Jalan Golongan yang Selamat

 ✨Bismillah✨


* Dauroh Muslimah Academy-9*

🗓️ Sabtu, 4 Oktober 2025
📍 Masjid Nur Salma, Centennial Tower Lt.22, Jaksel

Bersama:
🎙️ Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. حفظه الله

"Jalan Golongan yang Selamat" (Kitab Al Firqotun Najiyah Karya Syeikh Muhammad Jamil Zainu)

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

GOLONGAN YANG SELAMAT

Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, hanya satu yang akan selamat dan masuk surga.

Sebagaimana Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Mengapa di dunia ini terjadi perpecahan:

I. Perpecahan itu adalah sesuatu yang sudah Allah takdirkan. Sifat dan karakter manusia memang suka berselisih.

Allah mengatakan manusia senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi hidayah.

Surat Hud Ayat 118:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat."

II. Ada hikmah yang besar kenapa manusia berpecah belah, diantaranya:

1. Allah ingin melihat siapa yang mengikuti wahyu dan siapa yang mengikuti hawa nafsu.

Terjadi perpecahan ketika datangnya ilmu dan dakwah tauhid.

Surat Al-Jatsiyah Ayat 17:

وَءَاتَيْنَٰهُم بَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ ۖ فَمَا ٱخْتَلَفُوٓا۟ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِى بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُوا۟ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

"Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama), maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya."

Jadi tidak aneh, Para nabi disebut pemecah ilmu. Maka terjadilah perpecahan antara yang berilmu dan yang tidak berilmu.

2. Siapa yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan yang tidak mau mencari kebenaran.

- Orang yang mencari kebenaran, Allah akan menunjukan hidayah dan kebenaran.

- Orang yang tidak mau mencari kebenaran, mereka menolak dalil dan lebih mengikuti ajaran nenek moyangnya.

3. Karena Allah ingin memilih hamba-hambaNya.

Siapapun yg beriman pasti akan diuji Allah.

Surat al-Ankabut 1-3:

الٓمٓ

"Alif laam miim:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?"

وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Kita akan diuji dengan iktiba' dan ta'lid.

Iktiba': berdasarkan dalil shahih.
Ta'lid : tidak berdasarkan dalil, karena fanatik dengan sang ustadz.

■Jalan Golongan yang Selamat■

1. Golongan yang selamat ialah golongan yang setia berpegang teguh kepada manhaj Rasulullah dalam hidup-nya, dan manhaj para sahabat sesudahnya.

Yaitu Kitab Suci al-Qur'an yang diturunkan Allah kepada RasulNya, yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih.

Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya,

تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْتَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ
تَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

"Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’).

Allah telah meridhai para sahabat nabi dan kedudukannya paling tinggi.

Surat At-Taubah Ayat 100:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

" Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Allah Menjadikan rassul bagaikan bintang di langit dan para sahabat adalah keamanan untuk umatku.

Dari Abu Burdah dari bapaknya radhiyallahu 'anhuma berkata:

صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا: لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ: "مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا؟" قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ: "أَحْسَنْتُمْ" أَوْ "أَصَبْتُمْ" قَالَ: فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: "النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ".
أخرجه أحمد (4/398 ، رقم 19584) ، ومسلم (4/1961 ، رقم 2531) . وأخرجه أيضًا : البزار (8/104 ، رقم 3102) ، وابن حبان (16/234 ، رقم

”Dahulu kami shalat Maghrib bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu kami berkata:”Alangkah baiknya kalau kita duduk-duduk hingga bisa shalat ‘Isya bersama beliau shallallahu 'alaihi wasallam.” Perawi (bapak Abu Burdah) berkata:”Maka kami pun duduk, lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami dan berkata:’Kalian masih di sini?’ Kami menjawab:’ Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kami telah shalat Maghrib bersama anda, kemudian kami berkata, bahwa kami akan duduk-duduk hingga shalat ‘Isya bersama anda.’ Beliau menjawab:’Bagus’ atau:’kalian benar.’ Perawi berkata:’ Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam menengadahkan kepalanya ke langit, dan saat itu beliau sering menengadahkan kepalanya ke langit.

Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:’ Bintang-bintang adalah penjaga keamanan langit, maka apabila bintang-bintang itu telah pergi, niscaya akan datang kepada langit apa yang telah dijanjikan untuknya.

Aku adalah penjaga keamanan bagi para Shahabatku, maka apabila aku telah pergi (meninggal), akan datang/menimpa para Shahabatku apa yang dijanjikan untuk mereka. Dan para Shahabatku adalah penjamin keamanan bagi umatku, maka apabila para Shahabatku pergi, niscaya akan datang kepada umatku apa yang telah dijanjikan untuk mereka.’ (HR. Imam Muslim rahimahullah)

2. Golongan yang selamat akan kembali (merujuk kepada Firman Allah dan sabda RasulNya tatkala terjadi per-selisihan dan pertentangan di antara mereka, sebagai realisasi dari Firman Allah,

فإن تنازعتم في شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ))  ٥٩

"Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kem-balikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa': 59).

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak ber-iman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An Nisa: 65).

Pemahaman Tasawuf: wali lebih tinggi dari
nabi dan rassul. Mereka merasa sudah sampai ma'rifat dan ga perlu shalat. Inilah pemikiran yang sesat.

3. Golongan yang selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Firman Allah dan Sabda RasulNya.  Sebagaimana realisasi dari Firman Allah,

يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا نُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ

"Hai orang-orang yang beriman,dahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengeta-hui." (Al-Hujurat: 1)

Imam Syafi’i juga berkata,

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku"

Jangan mengangkat suaramu diatas suara rassul, karena bisa membatalkan amal.

Surat Al-Hujurat Ayat 2:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari."
Ibnu Abbas berkata,

أَرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ، أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، وَيَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ
وَعُمَرُ

"Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Ibnu ‘Abdil Barr)

4. Golongan yang selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid.

Mengesakan Allah adalah dengan beribadah, berdoa dan memohon pertolongan, baik dalam masa sulit maupun lapang. menyembelih kurban, bernadzar, tawakal, memutuskan segala perkara dengan hukum yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar.

Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak dite-mui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid.

Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak memberantas syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad.

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Dakwah pertama kali para nabi dan rassul adalah dakwah tauhid.

Contoh: ketika nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala, hanya satu patung besar yang belum dihancurkan, dan disuruh untuk berbicara dengan patung tersebut, tapi berhala itu tidak bisa berbicara.

Hijrah itu berat.

Contohnya: Ketika Allah turunkan ayat hijab. Para sahabat wanita langsung menutup aurat-aurat mereka. Tidak ada pertanyaan apapun, mereka langsung mengerjakan perintah Allah. Ini karena tauhid mereka yang kuat.

5. Golongan yang selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah dalam ibadah, perilaku, dan dalam segenap hidupnya.

Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi.

"Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing Maka keuntungan besarlah bagi orang-orang yang asi akan kembali menjadi asing seperti pada permulaan. (HR. Muslim).

Maka tidak aneh, jika dia akan terasing dari lingkungannya.

Contoh: ketika shalat sesuai rassul, ketika makan dan minum sesuai contoh rassul, ketika tidur sesuai contoh nabi, dan lain-lain.

6. Golongan yang selamat tidak fanatik kecuali kepa Firman Allah dan sabda RasulNya yang ma'shum, ya berbicara tidak berdasarkan hawa nafsu.

Imam Malik berkata, "Tak seorang pun sesudah Nabi melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi (yang ucapannya selalu diambil dan diterima)."

Kita tidak boleh fanatik dengan golongan manapun, kecuali hanya fanatik dengan Allah dan Rassul.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.”

Imam hambali: pendapat siapapun boleh diambil dan ditolak, tapi pendapat rassul wajib diambil.

7. Golongan yang selamat adalah para ahli hadits.

Tentang mereka Rasulullah bersabda,

"Senantiasa golongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, dan tidak akan membahayakan mereka yang menginakan mereka, sehingga keputusan Allah datang."

8. Golongan yang selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.

Golongan yang selamat mengambil fikih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari al-Qur'an, hadits-hadits yang shahih dan pen-dapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih.

Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya.

Imam syafeei dan imam hanafi: "Apabila hadist telah shahih, maka itulah pendapatku.

Imam malik: melarang  jangan kamu mempersempit agama yang luas ini.

9. Golongan yang selamat menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran.

Mereka melarang segala jalan bid'ah dan sekte-sekte yang menghancurkan dan memecah belah umat, berbuat bid'ah dalam hal agama dan menjauhi sunnah Rasul dan para sahabatnya.

Semuanya dijelaskan mana yang ma'ruf dan mungkar. Maka tidak aneh, jika golongan selamat akan dijauhi banyak orang.

10. Golongan yang selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya.

Agar mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafa'at Rasulullah dengan izin Allah.

11. Golongan yang selamat mengingkari peraturan dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Golongan yang selamat mengajak manusia kepada Kitab Suci al-Qur'an yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu.

Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemundurannya, khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitab Suci al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.

Umat Islam tidak akan jaya kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan, sebagai realisasi dari FirmanNya,

انَّ اللهَ لَا لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِم

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11).

Allah mengancam dalam alquran. Allah mengatakan siapa yang tidak berhukum dengan Allah maka dia kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Ma’idah: 44).

12. Golongan yang selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.

Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya.

Jihad dapat dilakukan dengan:

Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan, yaitu mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam.

Rasulullah telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Beliau bersabda,

تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ، وَحَتَّى
بَدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ.

" Hari Kiamat tidak akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala."

Kedua: jihad dengan harta yaitu menginfakkan harta untuk penyebaran dan perluasan ajaran Islam.

Ketiga, jihad dengan jiwa, yaitu bertempur dan ikut ber-partisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam, dan agar kalimat Allah (La ilaha illallah) tetap jaya, sedang kalimat orang-orang kafir menjadi hina.

Dalam hubungannya dengan ketiga perincian jihad di atas, Rasulullah mengisyaratkan dalam sabdaanya:

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ.

"Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu." (HR. Abu Dawud, hadits shahih).

Ibnu Qayim menyebutkan jihad itu ada 4 macam:

1. Jihad melawan diri sendiri

Jangan sampai mengakui hawa nafsu dan syawat. Jihad melawan diri sendiri dengan menuntut ilmu.

Abu dzar: Jihad yang paling utama adalah orang yang menjihadi dirinya untuk mentaati Allah.

2. Jihad melawan setan

Dengan cara mempelajari trik-trik setan menggoda manusia. Mereka sangat pintar untuk menggoda manusia. Setan mau nya kita sesat dan masuk neraka.

Contohnya: kita lalai dari zikir, sehingga setan berhasil menggodanya, berbuat maksiat (dosa kecil dulu) setelah itu berbuat dosa besar.

Ibnu Abbas: Setan itu berusaha memperhatikan terus hati manusia. Jika dia lalai, mereka akan menggodanya.

3. Jihad melawan orang fasik

Fasik ada dua:  Ahli bid'ah dan Pelaku maksiat.

Caranya mendakwahi mereka agar mereka paham dan mau kembali kepada Allah dan sunnah nabi.

4. Jihad melawan orang kafir

Orang kafir ada 2:

1. Orang kafir harbi (al-muhâribîn)

Orang kafir harbi adalah seluruh orang musyrik dan Ahli kitab yang boleh diperangi atau semua orang kafir yang menampakkan permusuhan dan menyerang kaum Muslimin.

2. Orang kafir non harbi: orang kafir yang tidak memerangi umat Islam.

Orang Kafir ini yang Mendapatkan Jaminan Keamanan.

- Golongan ini terbagi menjadi dua yaitu yang minta suaka atau perlindungan keamanan (al-musta`min). Orang kafir mendapatkan jaminan keamanan negeri islam atau seorang muslim.

- Orang kafir yang memiliki perjanjian damai yang disepakati (al-mu’âhad). Orang kafir yg mengadakan perdamaian dengan kaum muslimin. Maka mereka tidak boleh diganggu. Tapi kita dakwai mereka, supaya mereka mau mengenal dan memahami islam.

- Orang kafir ahlu dzimmah (adz-dzimmi): wajib bayar upeti.

Jihad itu nama yang indah dan agung. Karenanya Mari kita berjihad dalam melawan diri sendiri (hawa nafsu) dan jihad melawan setan.

Kiat-kiat agar selalu bertauhid kepada Allah:

1. Jangan pernah bosan mengkaji tentang tauhid.

2. Selalu berteman dengan orang-orang yang mentauhidkan Allah.

3. Selalu khawatir akan jatuh kedalam dosa syirik.

4. Berdoa meminta kepada Allah agar kita senantiasa bertauhid sampai ajal menjemput.

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayahNya. Kita termasuk kedalam golongan yang selamat. Aamiin.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts