Melembutkan Hati dengan Ilmu
Bismillah
Daurah Muslimah AcademySesi 1
"Melembutkan Hati dengan Ilmu"
Oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc
🗓️ Sabtu, 31 Januari 2026
📍 Masjid Nur Salma – Centennial Tower
Lt. 22, Jl. Gatot Subroto No. 24–25, Kuningan, Jakarta Selatan
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Kelembutan hati sangat kita butuhkan dalam kehidupan di dunia ini. Ketika hati kita tidak lembut dan keras, itu karena dosa yang ada dalam diri. Allah mencela hal tersebut.
Surat Al-Baqarah Ayat 74:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."
Makanya Allah melarang kita seperti ahli kitab (yahudi dan nasrani) yang memiliki hati yang keras.
Surat Al-Hadid Ayat 16:
۞ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."
Tanyakan dalam diri ini. Dengan menuntut ilmu apakah hati kita menjadi keras atau lembut? Apakah Ilmu itu berbekas atau tidak di hati kita?
Jika hati kita masih keras dan tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah. Itu berarti ilmu yang disampaikan tidak sampai ke dalam hati. Karenanya Jadikan ilmu itu menjadikan kita takut kepada Allah. Itulah hakikat ilmu sesungguhnya.
■ Apa tujuan kita ke majelis ilmu?
(Majelis ilmu yang melembutkan hati)
Menghadiri majelis ilmu, yang disebut sebagai taman surga.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا
”Jika Engkau melewati taman-taman surga maka singgahlah!”
Tujuannya adalah Untuk menyuburkan iman.
Murjiah dan khawarij berkeyakinan: Iman itu tidak bertambah atau berkurang.
Iman yang ada pada diri manusia, tidak diam. Artinya, dia bisa mengalami perubahan. Bisa naik dan bisa turun.
Iman naik ketika melakukan ketaatan dan turun ketika melakukan maksiat. Inilah aqidah kaum muslimin ahlus sunah waljamah. Karenanya kita harus mengisi ulang isi hati ini.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدكُم كَمَا يَخْلَقُ الثَّوبَ الْخَلِق، فَاسْأَلوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيَمَانَ فِي قُلُوبِكُم
"Sesungguhnya keimanan di rongga tubuh (hati) kalian benar-benar akan menjadi usang, sebagaimana usangnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui keimanan dalam hati kalian."
- Hal-hal yang membuat iman kita turun itu banyak?
- Yang harus kita pikirkan bagaimana iman kita naik terus?
■ Cara memperbaharui iman?
Dengan menghadiri majelis-majelis ilmu. Semakin bertambah ilmu seharusnya bertambah imannya.
Muadz bin Jabbal berkata: "Duduklah bersama kami, mari kita tingkatkan iman kita."
Ibnu Qayim mengatakan: "Cari hati kalian di 3 tempat: 1. ketika berada di majeiis ilmu, 2. Ketika membaca al qur'an dan 3. ketika bersendirian dengan Allah.
Surat Al-Anfal Ayat 2:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."
Dari sini kita dapat pahami. Betapa pentingnya selektif dalam memilih majelis ilmu. Carilah majelis ilmu yang dapat mengingatkan kita kepada Allah dan melembutkan hati.
Dari Yusuf bin Mahak, Ia berkata: "aku melihat Ibnu Umar berada di majelis Ubaid bin umar, ketika ia sedang memberikan sebuah nasihat. Maka aku pun melihat kedua mata ibnu umar berlinang air mata.
Tahukah siapa Ubaid bin umar?
Ia adalah seorang tabi'in. Walau demikian ibnu umar tidak merasa sombong atau merasa lebih tinggi untuk duduk di majelisnya. Sekalipun ibnu umar lebih berilmu dan lebih utama.
Maka itu, carilah majelis-majelis yang bisa melembutkan hati dengan nasihat yang bersumberkan dari al qur'an dan as sunnah. Sebaliknya jauhilah majelis-majelis yang justru mengeraskan hati.
Yunus bin ubaid menyebutkan aku telah menemani hasan al bashri selama 30 tahun lamanya. Belum pernah aku mendengar dalam majelis beliau pembahasan tentang pemimpin ini diangkat atau dilengserkan, tentang harga barang naik atau turun.
Abu daud (sulaiman as sijstani): majelis-majelis ilmu imam ahmad bin hanbal adalah majelis alhirat. Tidak pernah disebutkan dalam majelisnya urusan dunia sedikit pun. Aku tidak pernah melihat beliau menyebutkan perkara dunia sama sekali.
Zainal abidin mengatakan seseorang itu duduk di tempat ia mendapatkan manfaat.
Perkataan ini mengaskan bahwa ukuran memilih majelis adalah manfaatnya, bukan kedudukan atau status. Seorang penuntut ilmu hendaklah duduk di tempat yang bisa menambah ilmu dan amal.
■ Hati Sebagai Pusat Keimanan
Hati yang hidup adalah hati yang senantiasa mengingat Allah, hati yang subur dengan keimanan, ketakwaan dan juga ilmu yang bermanfaat.
Hati orang yang beriman itu bagaikan ikan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
فالعِلمُ للقلبِ مثلُ الماءِ للسَّمَكِ؛ إذا فَقَدَهُ مات
Ilmu bagi hati itu seperti air bagi ikan. Jika ikan kehilangan air, maka pasti ia akan mati.
Perumpamaan yang luar biasa ini menggambarkan betapa eratnya hubungan antara ilmu agama dengan kehidupan hati manusia. Sebagaimana ikan tidak akan pernah mampu bertahan hidup tanpa air, demikian pula hati seorang mukmin tidak akan mampu hidup dengan baik tanpa ilmu agama yang benar.
Ilmu agama adalah cahaya yang menerangi jalan hidup hamba. Ia membimbing manusia untuk mengenal Rabb-nya, memahami tujuan hidupnya, serta mengatur setiap langkahnya agar sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tanpa ilmu agama, seseorang bisa tersesat dalam gelapnya kebodohan, mengikuti hawa nafsu, atau terjerumus dalam kemaksiatan bahkan kesyirikan.
Oleh karena itu salah satu perkara penting adalah mengontrol keimanan dan juga menjaga hati, sebab pusat keimanan dan kebaikan seorang hamba terletak pada perbaikan hatinya. Dengan intropeksi/muhasabah diri dan Kekhusyukan shalatnya.
Tidak akan sempurna keimanan seorang hamba sampai hatinya istiqamah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Tidaklah istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidaklah istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya.”
Oleh sebab itu jika kita ingin memperbaiki keimanan, maka mulailah dengan memperbaiki hati. Hal ini jauh lebih utama dan jauh lebih penting daripada sekadar memperbaiki penampilan lahiriah.
Hati ibaratkan sebagai raja bagi seluruh anggota tubuh. Jika sang raja baik, ia akan memerintahkan prajuritnya yakni anggota tubunya untuk melakukan hal-hal kebaikan.
Sebaliknya jika hati rusak, maka kerusakan itu pun akan tampak pada seluruh anggota tubuh. Ia akan memerintahkan mata untuk melihat yang haram, telinga untuk mendengar hal yang haram, lisan untuk mengucapkan kata-kata kotor.
Abu hurairah berkata: "hati itu ibarat seorang raja sedangkan anggota tubuh lainnya adalah prajuritnya yang sangat taat pada titah sang raja. Jika rajanya baik maka para prajuritnya akan baik. Sebaliknya jika rajanya rusak, maka para prajuritnya pun akan rusak.
Ilmu adalah cahaya dari Allah dan cahaya itu tak akan menetap dalam hati yang kotor. Karena itu siapapun yang menginginkan ilmunya bermanfaat harus membersihkan hati, meluruskan niat dan memperbaiki adab.
Al jafiz ibnu rajab: "Menyibukan diri dengan membersihkan hati adalah lebih utama daripada memperbanyak puasa dan shalat, namun hati penuh dengan kotoran.
Hasan al bashri: "Tidaklah para sahabat nabi diutamakan karena shalat/puasa tapi mereka diutamakan karena apa yang ada di hatinya.
Tujuan puasa dan shalat adalah agar rmenjadi hamba yang bertakwa. Takwa itu tempatnya di dalam hati.
Surat Al-Baqarah Ayat 21:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa."
Syeikh Utsaimin mengatakan: "koreksilah hatimu? Apakah adakah riya didalamnya? Adakah kebencian terhadap kebenaran? Adakah kebencian dan iri dengan orang berilmu."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.”
■ Pentingnya mendekteksi penyakit hati di dalam diri.
Salah satu cara yang paling baik untuk mempebaiki keimanan, menguatkan dan melembutkan hati adalah dengan menuntut ilmu yang bermanfaat dan menghadiri majelis-majelis ilmu.
■ Indahnya hati yang bersih
Setiap kita tentu mendambakan hati yang bersih, karena hati yang bersih adalah hati yang dicintai Allah.
Dari sahabat Abu Inabah Al-Khaulani Radhiyallahu ‘Anhu yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ آنِيَةً مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ ، وَآنِيَةُ رَبِّكُمْ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ , وَأَحَبُّهَا إِلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَرَقُّهَا
“Sesungguhnya Allah mempunyai bejana-bejana di atas muka bumi, dan bejana-bejana Tuhan kalian adalah hati-hati hamba-hambaNya yang shalih, dan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling halus dan yang paling lembut.”
Hadist ini menununjukan bahwa hati manusia itu ibarat wadah atau bejana yang menyimpan berbagai kondisi batin. Hati yang lembut, jernih dan bersih dari noda dosa adalah hati yang paling Allah cintai.
Manusia paling utama adalah orang yang bersih hatinya dan jujur lisannya.
Dari sahabat Abdullah bin 'Amru dia berkata, Rasulullah ﷺ ditanya; “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Setiap (orang) yang hatinya makhmum dan lisan yang jujur.”
Inilah hati para penduduk surga kelak.
Surat Al-Hijr Ayat 47:
وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَٰبِلِينَ
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."
Ayat ini menggambarkan kondisi orang-orang beriman sehati, yaitu mereka yang memiliki hati bersih dan jernih. Hati yang terbebas dari kebencian, dendam, iri, dan dengki.
Mereka inilah para penghuni surga, mereka hidup dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, mereka saling memuliakan satu sama lain.
Contoh nyata dari hati yang bersih dan lapang ini telah dicontohkan oleh nabi muhammad. Taktakla beliau berdakwah ke thaif di masa awal dakwah, kaumnya tidak menyambutnya dengan baik, melainkan mengusir beliau bahkan melempari nabi dengan batu hingga tubuhnya berlumuran darah.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril Alaihissallam , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu.
Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim).
Demikian pun dalam perang uhud, pada saat beliau dan para sahabatnya mengalami luka dan kekalahan. Ada banyak sahabat yang gugur syahid terutama di kalangan para pemanah yang melanggar perintah nabi. Bahkan pada saat itu beliau terluka, giginya patah dan darah pun mengalir di wajah beliau. Namun apa yang keluar dari lisannya? Beliau hanya berdoa: "Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
Imam ibnu Qayim menyebutkan 3 kebaikan Rasulullah 0yang tergambar dalam doa beliau:
1. Mendoakan maghfirah yaitu memohonkan ampunan untuk mereka.
2. Memaafkan mereka atas perlakuan buruk yang dilakukan terhadap beliau.
3. Menyandarkan mereka kepada dirinya dengan menyebut mereka sebagai kaumku (sebuah ungkapan yang penuh kasih sayang dan kelembutan).
4. Menerima alasan untuk mereka yaitu karena mereka tidak mengetahui kebenaran.
Inilah akhlak mulia dan kebeningan hati nabi yang seharusnya menjadi teladan bagi kita semua, hati yang bersih, jernih, terbebas dari dendam maupun kotoran.
Nabi bersabda: "Diharamkan dari api neraka setiap orang yang rendah hati, lemah lembut, mudah dalam berurusan dan dekat dengan manusia."
Iyas bin mua'awiyah berkata: "orang yang paling baik diantara mereka menurut para salaf adalah yang paling bersih hatinya dan paling minim melakukan ghibah."
Ketika abu dujanah al anshari seorang sahabat nabi sedang menghadapi sakaratul maut. Wajahnya tampak berseri-seri.
Orang-orang pun lantas bertanya: "wahai abu dujanah apa yg membuat wajahmu beecahaya? Beliau menjawab: tidak ada amalan yang lebih aku harapkan daripada dua hal: aku tidak pernah berbicara kecuali dengan pembicaraan yang bermanfaat bagiku dan hatiku senantiasa bersih terhadap saudara-saudaraku yang beriman.
Seorang ulama asy syaikh qasim al jau'i berkata: jm"Jalan yang paling mulia menuju surga adalah hati yang bersih."
Sesungguhnya orang-orang beriman sejati adalah mereka yang memiliki hati yang jernuh dan bersih dari kebencian.
As saqthi mengatakan termasuk akhlak utama orang-orang mulia adalah kejernihan hati mereka terhadap saudara-saudara mereka serta ketulusan di dalam nasihat kepada mereka.
Intinya memiliki hati yang bersih dan jernih sangatlah dianjurkan di dalam agama kita. Dengan hati yang bersih, seorang hamba akan meraih banyak keutamaan di dunia dan di akhirat.
■ Kiat-Kiat Meraih Kebeningan Hati
1. Memperbaiki hubungan dengan Allah
Adapun kunci pertama untuk meraih kebeningan hati adalah memurnikan dan mengikhlaskan niat dalam setiap aspek kehidupan.
Perkataan salaf: Siapa yg memperbaikinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.
Nabi bersabda:
"Tiga hal yang menjernihkan hati seorang muslim yang pertama adalah memurnikan amal karena Allah."
Ikhlas itu perkara yang amat berat sehingga harus selalu menjadi bahan intropeksi diri, kita wajib mengoreksi diri yang tersembunyi dalam hati .
Ibnu rajab: "Orang yg riya bagaikan kayu bakar, saat dibakar asap membumbung tinggi dan lama-lama baunya tidak enak. Sedangkan orang ikhlas bagaikan kayu gaharu, ketika dibakar baunya tidak hilang.
Nabi bersabda: "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
Dengan demikian, nama kita tidak harus ditulis atau disebutkan. Yang penting adalah bagaimana kita berbuat baik kepada sesama manusia dengan ikhlas, semata mencari ridha Allah. Bahkan orang yg beramal dibalik layar lebih aman dibandingkan di depan layar.
2. Menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Berakhlak baik itu yang harus senantiasa kita tingkatkan. Ibadah bukan sekadar hubungan kita dengan Allah, namun ibadah itu juga mencakup perbaikan hubungan dengan sesama manusia.
Nabi pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukan ke dalam surga, beliau menjawab: takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.
Rasul bersabda: sesungguhnta seorang mukmin apabila berjumpa dengan mukmin, lantas dia mengucapkan salam kepadanya kemudian memegang tangannya dan berjabat tangan maka bergugurlah dosa2nya."
Nabi bersabda: "sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang menunaikan shalat di jazirah Arab. Namun ia masih dapat melakukan adu domba diantara mereka."
Seorang penyair: jika engkau berada dalam nikmat jagalah dengan baik. Karena sungguh kemaksiatan dapat mencabut nikmat Allah.
3. Berbaik sangka kepada sesama muslim
Terkadang dalam perjalanan perjuangan dakwah muncul gesekan, riak bahkan duri yang menimbulkan tantangan. Seringkali hal itu bersumber dari suuzhan yang dihembuskan oleh setan demi untuk merusak persatuan dan persaudaraan diantara kaum muslimin.
Surat Al-Hujurat Ayat 12:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
" Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Surat Al-Hujurat Ayat 6:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
" Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Bakr al myzani: "waspadalah dari ucapan yang jika engkau benar, engkau tidak mendapat pahala. Namun jika engkau salah, engkau menanggung dosa. Itulah prasangka buruk kepada saudaramu."
Umar bin khatab: jangan engkau menyangka jelek suatu kalimat yang keluar dari saudaramu sesama muslim, padahal engkau masih bisa mendapatksn ruang kebaikan dalam memahaminya.
Seorang muslim tidak seharusnya tergesa-gesa berburuk sangka terhadap saudaranya. Sikap ini menumbuhkan ketenangan hati, mencegah timbulnya permusuhan serta memperkuat tali persaudaraan.
Berbaik sangka merupakan salah satu kunci penting dalam menjaga kebersihan hati dan keharmonisan hubungan sesama muslim.
Sikap husnuzan ini telah menjadi teladan para salaf. Dikisahkan ketika yunus bin ubaid ditimpa musibah dengan wafatnya putdmra beliau, seorang berkata padanya sahabatmu ibnu aun, tidak datang bertakziah kepadamu.
Beliau menjawab dengan penuh kelapangan hati: " apabila kita telah menjali persaudaraan dengan sesama saudara kita dengan kita, maka tidak masalah jika dia tidak datang pada kita."
4. Mudah memaafkan
Ini adalah sifat para nabi dan orang-orang yang mulia.
Dalam kehidupan ini, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Kesalahan itu adalah bagian dari fitrah manusia. Sebagaimana Allah ciptakan kita sebagai makhluk yang lemah dsman sering tergelincir.
Namun kemuliaan seorang mukmin tidak pada bebas dari dosa melainkan pada kesediannya untuk bertaubat dan memaafkan. Sebagimana Allah Maha pengampun kepada para hambanya, demikian pula seorang muslim seharusnya memiliku kelapangan dada untuj memaafkan kesalahan saudaranya.
Sifat mudah memafkan itu bukanlah tanda kelemahan melainkan kekuatan jiwa dan kematangan iman. Ia menjadi cermin kebersihan hati dan wujud nyata dari takwa. Dengan memafakan hati menjadi ringan, hubungan sosial terjaga dan ukhuwah semakin kuat.
Surat Ali ‘Imran Ayat 133:
۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
Surat Ali ‘Imran Ayat 134:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Nabi bersabda: "Setiap anak adam pernah berbuat salah, dan sebai-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat."
Memaafkan itu hukumnya adalah sunnah muaakadah dan memperbaiki hubungan dengan sesama adalah wajib.
5. Senantiasa berdoa meminta hati yang bersih dan mendoakan sesama saudara
6. Senantiasa intropeksi dan membersihkan hati dari noda-noda
Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat bukan menjauh. Semoga Allah memberi Taufik. Aamiin..
Semoga Bermafaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment