Agama Tanpa Rekayasa
Bismillah
Dauroh Dasar Muslimah 7: “Ketika Hati Bersyahadat”
Sesi Keempat:
"Agama Tanpa Rekayasa"
Oleh Ustadz Abu Fahd Ega, Lc.
Bertempat di The Krakatau Grand Ballroom Ceger Cipayung Jakarta Timur
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
“Tidaklah sebuah kaum, sekelompok orang sambil berdzikir (menyebut dan mengingat nama/keagungan) Allah, kecuali mengharap wajah Allah. Maka ada yang memanggil mereka dari langit: “Berdirilah, dosa kalian telah diampuni!”
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
"Agama Tanpa Rekayasa"
Islam adalah agama yang mengajarkan tauhid, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang layak disembah. Dasar dari agama Islam terletak pada syahadatain, dua kalimat kesaksian yang menjadi pintu gerbang masuknya seseorang ke dalam agama Islam.
Syahadatain terdiri dari dua bagian: Lailahaillallah dan Muhammadan Rasulullah. Dua kalimat syahadat ini merupakan rukun pertama keislaman seseorang. Tatkala seseorang mengucapkan kesaksian syahadat, maka ia telah menerima segala konsekuensinya.
Syahadat Lailahaillallah mengandung komitmen seorang yang mengucapkannya untuk menyembah hanya kepada Allah Ta’ala dan tidak membiarkan sedikit pun celah penghambaannya kepada makhluk.
Begitu pula, syahadat Muhammadan Rasulullah yang mengandung komitmen seorang yang mengucapkannya untuk ittiba’ secara totalitas kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khususnya dalam perkara ibadah kepada Allah Ta’ala. Serta menjauhi sesuatu yang bertolaak belakaang dari ajaran nabi (bid'ah).
■ Apa itu Bid'ah?
Menurut Ibnu Taimiyah Bid'ah adalah setiap perkara baru yang diada-adakan, jika seseorang menciptakan tanpa ada contoh sebelumnya. Kemudian penggunaannya dominan pada makna kekurangan dalam penambahan padanya.
Bid'ah itu lawannya sunnah.
Rasulullah bersabda:
"Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
■ Apa Tugas kita terhadap Bid'ah?
● Menjauhi Bid'ah (membencinya)
● Menuntut ilmu terkait Bid'ah (mempelajarinya)
Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,
Beliau mengungkapkan: Bid’ah dalam Islam adalah segala yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib atau bentuk anjuran (sunnah).
Adapun yang diperintahkan secara wajib atau mustahab dan diketahui perintahnya melalui dalil-dalil syar'i, maka termasuk agama yang disyariatkan oleh Allah.
■ Kenapa Bid'ah itu Dilarang?
1. Karena Jalan Kesesatan
Surat Al-An’am Ayat 153:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa."
● Ibnu Abbas (bapaknya tafsir al qur'an) memiliki murid bernama Mujahid menafsirkan surah Al An'am ayat 153 ini adalah jalan yang berbelok-belok itu adalah perkara bid'ah dan syubhat.
● Jangan jadi penyebab kesesatan
Jangan sampai kita punya andil dalam menyebarkan kesesatan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
"Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."
● Tidak ada yang mau menanggung dosa orang lain, maka bijaklah dalam bermedia sosial.
● Awas setan berwujud manusia, seperti dai sesat dan menyesatkan.
Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata : orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku.
Maka aku bertanya : ‘Wahai Rasulullah kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan ? Beliau menjawab : ‘Ya’, Aku bertanya : Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan .? Beliau menjawab : ‘Ya, dan ada padanya kabut (dakhan).
Aku bertanya lagi : Apa kabut (dakhan)nya tersebut.? Beliau menjawab : Satu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik dari mereka dan kamupun mengingkarinya. Aku bertanya lagi : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi.? Beliau menjawab : ‘Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka (Jahannam), barang siapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka’.
Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah berilah tahu kami sifat-sifat mereka ?. Beliau menjawab : ‘Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita’. Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau menjawab : ‘Berpegang teguhlah pada jama’ah muslimin dan imamnya’.
Aku bertanya lagi : Bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imam ? Beliau menjawab : ‘Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu“. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 6/615-616. Fathul Baari, dan Muslim 1847]
● Jadi orang jangan polos-polos amat, di dunia ini ada orang yang baik dan ada yg buruk.
● Hati-hati dalam mendengarkan kajian karena berkaitan dengan kesuksesan kita di akherat kelak.
● Ilmu agama harus terus dijaga sepanjang hayat.
2. Bid'ah Merusak Agama
Surat Al-An’am Ayat 159:
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat."
● Orang yang merusak agama mengekor hawa nafsunya dan menjalankan bid'ah.
Surat Al-A’raf Ayat 3:
ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
:Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)."
● Agama islam itu sudah sempurna, tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi.
Allah berfirman dalam surah Al Maidah ayat 3, yang artinya:
"Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
⇒ Ini ucapan Imam Mālik guru dari Imam Syafi’i, beliau mengatakan:
من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خان الرسالة
“Barang siapa yang membuat bid’ah di dalam agama Islām, (يراها حسنة) memandang bid’ah tersebut adalah baik, maka sungguh dia telah menuduh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhianati risalah Allāh”
● Sesuatu yang tidak termasuk bagian di zaman nabi, maka tidak termasuk agama di hari ini.
● Bid'ah mematikan sunnah
Nabi bersabda: "Ketahuilah, bahwa manusia tidaklah membuat satu bid’ah (perkara yang baru dalam agama), kecuali pasti mereka akan meninggalkan sunnah yang semisalnya. Maka, waspadalah terhadap perkara-perkara yang diharamkan. Karena semua perkara baru dalam agama disebut bid’ah, dan semua bid’ah adalah kesesatan, dan orang-orang yang tersesat diancam masuk ke dalam neraka.”
3. Amalan Ditolak oleh Allah
Nabi bersabda: Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
■ Bahaya Mengekor Hawa Nafsu
- Jangan menuhankaan akal dan perasaan.
Surat Shad Ayat 26:
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan."
● Prinsip dalam hidup:
- Beribadahlah dengan yang Allah ridhai dan dicintai. Bukan yang kita suka atau cintai (hawa nafsu)
● Yang menjaga kita adalah syariat Allah.
● Jangan mengorbankan cinta kita kepada Allah hanya karena hawa nafsu semata.
Tak hanya itu, di samping kegembiraan yang batil, mereka juga melakukan perbuatan lain yang tercela:
وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا
“Dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan." maksudnya adalah dengan kebaikan yang tak dikerjakan dan kebenaran yang tidak diucapkan. Dengan demikian mereka telah menggabungkan perbuatan dan perkataan jahat.
Dari Ḥuṣain bin Abdirrahman, ia berkata, "Aku berada bersama Sa'īd bin Jubair lalu ia bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang melihat planet jatuh tadi malam?' Aku jawab, 'Aku.' Lalu aku katakan, 'Adapun aku sedang tidak melaksanakan salat karena aku disengat.'
● Intinya kita jangan suka dipuji dan gila dengan validasi manusia (gila pujian).
■ Macam-macam Bid'ah
1. Bid'ah Haqiqiyah
Yaitu Bid'ah yang tidak ada sumber dalilnya dari manapun.
Contoh Bid'ah Haqiqiyah:
- Meyakini satu kota adalah kota yang suci sama seperti mekkah dan madinah.
- Mengadakan perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Isra’ Mi’raj dan lainnya.
- Meyakini sebuah keutamaan dari sebuah surah dalam al qur'an, misal jika membaca surah Yusuf saat hamil, maka anaknya akan ganteng. Jika membaca surah Maryam saat hamil, anaknya akan cantik.
2. Bid'ah Idhofiyyah
Adalah Bid'ah yang dicampur dengan ibadah asli atau tidak dicampurkan sama sekali.
Sebagai contoh bid’ah idhofiyyah:
● Dzikir jama’i. Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dianjurkan dalam syari’at Islam, namun apabila dilaksanakan dengan berjama’ah, beramai-ramai (massal) dan dengan satu suara, maka amalan ini tidak ada contohnya dalam syari’at Islam.
● Merubah jumlah rakaat shalat
● Melafazkan niat dalam shalat.
● Azan dan iqamah saat pemakaman.
■ Jenis-jenis Bid'ah
1. Bid'ah I'tiqodiyyah
Bid'ah dalam aqidah yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah,
2. Bid'ah Fi'liyyah
Bid'ah dalam perkataan atau perbuatan yang tidak sesuai dengan tata cara ajaran Nabi.
3. Bid'ah Ibadiyyah
Bid'ah yang ditujukan untuk Taqarrub kepada Allah, ini yang disyaratkan 2 hal agar diterima yaitu ikhlas & Mutaba'ah.
4. Bid'ah Aadiyyah
Bid'ah yang tidak ditujukan untuk Taqarrub kepada Allah.
Contohnya:
- Perkembangan Budaya
- Makanan
- Pakaian
- Teknologi dan lain-lain
Maka secara hukum asal ini diperbolehkan, kecuali dalam perkara yang dijelaskan aturan syariatnya. Seperti larangan isbat bagi laki-laki, beberapa makanan yang diharamkan, dan lain-lain.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment