Benteng keluarga dari orang ketiga
Bismillah
✨🕌✨ DAUROH Special ✨🕌
ikhwan dan akhwat
📖 Dauroh :
*Manajemen Konflik dalam rumah tangga*
"bekal untuk yang sudah menikah dan yang belum menikah"
🗓️16 november 2025
Masjid Nur Salma, Centennial Tower gatot subroto
Bersama:
👤 Ust. Nizar Saad Jabal, Lc., M.Pd
Tema: Berakhlak saat badai menerpa (benteng keluarga dari orang ketiga)
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Menjalani bahtera rumah tangga tidak luput dari ganasnya badai yang menerpa. Entah dari pihak istri atau suami ada saja yang hadir menjadi pihak ketiga. Tentunya berakhlak di saat itu sangat diperlukan, agar badai yang menerpa dapat dilalui dengan selamat.
Ibnu Qayim berkata "Alangkah mudahnya seseorang itu mengklaim, tetapi kebenaran itu terlihat saat fitnah terjadi. Disitulah terlihat hakekat dirinya."
Seseorang muslim dituntut menampakan keimanannya, di saat baik, nyaman ataupun dalam kondisi tidak nyaman (mendapatkan musibah).
Kalau Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan uji.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji”
Ujian itu datang dari mana saja, mulai dari keluarga, suami, istri, anak, saudara, teman dan lain-lain.
Disinilah kita dituntut untuk bersabar dan tegar dalam menghadapinya. Kita harus menunjukan akhlak mulia, kalau tidak kita akan kalah diterpa angin yang besar.
Badai kehidupan dari orang ketiga akan muncul di setiap keluarga. Orang ketiga dalam keluarga itu bermacam-macam dan pihak ketiga muncul dimana-mana.
Bagaimana cara membentenginya?
Allah menjelaskannya di dalam al qur'an surah Al Falaq: musuhnya atau pelakor pihak ketiganya berasal dari luar diri (kejahatan-kejahatan yang terjadi dari luar). Sedangkan dalam Surah An Nas (kejahatan itu berasal dari dalam diri sendiri).
Kita sering tidak melihat kesalahan diri sendiri, tetapi selalu melihat kesalahan orang lain.
Seperti Pepatah: Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan nampak. Artinya kesalahan diri sendiri tidak terlihat, tetapi kesalahan orang lain terlihat jelas.
Begitulah terjadi pada diri kita, yang salah utama adalah diri sendiri. Aibnya pada diri kita, jangan melempar kesalahan kepada orang lain. Sadarilah terlebih dulu, akar masalahnya yang harus dicari dalam diri kita.
Perselingkuhan itu menjadi budaya dan menjadi kayak trend. 3 penyebab utama kenapa itu semua terjadi:
1. Kejahilan seseorang akan hukum syar'i.
Mereka berada dalam kegelapan karena kejahilannya dan ketidak mauannya dalam menuntut ilmu.
Surat Al-Baqarah Ayat 17:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَٰتٍ لَّا يُبْصِرُونَ
"Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat."
Kejahilan ini membuat runyam dan rusak kehidupannya di dunia dan akherat kelak.
Surat Al-An’am Ayat 122:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan."
Cahaya adalah ilmu. Seseorang yang tidak memiliki ilmu seperti mayit. Orang yang jahil dalam kegelapan karena tidak ada ilmu. Yang dilihat ego dan kepentingan pribadi saja.
Ibnu katsir mengatakan "orang yang berada di kegelapan adalah kejahilan. Hawa nafsu adalah kesesatannya. Dia akan berada dalam kegelapan itu (berada dalam kemaksiatan dan tidak bisa keluar).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya di dalam keadaan gelap, maka Allah memancarkan atas diriku dari cahaya-Nya, maka barangsiapa terkena pancaran cahaya itu, ia akan berjalan dengan hidayah dan barangsiapa yang tidak terkena pancaran cahaya itu, maka ia kan tersesat.”
Saat ini terjadi banyak fenomena perceraian, karena akibat dari kejahilan.
Surat Al-Mulk Ayat 22:
أَفَمَن يَمْشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِۦٓ أَهْدَىٰٓ أَمَّن يَمْشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
"Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?"
Ibnu katsir menjelaskan ayat ini: "perumpaan seperti mukmin dan orang kafir."
2. Hawa nafsu menjadi pendorong.
Dia mengikuti desakan dan dorongan Hawa nafsunya, sehingga ia melakukan perbuatan sesuka hatinya.
Dia berbuat zalim karena kejahilannya dan dia enjoy melakukannya. Jiwanya mendorong dirinya untuk berbuat jahat. Terkecuali jiwanya disayang oleh Allah.
Kisah permaisuri raja Mesir dengan nabi Yusuf.
Ini adalah pelajaran berharga lebih-lebih lagi pada para pemuda dalam menghadapi godaan syahwat (hawa nafsu) di zaman ini. Nabi Yusuf bisa saja terjatuh dalam zina ketika digoda oleh permaisuri raja Mesir, Zulaikha yang cantik jelita.
Nabi Yusuf ‘alaihis salam adalah seorang pemuda. Seorang pemuda tentu memiliki gejolak syahwat yang lebih besar daripada orang yang sudah tua. Tentu sangat bergelora syahwatnya dan tidak ada tempat pelampiasan seperti yang sudah menikah. Nabi Yusuf berhasil menghadapi itu semua. Yang bisa menyelamatkan Nabi Yusuf adalah iman, takwa dan keikhlasan beliau.
QS. Yusuf Ayat 53:
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ibnu Katsir berkata: "Saya tidak mensucikan diri, sungguh jiwa yang mendorongku untuk berbuat buruk."
Sungguh jiwa-jiwa ini mendorong dirinya berbuat buruk, disitulah kejahilan terjadi.
Kalau hawa nafsu sudah terdorong. Jin dan setan akan mengirimkan tentara-tentaranya untuk berada dalam kubangan kejahatan.
3. Tidak ada komunikasi di dalam rumah.
Tidak ada komunikasi di rumah menjadikan ia bersemangat melakukan perbuatan yang salah.
Akibatnya terjadilah konflik dan kerusakan di dalam rumahnya. Akhirnya hidup gelap, tidak mampu membedakan baik dan buruk. Orang tersebut tidak tahu kata maaf, yang ada hanyalah ego semata di dalam benaknya.
Sering kali kita mendengar kata "menilai orang pakai kacamata kuda". Artinya melihat orang lain hanya salahnya saja dan sempit. Tidak bisa membedakan baik dan buruk, harapannya tidak dipenuhi.
Selain di dalam rumahnya tidak ada komunikasi, ia juga tidak bisa menjaga penampilan diri. Sementara diluar sana resepsionis, sales, marketing menebar pesona senyum manisnya. Inilah yang menjadikan badai bencana orang ketiga di dalam rumah tangga.
Imam Jarir ath-Thabari mengatakan:
“Sungguh jiwa-jiwa ini (jiwa-jiwa hambaNya) mengajak mereka untuk memenuhi apa yang diinginkan hawa nafsunya walaupun tidak sesuai dengan keridhoan Allah”
Nabi adam saja berhasil digoda iblis. Apalagi kita manusia anak cucu nabi Adam. Sungguh akhlak mulia sangat dibutuhkan untuk membentengi rumah tangga agar tetap kokoh.
Perilaku yang baik akan menjaga rumah tangga. Akhlak mulia menjadikan keburukan tidak terlihat. Sebaliknya akhlak yang buruk menjadikan kebaikan tidak terlihat.
Inilah sebuah fenomena akhir zaman. Yang salah itu adalah diri kita sendiri. Karenanya kita harus fokus dan sibuk memperbaiki diri dalam kebaikan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]
Di dunia ini dipenuhi kemaksiatan. Orang yang jahat itu banyak. Kita juga jangan mengkambing hitamkan orang lain. Dan orang yang bersyukur dan beriman di dunia ini hanyalah sedikit.
Tidak ada namanya Robin Hood di dunia ini, adanya orang yang munafik, baik di luar tapi buruk terhadap keluarganya.
Sebuah syair dari penyair Arab:
“Janganlah menjadi anjing yang menggonggong di rumahmu”
Jadilah istri, jadilah suami, jadilah teman buat pasanganmu. Dan jadilah teman untuk anak-anak kita.
Beberapa Contoh Akhlak rasulullah:
Sebagaimana Rassulullahu telah mencontohkan kehidupan rumah tangganya. Nabi bermain dengan istrinya, bercanda dan bergurau bersama para istrinya. Karenanya nabi adalah contoh dan suri tauladan terbaik dalam rumah tangga.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab Ayat 11:
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Aisyah mengatakan orang yg paling mulia diantara kalian adalah orang yang baik kepada keluarganya.
Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku“
Syariat islam mengatakan rumah tangga itu harus dijalankan dengan kebaikan, dengan penuh kelembutan.
Orang yg beriman paling mulia adalah yang paling mulia akhlaknya. Dan yang paling baik akhlaknya adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”
Manusia itu akan memiliki kedudukan yang tinggi, jika baik kepada keluarganya. Sebab keluargalah yang berhak mendapatkan keceriaan, akhlak mulia, perbuatan baik, kelapangan maaf dan kalimat-kalimat yamg indah. Itulah keluarga kita.
Jika seorang laki-laki memiliki sifat ini. Dia adalah manusia yang paling mulia. Dan sebaliknya dia jadi manusia paling buruk, karena tidak baik dengan keluarganya.
Banyak yang terjerumus dalam rumahnya, paling kasar jiwanya. Akhlaknya baik saat bersama dengan orang lain, namun buruk dengan keluarganya. Orang seperti ini adalah buruk.
Kisah nabi dan Khadijah
Aisyah mengatakan dia tidak cemburu dengan istri lain, kecuali cemburu dengan ibunda Khadijah. Rassul sering menyebut nama khadijah di depan aisyah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.”
Inilah rumah tangga nabi bersama khadijah. Cinta, pengorbanan, setia, pemberian, usaha, sabar dan keindahan.
Aisyah adalah seorang istri yang shalihah, mulia dan mudah menerima nasihat. Ia cepat memperbaiki kesalahannya, dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Ibunda Aisyah tidak ingin suaminya sedih karena dirinya.
Aisyah kemudian memanjatkan do’a:
“Ya Allah jika Engkau menghilangkan amarah Rasulullah ﷺ dari diriku, mulai hari ini saya tidak pernah menyebutkan nama Khadijah dengan keburukan sama sekali”
Betapa mulianya Aisyah Radhiyallahu anha sebagai seorang istri nabi. Ia sangat dicintai nabi.
Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَىُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ « عَائِشَةُ » . فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ فَقَالَ « أَبُوهَا »
“Siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”. Ditanya lagi, “Kalau dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya (yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq).”
Lalu Dimanakah posisi kita?
Seringkali kita dengan lantang menyatakan cinta kepada mereka, namun kenyataannya masih jauh panggang dari api. Bahkan tidak sedikit yang justru meniru figur non muslim, tokoh yang jauh dari agama, atau mengidolakan artis yang tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya.
Berbekalah dengan akhlak nabi dalam menjalankan kehidupan di dunia ini.
Shafiyyah binti huyay adalah Anak petinggi Yahudi dan sangat cantik jelita. Ketika Shafiyyah di tawan, Rasulullah memberinya 2 pilihan: Bebas dengan dinikahi Rasulullah atau di tawan. Pernikahan tersebut membuat 1 kabilah/suku Yahudi masuk Islam.
Kisah Shafiyyah binti huyay. Dibonceng oleh nabi naik unta dan memuji akhlak nabi.
Dari Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang akhlaknya lebih baik daripada Rasulullah ﷺ. Pernah di suatu malam, beliau memboncengku dari Khaibar di atas punggung untanya. Tatkala itu aku mengantuk hingga kepalaku terantuk pelana, lalu beliau menahanu dengan tangannya sambil berkata: ‘Pelan-pelanlah, wahai putri Huyay, pelan-pelan.’ Ketika sampai di daerah Shahba’, beliau berkata: ‘Aku memohon kepadamu, wahai Shafiyyah, atas apa yang telah aku lakukan terhadap kaummu. Mereka telah berkata ini dan itu kepadaku”
Ibnu katsir berkata "seluruh yang diperintahkan dalam al qur'an nabi kerjakan dan seluruh yang dilarang beliau tinggalkan."
Pergaulilah istri kalian degan baik. Jika kalian membenci sifat istrimu, bisa jadi yang kau benci dari istrimu itu adalah kebaikan yang luar biasa.
Imam as sadi: "Seluruh ayat yang menganjurkan ayat mulia telah dilakukan oleh nabi. Beliau adalah Sosok mudah/ringan/ dermawan dan lembut, santun, dekat dengan semua orang. Beliau menyenangkan hati siapa saja, mendengarkan keluhan istrinya dan bermusyawarah dengan keluarganya. Siapapun yang berbuat baik, beliau menerima. Menerima maaf kepada siapa yang berbuat salah kepadanya. Bergaul dengan sangat baik dan sempurna. Beliau tidak pernah berwajah masam. Tidak kasar dalam berbicara dan tidak memalingkan wajahnya dihadapan orang."
Nabi duduk bersama aisyah. Rassul mengatakan seorang yang paling jahat. Tapi nabi berbuat lembut dan santun dengan orang tersebut.
Ketika sahabatnya meminta sesuatu, beliau berada di sampingnya. Apalagi istrinya.
Kisah nabi di thaif
Mana yang paling berat? Nabi menjawab dilempari orang di thaif. Malaikat pun marah.
Aisyah mengatakan “Apakah engkau pernah mengalami satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarn Ats-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku.
Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril ‘alaihis salam, lalu ia memanggilku dan berseru, ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘azza wa jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka.’ Malaikat penjaga gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Al-Akhsyabain (dua gunung besar yang ada di kanan kiri Masjidil Haram).
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.”
Dari Jarir, ia berkata,
مَا حَجَبَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ أَسْلَمْتُ ، وَلاَ رَآنِى إِلاَّ تَبَسَّمَ فِى وَجْهِى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangiku sejak aku memberi salam dan beliau selalu menampakkan senyum padaku”
Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata;
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumnya selain Rasulullah
Anas Bin Malik, pembantu Rasulullah:
صحيح مسلم ٢٥٦٥: يَمُرُّ عَلَى نِسَائِهِ فَيُسَلِّمُ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَيْفَ أَنْتُمْ يَا أَهْلَ الْبَيْتِ فَيَقُولُونَ بِخَيْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ وَجَدْتَ أَهْلَكَ فَيَقُولُ بِخَيْرٍ فَلَمَّا فَرَغَ رَجَعَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ
Beliau Rasulullah melewati rumah isteri-isteri beliau dan mengucapkan salam kepada masing-masing dari mereka, lalu beliau bertanya: "Bagaimana keadaan kalian wahai ahlul bait?" Mereka pun menjawab: "Kami baik-baik saja wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi: "Bagaimana keadaan keluarga kalian?" "Baik-baik saja, " jawab mereka. Ketika dirasa cukup, beliau pun pulang dan saya juga ikut pulang bersama beliau.
Ini menggambarkan kebersamaan nabi dengan keluarganya. Rassul selalu dekat dengan istrinya dalam segala hal.
Abdullah bin Abbas menceritakan:
“Ketika Rasulullah selesai dari shalat subuh, beliau duduk di tempat shalatnya bersama para Sahabat hingga matahari terbit. Kemudian beliau menemui istri-istrinya satu per satu, mengucapkan salam, dan mendoakan mereka”
Rassul sangat dermawan dengan keluarganya.
Abdullah bin Abbas mengatakan:
عن ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ
“Dari Abdullah bin Abbas berkata, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan”
Nabi saat pergi, beliau terlebih dahulu mencium kening aisyah.
عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنْ النَّبِيَّ ﷺ قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ، قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هِيَ إِلَّا أَنْتِ، قَالَ: فَضَحِكَتْ
Dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Nabi mencium salah satu istrinya, lalu pergi shalat tanpa berwudhu lagi. Aku berkata: “Itu pasti engkau (wahai Aisyah).’ Ia pun tertawa”
Rassul tidak pernah memukul sedikit pun istri-istri dan pembantunya. Hanya saja jika agama Allah yang dilanggar, baru nabi marah dan membelanya.
Karenanya contohlah Nabi. Seorang suami tidak menghitung dan mencari-cari kesalahan istrinya.
Akhirnya Kita memohon kepada Allah keselamatan dunia dan akherat. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk mencontoh semua akhlak baik nabi. Semoga kita dikumpulkan bersama keluarga ke dalam surga firdaus. Aamiin.
Semoga bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Sebagaimana Rassulullahu telah mencontohkan kehidupan rumah tangganya. Nabi bermain dengan istrinya, bercanda dan bergurau bersama para istrinya. Karenanya nabi adalah contoh dan suri tauladan terbaik dalam rumah tangga.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab Ayat 11:
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Aisyah mengatakan orang yg paling mulia diantara kalian adalah orang yang baik kepada keluarganya.
Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku“
Syariat islam mengatakan rumah tangga itu harus dijalankan dengan kebaikan, dengan penuh kelembutan.
Orang yg beriman paling mulia adalah yang paling mulia akhlaknya. Dan yang paling baik akhlaknya adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”
Manusia itu akan memiliki kedudukan yang tinggi, jika baik kepada keluarganya. Sebab keluargalah yang berhak mendapatkan keceriaan, akhlak mulia, perbuatan baik, kelapangan maaf dan kalimat-kalimat yamg indah. Itulah keluarga kita.
Jika seorang laki-laki memiliki sifat ini. Dia adalah manusia yang paling mulia. Dan sebaliknya dia jadi manusia paling buruk, karena tidak baik dengan keluarganya.
Banyak yang terjerumus dalam rumahnya, paling kasar jiwanya. Akhlaknya baik saat bersama dengan orang lain, namun buruk dengan keluarganya. Orang seperti ini adalah buruk.
Kisah nabi dan Khadijah
Aisyah mengatakan dia tidak cemburu dengan istri lain, kecuali cemburu dengan ibunda Khadijah. Rassul sering menyebut nama khadijah di depan aisyah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.”
Inilah rumah tangga nabi bersama khadijah. Cinta, pengorbanan, setia, pemberian, usaha, sabar dan keindahan.
Aisyah adalah seorang istri yang shalihah, mulia dan mudah menerima nasihat. Ia cepat memperbaiki kesalahannya, dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Ibunda Aisyah tidak ingin suaminya sedih karena dirinya.
Aisyah kemudian memanjatkan do’a:
“Ya Allah jika Engkau menghilangkan amarah Rasulullah ﷺ dari diriku, mulai hari ini saya tidak pernah menyebutkan nama Khadijah dengan keburukan sama sekali”
Betapa mulianya Aisyah Radhiyallahu anha sebagai seorang istri nabi. Ia sangat dicintai nabi.
Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَىُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ « عَائِشَةُ » . فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ فَقَالَ « أَبُوهَا »
“Siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”. Ditanya lagi, “Kalau dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya (yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq).”
Lalu Dimanakah posisi kita?
Seringkali kita dengan lantang menyatakan cinta kepada mereka, namun kenyataannya masih jauh panggang dari api. Bahkan tidak sedikit yang justru meniru figur non muslim, tokoh yang jauh dari agama, atau mengidolakan artis yang tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya.
Berbekalah dengan akhlak nabi dalam menjalankan kehidupan di dunia ini.
Shafiyyah binti huyay adalah Anak petinggi Yahudi dan sangat cantik jelita. Ketika Shafiyyah di tawan, Rasulullah memberinya 2 pilihan: Bebas dengan dinikahi Rasulullah atau di tawan. Pernikahan tersebut membuat 1 kabilah/suku Yahudi masuk Islam.
Kisah Shafiyyah binti huyay. Dibonceng oleh nabi naik unta dan memuji akhlak nabi.
Dari Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang akhlaknya lebih baik daripada Rasulullah ﷺ. Pernah di suatu malam, beliau memboncengku dari Khaibar di atas punggung untanya. Tatkala itu aku mengantuk hingga kepalaku terantuk pelana, lalu beliau menahanu dengan tangannya sambil berkata: ‘Pelan-pelanlah, wahai putri Huyay, pelan-pelan.’ Ketika sampai di daerah Shahba’, beliau berkata: ‘Aku memohon kepadamu, wahai Shafiyyah, atas apa yang telah aku lakukan terhadap kaummu. Mereka telah berkata ini dan itu kepadaku”
Ibnu katsir berkata "seluruh yang diperintahkan dalam al qur'an nabi kerjakan dan seluruh yang dilarang beliau tinggalkan."
Pergaulilah istri kalian degan baik. Jika kalian membenci sifat istrimu, bisa jadi yang kau benci dari istrimu itu adalah kebaikan yang luar biasa.
Imam as sadi: "Seluruh ayat yang menganjurkan ayat mulia telah dilakukan oleh nabi. Beliau adalah Sosok mudah/ringan/ dermawan dan lembut, santun, dekat dengan semua orang. Beliau menyenangkan hati siapa saja, mendengarkan keluhan istrinya dan bermusyawarah dengan keluarganya. Siapapun yang berbuat baik, beliau menerima. Menerima maaf kepada siapa yang berbuat salah kepadanya. Bergaul dengan sangat baik dan sempurna. Beliau tidak pernah berwajah masam. Tidak kasar dalam berbicara dan tidak memalingkan wajahnya dihadapan orang."
Nabi duduk bersama aisyah. Rassul mengatakan seorang yang paling jahat. Tapi nabi berbuat lembut dan santun dengan orang tersebut.
Ketika sahabatnya meminta sesuatu, beliau berada di sampingnya. Apalagi istrinya.
Kisah nabi di thaif
Mana yang paling berat? Nabi menjawab dilempari orang di thaif. Malaikat pun marah.
Aisyah mengatakan “Apakah engkau pernah mengalami satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarn Ats-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku.
Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril ‘alaihis salam, lalu ia memanggilku dan berseru, ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘azza wa jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka.’ Malaikat penjaga gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Al-Akhsyabain (dua gunung besar yang ada di kanan kiri Masjidil Haram).
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.”
Dari Jarir, ia berkata,
مَا حَجَبَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ أَسْلَمْتُ ، وَلاَ رَآنِى إِلاَّ تَبَسَّمَ فِى وَجْهِى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangiku sejak aku memberi salam dan beliau selalu menampakkan senyum padaku”
Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata;
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumnya selain Rasulullah
Anas Bin Malik, pembantu Rasulullah:
صحيح مسلم ٢٥٦٥: يَمُرُّ عَلَى نِسَائِهِ فَيُسَلِّمُ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَيْفَ أَنْتُمْ يَا أَهْلَ الْبَيْتِ فَيَقُولُونَ بِخَيْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ وَجَدْتَ أَهْلَكَ فَيَقُولُ بِخَيْرٍ فَلَمَّا فَرَغَ رَجَعَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ
Beliau Rasulullah melewati rumah isteri-isteri beliau dan mengucapkan salam kepada masing-masing dari mereka, lalu beliau bertanya: "Bagaimana keadaan kalian wahai ahlul bait?" Mereka pun menjawab: "Kami baik-baik saja wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi: "Bagaimana keadaan keluarga kalian?" "Baik-baik saja, " jawab mereka. Ketika dirasa cukup, beliau pun pulang dan saya juga ikut pulang bersama beliau.
Ini menggambarkan kebersamaan nabi dengan keluarganya. Rassul selalu dekat dengan istrinya dalam segala hal.
Abdullah bin Abbas menceritakan:
“Ketika Rasulullah selesai dari shalat subuh, beliau duduk di tempat shalatnya bersama para Sahabat hingga matahari terbit. Kemudian beliau menemui istri-istrinya satu per satu, mengucapkan salam, dan mendoakan mereka”
Rassul sangat dermawan dengan keluarganya.
Abdullah bin Abbas mengatakan:
عن ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ
“Dari Abdullah bin Abbas berkata, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan”
Nabi saat pergi, beliau terlebih dahulu mencium kening aisyah.
عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنْ النَّبِيَّ ﷺ قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ، قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هِيَ إِلَّا أَنْتِ، قَالَ: فَضَحِكَتْ
Dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Nabi mencium salah satu istrinya, lalu pergi shalat tanpa berwudhu lagi. Aku berkata: “Itu pasti engkau (wahai Aisyah).’ Ia pun tertawa”
Rassul tidak pernah memukul sedikit pun istri-istri dan pembantunya. Hanya saja jika agama Allah yang dilanggar, baru nabi marah dan membelanya.
Karenanya contohlah Nabi. Seorang suami tidak menghitung dan mencari-cari kesalahan istrinya.
Akhirnya Kita memohon kepada Allah keselamatan dunia dan akherat. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk mencontoh semua akhlak baik nabi. Semoga kita dikumpulkan bersama keluarga ke dalam surga firdaus. Aamiin.
Semoga bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment