Melalaikan Nikmat Waktu Luang

 Kajian Tematik Al-Karimah

📖 Melalaikan Nikmat Waktu Luang

👤 Ustadz Abu Fahd Ega, Lc. hafizhahullah

📆 Kamis, 6 Safar 1447 H / 31 Juli 2025

🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Mayoritas manusia banyak yang tertipu jika Allah memberikan nikmat, padahal nikmat yang diberi akan dipertanggung jawabkan. Ketika seorang mendapatkan nikmat namun tidak ia gunakan untuk ketaatan, maka itu adalah musibah.

Di antara sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan, ada 2 nikmat yang manusia lalai darinya. Nikmat tersebut adalah kesehatan dan waktu luang.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

*Kesehatan*

Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat. Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita.

Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan untuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat. Barulah ia tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan.

*Waktu luang*

Waktu adalah sesuatu yang terus berputar dan tak akan kembali lagi. Oleh karena itu betapa banyak manusia yang tersesali oleh waktu. Waktunya hanya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat dan faidahnya. Hidupnya hanya menghabiskan waktu dan menyisakan penyesalan umur.

Waktu ibarat pedang bermata 2, jika digunakan untuk kebaikan, maka baik pula. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan, maka dampak buruk akan terjadi di kemudian hari.

Betapa tidak, sebagian orang menghabiskan waktunya untuk maksiat, namun tatkala ia sudah senja, maka ia akan menangisi masa tua nya karena ia tak menghabiskan waktu dan umurnya untuk taat.

Ketahuilah bahwa 2 hal di atas adalah nikmat yang patut disyukuri tatkala terkumpul di dalam diri seorang muslim. Karena tatkala seorang itu bersyukur, maka Allah akan tambah nikmat tersebut.

■ Memanfaatkan waktu kosong diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan ketaatan kepada Allah.

Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara. Jika di masa muda, sehat, kaya, waktu senggang sulit untuk beramal, maka jangan harap selain waktu tersebut bisa semangat.

Ditambah lagi jika benar-benar telah datang kematian, bisa jadi yang ada hanyalah penyesalan dan tangisan.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.

● Manfaat masa mudamu sebelum masa tuamu. Berikan yang terbaik di masa muda. Jika waktu muda sudah malas ibadah, jangan harap waktu tua bisa giat.

● Manfaatkan kekayaanmu sebelum datang kefakiranmu. Manfaatkan dengan baik dengan memperbanyak sedekah dan hal-hàl yang bermanfaat. Jika saat kaya sudah malas sedekah, jangan harap ketika miskin bisa keluarkan harta untuk jalan kebaikan.

Rasulullah bersabda:

Bersedekahlah! Karena akan datang suatu zaman, seseorang berjalan membawa sedekahnya, kemudian orang yang diberikan sedekah berkata: “Seandainya engkau datang kemarin maka aku akan terima sedekahmu, adapun hari ini, saya tidak butuh lagi.” (HR. Bukhari).

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

 “Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya bersedekah dengan sepotong kurma. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah bersedekah dengan kata-kata yang baik.”📚 (HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim No. 1016)

Bersegeralah untuk beramal sholeh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

"Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim]

Hati manusia itu berbolak balik, karenanya bersegeralah dalam melakukan kebaikan dan amal shalih sebelum datang waktu di mana kita tidak mampu beramal lagi seperti sakit parah mendadak atau kematian mendadak yang cukup banyak terjadi di zaman ini.

*Kisah Teladan Ibunda Aisyah dan Asma*

Aku mendengar Ibnu Zubair berkata, ‘Tidak pernah aku melihat seorang wanita pun yang lebih murah hati dari Aisyah dan Asma’. Kemurahan hati keduanya berbeda. Adapun Aisyah, ia mengumpulkan sesuatu hingga setelah terkumpul, kemudian ia bagi-bagikan. Sementara Asma’, ia tidak pernah menyimpan apapun hingga esok hari.

Waktu sangat diperhatikan dalam islam. Dalam banyak ayat, Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dan menjelaskan tentang waktu, seperti firman-Nya:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (Qs. al-Ashr: 12)

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang”. (Qs. al-Lail: 1-2)

Allah memerintahkan kita untuk menjaga shalat pada waktunya dan Allah juga memerintahkan untuk menjaga shalat wustha. Yang dimaksud menjaga shalat wustha adalah menjaga shalat Ashar.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Umatku diberikan waktu berkah di waktu paginya.

Allah Berfirman:

وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)” (Qs. adh-Dhuha: 1-2)

Surat Al-Fajr Ayat 1-2:
وَٱلْفَجْرِ
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Demi fajar Dan malam yang sepuluh"

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Karena Allah tidak bersumpah terhadap sesuatu di dalam al-Qur’an kecuali untuk menunjukkan kelebihan yang dimilikinya.

Bagaimana Memanfaatkan Waktu dengan baik?

1. Memanfaatkan waktu dengan beribadah kepada Allah (Ibadah Wajib)

Jika tidak menjalankan ibadah wajib,  berarti dia telah melalaikan waktu. Karena tujuan kita hidup di dunia adalah beribadah kepada Allah.

Surat Az-Zariyat Ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."

Salah satu amalan yg paling dicintai Allah adalah shalat di awal waktu (disiplin dan memanfaatkan waktu dengan baik).

● Wanita (ibu2) wajib menjalankan shalat wajib tepat waktunya.

● Orang-orang yang meninggalkan perdagangannya ketika waktu shalat tiba.

2. Memanfaatkan waktu dari hal-hal yang bermanfaat dalam masalah dunia.

Segala aktivitas dan kegiatan kita di dunia ini semaksimal mungkin adalah hal yang bermanfaat  yaitu untuk menopang kehidupan akherat kita.

Diantaranya adalah bekerja dalam mencari nafkah. Ini termasuk ibadah dan jihad fisabillah.

Dalam Islam, jihad tidak hanya diukur dengan perang. Bagi orang tertentu yang sangat dibutuhkan keluarganya dan jika tak dapat digantikan oleh siapapun, maka memberi nafkah itu pun termasuk jihad fisabilillah.

 أنَّه مر على النبي صلى الله عليه وسلم رجلٌ، فرأى أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم من جَلَدِه ونشاطِه، فقالوا: يا رسول الله، لو كان هذا في سبيلِ الله، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن كان خرجَ يسعى على وَلَدِه صِغارًا، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى على أبوين شيخين كبيرين، فهو في سبيل الله،  

“Seorang sahabat pernah berpapasan dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam, lalu para sahabat juga turut menyaksikan sahabat tadi yang warna kulitnya legam dan sangat rajin, mereka pun berkata, “Wahai Rasululullah, seandainya (pria semacam ini) ikut berjihad.

Lalu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menimpali, “Jika dia keluar rumah untuk menafkahi anaknya yang kecil dia (jihad) di jalan Allah, jika dia keluar untuk menafkah dua orang tuanya yang sudah renta, dia di jalan Allah” (HR. Ath-Thabrani. dari Ka’ab bin Ujroh)  

Ibnu Mas'ud: "aku beribadah kepada Allah disaat aku bangun, dan juga sebagaimana saat aku tidur.."

● Bekerjalah dari rezeki yang halal dan tinggalkan dari hal yang haram. 

Jika dia bekerja dari yang haram, maka dia termasuk melalaikan waktunya.

Surat Yunus Ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan Karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan Rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Ibnu abbas menafsirkan ayat ini dengan:

• Karunia Allah Merujuk pada nikmat iman dan Islam, yaitu agama yang benar dan diridhai Allah.

• Rahmat Allah Merujuk pada Al-Qur'an, kitab suci yang berisi petunjuk, rahmat, dan obat bagi hati manusia.

• Bergembira: Manusia diperintahkan untuk bergembira dan bersyukur atas karunia dan rahmat Allah ini, karena keduanya lebih baik daripada segala kesenangan duniawi yang fana.

3. Memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang sunnah.

● Sunnah adalah segala sesuatu yang dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Kewajiban ortu adalah mendidik anak-anaknya.

Surat At-Tahrim Ayat 6:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka"

Surat Al-Jumu’ah Ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Ayat ini menjelaskan bahwa kita diperbolehkan untuk berdzikir sambil berjalan.

● Sunnah dilakukan setelah hal/ ibadah wajib telah dilakukan. TIdak boleh kita mengutamakan sunnah, tapi kewajiban terabaikan.

*Kisah sahabat Hanzahalah*

Hanzhalah bercerita: Suatu hari kami menghadiri majelis Rasulullah. Beliau memberikan nasihat kepada kami, nasihat itu membuat hati kami lembut sehingga kami menangis mencucurkan air mata, seolah-olah kami melihat Surga dan neraka seperti yang diceritakan oleh beliau.

Sepulangnya dari majelis Rasulullah. Saya kembali ke rumah menemui anak istri saya. Lalu bercanda dengan anak-anak saya dan bercumbu dengan istri saya, kemudian kami mulai membicarakan masalah keduniaan. Suasana di rumah berbeda sekali dengan suasana di majelis Rasulullah. Jika tadi saya merasa takut, tetapi kini saya merasa gembira.

Tiba-tiba saya berkata dalam hati, “Hanzhalah, engkau kini telah menjadi munafik. Nyatanya, keadaanmu ketika berada di hadapan Rasulullah saw. jauh berbeda dengan keadaan sekarang ketika kamu berada di rumah.”

Saya merasa sangat sedih dan kecewa terhadap diri saya. Saya pun keluar rumah sambil berkata, “Hanzhalah telah menjadi munafik.” Ketika’saya bertemu dengan Abu Bakar, saya terus berkata demikian. Abu Bakar berkata, “Subhanallah! Apa yang engkau katakan? Sekali-kali Hanzhalah bukanlah seorang munafik.”

Saya berkata, “Ketika kita mendengar nasihat Nabi, saya merasa surga dan neraka betul-betul di depan kita. Tetapi ketika pulang bertemu dengan keluarga, kita melupakan kampung akhirat.”

Abu Bakar berkata, “Ya, keadaan saya juga demikian.” Kemudian kami berdua menghadap Rasulullah. Saya berkata, “Ya Rasulullah, saya telah menjadi orang munafik.”

Nabi bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Saya berkata, “Ya Rassulullah, jika kami berada di majelismu dan engkau menceritakan tentang Surga dan neraka kepada kami, kami merasa takut. Tetapi jika kami kembali ke rumah menjumpai anak istri kami, bercanda dan bermain bersama merela, kami malupakan Surga dan neraka.”

Mendengar penjelasan saya, Nabi bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika setiap saat keadaanmu seperti ketika berada di dekat saya, niscaya para malaikat akan turun mengucapkan salam kepadamu di tempat tidurmu dan ketika kamu sedang berjalan. Tetapi wahai Hanzalah, keadaan seperti ini jarang terjadi.”

● Shalat sunnah terbaik adalah shalat malam nabi daud dan puasa terbaik adalah puasa nabi daud.

● Setelah itu Shalat sunnah rawatib sebanyak 12 rakaat. Shalat ini terdiri dari 2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum Dzuhur, 2 rakaat setelah Dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah Isya.

● Terakhir, Minimal kerjakan Shalat witir.

● Tidak boleh mengerjakan hal yang sunnah, tapi tidak mengerjakan hal yang wajib.

Ajal seseorang tidak ada yang tahu, maka kita harus membangun konsistensi dalam beribadah.

Bagaimana cara mendapatkan husnul khatimah?

1. Selalu Menjaga Keimanan

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدكُم كَمَا يَخْلَقُ الثَّوبَ الْخَلِق، فَاسْأَلوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيَمَانَ فِي قُلُوبِكُم

Sesungguhnya keimanan di rongga tubuh (hati) kalian benar-benar akan menjadi usang, sebagaimana usangnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui keimanan dalam hati kalian"
(H.R al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih al-Jami’)

Ibnu qayim mengatakan "Keimanan itu bisa naik setinggi gunung dan bisa berkurang dan tidak tersisa sama sekali."

■ Target kita di dunia ini adalah Meninggal dalam kondisi beriman dan beribadah kepada Allah.

Contoh: meninggal saat kita sujud dalam shalat, meninggal ketika bermajelis ilmu dan lain lain.

■ Keimanan yang sudah rusak harus segera diperbaiki.

- Mintalah kepada Allah
- Berdoalah kepada Allah

Surat Al-Hujurat Ayat 7:

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ ٱللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِى كَثِيرٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus"

2. Istiqamah dalam ibadah

Mulai dari hal-hal yang kecil

Mulai dari ibadah yg kecil atau ringan terlebih dahulu dan konsisten.

Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu) dilakukan. Amalan yang kontinu walaupun sedikit itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin, meskipun jumlahnya banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. 

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.

Melawan semua rintangan dalam beribadah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
"Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah."

Dulu dia rajin shalat malam atau shalat tahajud, namun sekarang ia tinggalkan. Ia hanya ingat shalat malam ketika susah saja, ketika terhimpit hutang atau dirundung duka. Namun ketika lapang, senang, atau bahagia, ia pun lupa akan shalat malam tersebut. Padahal sebaik-baik amalan adalah yang kontinu dilakukan walau jumlahnya sedikit.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

Wahai ‘Abdullah janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin shalat malam, sekarang ia meninggalkan shalat malam tersebut.” (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159).

Diceritakan oleh Hafshoh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar:

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.” (HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)

Berdoa meminta Istiqamah

Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik.

Ummu Habibah mengatakan do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8)

3. Menjauhi Berbagai Macam Kemaksiatan.

■ Jangan sampai ujung kematian kita suul khatimah.

● Hal yang dapat menjadikan kematian suul khatimah yaitu Memutus silaturahmi dan durhaka kepada kedua orangtua.

● Tidak ada hal yang mudah untuk meninggalkan kemaksiatan.

Surat Al-‘Ankabut Ayat 69:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."

Banyak godaan syaitan untuk menjerumuskan kita kedalam kemaksiatan dan dosa. Semoga Allah menjaga kita dari berbagai fitnah yang begitu dahsyat di zaman ini.

Semoga Allah memberikan kita waktu terbaik dan bermanfaat di sisa usia kita, meninggal dalam kondisi husnul khatimah. Aamiin...

Semoga bermanfaat
Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts