Prinsip-Prinsip Dasar Sunnah
Bismillah
Dauroh Sehari Babussalam
Dauroh “MENGGAPAI KEBAHAGIAAN”
🎙 Bersama pemateri
Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA
Prinsip-Prinsip Dasar Sunnah
🗓 Sabtu, 18 Oktober 2025 | 26 Rabiul Akhir 1447 H
🕌 Masjid Babussalam, Cimanggis, Depok
Jl. Swadaya 3 no.40 Mekar Sari, Cimanggis- Depok
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Diantara nikmat yang paling besar adalah hidayah dan diberikan taufik untuk menuntut ilmu agama.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama”
Dintara ilmu agama yang paling penting dan wajib untuk dipelajari seorang muslim dan muslimah adalah ilmu akidah.
Para ulama menulis kitab-kitab akidah dari semenjak abad pertama sampai sekarang. Ada diantaranya yang panjang dan ringkas.
Diantara ulama yang menulis tentang akidah adalah Al Humaidi Rahimahullah. Beliau adalah guru Imam Bukhari, bahkan termasuk awal-awal guru dari Al Imam Bukhari, beliau memiliki kitab Ushulu Sunnah. Kitab ini berisi tentang permasalahan tentang akidah.
Hadist yang paling terkenal tentang niat.
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan."
Ushulu adalah pondasi atau pokok-pokok. Sedangkan maksud sunnah adalah akidah. Jadi ushulu sunnah artinya pokok-pokok akidah.
As sunnah disisi kami (akidah Ahlus sunnah wal jamaah) adalah seseorang beriman dengan takdir yang baik dan buruk, yang manis maupun yang pahit.
■9 Permasalahan Akidah:■
1. Beriman dengan takdir Allah.
Wajib beriman dengan takdir. Allah sudah menakdirkan segala sesuatu sebelum terjadinya, menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan tidaklah terjadi di dunia ini sesuai kehendak Allah.
Allah menciptakan segala sesuatu, baik zatnya maupun amalannya. Dan ini berdasarkan dalil-dalil dari al qur'an dan hadits nabi. Apa yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan oleh Allah. Allah lah yang mengetahui segala sesuatu.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah/2: 29]
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ أَوْ مِنْ الْجَنَّةِ
Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka atau di surga.”
Dan Allah menulis semuanya di Lauhul Mahfuz. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
"Allah menuliskan takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
Semua yang terjadi di dunia sudah tertulis di Lauful Mahfuz. Apa yang Allah kehendaki terjadi dan apa yang Allah tidak kehendaki, maka tidak akan terjadi.
Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk apa yang kita lakukan. Baik amal ketaatan, kemaksiatan atau sesuatu yang mubah.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS Ash-Shaffat 96)
Masing-masing dari kita wajib beriman dengan takdir, baik takdir baik dan takdir buruk.
Diantara ciri orang yang beriman dengan takdir adalah mengetahui dan menyadari apa yang menimpanya telah tertulis di Lauful Mahfuz. Setiap makhluk tidak akan mungkin lolos darinya. Maka ini adalah indikasi orang yang beriman dengan takdir Allah.
Dan bahwasanya apa yang sudah ditulis di dalam Lauful Mahfuz tidak akan menimpa seseorang, maka tidak akan mungkin menimpanya.
Kita berlepas diri dari orang-orang qadariyah yang menafikan takdir. Al Qadariyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah.
Dan bahwasanya demikian semuanya adalah ketentuan dari Allah, yang baik maupun yang buruk.
2. Meyakini iman, ucapan dan perbuatan.
Ucapan ada 2, yaitu ucapan hati dan ucapan lisan.
● Ucapan hati yaitu membenarkan kalam Allah, kabar-kabar dari nabi.
● Ucapan lisan adalah seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat.
Perbuatan mencakup 3 unsur ( amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan).
● Amalan hati: mencintai Allah, takut kepada Allah, berharap hanya kepada Allah dan bertawakal kepada Allah.
● Amalan lisan: amalan yang dilakukan oleh lisan, seperti membaca alquran, berzikir dan berdoa.
● Amalan yang dilakukan oleh anggota badan, seperti: melakukan shalat, tawaf rukuk dan sujud.
Iman terkadang berupa ucapan, hati seseorang atau terkadang amalan anggota badan.
Contoh Berupa ucapan lisan, yang tertuang dalam Surat Al-Hujurat Ayat 14:
۞ قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
Berupa anggota badan yang dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 143:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan.Dan malu itu termasuk bagian dari iman."
Kita malu kepada Allah karena melanggar aturan Allah.
Sekte Murji’ah: mereka yang mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan. Mereka mengatakan bahwa kemaksiatan tidak memiliki pengaruh buruk pada keimanan seseorang. Sebagaimana ketaatannya tidak bermanfaat dalam kekufuran. Kemudian, dengan dasar ini mereka senantiasa memberikan harapan kepada pelaku maksiat berupa pahala dan ampunan Allah.
Yang benar adalah Amalan bagian dari iman. Jika dia meyakini ini, dia telah keluar dari pemikiran sekte murji'ah dari awal sampai akhir.
■ Iman menurut ahlul sunnah.
Iman bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan dan dosa.
Surat Az-Zalzalah Ayat 7:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Nabi menyebutkan kelak ada orang akan keluar dari neraka karena masih ada iman di hatinya.
Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَن كانَ في قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إيمَانٍ
“Keluarlah dari neraka siapa saja yang dalam hatinya masih ada iman seberat biji sawi.” (HR. Bukhari)
Surat Al-Anfal Ayat 2:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."
Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Aliran Murji'ah meyakini iman kita seperti imannya malaikat jibril. Mereka meyakini iman itu satu, tidak bertambah dan berkurang.
Dan tidak bermanfaat ucapan kecuali dengan amalan. Seperti: dia tidak mau shalat, tidak mau puasa dan lain-lain.
Dan tidak bermanfaat yang namanya ucapan dan perbuatan, kecuali dengan niat. Harus dengan niat yang ikhlas dan lurus karena Allah.
Sesungguhnya amalan dengan niat. Kalau niatnya karena Allah, dia akan mendapatkan pahala dan sebaliknya jika tidak diniatkan karena Allah, maka amalannya tertolak (sia-sia).
Dan tidak bermanfaat ucapan, perbuatan dan niat kecuali dengan sunnah. Maksudnya segala sesuatu harus sesuai sunnah nabi (meneladani nabi).
Dia menyangka pada hari kiamat membawa amalan ibadah yang banyak, namun ternyata tidak ada yang dibawa sama sekali.
3. Mendoakan dengan rahmat dan kebaikan untuk para sahabat nabi.
Seperti mengucapkan semoga Allah mengampuni dosa para sahabat, dan mendoakan kebaikan untuk para sahabat nabi. Karena Allah mengatakannya di dalam alquran.
Surat Al-Hasyr Ayat 10:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Maka mereka tidak dikatakan beriman, kecuali mereka memohonkan ampunan untuk para sahabat.
Barangsiapa yang mencela, menghina, merendahkan para sahabat sangat bertentangan dengan peerintah Allah dan RassulNya. Meski hanya mencela satu saja, berarti dia tidak berjalan diatas sunnah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya."
4. Al qur'an adalah Firman Allah. Ucapan Allah, yang berasal dari Allah.
Allah lah yang pertama kali mengucapkan al qur'an. Yang disampaikan malaikat Jibril adalah kalam Allah. Setelahnya didengar oleh nabi Muhammad adalah kalam Allah. Dan didengar oleh para sahabat adalah kalam Allah, sampai seterusnya hingga sekarang.
Allah Berfirman:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ نْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَا رَكَ فَاَ جِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلَا مَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَ
“Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 6)
Ini menunjukan alquran adalah kalam Allah, petunjuk Allah. Allah yang mengucapkan dan Allah yang berbicara sesuai dengan keagungan Allah.
Al kalam adalah sifat Allah (Allah berbicara). Sifat Allah bukan makhluk.
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan al qur'an adalah kalam Allah dan barangsiapa yang mengatakan al qur'an adalah makhluk, maka dia adalah seorang ahlul bid'ah.
Orang-orang Mu’tazilah mengatakan Al Qur’an adalah makhluk. Mereka banyak mempengaruhi manusia dan juga penguasa, sehingga penguasa saat itu menuruti apa yang dikatakan oleh ulama-ulama Mu’tazilah.
Doa nabi saat mengunjungi suatu tempat.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allâh yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang Dia ciptakan."
Seseorang tidak boleh berlindung dengan makhluk.
5. Meyakini tentang ru'yah setelah kematian. Melihat Allah setelah kematian pada hari kiamat.
Orang-orang yang beriman akan melihat Allah dengan mata pada hari kiamat. Dan ini adalah nikmat yang paling besar untuk orang yang beriman di dalam surga.
Surat Al-Qiyamah Ayat 22-23:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
Surat Yunus Ayat 26:
۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."
■ Dalil-dalil tentang sifat Allah.
Surat Al-Ma’idah Ayat 64:
Allah Ta’ala berfirman
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Padahal kedua tangan Allah terbuka lebar, Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki.”
Rasulullah -shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
Artinya: “Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, baik dari kalangan bangsa Manusia maupun bangsa Jin semuanya berkumpul di tempat yang sama kemudian setiap masing-masing dari mereka meminta kepada-Ku lalu Aku memberikan permintaan mereka itu, maka hal itu tidak mengurangi apa-apa yang ada di sisi-Ku KECUALI HANYA SEPERTI JARUM YANG MENGURANGI AIR LAUT JIKA DIMASUKKAN KE DALAMNYA”.
Artinya Jika satu jarum dimasukkan ke laut kemudian diangkat, maka sedikitpun air laut tidak berkurang (tidak ada artinya).
● Allah memberikan segala sesuatu sesuai kehendakNya.
Dan kedua tangan Allah adalah kanan, berdasarkan firman-Nya (yang artinya), “Dan langit-langit dilipat oleh Allah dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)
Jangan kita menafsirkan sesuai keinginan kita. Ini adalah penyimpangan.
Allah beristi'wa diatas Ar'sya. Dan isti'wa Allah sesuai keagunganNya, tidak sama dengan makhluk. Barangsiapa yang menyangka atau mengingkari semua ini adalah sesat.
Tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang khawarij, barangsiapa yang melakukan dosa besar. Maka dia sudah kafir. Ahlus sunnah waljamaah tidak mengatakan seperti itu. Seseorang tidak keluar dari agama islam karena dia melakukan Dosa besar.
Surat Al-Hujurat Ayat 9:
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
Sementara Orang murji'ah mengatakan pelaku dosa besar sama dengan Jibril.
Ahlus sunnah wal jamaah meyakini sesungguhnya kekufuran ketika meninggalkan 5 perkara, yaitu:
1. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
2. Mendirikan Shalat
3. Membayar Zakat
4. Berpuasa di bulan Ramadhan
5. Haji
● Pendapat pertama: Ketika orang menolak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia telah keluar dari agama islam. Dan jika seseorang mengingkari dari salah satu 4 rukun setelahnya, maka dia telah keluar dari agama islam.
● Pendapat kedua: Ada yang berpendapat karena malas, maka dia tidak keluar dari agama islam. Dia dikatakan Muslim yang berkurang keimanannya.
● Pendapat ketiga: Ada yang berpendapat meninggalkan shalat sudah keuar dari agama islam.
● Pendapat ke 4: Meninggalkan shalat dan zakat, dia sudah kafir.
● Pendapat Kelima: Meninggalkan shalat, zakat dan memeranginya dan dia melawan, maka dia telah kafir.
● Orang yang tidak menjalankan rukun islam 5, maka dia telah keluar dari agama islam. Dan tidak sah orang yang mengqada shalat dan puasa, sebab dia sengaja meninggalkan shalat atau puasa di bulan ramadhan tersebut.
● Adapun zakat kapan saja ditunaikan sah baginya, tapi dia berdosa karena dia menahan harta tersebut.
●Adapun haji: dia sehat dan punya harta. Maka ini wajib baginya. Tapi tidak wajib mengerjakan haji di tahun itu juga, boleh dia menunda setelahnya.
Semoga yang sedikit ini bisa menjadi nasihat untuk diri saya pribadi dan bagi orang-orang yang membacanya, karena barangkali kita sering lupa bahwa apapun yang telah Allah Ta’ala takdirkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hambaNya.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment