𝐏𝐢𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐮𝐚𝐭 Bagian 1
Daurah "𝐏𝐢𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐮𝐚𝐭" akan menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat langkah kita di atas kebaikan.
🗓 Ahad, 20 Juli 2025 | 24 Muharam 1447HSESI 1
🎙 Bersama:
Ustadz Ega Abu Fahd, Lc.
🕌 Masjid Babussalam, Cimanggis, Depok
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Pijakan yang kuat?
Apa maksudnya?
Ini berkaitan dengan banyaknya penyimpangan yang terjadi yang dilakukan oleh sejumlah kelompok menyimpang, baik yang dilakukan oleh orang tua dan anak muda di zaman sekarang.
Zaman sekarang ini banyak yang ikut-ikutan yang lagi viral, seperti Anostik.
■ Anostik adalah kelompok menyimpang yang memandang Tuhan itu ada, tapi tidak sebaik yg kita bayangkan (mereka mengatakan Tuhan tidak adil dan Tuhan bisa membuat kesalahan).
Ada juga sebagian anostik yang menganggap Tuhan tidak ada (atheis).
■ Ada lagi pemikiran menyimpang yaitu Kaum muslimin mencampur adukan agama (adat istiadat dicampur dengan agama, islam dicampur agama budha/hindu, dan lain sebagainya)..
■ Fitnah teroris, orang-orang rofidhah yang mengkafirkan para sahabat (pemikiran sesat yang telah tersebar dimana-mana)..
Bagaimana kita memiliki pijakan yang kuat dan prinsip yang kuat dalam menghadapi penyimpangan yang terjadi sekarang ini??
Seperti apa senjata dan benteng yang kuat untuk menghadapi berbagai macam penyimpangan di sekitar kita??
Inilah Gambaran secara umum dari akidah ahlulsunnah wal jamaah dalam menyikapi permasalahan ini..
Pemikiran sesat sudah ada dari zaman nabi Muhammad. Ketika seorang yg rajin ibadah (rajin shalat malam dan rajin puasa)..Namun orang tsb itu, berani bertanya dan mengatakan nabi tidak adil (dslam masalah pembagian rampasan perang). Wahai Muhammad berlaku adil lah. Nabi menjawab: kalau aku saja dikatakan tidak adil. Siapa lagi yang akan adil?
Dzul Khuwaishirah TOKOH penduduk NAJED.
Dari Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, “Kenapa pemimpin-pemimpin NAJED yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya?” maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawab, “Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka.” (HR Muslim 1762 atau Syarh Shahih Muslim 1064)
Dzul Khuwaishirah dari bani Tamim.
Dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari BANI TAMIM, lalu berkata: Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu! Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil.
Kemudian Rasulullah mengatakan dalam sabdanya bahwa KELAK akan bermunculan orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah penduduk Najed dari bani Tamim dengan salah satu CIRI KHASNYA adalah
يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ
Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati tenggorokan mereka. (HR Bukhari 3341 atau Fathul Bari 3610)
Ibnu abbas: minta izin kpd Ali, untuk diperbolehkan mendebat mereka...(8000 diajak berdialog). 5000 orang taubat dan sisanya 3 ribu tidak mau. Dan sisanya diperangi oleh Ali abi Thalib.
Dan Ali pun dibunuh oleh orang tersebut (kelompok khawarij).
Makanya kita harus memperkuatkan akidah, dengan cara:
1. Senantiasa berpegang teguh dengan Al quran, hadist dan Ijma' para ulama.
2. Mengimani semua hadits yang disampaikan oleh nabi.
3. Meyakini akal yang lurus/sehat tidak akan pernah bertabrakan dengan dalil yang shahih
*PENJELASAN*
1. Senantiasa berpegang teguh dengan Al quran, hadist dan Ijma' para ulama.
Surat An-Nisa Ayat 59:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah Azza wa Jalla.
● Nabi berkata: kalau kalian berjumpa dengan mereka, maka perangi mereka.
● Mereka berdalil dengan perkataan terbaik, tapi pemahaman mereka menyimpang.
● Zama sekarang anak-anak muda percaya dengan zodiak, orang tua percaya dengan jimat dan persugihan..Nauzubillah Minzalik
Nabi berkata: Barangsiapa yang percaya dengan bintang-bintang, maka dia tidak percaya denganku.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
“Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.”
Ancaman pertama Jika dia bertanya dengan perkataan dukun, shalatnya 40 hari tidak diterima. Ini akibat dari cuma sekedar membaca.
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230).
Ancaman kedua, Jika percaya dengan perkataan dukun, dia telah kufur.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan)
■ Al Qur'an adalah solusi dari semua masalah.
Surat An-Nahl Ayat 89:
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."
Surat Al-An’am Ayat 38:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِى ٱلْكِتَٰبِ مِن شَىْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan."
Imam syafeii berkata tentant ayat ini tidak ada masalah kontemporer yang memberikan petunjuk ada didalam al qur'an.
■ Sumber kedua adalah hadits nabi. Apa yang beliau sampaikan, dan apa yang beliau lakukan.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak menyukai daging dhab (kadal gurun) dan tidak memakannya, meskipun beliau tidak melarang sahabat yang lain untuk memakannya. Beliau juga tidak suka dengan talj (sejenis makanan atau minuman yang tidak jelas jenisnya dalam hadis tersebut).
Hadits-Hadits Tentang Kesempurnaan Islam:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.”
Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’”[
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.“
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ. قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى أَسَدٍ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ وَكَانَتْ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَأَتَتْهُ فَقَالَتْ مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِى عَنْكَ أَنَّكَ لَعَنْتَ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَمَا لِىَ لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ لَوْحَىِ الْمُصْحَفِ فَمَا وَجَدْتُهُ. فَقَالَ لَئِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ لَقَدْ وَجَدْتِيهِ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا)
“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah.”
Hal ini pun sampai pada telinga seorang wanita dari Bani Asad yang dipanggil Ummu Ya’qub, ia biasa membaca Al Qur’an. Ia pun mendatangi Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Ada hadits yang telah sampai padaku darimu bahwasanya engkau melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah, benarkah?”
Ibnu Mas’ud menjawab, “Kenapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu sudah ada dalam Al Qur’an.”
Wanita tersebut kembali berkata, “Aku telah membaca Al Quran namun aku tidak mendapati tentang hal itu.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Coba engkau baca kembali pasti engkau menemukannya. Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Haysr: 7). (HR. Bukhari no. 5943 dan Muslim no. 2125)
Banyaknya larangan untuk menyelisihi ajaran nabi, Sebagaimana Allah Berfirman:
Surat Al-Ahzab Ayat 36:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."
Ibnu abbas mengatakan turunnya Al Ahzab ayat 36 ini diturunkan bagi Zainab binti Jahsy, putri dari paman Rasulullah.
Suatu ketika Rasulullah berkata kepada Zainab: “Aku hendak menikahkanmu dengan Zaid bin Haritsah, sebab aku telah merelakannya bagimu.” Namun dia menjawab: “Wahai Rasulullah, tetapi aku tidak merelakannya untuk diriku, sedangkan aku adalah kerabat kaumku dan anak dari paman engkau, oleh sebab itu aku tidak akan menikahinya.” Maka turunlah ayat ini. Ia lalu berujar: “aku kini akan mentaatimu, maka perintahkanlah aku sesuai kehendakmu.” Maka Rasulullah menikahkannya dengan Zaid, dan Zaid akhirnya mengawininya.
Ijma' adalah kesepakatan para ulama tentang hukum dari sebuah masalah.
Ijma' ada pada Abad pertama hijriah, tapi setelah abad ke 4 sudah tidak ada lagi ijma ulama.
Surat An-Nisa Ayat 115:
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali."
Ibnu katsir mengatakan ayat ini menjelaskan ijma' adalah dalil yang tidak boleh dipertentangkan.
● Allah akan selalu menolong hambaNya selama mereka diatas kebenaran.
● Barangsiapa yang memisahkan diri dari waljamaah, maka beliau sudah melepaskan kebenaran.
Contoh Ijma' Ulama:
- Larangan memberontak pemerintah yang sah.
- Hukum mendengarkan musik
2. Mengimani semua hadits yang disampaikan oleh nabi.
Dua hal yang perlu dicek dari seorang perawi hadis adalah keadilan (al-'adalah) dan kedhabitan (al-dhabt). agama dan kepintaran perawi tersebut.
☆Perbedaan antara hadist shahih dan hadist palsu.☆
Ada yang tidak mengerti dan ada yang tidak peduli dengan hadist.
Sejarah ilmu hadist.
Pada awal awal islam, nabi sempat melarang penulisan hadist, karena al qur'an masih turun dan khawatir tercampur. Hingga di masa akhir islam, nabi memperbolehkan hadist untuk ditulis.
Ketika zaman khalifah Abu bakar dan Umar al qur'an dikumpulkan dan dijadikan satu buku. Para sahabat pun membukukan alquran dan hadist. Saat itu ilmu agama masih terjaga..
● Ustman terbunuh. Ali juga terbunuh oleh kelompok sesat.
AL MAUDHU’
(Hadits maudhu’/palsu)
Hadits maudhu’ ialah Hadits yang dipalsukan terhadap Nabi.
Hukumnya tertolak dan tidak boleh disebutkan kecuali disertakan keterangan kemaudhu’annya sebagai larangan darinya.
Metode membongkar kepalsuan hadits dengan cara sebagai berikut:
1. Pengakuan orang yang membuat hadits maudhu’.
2. Bertentangan dengan akal, seperti mengandung dua hal yang saling bertentangan dalam hal bersamaan, menetapkan keberadaan yang mustahil atau menghilangkan keberadaan yang wajib, dll.
3. Bertentangan dengan pengetahuan agama yang sudah pasti, seperti menggugurkan rukun dari rukun-rukun Islam atau menghalalkan riba’, membatasi waktu terjadinya kiamat atau adanya nabi setelah nabi Muhammad.
● Orang-orang jindik sengaja bikin hadist untuk merusak islam.
Az-Zanadiqah (kaum zindik) ialah orang-orang yang berusaha merusak aqidah kaum muslimin, memberangus Islam dan merubah hukum-hukumnya. Seperti Muhammad bin Said al Mashlub yang dibunuh oleh Abu Ja’far al Manshur ia memalsukan hadits atas nama Anas secara marfu’.
Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah aku, kecuali kalau Allah berkehendak.
Dan seperti Abdul Karim bin Abu al Aujaa’ yang dibunuh oleh salah seorang amir Abasyiah di Bashrah dan dia berkata ketika hendak dibunuh: Aku telah palsukan kepadamu 4000 hadits, aku haramkan yang halal dan aku halalkan yang haram.
Dan ada yang berkata bahwa kaum zindik telah membuat hadits palsu terhadap Rasulullah sebanyak 14.000 hadits.
● Salah satu contohnya, hadist nabi yang dipalsukan: aku adalah penutup sebagai seorang nabi, kecuali Allah menghendaki.
● Al-Mutazallif (pencari muka/penjilat) dihadapan para penguasa dan umara seperti: Ghiyats bin Ibrahim, dia pernah datang kepada al Mahdi yang sedang bermain dengan burung dara lalu ia menceritan kepadanya hadits Amirul Mu’minin ia bawakan sanadnya sekaligus ia palsukan hadits terhadap nabi bahwasanya beliau bersabda:
“Tidak ada perlombaan atau permainan kecuali pada telapak kaki onta atau tombak atau telapak kaki kuda atau sayap (burung dara)”
lalu al Mahdi berkata: Aku telah membebani dia atas itu (membuat Ghiyat bin Ibrahim berbuat dusta kepadaku untuk mencari muka. Pent). Kemudian dia (al Mahdi) menaruh burung dara tersebut dan menyuruh menyembelihnya.
● Kewajiban kita menerima hadist asalkan hadist itu shahih.
Nabi ketika menyampaikan hadist, kadang menyampaikan dengan para jamaah, ada yang didengar oleh sedikit orang.
■ Hadist ahad (didengar oleh satu sahabat, salah satu khalifah umar)
Contoh Hadits Ahad:
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya."
■ Hadist Mutawatir (hadist yang didengar oleh banyak sahabat).
Contoh Hadits Mutawatir:
Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).
Kelompok sempalan tidak meyakini hadist tentang azab kubur (karena mereka bilang itu hadist ahad). Inilah pemikiran sesat yang disebar kepada kaum muslimin.
Diantara ijma' para ulama tentang hadist. Jika seseorang mengingkari satu hadist shahih, maka dia telah dianggap keluar dari ajaran islam.
3. Meyakini akal yang lurus/sehat tidak akan pernah bertabrakan dengan dalil yang shahih.
● Kisah Ismail saat mau disembelih oleh nabi Ibrahim berubah menjadi domba/biri-biri.
● Laut merah terbelah, ini ga masuk akal.
● Nabi isra' miraj yang membuat banyak manusia tidak percaya dan peristiwa ga masuk akal.
1. Karena dalil diturunkan oleh Allah (wahyu). Adapun akal apa yang diberikan Allah itu terbatas.
2. Kita harus bisa membedakan Perkara yang mustahil dan peristiwa yang diluar kewajaran.
Ibnu Qayim: alquran itu ibarat nur (cahaya). Permisalan orang yg punya ilmu seperti orang yg bisa melihat. Jika tidak punya ilmu seperti orang yang buta.
Dalil sebagai cahaya bagi mata, sebagai batasan untuk menjalankan kehidupan.
Surat Al-An’am Ayat 122:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan."
Oran2 kafir seperti orang mati dan ketika datangnya dalil mereka menjadi hidup.
Hadist tentang lalat: mereka juga mengingkarinya (tidak percaya dengan hadist ini)
"Apabila seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang di antara kalian, maka hendaklah ia mencelupkan seluruhnya (ke dalam bejana) lalu membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obatnya." (HR. Bukhari)
Jika ada pertentangan antara dalil dan akal. Maka pilihlah dalil dan salahkan akal kita.
Ibnu Taimiyah: semua yang diperintahkan oleh al qur'an pasti cocok dengan akal yang sehat, tapi banyak manusia yang keliru.
Nabi memperbolehkan shalat di kandang kambing dan melarang shalat di kandang unta.
Nabi Muhammad bersabda, Jangan shalat di tempat menderumnya unta karena unta biasa memberikan was-was seperti setan.’ ‘Silakan shalat di kandang kambing, di sana mendatangkan keberkahan (ketenangan).’” (HR. Abu Daud, no. 184; Tirmidzi, no. 81; Ahmad, 4:288. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Pertanyaan yg dilarang oleh nabi:
1. Kenapa dalam masalah syariat.
2. Kenapa dalam masalah tentang takdir-takdir Allah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku.
Sifat sifat Allah dan DzatNya Allah, tidak diketahui secara pasti. Tidak ada serupapun dengan Allah, Allah Maha mendengar dan melihat.
Kewajiban kita mengikuti dalil. Jangan mengikuti akal kita yang tidak sampai tentang DzatNya Allah. Kita hanya wajib mengimaninya.
Semoga Allah senantiasa memberikan kita Taufik, membimbing dan selalu menjaga kita dalam menjalani sisa hidup di dunia ini. Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment