Enam Mutiara Prinsip Ahlul Atsar
Bismillah..
*Tabligh Akbar!*Bersama:
Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairy حفظه الله
Penerjemah:
Ustadz Abdullah Taslim, M.A. حفظه الله
Tema: “Enam Mutiara Prinsip Ahlul Atsar”
Hari, Tanggal:
Ahad, 21 Rabiul Awwal 1447 / 14 September 2025
Tempat:
Masjid Jami’ Al-Barkah Cileungsi
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Enam Mutiara Prinsip Ahlul Atsar
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Maka kita memuji Allah yang telah mengumpulkan kita dalam manhaj salaf. Kita memuji Allah yang memudahkan kita dalam menuntut ilmu syarr'i.
Ahlul Atsar (ahlul hadits). Kelompok Muslim yang mengamalkan ajaran agama Islam dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an, Sunnah Nabi Muhammad dan atsar-atsar (riwayat) yang shahih dari para Sahabat dan Tabi'in.
Surat At-Taubah Ayat 100:
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."
Ayat ini merupakan satu-satunya ayat jaminan di surga, dibawahnya mengalir sungai-sungai yang indah.
Para ulama yang merupakan ahlul atsar, ahlul sunnah meniti agama ini dan mempelajari ilmu didalamnya. Dalam menempuh dan mempelajari ilmu agama haruslah berpegang teguh dengan 6 prinsip ahlul atsar.
Enam Mutiara Prinsip Ahlul Atsar:
1. Prinsip pertama: Mentauhidkan Allah/ Mengesakan Allah
● Tidak beribadah kepada selain Allah, tidak ada sekutu terhadap Allah.
Ketahuilah milik Allah semata-mata agama yang murni, agama yang ikhlas. Beribadah dengan ikhlas hanya karena Allah.
Surat Az-Zumar Ayat 3:
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Artinya Allah tidak akan menerima ibadah seseorang yang dikerjakan tidak ikhlas dan bukan karena semata-mata karena Allah.
Para ulama ahlul sunnah waljamaah mengatakan prinsip dasar semua permasalahan agama secara mutlak adalah Tauhid. Karena ini menyangkut hak Allah.
Hak-hak yang merupakan kewajiban manusia itu sangatlah banyak. Hak yang berhubungan dengan manusia, seperti berbakti kepada ortu, bermualamah, dan lain sebagainya. Dan Hak yang paling utama dan besar adalah hak Allah.
Dari Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:
يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا
Wahai Mu’âdz! Tahukah engkau apa hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allâh?’ Aku menjawab, ‘Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allâh ialah sesungguhnya Allâh tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Tidakperlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Janganlah kausampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri (kepada hal ini dan tidak beramal shalih)"
Maka barangsiapa yang mengerjakan shalat semata-mata untuk Allah. Maka dia telah memenuhi hak Allah. Barang siapa mengerjakan sesuatu untuk Allah dan selain Allah. Misal datang ke kuburan, maka dia telah melakukan kesyirikan.
Kemudian barangsiapa yang menyembelih untuk Allah semata-mata, maka dia mentauhidkan Allah. Namun jika dia menyembelih untuk kuburan dalam sembelihannya tersebut, maka dia telah melakukan kesyirikan..
Adapun dalilnya termaktub dalam surah Al An’am ayat 162.
Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Makna nusuk adalah sembelihan atau kurban, yaitu melakukan taqarrub (pendekatkan diri) dengan cara mengalirkan darah. Dalam ayat ini Allah mneybutkan bahwa sholat dan menyembelih adalah termasuk ibadah sehingga harus ditujukan kepada Allah semata.
Kemudian barangsiapa yang melakukan pelanggaran, kemudian diadakan pengadilan islam. Dan disuruh bersumpah atas nama Allah. Meskipun dia berdusta, dia tidak khawatir akan dustanya itu.
Kemudian disebut dia itu berdusta dan bersumpah atas nama wali (selain Allah) dan dia takut. Karena takut ditimpa keburukan. Maka jelas ini merupakan perbuatan syirik.
Oleh karena itu, nabi mengatakan barangsiapa yang pernah bersumpah selain Allah, dia telah telah melakukan kekafiran.
Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, maka sungguh dia telah kafir atau musyrik”
Karena besarnya dosa bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, sehingga Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Kalau aku bersumpah dengan menyebut nama Allah dengan kedustaan, maka hal itu lebih aku sukai daripada bersumpah secara jujur dengan menyebut selain nama Allah”.
Bersumpah dengan menyebut nama Allah untuk suatu kebohongan adalah termasuk dosa besar, akan tetapi, dosanya lebih ringan daripada bersumpah secara jujur, tetapi dengan menyebut selain nama Allah dalam sumpahnya.
Oleh karenanya, Allah memerintahkan pertama kali dalam alquran, agar sekalian manusia beribadah kepada Allah, supaya menjadi orang-orang yang bertakwa.
Surat Al-Baqarah Ayat 21:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa"
Ada 2 makna yang bisa diambil:
1. Perintah untuk mentauhidkan Allah
2. Seorang hamba tidak bisa menjadi orang yang bertakwa, sampai dia mentauhidkan Allah.
Maka sungguh sangat mengherankan jika seorang hamba menyembah kepada Allah dan selain Alah. Sementara Allah adalah satu-satunya yang menciptakannya, memberi rezeki dan Allah yang memberikan segala sesuatu untuk hambaNya. Sungguh dia sudah melakukan perbuatan syirik.
Orang-orang yang berdoa kepada selain Allah adalah orang yang melampaui batas. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS. Ghafir: 14)
Kemudian rasul bersabda: doa itu adalah ibadah..
Dari Nu’man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ Doa adalah ibadah, kemudian beliau membaca ayat : اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu“ [Ghafir/40: 60].
Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah, maka dia beribadah kepada selain Allah.
Kalau kalian menyeru kepada selain Allah, maka dia tidak akan bisa mendengarkannya. Kalau pun dia bisa mendengar, maka dia tidak akan bisa mengabulkan permohonanmu..
Allah berfirman, Surat Al-Ahqaf Ayat 6:
وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُوا۟ لَهُمْ أَعْدَآءً وَكَانُوا۟ بِعِبَادَتِهِمْ كَٰفِرِينَ
"Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka."
Ini adalah perbuatan syirik, di hari kiamat mereka akan mengingkari perbuatannya tersebut.
Allah mencintai perbuatan-perbuatan hamba yang mencintai wali-wali Allah, akan tetapi bukan menjadikan mereka sesembahan selain Allah.
Termasuk yang sangat aneh dan mengherankan, dalam sebagian kitab telah menjelaskan tentang hal ini..
Ada seorang laki-laki menuliskan kisah, karamah seorang wali, yan menumpang sebuah kapal ke india. Dan kemudian kapal tersebut mengalami kerusakan. Kemudian orang-orang berdoa kepada Allah, ada juga yg berdoa kepada selain Allah. Laki-laki itu juga berdoa atas nama syeikh nya, setelah itu dia tertidur dan bermimpi jika syeikhnya menampal kapal pecah otu dengan kain putih. Setelah itu dia terbangun dsn mengatakan kepada penumpang kapal mengenai mimpi itu dan melihat kapal itu sudah ditutupi dengan kain putih. Ini jelas merupakan perbuatan khurafat, perbuatan yg tidak benar, perbuatan syirik kepada Allah..
Kalau kita sudah mengetahui Allah memerintahkan perintah bertauhid dan beribadah kepada Allah. Dan larangan pertama kali adalah larangan berbuat syirik (menyekutukan Allah). Maka kita harus memenuhi hak Allah ini dan menjalankan perintahNya.
Oleh karena itu Allah ketika menyebutkan larangan dalam al quran, senantiasa Allah menjadikan pertama kali adalah larangan berbuat syirik.
Surat Al-An’am Ayat 151:
۞ قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُم مِّنْ إِمْلَٰقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)."
Baiat kaum perempuan, berbait untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun.
Oleh karena itu para nabi dan rassul menjadikan inti utama adalah mengajak umat untuk mentauhidkan Allah. Allah menyebutkan beberapa kali di dalam alquran, diantaranya:
Surat Al-A’raf Ayat 59:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)."
Dakwah nabi hud kpd kaum Ad:
Dalam Surat Hud ayat 50, Allah berfirman: "Dan Kami telah mengutus kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata, 'Wahai kaumku, sembahlah Allah! Kamu tidak mempunyai tuhan (sembahan) selain Dia. Sesungguhnya kamu hanyalah mengada-adakan kebohongan'".
Nabi Shaleh kepada kaum Tsamud:
Diceritakan dalam Surat An-Naml ayat 45, Nabi Shalih berseru, "Wahai kaumku, sembahlah Allah! Kamu tidak mempunyai tuhan yang berhak disembah selain Dia".
Nabi Syuaib kepada kaum Madyan:
Nabi Syu’ab ‘alaihissalam berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.— Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok…dst.” (QS. Al A’raaf: 85)
Bahkan Allah menyebutkannya dalam al qur'an..Sungguh kami sdh mengutus kpd umat seorang rasul untuk menyeru kpd Allah, beribadah hanya kpd Allah..
Surat An-Nahl Ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ
"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
Keutamaan yang paling besar adalah ajakan kepada tauhid, beribadah kepada Allah semata-mata, menjauhi segala keburukan. Dan keburukan yang paling buruk adalah menyekutukan Allah.
Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz Radhiyallahu anhu ke Yaman Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ– وَفِيْ رِوَايَةٍ – : إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ – فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْـمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.
Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa anna Muhammadar Rasûlullâh -dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sampai mereka mentauhidkan Allâh.’- Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mentaati hal itu, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil) dari harta terbaik mereka, dan lindungilah dirimu dari do’a orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak satu penghalang pun antara do’anya dan Allâh.” (Hr. Bukhori muslim)
Di dalam al qur'an menyebutkan nasehat. Hamba Allah Lukman memberikan nasehat kepada anaknya berkaitan dengab akidah dan tauhid seorang muslim. Di dalamnya dijelaskan mengenai bahaya apabila seorang muslim melakukan kesyirikan. Syirik adalah sejelek-jeleknya perbuatan zholim.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).
Nasehat nabi Ibrahim kepada bapaknya.
Surat Maryam Ayat 42:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِى عَنكَ شَيْـًٔا
"Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
Tauhid yg diperintah Allah terbagi menjadi 3 macam:
1. Tauhid Rububiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Taujid Asma' wa sifat
● Tauhid Rububiyah: Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya sebagai Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta, pemberi rezeki, tidak ada sekutu baginya.
Oleh karenanya, Wajib terkumpul dalam diri seorang hamba 3 tauhid ini.
Surat Yunus Ayat 31:
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"
Ini merupakan penjelasan dalam alquran. Mereka mengakui Allah yag melakukan hal itu semua.
Surat Az-Zumar Ayat 38:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَنِىَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَٰشِفَٰتُ ضُرِّهِۦٓ أَوْ أَرَادَنِى بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَٰتُ رَحْمَتِهِۦ ۚ قُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri."
● Tauhid Uluhiyah: Mengesakan Allah dalam amal-amal ibadah kepada-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, ibadah haji.
Surat Al-Kautsar Ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
● Tauhid Asma' wa Sifat: Mengesakan Allah dengan menetapkan nama-nama Allah yang indah dan yang Maha Tinggi, serta sifat-sifat kesempurnaan-Nya sesuai yang ada dalam Al-Qur'an dan Sunnah, Maha sempurna, Maha tinggi dan Maha Agung.
Contoh: Mengimani sifat Allah yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan lain sebagainya tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Az-Zumar: 53).
Sebuah kisah yg behubungan dengan khurafat. Satu kejadian di negeri yaman, seorang hakim yg ditimpa musibah. Istri yg sangat dicintainya meninggal dunia, ada seorang yg dianggap wali oleh hakim tsb. Singkat cerita, dia meminta kpd wali tsb menghidupkan istrinya, kemudian wanita itu hidup kembali. Ini jelas perbuatan syirik kpd Allah.
2. Prinsip dasar kedua
Jalan yg bisa menyampaikan kita kepada ridha Allah dan surga Allah. Ya Allah tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus.
Surat Al-Bayyinah Ayat 6:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.
Jalan yang satu-satunya ini yang diridhai Allah bersumber dari al quran dan hadits. Pengambilan hukum yg benar dalam islam. Dalam hal ini ada 2 perkara: tujuan Allah menciptakan manusia dan sumber pengambilan hukum yg benar .
Surat Az-Zariyat Ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)
Dan para ulama salaf terdahulu jika telah memahami al quran dan ucapan nabi, mereka tidak akan menoleh kepada siapapun.
Surat Ali ‘Imran Ayat 103:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."
Abdullah bin masud menafsirkannya: tali Allah itu adalah al quran, jalan Allah adalah jalan yg ditempuh oleh nabi dan nabi berpesan untuk berpegang teguh dengan jalan tersebut.
3. Prinsip dasar ketiga
Mengikuti al qur'an dan sunnah dengan pemahaman para ulama salaf.
Karena saat ini kebanyakan ditemukan perselisihan pendapat terhadap al qur'an dan sunnah. Karenanya kita harus merujuk kepada pemahaman para ulama salaf yan benar.
Adapun dalil terhadap prinsip dasar ini sangatlah banyak, diantaranya adalah:
Surat An-Nisa Ayat 115:
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali."
Dengan mengikuti pemahaman mereka, maka Allah akan menyelamatkan dari neraka jahanam.
Imam syafei: ini merupakan itjma para sahabat yaitu akidah yg benar sesuai petunjuk Allah dan rassul..
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih).
Dari Muawiyah -semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di tengah-tengah kami lalu beliau bersabda:
ألا إن من كان قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الأمة ستفرق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة وهي الجماعة
“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari kalangan ahli kitab telah berpercah-belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umatku ini akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan 1 di surga, ia adalah Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud)
Beberapa hadits ini adalah hadist-hadits yg shahih. Al jamaah yang dimaksud adalah para sahabat.
Apa yang menjadi dalil untuk mengikuti salafus shahih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
"Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)
Maka maksud kesimpulan dari dasar ini adalah kewajiban kita dalam memahami agama ini. Pemahaman para sahabat yang mengikuti jalan mereka.
Dalam sebuah kisah, ada yang mengatakan Al quran itu adalah makhluk.
Yg benar adalah al qur'an itu adalah kalam Allah dan bukan makhluk.
Inilah prinsip untuk mengangkat perselihan di umat ini.
4. Prinsip ke empat
Meraih kemuliaan yang tinggi dengan ilmu.
Dalil yang menunjukan ini adalah:
Dalam surat Al Mujadilah ayat 11.
Allah Ta’ala berfirman :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11)
Dulunya umat islam memiliki kemuliaan dan kedudukan yang tinggi yaitu zaman nabi Muhammad, para sahabat dan zaman ulama salaf. Ini mengandung rahasia hikmah yang sangat agung.
Perdebatan nabi ibrahim dengan kaumnya.
Surat Al-An’am Ayat 74:
۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".
Mempelajari ilmu dan agama, sehingga Allah akan mengangkat derajat hambaNya tersebut.
Kisah dalam shahih imam muslim.
Suatu hari Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab radiyallahu ‘anhu di daerah ‘Usfan. Saat itu Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Mekah kepada Nafi’.
Umar bertanya,
Siapa yang engkau tunjuk menjadi pemimpin daerah lembah?”
Nafi’ menjawab,
ابن أبزى
“Ibnu Abza”
Umar bertanya,
ومَنْ ابن أبزى؟
“Siapa Ibnu Abza?”
Nafi’ menjawab,
مولى من موالينا
“Seorang bekas budak dari budak-budak kami yang telah dimerdekakan”
Umar bertanya kembali,
فاستخلفت عليهم مولى؟
“Engkau telah memberikan kepercayaan tersebut kepada seorang bekas budak?“
Nafi’ mengatakan,
إنه قارئ لكتاب الله عـز وجل ، وإنه عالـم بالفرائض
“Sesungguhnya dia adalah seorang Ahlul-Qur’an (yang hafal, paham, dan mengamalkannya) dan pakar ilmu Syari’at Islam”
Umar berkata,
أما إن نبيكم صلى الله عليه وسلم قال : إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين
“Sungguh Nabi kalian shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an dan merendahkan sebagian yang lain karena sebab sikap yang salah terhadap Al-Qur`an” (Shahih Muslim: 817) .
5. Prinsip dasar kelima
Membantah kesalahan yang berbuat salah, meluruskan orang berbuat salah. Ini termasuk amar makruf nahi mungkar.
Jika ada orang berbuat salah, kita membiarkannya, maka akan tersebar banyak fitnah. Ini adalah sikap yang salah dan perbuatan orang yahudi.
Surat Al-Ma’idah Ayat 79:
كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
"Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
Nabi tidak akan membiarkan kesalahan yang terjadi pada para sahabat. Nabi akan meluruskan parA sahabat. Ini juga sebagai ibrah dAn Pembelajaran untuk umatnya.
Dikisahkan Ketika Muadz menjadi imam di kampungnya. Muadz membaca surat yang panjang.
Berikut kutipan sabda Nabi:
أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمْ الصَّلَاةَ فَقَرَأَ بِهِمْ الْبَقَرَةَ قَالَ فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلَاةً خَفِيفَةً فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا وَنَسْقِي بِنَوَاضِحِنَا وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَتَجَوَّزْتُ فَزَعَمَ أَنِّي مُنَافِقٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ثَلَاثًا اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَنَحْوَهَا
"Sesungguhnya Muaz bin Jabal pernah shalat (di belakang) Rasulullah Saw, kemudian dia kembali ke kaumnya untuk mengimami shalat bersama mereka dengan membaca surah Al-Baqarah.
Jabir melanjutkan kisahnya; ‘Maka seorang laki-laki pun keluar (dari shaf) lalu ia shalat dengan shalat yang agak ringan dan ternyata hal itu sampai kepada Muaz seraya berujar, ‘Sesungguhnya dia adalah seorang munafik.’
Ketika ucapan Muaz sampai pada laki-laki tersebut, laki-laki itu langsung mendatangi Nabi Saw sambil berkata; ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum yang memiliki pekerjaan untuk menyiram ladang, sementara semalam Muaz shalat mengimami kami dengan membaca surat Al-Baqarah, hingga saya keluar dari shaf, lalu dia mengiraku seorang munafik.’
Nabi Saw bersabda; ‘Wahai Muaz, apakah kamu hendak membuat fitnah?’ Beliau mengucapkannya tiga kali. ‘Bacalah surah ‘Was syamsi wa dhuhaha dan sabbihisma rabbikal a’la atau yang serupa dengannya.’
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, mencegah hilangnya pekerjaan dan harta saudaranya, serta menjaga segala urusan saudaranya ketika tidak berada di tempat" (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani).
Ini menunjukan kepada kita adalah perintah untuk saling menasehati. Saling menasehatilah dengan cara lemah lembut/ tidak kasar.
6. Prinsip dasar ke enam.
Pembersihan dan tarbiyah (pendidikan) hal-hal yang mengotori islam yang murni.
Di kalangan kita banyak kelompok atau jamaah yang melakukan hal-hal yang menyimpang. Konsekuensi ilmu dan amal. Mereka melakukan amalan bid'ah.
Prinsip dasar ini diambil dalam dalil yang kita baca dalam shalat kita. Ya Allah tunjukan kami jalan yang lurus, bukan jalan yang Engkau murkai dan sesat..
Surat Al-Fatihah Ayat 7:
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Sumber hukum islam yang benar adalah al qur' an. Seseorang harus menjalankan perkara yang benar dan tidak menjalankan perkara yang diada-adakan yang tidak diajarkan dalam islam. Perkara yang diada-adakan adalah bidah.
Penjelasan tafsir al qur'an yang benar. Banyak kaum muslimin mengartikanya dengan tidak benar. Maka disitulah kita harus melakukan pembersihan dari hal-hal yang menyimpang.
Al qur'an sudah dijaga Allah..
Surat Al-Hijr Ayat 9:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
Inilah ringkasan dari 6 prinsip dasar akidah ahlul sunnah wal jamaah berdasarkan al qur'an dan As sunnah. Semoga kita bisa menjalankannya. Semoga Allah memberikan kita taufik, ridha, rahmatNya dan surgaNya kelak..aamiin...
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment