang dimuliakan oleh Nabi ﷺ.
Mereka (para sahabat) adalah orang yang pertama kali yang mempraktekan semua yang disampaikan Allah dan RasulNya.
Ibnu taimiyah mengatakan merekalah yang pertama kali yang membenarkan, mereka yang pertama kali berilmu, mereka yang pertama kali mengamalkan dan yang pertama mendakwahi. Maka mencela sahabat berarti mencela agama.
■ Poin pentingnya adalah para sahabat adalah standar keselamatan.
1. Sahabat pertama kali Beriman
2. Sahabat pertama kali Berilmu
3. Sahabat pertama kali Mempraktekan (mengamalkan)
4. Sahabat pertama kali mendakwahi
■ Mereka yang paling paham terhadap agama.
● Belajar langsung dengan nabi.
● Mereka lebih mengerti tujuan syariat
● Langsung dibimbing oleh Allah dan nabi. Jika berbuat salah, Allah langsung menegur sahabat. Allah juga langsung memuji sahabat yang disampaikan dalam al qur'an.
Beberapa contoh kisah yang dilakukan sahabat:
● Cerita mengeluarkan air mani yang dikeluarkan diluar rahim tidak dilarang Alllah.
Pendapat pertama yang membolehkan ‘azl (mengeluarkan diluar) secara mutlak berdalil dengan hadits Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ
“Kami dahulu pernah melakukan ‘azl di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Qur’an turun ketika itu”
● Shalat keluar darah tidak membatalkan shalat.
Kisah sahabat 'Abbad bin Bisyr kena anak panah pada Perang Dzat Ar-Riqa'. Saat perjalanan pulang, Rasulullah memerintahkan agar ada penjaga di celah bukit. 'Abbad bin Bisyr dan Ammar bin Yassir berbagi tugas. 'Abbad meminta Ammar tidur lebih dulu agar dia bisa berjaga sambil menunaikan shalat malam.
Saat shalat, 'Abbad membaca surat Al-Kahfi dengan suara yang merdu. Seorang musuh datang dan melepaskan anak panah yang menancap di tubuh 'Abbad. 'Abbad tidak memutus shalatnya dan hanya mencabut panah tersebut, lalu melanjutkan bacaan Al-Kahfi.
Hal ini terjadi hingga tiga kali. 'Abbad mencabut panah-panah tersebut satu per satu dan tetap menyelesaikan shalatnya karena tidak ingin memutus bacaan surat yang sedang dibacanya.
Setelah selesai shalat, 'Abbad membangunkan Ammar. Saat Ammar melihat 'Abbad berlumuran darah, ia terkejut dan menegur (protes) dengan berkata, "Subhanallah! Mengapa kamu tidak membangunkan aku ketika kamu dipanah yang pertama kali?".
'Abbad menjawab, "Saat itu aku tengah membaca Surat al-Kahfi. Aku tidak ingin rukuk sebelum menyelesaikan surat itu. Demi Allah, andai saja aku tidak mengkhawatirkan lembah ini (takut tugas jaga terabaikan), aku tidak akan menyelesaikan shalatku sebelum membaca Surat al-Kahfi seluruhnya,".
Kisah ini menunjukkan kecintaan yang luar biasa dari sahabat Nabi terhadap Al-Qur'an dan kekhusyukan dalam shalat, bahkan di situasi hidup dan mati.
2 fase keburukan: masa jahiliyah dan puncak keemasan.
● Menggabungkan keburukan secara terperinci dan kebenaran secara terperinci.
● Tidak ada yang bisa mengungguli para sahabat.
Kisah Raja Najasyi dan Ja'far bin Abi Thalib
(Raja Najasi saat memanggil Ja'far bin Abi Thalib)
Ja’far bin Abi Thalib, “Wahai Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, keamanahannya dan sangat memelihara diri.
Dia mengajak kami agar beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia juga memerintahkan kepada kami agar jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, meninggalkan perbuatan keji, memelihara darah, dan melarang kami dari berkata dusta, memakan harta anak yatim, menuduh wanita yang shalihah dengan perbuatan zina serta memerintahkan kami agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan.
Maka kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dibawanya dari sisi Allah. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Wahai Raja, ketika kaum kami mengetahui tentang apa yang kami lakukan, mereka memusuhi kami, menyiksa kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang, dan agar kami kembali menyembah berhala.
Maka tatkala mereka terus menekan kami, memaksa kami, akhirnya kami memilih engkau dari yang lainnya dan kami sangat berharap engkau berbuat baik kepada kami dan tidak menzalimi kami.”
Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’afar, “Apakah engkau memiliki apa yang dibawa oleh Nabimu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Raja Najasyi memerintahkan, “Bacakanlah untukku!” Ja’far pun membaca surat maryam.
Ketika mendengar ayat tersebut, menangislah Raja Najasyi, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Menangis pula para menterinya, sehingga basah buku-buku mereka. Dan Najasyi berkata, “Sesungguhnya, apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam merupakan satu sumber.” Najasyi menoleh kepada Amru bin Ash dan berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, mereka tidak akan aku serahkan kepada kalian!”
Ketika kami keluar dari Istana Najasyi, Amru bin Ash mengancam kami dan berkata, “Demi Allah, besok pagi aku akan menemuinya lagi. Akan aku kabarkan dengan satu berita yang bisa membuatnya marah.”
Maka keesokan harinya, mereka kembali menemui Raja Najasyi dan berkata, “Wahai Raja, sesungguhnya orang yang engkau lindungi itu mengatakan tentang Isa, suatu perkataan yang besar!”
Raja Najasyi kembali memanggil kami, hingga kami merasa khawatir dan takut. Sebagian kami bertanya-tanya, “Apa yang akan kita katakan kepadanya tentang Isa bin Maryam?” Akhirnya kami bersepakat untuk mengatakan tentang Isa, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kembali menunjuk Ja’far sebagai juru bicara.
Kemudian kami datang untuk menemui Najasyi. Kami dapatkan Amru bin Ash telah berada di sana bersama temannya. Bertanyalah Najasyi, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”
Ja’far menjawab, “Kami mengatakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Nabi kami.”
Najsyi berkata, “Apa yang dia katakan?”
Ja’far menjawab, “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya Ruh-Nya, kalimat-Nya, yang Dia berikan kepada Maryam yang suci.”
Mendengar hal tersebut, Najsyi memukul meja sembari berkata, “Demi Allah, apa yang dikatakannya sesuai dengan keadaan Isa bin Maryam.
Pergilah kalian dengan aman. Siapa yang mencela kalian, dia adalah orang yang merugi. Dan siapa yang mengganggu kalian, dia akan disiksa.” Kemudian Najasyi berkata kepada para menterinya, “Kembalikanlah hadiah-hadiah itu kepada dua orang ini, karena aku tidak butuh kepadanya.” Akhirnya keduanya keluar dengan perasaan sedih, karena tidak berhasil melaksanakan apa yang mereka niatkan.
Imam Syafi'i: "Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memuji dan menyanjung sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Al-Qur’an, Taurat, dan Injil. Kelebihan mereka pun telah disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mungkin bisa dicapai oleh orang-orang sesudah mereka."
Menurut pandangan Imam Syafi'i, mencintai dan memuji para sahabat adalah bentuk keimanan dan kewajiban seorang muslim karena Allah dan RasulNya telah memuji mereka secara langsung. Mereka melihat langsung nabi, sehingga mereka tahu apa yang diinginkan rasulullahu. Maka sahabat unggul diatas kita.
Pendapat sahabat begitu tinggi dimata imam syafi'i.
Contoh hukum warisan:
Pendapat dan ijtihad Zaid bin Tsabit dalam bidang waris (faraid) dijadikan rujukan utama dan diikuti oleh para imam mazhab, khususnya Imam Malik dan Imam Syafi'i. Zaid bin Tsabit dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad yang paling ahli dalam ilmu waris.
Imam Syafi'i mengatakan: Ketika qiyas menyelisihi sahabat, maka qiyas saya tinggalkan.
Imam Asy Syafi’i berkata,
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي
“Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”
Imam Syafi’i juga berkata,
إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ
“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”
Poin-Poin Penting Pandangan Imam Syafi'i tentang Sahabat:
(Imam syafi'i umur 15 tahun sudah menjadi mufti.)
• Keunggulan Sahabat: Imam Syafi'i memuji para sahabat dalam berbagai karyanya dan menegaskan bahwa mereka adalah generasi terbaik, terilmui, dan paling memahami apa yang diinginkan oleh Rasulullah.
• Melihat Langsung Nabi: Karena mendampingi Nabi dan melihat beliau langsung, para sahabat mengetahui situasi yang sebenarnya, memahami konteks wahyu, dan mengetahui apa yang disukai maupun dibenci oleh Rasulullah.
• Sahabat adalah Sandaran: Imam Syafi'i memandang pendapat para sahabat sebagai hujjah (dalil) yang kuat dan wajib diikuti oleh generasi berikutnya, terutama ketika tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka.
• Kecintaan dan Ilmu: Sahabat adalah generasi yang paling tinggi kesalehannya dan paling bersih hatinya, sehingga perkataan dan perbuatan mereka didahulukan atas pendapat generasi setelahnya.
Jangan mencela sahabat!
Rasulullah menegur Khalid bin Walid terkait Abdurrahman bin Auf. Terjadi perselisihan di mana Khalid bin Walid sempat mengucapkan kata-kata yang kurang baik kepada Abdurrahman bin Auf (terkait dengan peristiwa sebelum mereka masuk Islam).
Nabi pun menegur Khalid dengan bersabda: "Jangan pernah kau cela sahabatku, hai Khalid. Demi Allah, andai kau infakkan emas segunung Uhud, takkan bisa menyamai segenggam kurmanya!".
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar para sahabat yang mendahului dalam Islam (As-Sabiqunal Awwalun), khususnya Abdurrahman bin Auf. Bahwa tingkat keimanan dan pengorbanan di masa awal islam tidak tertandingi oleh amal setelahnya.
Keistimewaan Sahabat Umar bin Khattab
Ide atau pendapat Umar bin Khattab sering kali dicocokkan atau disetujui oleh Allah. Hal ini merujuk pada fenomena dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai Muwafaqat Umar (kesesuaian pendapat Umar dengan wahyu).
Lisan Umar adalah kemampuannya untuk berkata jujur dan mengambil keputusan yang lurus sesuai syariat.
Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran di lisan dan hati Umar".
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam wassalam mengatakan:
إِيهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
“Wahai Ibnul Khaththab (Umar), demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu syaitanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong, melainkan syaithan akan mencari jalan yang lain selain yang kamu lalui.”
Contoh Keistimewaan Sahabat Umar:
■ Kisah Umar pada perang badar.
Saran Tegas Umar bin Khattab Terkait Tawanan di Perang Badar. Setelah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar, Rasulullah meminta pendapat para sahabat mengenai 70 orang tawanan Quraisy yang ditangkap.
Umar mengusulkan sikap tegas. Beliau berpendapat agar para tawanan tersebut dibunuh saja. Alasannya karena menganggap tawanan tersebut adalah pemimpin kafir Quraisy yang menjadi otak penggerak perlawanan terhadap Islam. Umar khawatir jika dibiarkan hidup, mereka akan kembali membocorkan informasi dan memerangi umat Muslim
Setelah itu, turunlah Wahyu Membenarkan Umar. Rasulullah awalnya cenderung menerima pendapat Abu Bakar. Namun, keesokan harinya, turun wahyu Al-Qur'an melalui Surah Al-Anfal ayat 67-68 yang mendukung pandangan tegas Umar bin Khattab.
Artinya: "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)..." (QS. Al-Anfal: 67).
Sikap Nabi Setelah Wahyu Turun: Rasulullah dan Abu Bakar duduk menangis karena Allah menegur keputusan menerima tebusan. Kejadian ini mengukuhkan keistimewaan Umar sebagai sahabat yang memiliki firasat dan visi yang kuat dalam membela kepentingan Islam.
■ Salah satu kisah masyhur terkait usulan Umar mengenai hijab atau penutupan aurat bagi istri-istri Nabi. Agar para wanita berhijab.
Umar bin Khattab merasa khawatir karena situasi di mana istri-istri Nabi sering berbaur dengan orang-orang yang beragam saat keluar rumah atau di dalam rumah, baik yang baik maupun yang jahat. Hal ini memicu kekhawatiran Umar akan keselamatan dan kehormatan istri-istri Nabi.
Umar berkata kepada Nabi Muhammad: "Wahai Rasulullah, seandainya engkau memerintahkan istri-istrimu untuk berhijab (menutup diri)." Umar menekankan pentingnya hijab untuk menjaga kehormatan.
Tidak lama setelah usulan tersebut, Allah menurunkan wahyu untuk membenarkan pendapat Umar. Ayat-ayat tersebut memerintahkan istri-istri Nabi (dan kemudian seluruh muslimah) untuk berhijab guna menjaga kesucian hati dan kehormatan, yang tercantum dalam Surah Al-Ahzab ayat 53 dan 59.
■ Makam ibrahim dijadikan tempat shalat.
Umar pernah berkata kepada Rasulullah, "Bagaimana jika kita menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?" Tidak lama kemudian, Allah menurunkan wahyu yang mendukung usulan tersebut dalam QS. Al-Baqarah: 125, yang berbunyi: "...Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat...".
Peristiwa ini menunjukkan keistimewaan Umar yang memiliki pandangan tajam dan sesuai dengan kehendak Allah, sehingga usulannya diabadikan menjadi syariat dalam ibadah haji dan umrah.
Pentingnya Maqam Ibrahim: Tindakan Umar menekankan kemuliaan Maqam Ibrahim, yaitu batu pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah, yang kini disunnahkan untuk shalat dua rakaat setelah tawaf di belakangnya.
■ Keistimewaan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu terkait perkataannya, "Bisa jadi RabbNya akan menyuruh menceraikan istri-istri mereka"
Perkataan Umar bin Khattab ini terucap ketika istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan tindakan yang membuat Nabi marah. Umar menegur mereka dan berkata, "Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu...".
Tidak lama kemudian, Allah Subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat yang isinya persis dengan ucapan Umar tersebut (QS. At-Tahrim ayat 5).
■ Kisah Umar bin Khattab yang menahan Rasulullah untuk tidak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin kaum munafik).
Ketika Abdullah bin Ubay (tokoh munafik paling berbahaya di Madinah) wafat, anaknya (yang saleh, bernama Abdullah juga) meminta baju Nabi untuk kafan dan meminta Nabi menshalatinya. Saat Nabi bersiap menshalati, Umar bin Khattab berdiri dan menahan Nabi, memegang baju beliau, dan bertanya dengan tegas: "Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkan musuh Allah ini? Bukankah ia telah melakukan begini-begini (menyebutkan dosa-dosanya)?".
Umar sangat paham bahaya yang ditimbulkan Abdullah bin Ubay terhadap umat Islam (seperti fitnah keji, konspirasi pembunuhan, dan membelot di perang Uhud). Umar tidak ingin sosok munafik yang merusak Islam dihormati dengan shalat jenazah.
Umar berdiri di depan dada Rasulullah untuk menghalanginya sampai ayat Allah turun. Nabi sempat menjawab bahwa beliau diberi pilihan untuk menyalatkan atau tidak, dan bersabda akan menambah istighfar lebih dari 70 kali. Namun, Umar terus bertahan, hingga akhirnya turun wahyu.
Setelah perdebatan tersebut, Allah menurunkan surah At Taubah Ayat 84, yang membenarkan sikap Umar, yaitu:
“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik,”
Setelah ayat ini turun, Rasulullah tidak pernah lagi menshalatkan orang munafik dan tidak pernah lagi berdiri di kuburan mereka.
Poin penting tentang keistimewaan Umar bin Khattab:
• Kesesuaian dengan Al-Qur'an: Beberapa pandangan Umar bin Khattab mengenai suatu perkara diabadikan dalam ayat-ayat Al-Qur'an, menunjukkan kebenaran pendapatnya.
• Makna Al-Faruq: Umar mampu membedakan dengan tegas antara yang benar dan salah karena bimbingan Allah dalam hatinya.
• Keistimewaan Sahabat: Hadis ini menjadi bukti keutamaan besar bagi Umar bin Khattab di antara para sahabat Rasulullah.
■ Keistimewaan Sahabat Saad bin Mu'adz: Dalam peristiwa bersejarah Perang Bani Qurayzhah pada tahun 5 Hijriah (sekitar 627 M). Saad bin Mu'adz, pemimpin suku Aus, ditunjuk sebagai hakim untuk memutuskan nasib Bani Qurayzhah setelah mereka melanggar perjanjian damai (Konstitusi Madinah) dengan bersekutu dengan kaum kafir Quraisy dalam Perang Khandaq.
Putusan Saad: "Aku memutuskan bahwa laki-laki dewasa mereka dihukum mati, wanita dan anak-anak ditawan, harta mereka dibagikan [sebagai ghanimah atau harta rampasan perang]".
Reaksi Rasulullah: Mendengar putusan tersebut, Rasulullah bersabda: "Sungguh engkau telah menetapkan keputusan atas mereka sesuai dengan hukum Allah 'azza wa jalla".
Diantara dalil- dalil logis dan keistimewaan para sahabat yang telah disebutkan diatas menunjukan mereka berhasil menjadi didikan nabi. Konsekuensinya adalah para sahabat harus diikuti. Karena sahabat adalah ring 1 dari nabi Muhammad.
Tidak ada satu pun sahabat yang mengikuti aliran-aliran yang menyimpang. Mereka selamat dari firqah-firqah sesat.
Firqah-firqah yang menyelisihi para sahabat.
1. Khawarij
Khawarij adalah salah satu golongan dari tubuh umat islam yang mengkafirkan pelaku dosa besar dan keluar dari pemerintahan yang sah.
Khawarij Mengkafirkan para sahabat, yaitu kelompok khalifah Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa al-Asy'ari, Amr bin Ash, dan semua yang setuju dengan hukum keduanya.
Mereka mengkafirkan siapa saja yang setuju dengan tahkim (perundingan) antara pihak Ali dan Muawiyah, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah (La hukma illa lillah).
Kelompok yang dikafirkan Khawarij mencakup pengikut Ali, pengikut Muawiyah, serta mereka yang terlibat dalam Perang Jamal (Thalhah, Zubair, dan Aisyah radhiyallahu 'anhum).
Khawarij beranggapan bahwa menerima tahkim sama dengan meninggalkan hukum Allah, yang menurut pemahaman literal mereka, pelakunya menjadi kafir.
Sebagian kelompok Khawarij awal tetap mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, namun mengkafirkan Utsman (di akhir masa jabatannya) dan Ali. Akibat keyakinan ini, mereka menghalalkan darah para sahabat tersebut. Tokoh mereka, Ibnu Muljam, bahkan membunuh Ali bin Abi Thalib.
Tidak ada satupun dari sahabat yang menjadi khawarij.
Khawarij berdalil al qur'an dan mengkafirkan sahabat.
Membaca Al-Qur'an Tidak Sampai ke Hati:
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa akan muncul kaum yang membaca Al-Qur'an, namun bacaan mereka "tidak melewati tenggorokan mereka"
Berlebihan dalam Beribadah tapi Sesat:
Hadits menyebutkan bahwa sahabat Nabi akan merasa rendah diri jika dibandingkan dengan ibadah kaum Khawarij. Namun, mereka "melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari busurnya"
2. Syiah
Kelompok menyimpang yang Mengkafirkan seluruh sahabat, kecuali Ali, Fatimah, hasan, husen, salman alfarisi.
Pandangan Syiah terhadap sahabat:
Dalam pandangan Syiah Imamiyah, hanya sedikit sahabat yang dianggap tetap beriman (tidak murtad). Sahabat yang dihormati umumnya terbatas pada Ahlul Bait (Ali, Fatimah, Hasan, Husein) dan beberapa sahabat dekat seperti Salman Al-Farisi, Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Ammar bin Yasir.
Pandangan terhadap Khulafaur Rasyidin: Syiah umumnya menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bahkan sering mencela dan mengkafirkan mereka.
Perang Shiffin dan Jamal: Syiah mengkafirkan pihak-pihak yang ikut perang Shiffin dan perang Jamal yang melawan Ali bin Abi Thalib.
Perbedaan Tingkatan Syiah: Pandangan ini lebih menonjol pada Syiah Imamiyah/Rafidhah. Kelompok lain seperti Syiah Zaidiyah memiliki pandangan yang lebih moderat, bahkan menghormati sahabat dan tidak memerangi Abu Bakar.
Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama'ah, seluruh sahabat Nabi dianggap 'adil (jujur dan mulia) dan mencintai mereka adalah bagian dari keimanan, sehingga pandangan Syiah yang mengkafirkan sahabat dianggap menyimpang.
3. Nawashib
Kelompok Nawashib, sebagai sebuah firqah sesat atau organisasi formal yang secara terang-terangan memusuhi Ahlul Bait (keturunan Nabi Muhammad) dan menganggap kebencian kepada Ali bin Abi Thalib sebagai ibadah. Kelompok ini diyakini sudah tidak ada lagi dalam bentuk kelompok terorganisir pada saat ini.
3. Mu'tazilah
Wasil bin Ata berpendapat bahwa Muslim yang melakukan dosa besar tidak kafir (seperti anggapan Khawarij) dan tidak pula mukmin sepenuhnya. Mereka disebut sebagai fasiq, yang berada di antara dua posisi (iman dan kafir).
Washil bin Ata memandang salah satu dari kedua belah pihak (Ali atau Muawiyah) yang bertikai pada masa itu telah melakukan dosa besar (fasiq), namun ia tidak secara eksplisit menyebutkan siapa yang kafir. Ajarannya lebih menekankan bahwa pelaku dosa besar (termasuk tindakan maksiat besar) berstatus fasiq.
Dalam ajaran Mu'tazilah, pelaku dosa besar yang belum bertaubat hingga meninggal dunia dianggap akan kekal di neraka, meskipun siksaannya lebih ringan dibandingkan orang kafir (tidak mukmin tapi tidak kafir murni).
Sikap Terhadap Sahabat: Pandangan ini memicu kontroversi karena dinilai merendahkan sahabat Nabi, terutama Muawiyah bin Abi Sufyan, yang dianggap sebagai salah satu pihak yang bersalah dalam konflik politik tersebut.
Sikap Ahlus Sunnah: Ahlus Sunnah wal Jamaah menolak pandangan ini dan menganggap sahabat yang bertikai tetap memiliki kedudukan sahabat, dengan meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib berada di pihak yang benar (al-haq) dan Muawiyah berijtihad namun keliru.
4. Jahmiyah.
Jahmiyah adalah kelompok sesat yang dinisbatkan kepada Jahm bin Safwan, dikenal karena menggunakan filsafat untuk mengingkari nama dan sifat Allah (ta'thil), menganggap Alquran makhluk, serta meyakini Jabariyah (manusia tidak punya kehendak).
Mereka menafikan hampir seluruh sifat Allah, hanya menetapkan sifat wujud (ada), dan dianggap menyimpang oleh mayoritas ulama.
Pembahasan detail mengenai Al Khawarij
Al-Khawarij secara harfiah berasal dari bahasa Arab kharaja yang berarti keluar, muncul atau memberontak.
Secara istilah, mereka adalah kelompok yang memisahkan diri atau keluar dari ketaatan kepada pemimpin (imam) yang sah, khususnya keluar dari barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib pada masa perang saudara.
■ Khawarij di zaman Ali bin Abi Thalib:
Awal Kemunculan: Mereka lahir setelah peristiwa Tahkim dalam Perang Siffin. Awalnya, mereka adalah pengikut Ali, namun kemudian keluar dari barisan karena tidak setuju dengan keputusan Ali yang menerima usulan damai (Tahkim) dari Muawiyah bin Abi Sufyan.
Alasan Keluar: Mereka menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah dengan menyerahkan urusan perdamaian kepada utusan manusia, bukan langsung kepada hukum Allah (Al-Qur'an), dan menganggapnya sebagai dosa besar.
Slogan mereka yang terkenal adalah Laa hukma illa lillaah (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).
Karakteristik & Sikap khawarij:
• Sangat kaku dalam pemahaman agama dan mudah mengafirkan orang lain yang tidak sependapat, termasuk para sahabat Nabi yang mulia.
• Menghalalkan darah dan harta orang Muslim yang dianggap menyimpang dari pandangan mereka.
• Juga disebut sebagai Haruriyyah, merujuk pada tempat pertama mereka berkumpul, yaitu Harura, dekat Kufah.
• Salah satu tokoh utamanya adalah Abdurrahman bin Muljam, yang akhirnya membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib pada saat beliau sedang shalat.
Kelompok ini sebagai salah satu aliran sesat yang menggunakan kekerasan dan pemberontakan untuk memaksakan pandangan mereka, yang berujung pada kerusakan di muka bumi.
Nama-nama Khawarij:
• Al-Muhakkimah: Berasal dari semboyan mereka La Hukma Illallah. Menuntut hukum Allah.
• Haruriyah: Disebut demikian karena mereka berkumpul di Harura.
• Al-Mariqah: Kelompok yang keluar dari agama (seperti anak panah menembus busurnya).
• As-Syarrah: Kelompok yang menjual diri untuk mengharap ridha Allah (melalui jihad menurut pemahaman mereka).
Kelompok Khawarij masa sekarang, kelompok radikal yang ekstrem seperti ISIS/daulah Islamiyah di Irak dan Syam (Suriah) sering kali dianggap sebagai ideologi Khawarij masa kini.
Pemikiran khawarij:
■ Cikal bakal muncul khawarij.
Bahwasanya Khawarij muncul pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yaitu ketika seseorang yang dikenal dengan nama Dzul Khuwaishiroh At Tamimi mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang ketika itu beliau sedang membagikan harta rampasan perang, “berlaku adil lah wahai Rasulullah!”.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menjawab, “celaka engkau, siapa lagi yang akan berlaku adil kalau aku tidak berlaku adil”. Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab pun berkata, “biarkan saya membunuhnya wahai Rasulullah”.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda, “biarkan dia! Sesungguhnya dia memiliki pengikut yang sholat kalian terasa remeh dibandingkan sholatnya, puasa kalian terasa remeh dibandingkan dengan puasanya, mereka terlepas dari agama sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya……”
Dalam riwayat lain disebutkan, “sesungguhnya akan lahir dari orang ini suatu kaum yang membaca al qur’an tapi tidak sampai melewati kerongkongannya, mereka membunuh orang islam dan membiarkan para penyembah berhala, mereka terlepas dari islam sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya kalau aku menjumpai mereka sungguh akan aku perangi mereka sebagaimana memerangi kaum ‘Ad.
■ Pemikiran mulai muncul di zaman Usman bin affan.
Bahwa khawarij muncul pada zaman kekhilafahan Utsman bin Affan, yaitu mereka para pemberontak yang mengepung rumah Utsman untuk kemudian membunuh beliau radhiyallahu ‘anhu.
Abdullah bin saba', dialah pertama kali yang memberontak kepada usman bin affan. Abdullah bin Saba' adalah seorang Yahudi yang berasal dari Yaman (kadang disebut dari Sana'a atau suku Himyar) yang berpura-pura masuk Islam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.
Ia dikenal dengan julukan Ibnu Sauda dan berkeliling ke pusat-pusat kota Islam seperti Hijaz, Bashrah, Kufah, dan Mesir untuk menghasut masyarakat agar membangkang terhadap pemerintahan Utsman.
Ia menebarkan fitnah dengan cara menuduh Utsman telah melakukan nepotisme, penyelewengan ajaran Rasulullah, dan menuntut agar kekuasaan dikembalikan kepada Ali bin Abi Thalib.
Abdullah bin Saba' berhasil memengaruhi kelompok-kelompok tertentu, terutama dari Mesir, untuk melakukan demonstrasi dan akhirnya mengepung rumah Utsman bin Affan hingga menyebabkan terbunuhnya khalifah.
■ Khawarij baru benar-benar muncul di zaman Ali bin Abi Thalib.
Khawarij muncul ketika mereka membelot dan keluar (khuruj) dari pasukan Ali bin Abi Thalib ketika terjadi peristiwa tahkim antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu anhuma.
■ Kisah Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan kaum Khawarij
Terjadi setelah Perang Shiffin, ketika sekelompok orang (Khawarij/Haruriyyah) keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib karena tidak setuju dengan keputusan tahkim.
Jumlah Khawarij: Riwayat menyebutkan jumlah mereka yang berkumpul berkisar antara 6.000 hingga 12.000 orang.
Ali bin Abi Thalib mengutus Ibnu Abbas untuk berdialog dengan mereka. Ibnu Abbas mendatangi mereka dengan pakaian terbaik dan argumen yang kuat, bertanya alasan mereka membenci Ali dan para sahabat Nabi.
Ibnu Abbas mematahkan tiga poin utama tuduhan Khawarij (soal tahkim, tidak mengambil tawanan, dan melepas gelar Amirul Mukminin) dengan dasar Al-Qur'an dan Sunnah, salah satunya mengibaratkan peristiwa tahkim dengan perdamaian Hudaibiyah dan hukum wasit dalam rumah tangga.
Hasil Diskusi: Dialog tersebut menyebabkan sekitar 2.000 hingga 4.000 orang dari mereka kembali kepada kebenaran (bertaubat) dan mengikuti Ibnu Abbas, sementara sisanya tetap keras kepala.
Sisa dari kelompok Khawarij yang tidak bertaubat akhirnya diperangi oleh pasukan Ali dalam Perang Nahrawan, namun ideologi mereka terus muncul kembali di setiap zaman hingga datangnya Dajjal di akhir zaman yang akan keluar dari kalangan mereka.
Kisah "Tanduk/Kepala" yang Muncul:
Nabi Muhammad ﷺ, kaum Khawarij akan terus muncul dalam kurun waktu yang lama. "Setiap kali tanduk (kelompok/tokoh) mereka dipatahkan, ia tumbuh lagi", terus menerus muncul kelompok serupa hingga akhir zaman sampai datangnya dajjal.
Akidah khawarij:
● Pemikiran mengkafirkan kaum muslimin.
Contoh: mengkafirkan para sahabat.
Kesepakatan yg sama: mengkafirkan Ali, Aisyah.
● Berhukum dengan selain hukum Allah adalah kafir.
● Mengkafirkan pelaku maksiat. Konsekuensi kekal di neraka.
● Mengingkari syafaat. Hadist-hadist dari para sahabat ditolak. Sama dengan firqah mu'tazillah.
● Keluar dari penguasa yang besar. Wajib memberontak pemerintah yang zalim dan sah. Khawarij disertai dengan akidah mengkafirkan pemerintah.
Allah mengatakan khawarij adalah pemberontak.
"Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44).
SYIAH
Secara bahasa: syiah berarti kelompok, satu nasab. Syiah: penolong ahlul bait dan pecinta ahlul bait.
Syiah berkelompok-kelompok dan bertingkat-bertingkat.
● Syiah pendahulu.
Mendahului Ali daripada Usman. Tidak ada yang mengatakan abu bakar dan umar.
● Menyatakan Ali lebih utama dari Usman, seharusnya yang menjadi khalifah itu Ali daripada usman.
Pandangan yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama (afdhal) daripada Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah keyakinan dasar dari kelompok Syi'ah, khususnya Syi'ah Imamiyah (Itsna 'Asyariyyah) dan Rafidhah.
Zaid bin Ali tidak membenci Abu Bakar dan Umar. Sebaliknya, saat ditanya oleh pengikutnya mengenai pandangannya terhadap kedua khalifah tersebut, Zaid menyatakan simpatinya, mendoakan kebaikan, dan mengakui mereka sebagai sahabat kakeknya yang sah.
Asal-usul Istilah Rafidhah (Syiah Rafidhah):
Rafidhah (mereka yang menolak) adalah sebutan bagi sekelompok pengikut Zaid di Kufah yang mencabut baiat (rafadhnakum) dan meninggalkan Zaid karena Zaid menolak untuk mencela, mengkafirkan, atau membenci Abu Bakar dan Umar.
Perpecahan Pengikut: Kelompok yang membenci Abu Bakar dan Umar tersebut keluar dan menjadi golongan Syiah yang lebih ekstrim, sementara kelompok yang tetap setia kepada Zaid (yang menghormati Abu Bakar-Umar) dikenal sebagai Zaidiyah.
Rafidhah yang "Parah": Istilah ini merujuk pada kelompok yang tidak hanya menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, tetapi juga menghujat, mengkafirkan, dan membenci mereka, serta para sahabat Nabi lainnya.
Jadi, Zaid bin Ali sendiri bukan bagian dari kelompok yang membenci Abu Bakar dan Umar. Kebencian tersebut berasal dari pengikutnya yang kemudian dikenal sebagai Rafidhah.
Firqah-firqah syiah secara umum ada 3:
1. Al-Kaisaniyah (Kaisaniyyah)
• Kelompok ini merupakan salah satu aliran tertua dalam sejarah Syiah.
• Pengikut aliran ini meyakini bahwa imam setelah Husain bin Ali adalah Muhammad bin Hanafiyah (putra Ali bin Abi Thalib dari wanita Bani Hanifah).
• Kaisaniyah meyakini bahwa Muhammad bin Hanafiyah adalah imam yang maksum dan tidak meninggal, melainkan menghilang (ghaib) dan akan kembali lagi (raj'ah).
• Aliran ini cenderung dianggap ekstrem (ghulat) oleh sebagian kelompok lain karena pandangan mereka tentang imamah dan raj'ah.
2. Syiah Zaidiyah (Zaidiyyah)
• Pengikut Zaid bin Ali, cucu dari Husain bin Ali.
• Kelompok ini dianggap paling dekat dengan Ahlussunnah wal Jama'ah dibandingkan aliran Syiah lainnya.
• Mereka tidak mensyaratkan imam harus maksum dan memperbolehkan imamah seseorang yang kurang utama (mafdhul) padahal ada yang lebih utama (afdhal).
3. Syiah Imamiyah (Itsna Asyariyah / Rafidhah)
• Kelompok terbesar dalam Syiah saat ini.
• Agama harus dibangun diatas imam. Mereka meyakini ada 12 imam yang maksum, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan diakhiri oleh Muhammad al-Mahdi yang diyakini sedang ghaib.
• Mereka juga sering disebut sebagai Rafidhah.
Contoh:
● Basyar al-Assad adalah Presiden Suriah (2000-2024) yang berasal dari aliran Alawi, sebuah cabang dari Syiah.
● Syiah mambunuh kaum muslimin di sumur air zam-zam. Pasukan Qaramitah di bawah pimpinan Abu Tahir al-Jannabi menyerang kota Mekkah pada musim haji. Mereka membantai ribuan jemaah haji yang sedang melakukan tawaf dan ibadah lainnya. Dalam aksi kekejaman tersebut, pasukan Qaramitah melemparkan jenazah para jemaah haji yang terbunuh ke dalam sumur Zamzam untuk menghina kesucian tempat tersebut dan mencemari sumber airnya.
• Pernikahan Ali dan Fatimah: Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah putri Rasulullah. Dari pernikahan ini lahir Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum.
• Ali Menikah Lagi: Setelah Fatimah wafat, Ali bin Abi Thalib menikah lagi. Salah satu istrinya adalah Khaulah binti Ja'far bin Qais al-Hanafiyyah (seorang wanita dari Bani Hanifah)
• Muhammad al-Hanafiyah: Dari pernikahan Ali dengan Khaulah binti Ja'far, lahirlah Muhammad bin al-Hanafiyyah (Muhammad bin Ali bin Abi Thalib).
• Hasan Menyerahkan Kepemimpinan: Hasan bin Ali menyerahkan kekuasaan (kekhalifahan) kepada Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut di kalangan umat Muslim. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan 'Am al-Jama'ah (Tahun Perdamaian/Persatuan).
• Hasan Wafat Diracun: Hasan bin Ali wafat pada tahun 50 H (2 April 670 M). Beberapa riwayat menyatakan ia diracun oleh istrinya sendiri, Ja'dah binti al-Asy'ats, yang diduga dipengaruhi oleh pihak luar (Bani Umayyah).
Syiah: Jika kamu tidak mengimani 12 imam, maka islammu batal.
Dalam kepercayaan Syiah Dua Belas Imam (Itsna 'Asyariyyah), kepercayaan terhadap dua belas imam merupakan salah satu rukun iman yang fundamental. Syiah meyakini bahwa imamah (kepemimpinan) adalah ketetapan Ilahi, sama seperti kenabian, dan bukan sekadar pemilihan manusia.
Nama-nama Imam Syiah (Itsna 'Asyariyyah):
• Ali bin Abi Thalib (Amirul Mukminin)
• Hasan bin Ali (al-Mujtaba)
• Husain bin Ali (Sayyidus Syuhada)
• Ali bin Husain (Zainal Abidin)
• Muhammad bin Ali (al-Baqir)
• Ja'far bin Muhammad (ash-Shadiq)
• Musa bin Ja'far (al-Kadzim)
• Ali bin Musa (ar-Ridha)
• Muhammad bin Ali (al-Taqi/al-Jawad)
• Ali bin Muhammad (al-Hadi)
• Hasan bin Ali (al-Askari)
• Muhammad bin Hasan (abdul qasim al-Mahdi/Imam yang Tersembunyi)
Pentingnya Mengimani 12 Imam dalam Syiah:
• Imamah sebagai Rukun Iman: Syiah meyakini bahwa imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Mengingkari salah satu dari 12 imam dianggap sama dengan mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
• Sempurnanya Iman: Syiah menganggap iman seseorang tidak sempurna tanpa beriman pada imamah.
• Konsekuensi Pengingkaran: Beberapa literatur Syiah menyebutkan bahwa orang yang menentang atau mengingkari imamah dari salah satu imam yang 12, mereka dianggap sesat dan kafir.
• Imam Terakhir (Mahdi): Imam ke-12, Muhammad al-Mahdi, diyakini telah lahir, kemudian memasuki fase ghaib (kegaiban) dan masih hidup, serta akan kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai Imam Mahdi,
مِنْ أَهْلِ بَيْتِى يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِى وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِى
“Dia berasal dari keluargaku. Namanya (yaitu Muhammad) sama dengan namaku. Nama ayahnya (yaitu ‘Abdullah) pun sama dengan nama ayahku.”
● Orang-orang syiah mengkafirkan sahabat. Karena tidak menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah setelah nabi Muhammad wafat.
Hari raya yang diagungkan syiah: Idul Ghadir
Peristiwa ghadir menjadi momentum bersejarah yang paling berharga bagi syiah. Menurut Ulama Syiah, Idul Ghadir adalah hari ketika Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Mereka mengklaim bahwa Jibril turun menyampaikan wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunjuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah.
Berikut ringkasan bantahan terhadap tuduhan Syi'ah Rafidhah yang mengkafirkan sahabat nabi:
1. Bantahan Terhadap Tuduhan Sahabat Murtad
• Ali bin Abi Thalib tidak pernah mengkafirkan sahabat. Bahkan dalam perang melawan Aisyah (Perang Jamal), Ali berpesan agar tidak mengejar yang lari, tidak membunuh wanita, dan tidak mengambil ghanimah.
• Salman Al-Farisi & Ammar bin Yassir: Tokoh yang sering disebut Syi'ah sebagai sahabat sejati, nyatanya bekerja sama dan diangkat sebagai pemimpin pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (misal: Ammar di Kuffah).
• Logika Kegagalan Nabi: Jika 23 tahun dakwah nabi berakhir dengan murtadnya seluruh sahabat kecuali 10 orang (menurut klaim Syi'ah), hal ini secara tidak langsung menuduh Nabi Muhammad gagal, yang mana ini adalah pemikiran sesat.
2. Hubungan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakar & Umar
• Pernikahan Ummu Kulsum: Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya, Ummu Kulsum (putri Fatimah), dengan Umar bin Khattab. Ini menunjukkan hubungan yang baik, bukan permusuhan. Klaim bahwa itu adalah "jin" atau "terpaksa" (taqiyah) adalah khurafat Syi'ah.
• Nama Anak Ali: Ali bin Abi Thalib memberi nama anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Usman. Hal ini menunjukkan penghormatan dan kecintaan Ali kepada para sahabat tersebut.
3. Suksesi Kepemimpinan (Khilafah)
• Saat Nabi wafat, terjadi perdebatan di Saqifah Bani Sa'idah, yang berakhir dengan terpilihnya Abu Bakar secara demokratis oleh kaum Anshar dan Muhajirin.
• Muawiyah dan Hasan bin Ali: Hasan bin Ali memberikan kepemimpinan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menyatukan umat (Amul Jama'ah). Syi'ah menganggap ini sebagai kelemahan. Yang benar adalah ini sebagai bentuk perdamaian dan mengakui Muawiyah bukan orang kafir.
4. Khurafat/Kesalahan Rafidhah
• Mengkafirkan Sahabat: Kelompok syiah Rafidhah membenci dan mengkafirkan mayoritas sahabat, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ini bertentangan dengan ajaran Islam yang memuji sahabat.
• Warisan Nabi: Klaim Syi'ah tentang warisan sering menyimpang. Sahabat seperti Abu Bakar justru berpegang pada sabda nabi bahwa "tidak ada warisan untuk keluarga nabi", yang dipahami sebagai sedekah untuk umat.
Kesimpulan:
Pandangan yang mengkafirkan sahabat bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Hubungan Ali bin Abi Thalib yang harmonis dengan sahabat lainnya adalah bukti kuat bantahan terhadap klaim Rafidhah.
Demikian saja yang dapat disampaikan. Maka hendaknya seseorang berusaha mengikuti Manhaj Al-Salaf baik secara akidah, secara iman, secara akhlak dan membaca perjalanan serta sirah para sahabat agar kita bisa meniru mereka.
Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa menetapkan hidayahNya pada kita dan mewafatkan kita di atas Sunnah. Aamiin.
Semoga bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment