Menemukan Ketenangan Dalam Kegelisahan
Bismillah
Dauroh Sehari Babussalam X TahseelAhad, 21 September 2025
(28 Rabiul Awal 1447 H)
Masjid Babussalam
SESI 1:
"Menemukan Ketenangan Dalam Kegelisahan"
Ustadz Abu Fahd Ega Lc
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Kegelisahan itu datang ketika mendapatkan permasalahan dalam hidup di dunia ini. Namun kehidupan manusia itu pasti ada masalah, ia datang dari masalah yang satu ke masalah yang lain, baik dari faktor internal maupun eksternal.
Permasalahan itu adalah Sunnatullah, sebuah keharusan. Namanya dalam islam adalah Fitnah.
Fitnah dalam islam tidak bisa disamakan dengan arti dalam bahasa indonesia. Fitnah dalam arti bahasa indonesia adalah Menuduh orang tanpa bukti sama sekali.
Dalam syariat islam Fitnah memiliki arti lebih luas. Beberapa makna dan arti Fitnah dalam syariat islam:
1. Fitnah adalah Ujian dan Cobaan.
Manusia pasti diberikan ujian dan cobaan dari Allah. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keimanan seorang hamba kepada RabbNya (sampai kapan hambanya itu beriman).
Sebagaimana Firman Allah dalam surah QS. Al Ankabut ayat 2-3:
Surat Al-‘Ankabut Ayat 2:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"
Surat Al-‘Ankabut Ayat 3:
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
Contoh: Ketika seseorang mendapatkan penyakit. Dia akan berusaha untuk berobat dengan segala cara agar mendapatkan kesembuhan. Meski dengan jalan yang salah dan terkena fitnah dalam proses berobat yaitu fitnah kesyirikan.
2. Fitnah adalah azab atau hukuman Allah kepada hambaNya.
Dalam menghadapinya, Kewajiban seorang hamba adalah bersabar.
Allah Berfirman dalam Surat An-Nahl Ayat 110:
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا فُتِنُوا۟ ثُمَّ جَٰهَدُوا۟ وَصَبَرُوٓا۟ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar, sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
3. Arti Fitnah: disaat seseorang terjerumus dalam kemaksiatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Orang-orang munafik itu akan menyeru orang-orang yang beriman dan berkata: ‘Bukankah kami dahulu di dunia bersama-sama dengan kalian?’ Mereka orang-orang yang beriman berkata: ‘Benar, akan tetapi kamu memfitnah dirimu sendiri dan menunggu-nunggu kekalahan kami dan kalian merasa ragu serta tertipu oleh angan-angan (dunia) sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Hadid ayat 14)
Di sini Allah mengisahkan bahwa orang-orang munafik itu memfitnah dirinya sendiri. Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa memfitnah diri sendiri berarti memperdaya diri dengan kelezatan, syahwat dan maksiat.
4. Fitnah yaitu tercampurnya antara yang batil dengan yang haq (tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah).
Surat Al-Anfal Ayat 73:
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِى ٱلْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar."
5. Fitnah adalah Kesesatan
Surat Al-Ma’idah Ayat 41:
۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ لَا يَحْزُنكَ ٱلَّذِينَ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْكُفْرِ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا بِأَفْوَٰهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ ۛ سَمَّٰعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوْمٍ ءَاخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ مِنۢ بَعْدِ مَوَاضِعِهِۦ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَٱحْذَرُوا۟ ۚ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتْنَتَهُۥ فَلَن تَمْلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيْـًٔا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمْ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌ ۖ وَلَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah".
"Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar."
Ketika hamba-hambaNya menyimpang, Allah akan tambah simpangkan mereka lagi.
Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Surat As-Shaff Ayat 5:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِى وَقَد تَّعْلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ ۖ فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?" Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik."
Karena hati seorang hamba diantara jari jemari Allah. Sebagaimana nabi bersabda:
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Orang-orang yang disimpangkan oleh Allah karena mereka menolak hidayah dari RabbNya.
Manusia itu memiliki kehendak dan punya pilihan. Ketika memilih pilihan yang sesat, maka Allah tambahkan simpangkan dan sesatkan lagi.
Nabi mengatakan pada akhir zaman akan terjadi fitnah-fitnah yang besar, baik dari luar atau dalam. Beliau juga mengatakan Waktu akan tambah berdekatan, ilmu akan diangkat, fitnah akan terjadi dimana-mana dan akan tambah banyak pembunuhan.
Diantara Tanda Datangnya Kiamat Terasa Cepatnya Waktu Berlalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا تقوم الساعة حتى يقارب الزمان فتكون السنة كالشهر. ويكون الشهر كالجمعة، وتكون الجمعة كاليوم، ويكون اليوم كالشاعة، وتكون الساعة لاختراق الشطة
Tidak akan tiba bari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.
(HR. Ahmad, shahih oleh al-Albani dalam al-Jaani ash Shaghiir, 7299) HADITS SHAHIHH
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
ﻳَﺘَﻘَﺎﺭَﺏُ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥُ ﻭَﻳُﻘْﺒَﺾُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻭَﺗَﻈْﻬَﺮُ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﻭَﻳُﻠْﻘَﻰ ﺍﻟﺸُّﺢُّ ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺍﻟْﻬَﺮْﺝُ
“Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.“
Kesibukan tambah banyak, jadi waktu terasa makin pendek.
● Ilmu akan diangkat oleh Allah
Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ
"Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“
● Akan banyak terjadi pembunuhan dimana-dimana
Nyawa seseorang seakan-akan tidak ada harganya sama sekali di dunia ini.
● Akan Terjadi Gempa dimana-mana
Nabi mengatakan hari kiamat tidak akan terjadi sampai diangkatnya ilmu, akan banyak gempa dimana-mana, waktu berdekatan, terjadi banyak pembunuhan dan harta semakin berlimpah tapi tidak berguna.
Rasulullah berpesan untuk memberikan solusi jika zaman itu telah benar-benar datang :
“Sungguh, nanti akan terjadi fitnah dimana orang yang tidur lebih baik daripada orang yang duduk, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.”
Akan terjadi fitnah yang besar yang akan merusak kaum muslimin. Masalah tambah besar ketika kita tidak memiliki solusi yang benar.
Disini nabi mengajarkan kita berbagai macam solusi. Berikut beberapa Solusi yang diajarkan oleh nabi:
1. Orang harus berusaha menjauhi diri dari pusat fitnah / keburukan / kerusakan.
Menjaga diri dari lingkungan yang buruk dan bersahabatlah dengan teman yang baik (jauhi teman yang buruk).
Surat Al-Anfal Ayat 25:
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Surat Al-Anfal Ayat 25:
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."
Abu Bakrah bertanya, “Apa yang Anda perintahkan kepadaku jika aku menemui hal semacam itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mempunyai unta hendaknya dia pergi dengan untanya, barangsiapa yang memiliki kambing hendaknya dia pergi dengan membawa kambingnya, dan barangsiapa yang mempunyai tanah hendaknya dia pergi dengan membawa hasil penjualan tanahnya. Namun bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa hendaknya dia menghantamkan pedangnya pada batu keras (agar rusak) kemudian menyelamatkan diri semampunya.” ( HR. Muslim )
Seseorang yang menjaga keimanan, dia akan menyendiri untuk bertakwa kepada Allah dan berlindung dari fitnah yang terjadi.
Karena bisa jadi seseorang menyangka bahwa ia memiliki iman yang kokoh, namun ia terperangkap syubhat Dajjal. Akhirnya ia pun menjadi pengikut setianya.
Dari ‘Imron bin Hushain, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهْوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ
“Barangsiapa mendengar kemunculan Dajjal, maka menjauhlah darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatangi Dajjal dan ia mengira bahwa ia punya iman (yang kokoh), malah ia yang menjadi pengikut Dajjal karena ia terkena syubhatnya ketika Dajjal itu muncul” (HR. Abu Daud no. 4319 dan Ahmad 4: 441)
Ketika terjadi kerusuhan dan kerusakan. Seperti demo rusuh beberapa waktu lalu, kita harus menjauhi tempat kerusuhan dan berlindung di rumah masing-masing.
Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.
‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari se-seorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak)
2. Solusi kedua: Menyibukan diri untuk beribadah kepada Allah di zaman fitnah.
● Fokuslah beribadah di masa-masa fitnah.
● Beribadah di masa fitnah, pahalanya sangat besar (berlipat ganda).
Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ
“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)
Ibnu Hajar berkata fitnah dan perkara-perkara yang berat pasti terjadi, sampai perkara tersebut dianggap remeh, tidak akan tersisa kecuali memikirkan dunianya saja.
Karenanya Sibukkan diri dalam beribadah..!!!
Nabi juga mengatakan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah. Maka Allah akan membuat masalahnya lebih mudah/ringan.
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.
"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.”
Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:
اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا، يَقُوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ! مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ؟ وَمَـاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ -يُرِيدُ بِهِ أَزْوَاجَهُ- لِكَيْ يُصَلِّينَ؟ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِـي الدُّنْيَـا عَارِيَةٍ فِي اْلآخِرَةِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun pada suatu malam yang menakutkan, lalu beliau berkata, ‘Subhaanallaah, harta simpanan apakah yang telah diturunkan? Fitnah apakah yang telah diturunkan? Siapakah yang mem-bangunkan pemilik kamar-kamar -yang beliau maksud adalah isteri-isterinya- sehingga mereka melakukan shalat? Banyak sekali wanita yang berpakaian di dunia, di akhirat kelak dia telanjang.’”³ (HR. Al-Bukhari)
3. Solusi ketiga: Bijaksana terhadap fitnah yang terjadi.
Di masa fitnah ini (banyak berita tersebar) hendaklah memiliki sifat Al Hilm (bijaksana dan tidak terburu-buru).
Fitnah tidak akan menyakitimu bila engkau mengenal agamamu. Dia tidak akan menelan mentah-mentah berita itu dengan terburu-buru, agar fitnah tidak tersebar kemana-mana. Fitnah akan menimpamu kalau kamu tidak mengenal hak dan batil.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:
وَلَا تقع فتْنَة إِلَّا من ترك مَا أَمر الله بِهِ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَمر بِالْحَقِّ وَأمر بِالصبرِ فالفتنة إِمَّا من ترك الْحق وَإِمَّا من ترك الصَّبْر
"Tidaklah terjadi fitnah melainkan orang yang meninggalkan perintah Allah. Karena Dia (Allah) Yang Maha Suci memerintahkan pada kebenaran dan kesabaran. Fitnah itu terjadi bisa karena meninggalkan kebenaran dan bisa jadi karena meninggalkan kesabaran."
Oleh karena itu, dalam menghadapi fitnah-fitnah yang ada, Ahlu Sunnah wal Jamaah telah memberikan tuntunan-tuntunan berupa sikap yang bijaksana sehingga dapat menghalau fitnah-fitnah itu atau meminimalkannya.
Diantara sikap yang sangat penting dalam hal ini adalah merujuk kepada para ulama, meminta bimbingannya dan pengarahan mereka dalam menghadapinya.
Karena fitnah pada awal munculnya tidak ada yang mengetahui kecuali para ulama. Kalau sudah pergi baru orang-orang jahil ikut mengetahuinya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud.
Semoga Allah memberikan kita Taufik, hidayah dan menjaga kita dari segala macam fitnah di dunia ini hingga ajal menjemput. Allah berikan kita surga tempat kembali kelak...aamiin...
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Abu Bakrah bertanya, “Apa yang Anda perintahkan kepadaku jika aku menemui hal semacam itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mempunyai unta hendaknya dia pergi dengan untanya, barangsiapa yang memiliki kambing hendaknya dia pergi dengan membawa kambingnya, dan barangsiapa yang mempunyai tanah hendaknya dia pergi dengan membawa hasil penjualan tanahnya. Namun bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa hendaknya dia menghantamkan pedangnya pada batu keras (agar rusak) kemudian menyelamatkan diri semampunya.” ( HR. Muslim )
Seseorang yang menjaga keimanan, dia akan menyendiri untuk bertakwa kepada Allah dan berlindung dari fitnah yang terjadi.
Karena bisa jadi seseorang menyangka bahwa ia memiliki iman yang kokoh, namun ia terperangkap syubhat Dajjal. Akhirnya ia pun menjadi pengikut setianya.
Dari ‘Imron bin Hushain, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهْوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ
“Barangsiapa mendengar kemunculan Dajjal, maka menjauhlah darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatangi Dajjal dan ia mengira bahwa ia punya iman (yang kokoh), malah ia yang menjadi pengikut Dajjal karena ia terkena syubhatnya ketika Dajjal itu muncul” (HR. Abu Daud no. 4319 dan Ahmad 4: 441)
Ketika terjadi kerusuhan dan kerusakan. Seperti demo rusuh beberapa waktu lalu, kita harus menjauhi tempat kerusuhan dan berlindung di rumah masing-masing.
Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.
‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari se-seorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak)
2. Solusi kedua: Menyibukan diri untuk beribadah kepada Allah di zaman fitnah.
● Fokuslah beribadah di masa-masa fitnah.
● Beribadah di masa fitnah, pahalanya sangat besar (berlipat ganda).
Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ
“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)
Ibnu Hajar berkata fitnah dan perkara-perkara yang berat pasti terjadi, sampai perkara tersebut dianggap remeh, tidak akan tersisa kecuali memikirkan dunianya saja.
Karenanya Sibukkan diri dalam beribadah..!!!
Nabi juga mengatakan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah. Maka Allah akan membuat masalahnya lebih mudah/ringan.
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.
"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.”
Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:
اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا، يَقُوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ! مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ؟ وَمَـاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ -يُرِيدُ بِهِ أَزْوَاجَهُ- لِكَيْ يُصَلِّينَ؟ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِـي الدُّنْيَـا عَارِيَةٍ فِي اْلآخِرَةِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun pada suatu malam yang menakutkan, lalu beliau berkata, ‘Subhaanallaah, harta simpanan apakah yang telah diturunkan? Fitnah apakah yang telah diturunkan? Siapakah yang mem-bangunkan pemilik kamar-kamar -yang beliau maksud adalah isteri-isterinya- sehingga mereka melakukan shalat? Banyak sekali wanita yang berpakaian di dunia, di akhirat kelak dia telanjang.’”³ (HR. Al-Bukhari)
3. Solusi ketiga: Bijaksana terhadap fitnah yang terjadi.
Di masa fitnah ini (banyak berita tersebar) hendaklah memiliki sifat Al Hilm (bijaksana dan tidak terburu-buru).
Fitnah tidak akan menyakitimu bila engkau mengenal agamamu. Dia tidak akan menelan mentah-mentah berita itu dengan terburu-buru, agar fitnah tidak tersebar kemana-mana. Fitnah akan menimpamu kalau kamu tidak mengenal hak dan batil.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:
وَلَا تقع فتْنَة إِلَّا من ترك مَا أَمر الله بِهِ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَمر بِالْحَقِّ وَأمر بِالصبرِ فالفتنة إِمَّا من ترك الْحق وَإِمَّا من ترك الصَّبْر
"Tidaklah terjadi fitnah melainkan orang yang meninggalkan perintah Allah. Karena Dia (Allah) Yang Maha Suci memerintahkan pada kebenaran dan kesabaran. Fitnah itu terjadi bisa karena meninggalkan kebenaran dan bisa jadi karena meninggalkan kesabaran."
Oleh karena itu, dalam menghadapi fitnah-fitnah yang ada, Ahlu Sunnah wal Jamaah telah memberikan tuntunan-tuntunan berupa sikap yang bijaksana sehingga dapat menghalau fitnah-fitnah itu atau meminimalkannya.
Diantara sikap yang sangat penting dalam hal ini adalah merujuk kepada para ulama, meminta bimbingannya dan pengarahan mereka dalam menghadapinya.
Karena fitnah pada awal munculnya tidak ada yang mengetahui kecuali para ulama. Kalau sudah pergi baru orang-orang jahil ikut mengetahuinya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud.
Semoga Allah memberikan kita Taufik, hidayah dan menjaga kita dari segala macam fitnah di dunia ini hingga ajal menjemput. Allah berikan kita surga tempat kembali kelak...aamiin...
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment