Kaidah-kaidah Menggapai Kebahagiaan

Bismillah
Dauroh Sehari Babussalam

Dauroh “MENGGAPAI KEBAHAGIAAN”

🎙 Bersama pemateri
Ustadz Maududi Abdullah, Lc

Kaidah-kaidah Menggapai Kebahagiaan

🗓 Sabtu, 18 Oktober 2025 | 26 Rabiul Akhir 1447 H

🕌 Masjid Babussalam, Cimanggis, Depok
Jl. Swadaya 3 no.40 Mekar Sari, Cimanggis- Depok
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang, namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru.

Sebagian orang berkata, ‘Hidup itu yang penting happy (bahagia)'. Ada yang berbahagia ketika melakukan hobi yang tidak bermanfaat, bahkan ada yang bahagia ketika bermaksiat.

Lantas kebahagiaan apa yang ingin anda raih? Sudah selayaknya kita sebagai mukmin yang berakal untuk menyelami agama ini dan mencari tahu serta memahami hakikat kebahagiaan yang hakiki.

Bagaimana sebenarnya hakikat "MENGGAPAI KEBAHAGIAAN” ?

Masjid adalah tempat terbaik dan paling dicintai Allah di muka bumi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا.

Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671)

Seringnya kita berkumpul di tempat terbaik mudahan-mudahan merupakan salah satu indikasi kita menjadi generasi terbaik di generasi kita saat ini.

Berkata Asy-Syaikh Al Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullahu:

Orang-orang kafir, mereka suka kepada anjing. Sementara anjing adalah hewan yang paling najis.

Akan tetapi mereka (orang kafir) kaum yang mencintainya, dikarenakan jiwa yang jelek akan menyukai perkara-perkara yang jelek pula.

Rasulullah melarang umat muslim  memelihara anjing. Karenanya apa yang diajarkan nabi Muhamad harus diikuti dan diamalkan.

Seluruh yang terbaik sudah diberikan Allah kepada nabi Muhammad dan kita diperintahkan untuk meniru segala-galanya dari Rassulullah.

Allah sudah mengumpulkan semua terbaik kepada nabi. Termasuk adalah kebahagiaan. Laki-laki yang paling bahagia adalah Rasulullah.

Ummu Sulaim menyapa Nabi sambil berkata, “Ya Rasulullah, seluruh laki-laki dan perempuan kaum Ansar telah memberimu hadiah, namun aku tidak punya apa-apa yang bisa aku jadikan hadiah untukmu kecuali anakku ini. dia, dan dia akan mengabdi kepadamu sesuai dengan apa yang kamu kehendaki.” 

Anas bin Malik pun menceritakan bagaimana pengalamannya berkhidmah (mengabdi) kepada Rasulullah semasa hidupnya.

Anas bin Malik mengatakan, “Demi Allah, saya telah berkhidmah pada dia selama sepuluh tahun, dan dia tidak pernah mengatakan untuk sesuatu yang saya lakukan, ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ Dia juga tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, ‘Kenapa kamu meninggalkan ini?”

Karena rassulullah memiliki dada yang sangat lapang. Kalau kita bahagia, emosi akan jauh dari kita. Kebahagiaan adalah incaran manusia yang berakal dan normal. Apa yang disampaikan nabi adalah wahyu.

Agama yang kita cintai dan kita banggai ini telah memberitahu segalanya. Allah menjelaskannya di dalam Al Qur'an dan Hadist Nabi. Termasuk Kaidah-kaidah dalam Menggapai Kebahagiaan:

1. Bagaimana untuk menggapai kebahagiaan. Agama islam mengajarkan kita untuk bahagia.

2. Semakin sesuatu itu penting, semakin Allah bagi rata sehingga semua orang mendapatkannya.

Bahagia tidak untuk kalangan tertentu saja, semua orang bisa bahagia. Karena bahagia hal yang sangat dibutuhkan, tidak ada yang bisa menghalangi untuk bahagia, kecuali dirinya sendiri.

Oleh karena itu hal yang salah, apabila kita memandang kebahagiaan itu khusus untuk milyader (orang kaya), orang terkenal atau pun pejabat tinggi.

Contoh kebahagian yang salah:

● Pada zamannya Abu jahal adalah salah pemuka yang kaya raya di Mekkah, sementara nabi Muhammad orang biasa dengan kondisi ekonomi kurang (miskin). Tapi Abu Jahal tidak bahagia, justru yang paling bahagia adalah Rasulullah.

● Ketika zaman Fir'aun sebagai Raja Mesir yang berkuasa kaya raya, sementara nabi Musa hanyalah rakyat biasa. Namun kedudukan tinggi dan kebahagiaan sejati dimiliki oleh nabi Musa.

Di zaman sekarang, kebahagiaan seseorang dipandang dengan kekayaan, kekuasaan dan popularitas. Ini adalah fitnah kaula muda zaman sekarang. Ketika mereka berpikir memiliki harta yang melimpah dan menjadi orang terkenal akan membuatnya bahagia. Ini semua kebahagiaan yang semu.

Jangan sampai kamu takjub dengan kekayaan. Allah ingin mengazab dengan harta itu.

Sebagaimana Allah berfirman dalam al qur'an Surat At-Taubah Ayat 55:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَٰلُهُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَٰفِرُونَ

"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir."

■Tuntutan syariat bagaimana menjadi bahagia■

1. Bahagia terletak di dalam hati.

Bahagia itu sesuatu yang didapati oleh hati. Harta semata-mata tidak menjanjikan bahagia, termasuk jabatan dan popularitas tidak dapat membuat bahagia.

Kebahagiaan tidak dijamin dengan sarana dan prasana dunia. Itu bukan syarat mutlak untuk menjadi bahagia.

Apa nikmatnya hidup dipenuhi dengan rasa takut? Hidup tidak akan bahagia.

Rasa aman, Jiwa yang damai, sakinah dan ketentraman hati itu lah kebahagiaan. Allah akan menghadiahkan jiwa yang tentram bagi orang yang taat kepada Allah.

Allah tidak meletakan kebahagiaan dibalik maksiat. Dia akan menjadikan hati menjadi sempit, hidup akan gundah gulana. Sebaliknya Allah meletakan ketenangan dan kebahagiaan dibalik ketaatan.

Surat Ar-Ra’d Ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Ya. Ketahuilah dengan berzikir kepada Allah, hati menjadi tenang. Dan Allah menurunkan alquran sebagai obat untuk hati. Setiap manusia punya hati yang selalu berdzikir kepada Allah pasti akan bahagia.

Sebagai contoh, di bulan ramadhan hati menjadi lebih tentram. Karena pada bulan suci ini, kita banyak melalukan ketaatan kepada Allah. Maka Allah memberikan keteraman dan kebahagiaan yang lebih di bulan ramadhan. Sama halnya di saat kita haji dan umroh, hati kita akan menjadi bahagia dan tentram (nyaman).

2. Menjadi orang yang beriman dan rajin beramal shaleh.

Iman dan amal shaleh adalah jalan menuju kebahagiaan.

Surat An-Nahl Ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Allah menyembunyikan kebahagiaan melalui ketaatan. Dibalik ketaatan, Allah memberikan kebahagiaan dan ketentraman di hati. Maka seluruh ketaatan dalam agama mengarahkan pada ketenangan dan kebahagian hidup.

Contohnya: Mendengarkan kajian di majelis ilmu, hati akan menjadi tentram dan bahagia.

Nabi bersabda: Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim)

Semua ketaatan akan mendatangkan kebahagiaan, dadanya akan menjadi lapang.

Surat Al-An’am Ayat 125:

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."

Artinya Hidayah mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman. Keimanan dan amal shaleh, Allah akan lapangkan dadanya. Sebaliknya orang-orang yang Allah sesati, Allah jadikan hatinya sempit.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menafsirkan ayat ini:

Allah menjelaskan kepada hamba-hambaNya tanda-tanda kebahagiaan, hidayah, orang kesengasaraan, dan kesesatan seorang hamba.

Sesungguhnya orang yang dadanya terbuka untuk Islam dan disinari cahaya iman. Ia hidup dengan yakin, maka jiwanya tentram, mencintai kebaikan,  melakukannya dengan jiwa yang rela, merasakan kenikmatan tanpa merasa berat. Ini adalah tanda bahwa Allah telah memberinya petunjuk, menganugerahkan taufik kepadanya sehingga dia mampu meniti jalan lurus.

Dan bahwa tanda orang yang Allah ingin menyesatkannya adalah Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.

Kebahagiaan di hati adalah kebutuhan dan keinginan setiap orang dan akan terwujud kehidupan yang baik. Semua akan terwujud kecuali dengan iman dan amal shaleh.

Murninya Dunia akan membawa jenuh. Seperti jalan traveling, wisata kulineran, itu pasti akan ada masa jenuhnya. Apalagi maksiat akan membawa ketidaknyaman.

Sementara semua kebahagiaan untuk akherat akan mengusir kejenuhan, ia akan membuat hati bergelora dan bahagia.

Surat Al-Fath Ayat 4:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Iman itu berada di Hati, lisan dan anggota badan. Ketaatan akan mendatangkan kebahagiaan, contoh: bersedekah (hati orang yang memberi sedekah akan lebih bahagia dibanding orang yang menerimanya). Coba Buktikan saja!

3. Semua yang mendatangkan kebahagiaan akhirat, dia akan mendatangkan kebahagiaan di dunia. Berlaku sebaliknya semua yang tidak mendatangkan kebahagiaan di akherat, dia tidak akan mendatangkan kebahagiaan di dunia.

Jadi jangan pernah terbalik, maksiat itu adalah kesengsaraan di dunia dan akherat.

Orang-orang yang taat kepada Allah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat.

Surat Al-Infitar Ayat 13:

إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan."

Cabang kaidah menggapai kebahagiaan:

■ Tidak akan ada namanya hidup bahagia kalau hidup tidak qanaah (merasa cukup).

Merasa yang Allah berikan sudah cukup, ini akan nikmat sekali, hidup akan bahagia. 

Qanaah adalah amalan hati. Qanaah bisa diamalkan oleh siapapun, baik orang miskin maupun orang kaya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَـنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ ..رَوَاهُ مُسْلِمٌ

"Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam, dikaruniai rezeki yang cukup dan Allâh menjadikannya bersifat qanaah atas nikmat yang diberikan-Nya kepadanya." [HR. Muslim]

Bukanlah kaya engkau banyak harta. Kaya yang sebenarnya itu adalah didalam jiwamu. Apa yang kamu miliki lebih banyak dari kebutuhanmu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.

Untuk mencapai qanaah adalah simpelkan kehidupan duniamu. Lihatlah dunia dengan kehidupan yang tidak sulit.

■ Kaidah berikutnya: Lihatlah ke bawah, jangan melihat ke atas.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rajin melihat ke bawah, maka kebahagiaan dan ketentraman akan terwujud.

Oleh karena itu kita disuruh menjenguk orang sakit, melihat orang fakir dan miskin. Maka kita akan bersyukur, hati menjadi nikmat dan bahagia.

Sebaliknya jangan pernah melihat keatas dan melihat apa yg kita tidak punya, maka hati akan menjadi sempit dan hidup tidak nyaman.

■ Ridha dengan keputusan Allah.

Dunia ini di dalamnya dipenuhi dengan ujian dan musibah. Karenanya kita harus ridha dengan keputusan Allah.

Allah mengatakan kami akan memberikan kebaikan yang kalian sukai dan keburukan yang tidak disukai.

Dunia ini akan tunduk dan berjalan sesuai keinginan penciptaNya.

Surat At-Taghabun Ayat 11:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Manusia itu memiliki sifat tamak berlebihan, merasa tidak cukup (tidak qanaah) dengan apa yang diberikan oleh Allah.

Dunia itu ibarat baterai jam, ada plus dan minus. Ia baru bisa berjalan jika plus minum nya dijadikan satu. Sama halnya dengan sabar dan syukur.

Di dunia ini kita harus bersabar dan bersyukur agar hati menjadi tenang dan hidup bahagia. Dengan sabar Allah mengangkat dosa-dosa kita.

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Oleh karena itu jangan mencari kehidupan yang sempurna di dunia ini. Semua ada ujiannya. Dunia adalah negeri yang penuh ujian, penderitaan, dan banyak musibah.

Seandainya dunia ini dipenuhi dengan kesempurnaan, maka kita tidak akan merindukan negeri akherat. Karenanya negeri akherat adalah tempat kehidupan sempurna dan kebahagiaan yang hakiki.

■ Hidup selalu berhusnudzon (berbaik sangka baik).

Kita diperintahkan untuk berhusnudzon dengan Allah dan manusia, sehingga hidup akan bahagia. Dan sebaliknya orang yang su'udzon hidupnya akan menderita dan tidak bahagia.

Karena Allah Ta’ala pun telah berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Dikisahkan dalam surah Al kahfi: nabi Khidir sengaja merusak kapal yang nanti akan dirampas oleh raja yang zalim.

Sebagaimana firman Allah:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al Kahfi: 79).

Begitu pula ayat yang menceritakan bahwa Khidr membunuh seorang anak karena khawatir orang tuanya tersesat dalam kekafiran, itu juga mendukung kaedah yang dimaksud. Dalam ayat disebutkan,

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al Kahfi: 80).

Jika kita mendapatkan hal yang tidak kita sukai kembalikanlah kepada Allah dan berhusnudzon kepada Allah.

Khalifah Umar Bin Khattab menyatakan, "Janganlah kamu menyangka dengan suatu kata pun yang keluar dari seorang saudaramu, kecuali dengan kebaikan yang engkau dapatkan, bahwa kata-kata itu mengandung kebaikan."

Allah menyuruh kita tidak su'udzon. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al hujurat ayat 12:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain."

Husnudzon kepada Allah adalah wajib. Sebaliknya suudzon kepada Allah hukumnya haram.

■ Sibukan diri dengan kegiatan sekarang. Jangan sibukan diri dengan yang akan datang atau yang telah berlalu.

● Masa depan akan melahirkan ketakutan.
● Masa lalu akan melahirkan kesedihan.

Surat Yunus Ayat 62:

أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.

Jika demikian, tidak perlu seseorang merasa putus asa dari apa yang tidak ia peroleh. Karena jika itu ditakdirkan, pasti akan terjadi.

Surat Az-Zumar Ayat 53:

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Orang beriman tidak gentar dengan masa yang akan datang dan tidak bersedih dengan masa lalu. Dia fokus dengan masa sekarang, maka hidupnya akan menjadi tentram dan bahagia.

Hari-harimu ada 3: hari yang telah berlalu,  yang akan datang dan masa sekarang.

Nabi mengatakan kepada Ibnu Umar: "Apabila kamu berada di waktu sore hari jangan menunggu pagi hari. Bila kamu sedang berada di pagi hari jangan menunggu sore hari, tetapi manfaatkan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, manfaatkan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu“.

Surat Fussilat Ayat 30:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

■ Perbanyak memberikan manfaat untuk orang lain.

Karena memberikan kebahagiaan untuk orang lain, akan mendapatkan pahala dari Allah dan memperoleh kebahagian yang lebih besar.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Allah memuji kaum muhajirin dan kaum Anshar didalam al quran.

Surat Al-Hasyr Ayat 9:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung."

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Sungguh menenangkan jika kita terus mengkaji firman-firman Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik dan hidayahNya. Allah berikan kebahagiaan hakiki di hati ini dan di  akherat kelak surgaNya Allah.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts