Fitnah Perpecahan Umat

Bismillah

Dauroh Sehari Babussalam X Tahseel
Ahad, 21 September 2025
(28 Rabiul Awal 1447 H)
Masjid Babussalam

SESI 3

"Menemukan Ketenangan Dalam Kegelisahan"

Fitnah Perpecahan Umat

Ustadz Mufi Hanif Thalib Lc

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Perpecahan merupakan fitnah besar yang melanda umat Islam. Fitnah yang gelombangnya laksana gelombang lautan ini muncul sesudah terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam hadis yang dikeluarkan oleh banyak imam, di antaranya Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab sahih masing-masing, berasal dari seorang tabi’in bernama Syaqiq, dari seorang sahabat besar, Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Kami berada di hadapan (Khalifah) Umar (bin Khattab). Ia bertanya, ”Siapakah di antara kalian yang hafal hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam tentang fitnah, persis seperti yang beliau sabdakan?” Hudzaifah berkata, “Saya menjawab,’Saya’.” Umar berkata,”Sesungguhnya engkau benar-benar berani, bagaimana beliau bersabda?” Hudzaifah berkata, ”Saya menjawab, ’Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Fitnah seorang laki-laki di tengah keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya dan tetangganya, dapat dihapuskan dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar’.”

Umar berkata, ”Bukan itu yang aku kehendaki. Tetapi yang aku kehendaki ialah fitnah yang bergelombang laksana gelombang lautan.” Hudzaifah berkata,” Maka saya katakan, ’Mengapakah engkau bertanya tentang itu, wahai Amirul Mu’minin?! Sesungguhnya di antara dirimu dengan fitnah itu terdapat pintu yang tertutup’.” Umar bertanya, ”Apakah pintu itu akan pecah ataukah (hanya) akan terbuka?”

Hudzaifah menjawab,“Tidak, bahkan pintu itu akan pecah.” Umar berkata,”Itu berarti lebih layak untuk tidak akan tertutup selama-lamanya.”
Syaqiq berkata,”Kami bertanya kepada Hudzaifah, apakah Umar mengetahui siapakah pintu itu? Hudzaifah menjawab,“Ya, seperti halnya ia mengetahui, bahwa sebelum esok adalah malam nanti.

Sesungguhnya aku telah menceritakan kepada Umar hadits yang tidak keliru (betul-betul datangnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam).” Syaqiq berkata lagi, “Selanjutnya kami segan untuk bertanya kepada Hudzaifah, siapakah pintu itu? Maka kami berkata kepada Masruq: Tanyakanlah kepada Hudzaifah (tentang siapakah pintu itu)?” Masruq pun bertanya. Maka Hudzaifah menjawab,“(Ia adalah) Umar.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan fitnah itu seolah-olah terkurung dan tersekap di dalam suatu ruangan. Ruangan ini mempunyai pintu. Sedangkan pintunya jika sampai patah, maka selama-lamanya tidak akan bisa tertutup kembali. Sehingga fitnah akan terlepas dan tidak kembali lagi ke dalam kamar.

Pintu yang dimaksud adalah Umar. Bila beliau wafat, berarti pintu itu terbuka, tetapi mungkin akan bisa tertutup kembali. Tetapi jika beliau terbunuh (dalam bahasa hadits “patah”), maka pintu itu tidak tertutup lagi hingga hari kiamat. Ternyata Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu terbunuh, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan oleh Hudzaifah di atas.

Fitnah betul-betul melanda kaum Muslimin sepeninggal Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhum. Dan semakin ganas sejalan dengan perjalanan waktu yang kian panjang, laksana gelombang air laut yang dahsyat.

Fitnah itu terwujud secara nyata dalam bentuk perpecahan umat. Di mana-mana terjadi perselisihan hebat. Dan ini merupakan sunnah kauniyah (ketetapan taqdir dari Allah) yang tidak dapat terelakkan, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar bin Khattab meninggal dibunuh saat shalat, ditusuk perutnya sampe robek (usus-ususnya sampe keluar).

Beberapa Tuduhan terhadap Umar bin Khattab:

¤ Umar membakar al quran

¤ Kabur dari perang perang uhud

Cara agar selamat di zaman penuh fitnah (ujian):

1. Jaga lisan (termasuk di medsos), jangan semua hal dikomentari dan dikritik, semakin banyak komentar, semakin sedikit kita introspeksi diri

2. Betah di rumah (keperluan selesai langsung pulang) agar terhindar dari berbagai syubhat)

3. Tangisilah dosa-dosa kita, perbanyak introspeksi diri dan bertaubat kepada Allah (perbanyak istighfar).

Surat Al-Anfal Ayat 33:

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun."

Rasulullah telah tiada, yang tersisa sekarang  adalah Istighfar (perbanyak minta ampun dan taubat kepada Allah) agar selamat dari murka serta azab Allah di muka bumi ini.

Keamanan, kesempatan dan keimanan adalah kebutuhan fitrah manusia. Hati menjadi tentram dan beribadah dengan baik.Shalat dengan khusyuk.

Keamanan adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-hamba-Nya setelah nikmat iman dan Islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)

Nabi mengatakan "Bintang-bintang adalah pengaman bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah lenyap, maka akan datang kepada langit apa yang telah dijanjikan (kiamat). Aku adalah pengaman bagi para sahabatku. Apabila aku telah tiada, maka akan datang kepada para sahabatku apa yang telah dijanjikan (fitnah dan perpecahan).

Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka akan datang kepada umatku apa yang telah dijanjikan (fitnah dan perpecahan)."

• Nabi Muhammad ﷺ sebagai pengaman sahabat: Selama Nabi ﷺ hidup, para sahabat merasa aman dan bersatu di bawah bimbingannya. Setelah Nabi ﷺ wafat, umat Islam mengalami banyak perselisihan dan perpecahan.

• Sahabat sebagai pengaman umat: Para sahabat adalah benteng yang menjaga umat Islam dari perpecahan. Mereka menjadi rujukan dalam memahami ajaran agama. Ketika para sahabat satu per satu wafat, fitnah dan perselisihan semakin membesar di kalangan umat Islam. 

Surat An-Nisa Ayat 59:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Inilah akibat memberontak atau tidak taat pada penguasa barang sejengkal. Kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk taat dan bersabar jika ditemukan hal yang tidak disukai.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 7053 dan Muslim no. 1849).

Salah satu fenomena akhir zaman adalah munculnya pemimpin atau penguasa yang tidak perduli dengan urusan rakyatnya. Nabi Muhammad  menyebut karakter pemimpin ini adalah pemimpin egois atau mementingkan diri sendiri.

Berikut pesan Nabi dalam menyikapi pemimpin (penguasa):

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ خَلَا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا؟ فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ (رواه مسلم)

Dari Usaid bin Khudlair radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki Anshar menemui Rasulullah seraya berkata, "Tidakkah anda mengangkatku sebagaimana anda mengangkat fulan (sebagai Amir)?"

Beliau bersabda: "Sesungguhnya sepeninggalanku kelak, kamu akan menjumpai (penguasa) yang mementingkan diri sendiri. Maka sabarlah hingga kalian berjumpa denganku di telaga (haudh)." (HR Muslim No 3432)

Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak mengadakan provokasi atau penghasutan untuk memberontak kepada penguasa meskipun penguasa itu berbuat zhalim. Tidak boleh melakukan provokasi baik dari atas mimbar, tempat khusus atau pun umum dan media lainnya. Karena yang demikian menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Salafush Shalih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.”

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■





Comments

Popular Posts