Muslimah Kuat, Muslimah Taat
✨Bismillah✨
* Dauroh Muslimah Academy-9*
🗓️ Sabtu, 4 Oktober 2025
📍 Masjid Nur Salma, Centennial Tower Lt.22, Jaksel
Bersama:
🎙️ Ustadz Nizar Saad Jabal, Lc., M.Pd. حفظه الله
"Muslimah Kuat, Muslimah Taat"
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Muslimah Kuat, Muslimah Taat
Muslimah kuat itu seperti apa?
Kalau itu kekuatan fisik, manusia akan mengalami penurunan. Kalau berdasarkan ilmu, akan beraneka ragam kemampuan ilmu yang dimiliki.
Berikut gambaran kekuatan yang dikisahkan dalam kisah putri Syuaib:
Kisah 2 putri Syuaib yang berkaitan dengan nabi Musa. Disaat nabi Musa membantu mengambilkan air di sumur untuk kedua putri Syuaib.
Pendapat yang kuat Syuaib bukanlah nabi, tapi seorang hamba yg shaleh.
Nabi Musa melihat sekelompok orang sedang berebut air minum untuk ternak mereka di sumber mata air, di sana beliau melihat dua orang wanita yang hanya menunggu para lelaki selesai berebut air.
Nabi Musa menghampiri mereka dan bertanya, mengapa mereka mengambil ternak bersama kaum laki-laki. Wanita tersebut menjawab bahwa ayahnya sudah tua dan tidak mampu lagi untuk mengambil air.
Kemudian Nabi Musa pun menolongnya dan memberi minum ternak yang dimiliki oleh keluarga wanita tadi. Setelah selesai, Nabi Musa beristirahat di sebuah pohon sembari berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuk.
Sementara kedua wanita tadi pulang dan menemui ayah mereka yang ternyata bernama Syuaib. Kedua wanita itu pun menceritakan tentang peristiwa yang terjadi tersebut.
Setelah mendengar ceritanya, Syuaib memerintahkan anaknya untuk mencari dan memanggil laki-laki yang menolongnya. Salah seorang putri Nabi Syuaib pun pergi mencari Nabi Musa dan menemukannya di bawah pohon. Wanita itu meminta Nabi Musa memenuhi panggilan ayahnya.
Selama di perjalanan, Nabi Musa meminta wanita itu untuk berjalan di belakangnya dalam membimbing jalan ke rumahnya. Ia khawatir wanita itu tidak nyaman bila dirinya yang berjalan di belakangnya.
Sampailah mereka di rumah Syuaib, Nabi Musa pun lantas menceritakan kejadian yang dialaminya hingga alasan mengapa dirinya berlari dari Firaun dan tentaranya. Nabi Syuaib pun berkata:
"Sekarang engkau telah aman dan selamat dari kejaran Firaun."
Setelahnya, salah satu putri Nabi Syuaib pun meminta kepada ayahnya agar Nabi Musa diangkat menjadi pegawai dan mengurus ternaknya. Hal ini tertuang dalam surah Al Qashash ayat 26:
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
Artinya: Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, "Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya."
Salah seorang putri Syuaib menceritakan sikap dan perlakukan Nabi Musa kepadanya. Mulai dari membantu ia dan saudaranya di dekat sumber mata air hingga saat Nabi Musa menolak berjalan di belakang seorang wanita.
Berpegangan dari cerita putrinya, Syuaib pun menawarkan Nabi Musa untuk menikahi salah satu putrinya. Sejak itu pula, Nabi Musa resmi menjadi pegawai sekaligus menantu Syuaib.
Akhirnya, Nabi Musa menikahi anak Syuaib yang bernama Shafura. Syuaib juga meminta Nabi Musa untuk tinggal bersamanya selama 8 tahun untuk bekerja sekaligus belajar, namun Musa memutuskan untuk tinggal selama 10 tahun. Seperti yang tercantum dalam surah Al Qashash ayat 27:
قَالَ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ اُنْكِحَكَ اِحْدَى ابْنَتَيَّ هٰتَيْنِ عَلٰٓى اَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمٰنِيَ حِجَجٍۚ فَاِنْ اَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَۚ وَمَآ اُرِيْدُ اَنْ اَشُقَّ عَلَيْكَۗ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
"Dia berkata, "Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik."
Ada dua sifat yang memiliki kesempurnaan menjadi individu yang bermanfaat:
1. Memiliki Kekuatan (mampu melakukan tugasnya)
2. Amanah (Ketaatan)
Sosok istri atau perempuan idaman dijelaskan dalam al qur'an Qs. An Nisa ayat 34:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)."
Allah membagi wanita shaleha menjadi 2:
1. Amanah (taat)
2. Kekuatan/ Menjaga atas urusan yang ditinggal (mampu melakukan tugasnya dengan baik).
Abdullah bin Mas'ud mengatakan: "setiap individu dari kalian itu adalah pemimpin dan setiap individu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.
Suami itu pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah.
Perempuan itu pemimpin di rumah suaminya dan nanti akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah.
Ibnu hajar berkata: "yang namanya pemimpin adalah sosok yang menjaga, yang mendapatkan amanah dan yang harus melakukan kebaikan atas apa yang diberikan kepada dia. Maka dia disuruh untuk berbuat baik dan melakukan hal yang bermashlahat. Dirinya, rumahnya, anak-anaknya dan harta suaminya."
Perempuan yang memimpin rumah suaminya, merawat dan mengurusi suaminya itu, mengurusi anak-anaknya, mengurusi pembantu-pembantunya, dan menasehati suamimu dalam segala hal. Serta mengurusi mertua (ibu suami). Inilah Contoh perempuan yg kuat.
Contoh perempuan kuat lainnya adalah putri Rasulullah Fatimah, istri Ali bin Abi Thalib:
Kisah Ali bin Abi Thalib menceritakan istrinya Fatimah putri Rasulullah. Fatimah harus menumbuk biji gandum, sampai tangannya kapalan.
Fatimah juga mengisi tempat air sendiri, dan bekasnya terlihat di dadanya. Fatimah juga menyapu rumah dan bagian-bagian yang lain, sehingga bajunya kotor dan lusuh.
Suatu ketika, Nabi Muhammad mendapatkan beberapa hamba sahaya wanita. Ali bin Abi Thalib berkata kepada Fatimah, "Pergilah kepada ayahmu Rasulullah dan mintalah pembantu kepada beliau agar dapat meringankan pekerjaanmu."
Fatimah pun datang ke majelis baginda Nabi Muhammad. Saat itu, di sana ada banyak orang, dan Fatimah memiliki sifat sangat pemalu, karena itu ia tidak berani menyampaikan maksud kedatangannya di depan ayahnya. Akhirnya, Fatimah kembali ke rumah.
Keesokan harinya, Nabi Muhammad mengunjungi rumah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Rasulullah berkata kepada Fatimah, "Wahai Fatimah, apakah maksud kedatanganmu kepadaku kemarin?" Karena malu, Fatimah diam saja.
Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata, "Ya Rasulullah, ia menggiling gandum setiap hari sehingga timbul bekas di tangannya, dan ia mengisi air hingga berbekas di dadanya. la juga selalu membersihkan rumah dan bagian-bagian yang lain, sehingga bajunya kotor dan lusuh. Kemarin aku menyuruhnya mendatangi Rasulullah untuk meminta seorang hamba sahaya."
Rasulullah bersabda, "Wahai putriku, bersabarlah. Selama sepuluh tahun Musa Alaihissalam dan istrinya hanya mempunyai satu alas tidur, itupun mantel Musa Alaihissalam. Malam hari, mantel itu dihamparkan untuk tidur. Bertakwalah kepada Allah dan tetaplah menyempurnakan kewajibanmu dan pekerjaan rumahmu.
Setelah itu nabi mengajarkan fatimah amalan zikir saat hendak tidur. Ketika kamu akan berbaring tidur, bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali. Itu lebih baik daripada seorang hamba sahaya.
Fatimah berkata, "Aku ridha kepada Allah dan Rasul-Nya."
Kisah selanjutnya: Asma bin abu bakar menikah dengan zubair bim Awwam.
Zubair bin Awwam ketika menikahi Asma adalah seorang yang miskin, tidak punya harta dan budak. Kecuali ada seekor Onta dan seekor Kuda.
Asma bercerita aku kerja untuk bantu suamiku, aku mengurusi kudanya mengambil makannya dan air, aku membuat adonan roti. Aku tidak pandai membuat roti tetapi tetangga-tetanggaku bantu aku untuk buat roti. Dan mereka adalah tetangga-tetangga yang baik.
Setelah itu nabi mengajarkan fatimah amalan zikir saat hendak tidur. Ketika kamu akan berbaring tidur, bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali. Itu lebih baik daripada seorang hamba sahaya.
Fatimah berkata, "Aku ridha kepada Allah dan Rasul-Nya."
Kisah selanjutnya: Asma bin abu bakar menikah dengan zubair bim Awwam.
Zubair bin Awwam ketika menikahi Asma adalah seorang yang miskin, tidak punya harta dan budak. Kecuali ada seekor Onta dan seekor Kuda.
Asma bercerita aku kerja untuk bantu suamiku, aku mengurusi kudanya mengambil makannya dan air, aku membuat adonan roti. Aku tidak pandai membuat roti tetapi tetangga-tetanggaku bantu aku untuk buat roti. Dan mereka adalah tetangga-tetangga yang baik.
Dan aku mengangkat biji-bijian diatas kepalaku dari tanahnya Zubair yang Rasulullah berikan untuk Zubair, dan jaraknya kira-kira 4 km.
Satu hari aku datang dan aku mengangkat biji-bijian diatas kepalaku, kemudian ditengah jalan aku bertemu dengan Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam dan beberapa kaum Anshor.
Kemudian Rasulullah memanggilku untuk memboncengku dibelakangnya.
Aku ingin dibonceng oleh Nabi karena aku capek. Tapi aku malu berjalan bersama rombongan laki-laki.
Aku ingat Zubair suamiku dan bagaimana dia cemburunya, aku khawatir dia cemburu kepadaku karena aku berjalan bersama Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.
Rasulullah melihatku maka Rasulullahpun jalan terus.
Kemudian aku datang kepada suamiku Zubair bin Awwam, "aku tadi bertemu Nabi shalallahu'alaihi wasallam ketika aku sedang mengangkat biji-bijian diatas kepalaku, dan beliau bersama sahabat-sahabatnya, kemudian dia tundukan Onta agar aku naik ke Onta tersebut. Tapi aku malu kepada Nabi dan aku ingat engkau pencemburu."
Ini menunjukan kasih sayang istrinya kepada suaminya, dan ini merupakan amal sholeh. Dia tahu suaminya cemburu dan dia cerita kepada suaminya supaya suaminya lebih sayang.
Kata Zubair bin Awwam,
"Demi Allah, kau angkat biji-bijian diatas kepalamu itu lebih berat dari pada kau digonceng Nabi shalallahu'alaihi wasallam."
◇ Artinya, Zubair mengatakan tidak masalah selama itu bersama Nabi.
Maka Asma berkata, "Sampai akhirnya Abu Bakar ayahku mengirim kepadaku pembantu yang akhirnya mengurusi kudanya Zubair bin Awwam. Maka aku tidak capek-capek lagi mengurusi Kuda harus jalan tiap hari berkilo-kilo. Seakan-akan Abu Bakar telah memerdekakan aku dari perbudakan."
Hikmah kisah ini:
- Asma seorang istri yang kuat, taat dan penyayang kepada suaminya.
- Dibolehkannya ada pembantu di rumah.
- Kewajiban perempuan berpenampilan baik dan indah (cantik) di depan suaminya.
- Menutup rapat-rapat agar tidak terjadi kemaksiatan.
Aisyah sangat cemburu dengan khadijah istri nabi. Nabi sangat mencintai khadijah dan mengatakan tidak ada yang bisa menggantikan khadijah. Inilah bukti keistimewaan yang dimiliki oleh Khadijah. Seorang istri yang shaleha, taat, kuat, cantik, penyayang, sabar, dermawan dan lainnyaa yang dimiliku ibunda Khadijah.
Kisah Salman dan abu darda yang dipersaudarakan oleh nabi.
Salman telah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Darda’. Suatu nasehat berharga yang disampaikan Salman pada Abu Darda’ dan wejangan ini diiyakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah supaya Abu Darda’ tidak hanya sibuk ibadah, sampai lupa istirahat dan melupakan keluarganya.
Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata,
آخَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَ سَلْمَانَ ، وَأَبِى الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً . فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِى الدُّنْيَا . فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ ، فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا . فَقَالَ كُلْ . قَالَ فَإِنِّى صَائِمٌ . قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ . قَالَ فَأَكَلَ . فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ . قَالَ نَمْ . فَنَامَ ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ . فَقَالَ نَمْ . فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمِ الآنَ . فَصَلَّيَا ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ . فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَ سَلْمَانُ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”
Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama.
Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”
Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.”
Beberapa faedah dari kisah ini:
1. Disyari’atkan mempersaudarakan sesama muslim karena Allah.
2. Disunnahkan pula berkunjung (berziarah) ke saudara muslim dan bermalam di sana.
3. Bolehnya berbicara dengan wanita non mahram ketika ada hajat.
4. Boleh bertanya perkara yang mengandung maslahat walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan orang yang bertanya.
5. Sesama muslim hendaklah saling menasehati apalagi ketika melihat saudaranya keliru atau lalai dari ketaatan.
6. Keutamaan shalat sunnah di akhir malam.
7. Disunnahkan bagi istri untuk berhias diri bagi suaminya.
8. Istri memiliki hak yang mesti dijalani suami yaitu hubungan interaksi yang baik, termasuk pula dalam hal hubungan intim, jatah istri pun mesti diberikan.
9. Bolehnya melarang melakukan perkara sunnah jika sampai terjerumus dalam kekeliruan atau lalai melakukan hal yang wajib.
10. Larangan menyusah-nyusahkan (memberatkan) diri dalam ibadah.
11. Bolehnya membatalkan puasa sunnah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama) dan tidak ada kewajiban qodho’ jika puasa tersebut ditinggalkan.
Siapa perempuan/ istri yang paling hebat:
1. Perempuan itu (istri) yang membahagiakan ketika diliat (suaminya). Senyumnya manis, penuh keceriaan dan menjaga kecantikannya sehingga suami bahagia melihatnya.
2. Istri taat kepada suami ketika disuruh. Akhlaknya baik dan santun.
3. Bergaul dengan cara yang mulia. Istri tidak akan membantah atas harta dan dirinya yang kamu tidak suka.
Kisah Sahabat Perempuan: Ummu Sulaim, Mengutamakan “Menyenangkan Suami” Di Saat Duka.
Suatu hari, Abu Thalhah meninggalkan rumah beserta istri dan anaknya yang masih balita. Sekian waktu kemudian, di saat masa kepulangan telah tiba, anak balita yang sakit dan wafat. Ummu Sulaim tentu berduka sekali. Namun, ia bersegera menyiapkan diri untuk menyambut suaminya yang sebentar lagi tiba di Madinah. Ia pun berdandan secantik mungkin, sewanginya, juga menyiapkan makanana-makanan lezat kesukaan suaminya. Ia sungguh tak ingin membuat suaminya kaget dan pilu.
Ketika Abu Thalhah masuk ke dalam rumah, Ummu Sulaim menyambutnya dengan riang gembira nan sumringah seolah tidak terjadi apa pun di rumahnya. Abu Thalhah bertanya perihal keadaan anak balitanya yang ditinggalkan dalam keadaan sakit.
Ummu Sulaim menjawab, baik-baik saja, tidur nyenyak. Ya, anak yang sudah wafat itu sengaja dibaringkannya dengan baik di dalam kamar sebagaimana biasanya, dengan diselimuti kain yang lazim belaka. Abu Thalhah pun menikmati sajian dengan penuh lahap, semangat, ditemani istrinya tercinta. Mereka menikmati makanan dan minuman sebagaimana mestinya.
Usai bersantap, Abu Thalhah “mencolek” Ummu Sulaim. Dan, sebagaimana biasa pula, keduanya pun melakukan hubungan suami istri.
Keesokan paginya, Ummu Sulaim berbincang dengan suaminya dengan nada biasa saja. Ia berkata, “Bagaimana menurutmu jika ada seseorang diberikan suatu titipan, lalu titipan itu suatu saat diambil oleh pemiliknya?” Abui Thalhah menjawab ringan, “Ya, seyogianya ia rela saja untuk memberikan kembali titipan tersebut kepada pemiliknya.” Ummu Sulaim lalu berkata, “Wahai Abu Thalhah, ketahuilah bahwa anak kita yang dititipkan Allah Ta’ala kepada kita telah diambilNya….”
Betapa kagetnya Abu Thalhah. Bagai disambar petir! Wajahnya memperlihatkan nada kesal atas sikap Ummu Sulaim yang tidak menceritakan keadaan anaknya dengan terbuka sejak semalam. Ia pun mengadu kepada Kanjeng Nabi, menceritakan dengan detail kejadian sejak kepulangannya semalam, lalu bersantap malam, hingga berkumpul badan, serta sikap “tak jujur” Ummu Sulaim atas kewafatan anaknya. Nabi pun menasihati Abu Thalhah supaya bersabar atas ketetapan Allah Ta’ala. Beliau lalu mendoakan “Semoga di rahim Ummu Sulaim ditumbuhkan anak yang mulia dari hubungan badan kalian semalam….” Ummu Sulaim benar-benar hamil kemudian!
Begitu lahir, anak laki-laki, diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Kelak, anak ini memiliki sembilan anak, yang semuanya menjadi sosok mulia yang ahli al-Qur’an dan mengajarkannya di berbagai wilayah.
2. Amanah
Ada 3 komponen dari Amanah:
1. Kewajiban kepada Allah dan Rassul (ibadah yang wajib dan sunnah).
2. Kewajiban kepada suami.
3. Menjaga kehormatan dirinya.
■ Kewajiban kepada Allah dan Rassul
Beramal shaleh dan beriman kepada Allah dan Rassul. Allah akan memberikan kebahagiaan di dunia. Melahirkan dunia yang berkah, qanaah dan ridha terhadap semua pemberian Allah.
Sebagaimana firman Allah:
Surat An-Nahl Ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Sebalikyta jika berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rassul, maka kami akan memberi setan didalam rumahnya. Dia menganggap dirinya bahagia, padahal sejatinya dia tidak bahagia.
Surat Az-Zukhruf Ayat 36:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ
" Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya."
Surat Az-Zukhruf Ayat 37:
وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ
" Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk."
■ Kewajiban kepada suami
Yang paling utama adalah taat kepada suaminya.
Suamimu adalah Nerakamu dan Surgamu
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, diceritakan sahabat Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi untuk suatu keperluan.
Setelah urusannya selesai, Nabi bertanya kepadanya, “Wahai fulanah sudah bersuamikah kamu?” “Sudah,” jawabku. Beliau bersabda lagi, “Bagaimana kewajibanmu terhadap suamimu?” Aku menjawab, “Aku melayaninya dengan sungguh-sungguh kecuali dalam hal yang aku tidak mampu.” Beliau bersabda lagi, “Bagaimana kedudukanmu darinya? Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.”
Ketika seorang istri melihat ada satu kesalahan yang dilakukan suami, atau ada satu perbuatan suami yang kurang menyenangkan bagi dirinya, hendaklah seorang istri selalu mengingat (banyak) kebaikan-kebaikan suaminya yang lain. Dan hendaknya tidak mengingkari kebaikan suaminya selama ini.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَأُرِيتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَاليَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku tidaklah melihat pemandangan yang lebih mengerikan pada hari itu. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah para wanita.”
Para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa sebabnya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
بِكُفْرِهِنَّ
“Dengan sebab kekafirannya.”
Para sahabat bertanya lagi, “Karena kekafiran mereka terhadap Allah?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Karena mereka mengingkari (kebaikan) suami, mereka mengingkari kebaikan (orang lain). Jika Engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka bertahun-tahun lamanya, kemudian mereka melihat darimu sesuatu (satu kesalahan), maka mereka mengatakan, ‘Tidaklah aku melihat satu kebaikan pun darimu sama sekali.’” (HR. Bukhari no. 1052 dan Muslim no. 907)
■ Menjaga kehormatan diri dan suaminya
Menjaga kehormatan suami, jangan menceritakan keburukan suami kepada siapapun.
Kemuliaan itu dari amal shaleh kita. Jadikan suami kita bangga dengan kita.
Semoga Allah memberikan kita keteguhan iman, menganugerahkan akhlak yang baik, memberikan hidayah dan menjauhkan dari akhlak yang tercela, memberikan ketakwaan dan kehormatan serta kecukupan duniawi. Semoga Allah menuntun kita dan mempertemukan kita di surgaNya kelak. Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment