10 Pilar Sukses Mendidik Anak
Bismillah
*Kajian Tematik Al-Karimah*
📖 10 Pilar Sukses Mendidik Anak
(Karya: Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr)
👤 Ustadz Abu Yazid Novtriadi Lc, M.Pd. hafizhahullah
📆 Kamis, 15 Jumadal Ula 1447 H / 6 November 2025
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Mukadimah
Sesungguhnya diantara kewajiban yang paling besar dan amanah yang paling agung yang wajib diperhatikan oleh seorang hamba dalam kehidupan ini adalah anak-anaknya. Dimana ia berkewajiban membina, mendidik, menasehati, dan mengarahkan
mereka.
Anak-anak termasuk amanah yang agung yang Allah perintahkan untuk dijaga dan dipelihara. Seorang mukmin harus berupaya menjaga amanah yang telah diberikan oleh Allah. Amanah adalah titipan dari Allah yang harus diperhatikan dan tidak boleh diabaikan.
Sebagaimana firman Allah ketika menyebutkan sifat orang-orang yang beriman:
Surat Al-Ma’arij Ayat 32:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya."
Tarbiyah / mendidik anak-anak dengan adab-adab islam. Orangtua harus memberikan nasehat dan arahan yang baik dan benar. Ketika kita mengabaikan amanah ini berarti khianat.
Khianat itu adalah sifat orang munafik. Ada 3 ciri sifat orang munafik: 1. ketika berbicara berdusta, 2. ketika berjanji mengingkari, dan 3. ketika diberi amanat berkhianat.
Orang munafik terancam dijerumuskan ke dalam neraka yang paling dalam. Sebagaimana Allah memerintahkannya di dalam al quran.
Surat Al-Anfal Ayat 27:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."
Menunaikan amanah adalah perintah Allah. Anak itu adalah ujian dan fitnah. Sebagaimana Allah menjelaskannya dalam surah Al-Anfal Ayat 28.
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."
Anak merupakan nikmat dan karunia yang sangat agung, karena ini adalah pemberian Allah kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 49.
لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki."
Kita harus ridha dengan takdir Allah. Karena takdir Allah adalah yang terbaik untuk setiap hambaNya. Maka bersyukurlah terhadap semua nikmat Allah, termasuk dengan pemberian anak kepada kita. Barangsiapa yang bersyukur, maka Allah akan menambah nikmatnya.
Allah berfirman dalam Surat Ibrahim Ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Kita juga diperintahkan harus selalu berprasangka baik kepada Allah.
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jika ia bersangka baik kepadaku, maka (kebaikan) itu untuknya dan jika ia bersangka buruk, maka itu untuknya.”
Dari Jabir, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda:
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus berhusnuzan pada Allah.”
Pendidikan anak adalah haknya anak dan kewajiban orangtua. Baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti: memberikan contoh perbuatan dan tingkah yang baik, dimasukkan ke sekolah islam-sunnah untuk menuntut ilmu dan lain-lain.
Nasehat syeikh utsaimin: "Haknya anak (mendapatkan tarbiyah dari orangtua). Anak merupakan amanah di pundak orangtuanya. Keduanya akan ditanya pada hari kiamat. Dengan mendidik mereka dengan 2 perkara: 1. pendidikan ibadah (akidah) dan 2. pendidikan akhlak (adab-adab islam).
Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua.
Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Pendidikan untuk anak sepanjang masa. Kita harus berusaha agar anak-anak kita memiliki akhlak yang baik.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
Karena takwa dan akhlak baik itulah yang mengantarkan pada surga.
Dari Abu Hurairah, ia berkata:
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.”
Dengan 2 aspek inilah, anak kita akan mudah dimasukan ke dalam surga.
Bukankah Allah memerintahkan kita untuk menjaga keluarga kita dari siksaan api neraka. Maka di saat yang sama Allah mengamanahi mereka dengan anak-anak mereka dan memberikan mereka hak dan kewajiban dan menjadikannya ujian bagi para orang tua.
Jika para orang tua memperlakukan anak-anak mereka sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mereka, maka mereka mendapatkan pahala yang agung dan balasan yang besar.
Namun jika mereka lalai dalam pendidikan anak, maka sungguh mereka layak mendapatkan hukuman sesuai dengan tingkat kelalaian mereka.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim Ayat 6:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Ayat ini merupakan pondasi yang agung
tentang kewajiban menjaga, mendidik, dan memperhatikan keadaan anak-anak.
Ali bin abi thalib menafsirkan ayat ini: diantara upaya kita menjaga keluarga dari api neraka: 1. Mengajarkan ilmu syar'i (sesuai alquran dan As Sunnah) dan 2. Ajarkan adab-adab islam.
Beliau berkata “Ajarkanlah mereka, didiklah mereka”
Orangtua harus selalu belajar / menuntut ilmu syar'i. Jangan hanya bergantung kepada sekolah atau pondok pesantren.
*10 Pilar Sukses Mendidik Anak:*
Pilar Pertama: Memilih Istri Shalihah
Pilar Kedua: Menanamkan Akidah dan Iman
Pilar Ketiga: Banyak Berdoa untuk Anak
Pilar Keempat: Membentengi Anak Dengan Dzikir
Pilar Kelima: Memilih Nama yang Baik
Pilar Keenam: Berlaku Adil kepada Anak-anak
Pilar Ketujuh: Kelembutan dan Kasih Sayang
Pilar Kedelapan: Terus Menerus Memberikan Nasihat Dan Arahan
Pilar Kesembilan: Teman Duduk Yang Shalih
Pilar Kesepuluh: Teladan yang Baik
*PENJELASAN*
Pilar 1: Memilih pasangan / Istri yang shalihah
Carilah calon istri yang sholeha. Karena ibu adalah tempat belajar pertama, mencontohkan mana yang baik dan buruk. Ini adalah bekal untuk anak-anak kita.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung."
Diantara kebahagiaan seorang laki-laki adalah memiliki pasangan yang sholeha.
Nabi bersabda: Diantara perkara yang dapat membahagiakan manusia yaitu memiliki pasangan yang sholeha.
Sesungguhnya wanita shalihah menjadi suatu kebahagian bagi seseorang. Karena seorang wanita shalihah memiliki sifat-sifat khusus yang hanya ada pada dirinya, seperti: ikhlas, mudah menerima nasihat, jujur, amanah, menunaikan janji, menjaga harta, menghormati suami, menjaga kehormatan, dan mampu membina anaknya dengan baik.
Kebaikan yang ada pada istri yang shalihah biasanya akan kembali kepada anak-anaknya, karena ia sering berinteraksi dengan mereka, memperhatikan mereka, dan mengarahkannya secara terus-menerus. Ini juga termasuk kebahagiaan yang
Allah jadikan ada pada diri istri shalihah.
*Pilar 2: Menanamkan Akidah dan Iman*
Akidah dan iman adalah azas dan pondasi dari setiap amalan ibadah. Akidah dan iman adalah dua pondasi yang dibangun di atasnya seluruh amalan yang lain. Jika pondasi ini baik, maka baik pula pengaruh yang dihasilkan dan akan memberikan buah yang baik.
Apabila pohon dipotong akarnya, maka pohon itu akan mati. Begitupula agama, bila tidak berdiri di atas tauhid, maka tidak ada manfaatnya. Kedudukan tauhid pada agama sebagaimana akar pada pohon.
Oleh karea itu, terdapat banyak nash dari Al Qur’an dan Hadits yang menunjukkan pentingnya menanamkan akidah yang selamat dan keimanan yang benar pada jiwa anak-anak sejak kecil.
Sebagaimana wasiat Luqman Al Hakim kepada anaknya, dimana ia mengajari anaknya dan berwasiat kepada anaknya:
Surat Luqman Ayat 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Beliau memulai wasiatnya dengan melarang dan memperingatkan anaknya dari kesyirikan. Karena kesyirikan adalah dosa yang paling berbahaya karena dapat membatalkan seluruh amalan.
Syirik adalah menyamakan selain Allah
dengan Allah pada sesuatu yang merupakan hak Allah. Sebagaimana Allah mengabarkan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka apabila masuk ke
neraka pada hari kiamat, akan berkata dalam keadaan merasa rugi dan menyesal:
”Demi Allah sesungguhnya kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh alam." (Asy Syu’araa: 97-98)
Apa amalan yang paling afdhal? Amalan yang paling baik adalah iman kepada Allah dan iman kepada rassulNya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: ‘Apakah amalan yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya."
Diantara sifat orang shaleh dijelaskaan dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 114:
يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
"Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang-orang yang saleh."
Dijelaskan juga dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim kenikmatan yang akan didapat oleh hamba yang sholeh.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ} [أخرجه البخاري ومسلم]
“Allah ta’ala berfirman: ‘Aku siapkan bagi para hambaKu yang sholeh (kenikmatan) yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah terdengar sebelumnya oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia’.
Nabi mengatakan "sesungguhnya kalian tidak bisa masuk ke dalam surga, kecuali kalian beriman."
Mereka akan dimasukan ke dalam Surga Adn.
Surat Ar-Ra’d Ayat 23:
جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَٰجِهِمْ وَذُرِّيَّٰتِهِمْ ۖ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ
"(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu."
*Pilar Ketiga: Banyak Berdoa Untuk Anak*
Doa kepada anak-anak termasuk pilar yang paling penting untuk kebaikan dan keistiqamahan mereka. Doa ini dilakukan baik sebelum kedatangan mereka maupun sesudahnya.
Kedua orang tua memohon kepada Allah agar Allah mengaruniakannya keturunan yang shalih.
Setelah diberikan karunia berupa anak, kedua orang tua memohon kepada Allah agar anak-anaknya diberikan petunjuk, kebaikan, istiqamah, dan keteguhan di atas agama.
Ini sebagai bentuk mengambil teladan dari para Nabi. Sesungguhnya Allah mengabarkan tentang kekasih-Nya Nabi Ibrahim, bahwa beliau berdoa:
Surat As-Saffat Ayat 100:
رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."
Nabi Ibrahim juga berdoa:
Surat Ibrahim Ayat 40:
رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku."
Nabi Zakaria berdoa:
"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imran: 38)
Diantara kenikmatan dan kemurahan Allah, Ia jadikan doa orang tua kepada anaknya itu mustajab (dikabulkan). Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah, beliau bersabda:
“Ada tiga macam doa yang pasti diterima tanpa ragu lagi, yaitu: doa bapak, doa musafir, dan doa dari orang yang teraniaya”
Diantara perkara yang wajib diperhatikan oleh para orang tua agar berhati-hati dari mendoakan keburukan kepada anak-anak mereka, terutama saat sedang marah.
Hendaknya kedua orangtua tidak tergesa-gesa dalam mendoakan keburukan anaknya, lalu doanya dikabulkan sehingga membuat keduanya sangat menyesal setelah itu terjadi.
Sungguh rasul kita yang mulia telah memperingatkan kita dengan sabdanya:
“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri kalian sendiri, dan janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, serta jangan mendoakan kejelekan untuk harta kalian. Janganlah
kalian berdoa seperti itu karena boleh jadi bersesuaian dengan satu waktu dari Allah yang jika Dia diminta sesuatu pada waktu tersebut, Dia pasti mengabulkannya untuk kalian."
Kadang kita berdoa lantas berputus asa dari doa kita. Ketahuilah, Allah itu amatlah baik. Doa yang kita panjatkan pasti dikabulkan oleh Allah, namun dalam tiga hal.
Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan pasti Allah memberikannya kepadanya, atau Allah menghindarkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doanya, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahim.” Lalu seseorang berkata, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak memberi (dari apa yang kalian minta).”
*Pilar Keempat: Membentengi Anak Dengan Dzikir*
Diantara pilar yang agung dalam mendidik anak adalah semangat kedua orang tua dalam membentengi anak-anaknya dengan dzikir-dzikir syar’i dan wirid-wirid yang diajarkan Nabi.
Sesungguhnya hal tersebut besar pengaruhnya pada anak-anak sebagai penjagaan, kebaikan, dan keselamatan dari fitnah dan keburukan.
Ini telah disyariatkan kepada kedua orang tua untuk membentengi keturunannya sebelum diciptakan.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ فَقَالَ بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
“Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: [Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”
Maka dalam ucapan “dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami”
adalah perlindungan yang besar bagi anak-anak agar selamat dari keburukan syaitan dan sekutunya.
Kemudian setelah Allah mengaruniakan anak-anak kepada orang tua, keduanya sepatutnya berusaha memberikan perlindungan dan benteng kepada anak-
anaknya.
Doa Rasulullah untuk cucu beliau, yakni Hasan dan Husen yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
A’udzu bikalimatillahit tammati min kulli syaithanin wa hammatin wa min kulli ‘ainin lammah.
"Aku lindungi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua setan dan binatang buas, serta dari pandangan mata yang membawa keburukan (sakit)."
Kemudian beliau bersabda: “Ayah kalian (Ibrahim) memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut”
Kemudian ketika anaknya mulai bisa berbicara, kedua orang tua harus bersemangat mengajarkan anak-anaknya dzikir. Dzikir-dzikir yang diajarkan nabi sejak kecil terutama dzikir harian, seperti dzikir pagi dan petang, doa masuk dan keluar rumah, doa makan, memakai pakaian dan yang semisalnya.
Sehingga anak akan tumbuh dalam keadaan terbiasa berdzikir kepada Allah. Dan membiasakannya dalam semua
keadaannya, menjadikannya sehat, selamat dari bahaya dan keburukan, serta akan menghasilkan keberkahan pada seluruh urusannya.
*Pilar Kelima: Memilih Nama-nama yang Baik*
Diantara perkara yang dapat membantu dalam membina anak dengan pembinaan yang baik adalah dengan memilih nama yang bagus dan baik.
Ini yang dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah, seperti diberi nama Abdullah (hamba Allah), Abdurrahman (hamba yang Maha Pengasih), Muhammad (yang dipuji), Shalih (orang yang baik), dan nama-nama lain yang mengingatkan sang anak dengan kebaikan, ibadah, dan hal-hal terpuji. Sehingga biasanya akan memberi pengaruh baik kepada sang anak.
Dikatakan dalam pepatah “Setiap orang memiliki bagian (pengaruh) dari
namanya”.
Terdapat hadis shahih dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”
Kita memohon kepada Allah dengan karunia dan kemuliaan-Nya agar menjaga anak-anak kita seluruhnya. Sebagaimana Allah menjaga para hamba-Nya yang shalih. Semoga Allah menjaga anak-anak kita dengan taufiq, Allah memberikan mereka rejeki berupa kebaikan, kesehatan, dan keselamatan dari fitnah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengabulkan doa. Aamiin..
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
NOTE:
Referensi Buku yang bagus: 100 ide praktis mendidik keluarga menjadi shaleh.
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment