Meniti Jalan Hidup Berkah dan Bahagia Bagi Muslimah
Bismillah
Daurah Muslimah AcademySesi 3
"Meniti Jalan Hidup Berkah dan Bahagia Bagi Muslimah"
Oleh Ustadz Ali Hassn Bawazier Lc, MA
🗓️ Sabtu, 31 Januari 2026
📍 Masjid Nur Salma – Centennial Tower
Lt. 22, Jl. Gatot Subroto No. 24–25, Kuningan, Jakarta Selatan
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Banyak manusia hidup dalam kegelisahan dan ketidaktenangan dalam hidupnya. Pada hakikatnya hati yang tidak berada pada tempatnya, maka dia akan gelisah dan tidak tenang.
Kebaikan selalu menentramkan jiwa dan kejelekan selalu menggelisahkan jiwa.
Itulah realita yang ada pada umumnya manusia.
Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Allah, dia tidak akan sesat. Dan jika berpaling dari Allah, kehidupannya akan sempit.
Surat Thaha Ayat 125:
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا
Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
Surat Thaha Ayat 126:
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".
Allah yang melapangkan dada hambaNya.
Surat Al-Insyirah Ayat 1:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?"
Bahwa yang membuat sesseorang terbebani dalam hidupnya adalah karena beban dosa yang dia buat. Sempitnya hidup adalah karena sempitnya dada/hatinya.
Jika kita melihat hakikat kebahagiaan dalam islam. Islam tidak menjanjikan hidup tidak ada masalah. Tapi islam mengajarkan kita untuk menjalani hidup ini dengan menjadi hamba bertakwa.
Surat At-Talaq Ayat 3:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
Ujian yang paling berat itu adalah ujian para nabi dan setelahnya.
Contoh: Ujian yang dihadapi oleh nabi Yusuf yang begitu berat. Mulai dari dibuang di sumur oleh saudara-saudaranya, difitnah dan dipenjara. Namun, nabi Yusuf menjalani ujian hidupnya dengan ikhlas, sabar dan selalu bersyukur.
Islam mengajarkan kepada kita memiliki hati yang kuat untuk menghadapi setiap ujian.
Surat An-Nahl Ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Hidup yang baik adalah ketika Allah memberikan hati yang tenang. Betapa banyak orang memiliki ketakutan terhadap masa depannya, takut akan rezekinya, takut akan ditinggal dan takut akan kekurangan.
Jika dia bergantung dengan selain Allah, maka dia akan tersiksa dengan hal tersebut. Kenapa? Karena jika bergantung dengan selain Allah, dia akan kecewa. Makhluk tidak bisa memberikan jaminan apapun untuk dirinya.
Tidak akan mungkin seseorang bahagia tanpa tauhid. Jika pemahaman tauhidnya benar. Dia meyakini bahwa Allah adalah satu-satuNya yang mengatur segalanya. Dia tidak akan khawatir lagi dengan takdir yang Allah tetapkan.
Kita selalu mengingat Allah setiap saat. Dia melihat dengan mata hatinya dengan tulus dan ikhlas.
Surat Ar-Ra’d Ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
Orang yang ingin merasakan ketenangan di dalam hati, yaitu dengan cara mengingat Allah, maka hatinya akan tenang.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya Di dunia ini terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat. Surga itu adalah ketenangan hatinya."
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.
Jika ada di dalam hati ada rasa takut. Yaitu mentadaburi asmaul husna. Tidak ada sesuatupun yang terjadi di dalam alam semesta ini yang akan membuat hati kita gelisah dan sedih. Karena kita yakin semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak dan ketetapan dari Allah.
Ketika seseorang melihat Allah dengan keagunganNya, maka dia akan tenang dan ridha akan semuanya. Dengan ridha dia telah memiliki kunci kehidupan.
Seseorang bisa menerima manisnya iman. Jika dia ridha dengan semua takdir Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
(مَنْ قَالَ : رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا ، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا ، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا ، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ)
Siapa yang berkata, "Aku ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai diin, Muhammad sebagai Rasul" niscaya surga itu wajib untuknya.
■ Ridha kepada Allahﷻ sebagai Rabb
yaitu menjadikan-Nya semata sebagai sesembahan, tidak memalingkan suatu ibadah kepada selain-Nya, dan benci terhadap segala peribadahan kepada selain-Nya.
Kepada-Nya semata seorang hamba ber-inabah, tawakkal, takut, berharap, cinta, sabar, syukur. Dan hamba ridha dengan segala pengaturan, takdir, dan perbuatan-Nya.
Kita tidak bisa memilih takdir. Ridha itu bukan berarti tidak sedih akan tetapi menerimanya dengan ikhlas.
Contoh: ketika anak nabi bernama ibrahim menghadapi sakaratul maut. Nabi menangis. Sedih itu manusiawi.
Anas bin Malik berkata:
أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَى ابْنِهِ إبْرَاهيمَ – رضي الله عنه – ، وَهُوَ يَجُودُ بِنَفسِهِ ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – تَذْرِفَان . فَقَالَ لَهُ عبدُ الرحمانِ بن عَوف : وأنت يَا رسولَ الله ؟! فَقَالَ : (( يَا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ )) ثُمَّ أتْبَعَهَا بأُخْرَى ، فَقَالَ : (( إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ ))
“Rasulullah masuk (*di rumah ibu susuan Ibrahim) menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallampun mengalirkan air mata.
Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)”.
Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, “Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”
Nabi juga berkata
إِنَّ إبْرَاهِيْمَ ابْنِي وَإِنَّهُ مَاتَ فِي الثَّدْيِ وَإِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمِّلاَنِ رَضَاعَهُ فِي الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya Ibrahim putraku meninggal dalam masa persusuan, dan sesungguhnya baginya di surga dua orang ibu susuan yang akan menyempurnakan susuannya”
Surat At-Taghabun Ayat 11:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Takdir Allah itu adalah apa yang Allah tetapkan terjadi padamu tidak akan mungkin luput darimu. Apa yang Allah tetapkan, kita tidak akan terkena dengan kejadian itu, maka itu tidak akan terjadi.
Jadi kenapa kita harus khawatir dan takut?
■ Qanaah
Seorang muslimah harus memiliki hati yang qanaah, merasa cukup apa yang Allah bagikan untukmu.
Kaya itu bukan banyaknya harta, tapi kaya itu adalah kaya jiwa.
Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.”
Dia tidak tergiur dengan kekayaan orang lain. Dia tidak berharap dengan manusia. Namun dia tidak mau jauh dari Allah. Maka hidupnya akan bahagia.
Karenanya apa yang Allah beri, maka syukuri. Qanaah akan mendatangkan ketenangan hati, tidak iri dan dengki dengan orang lain.
BAGAIMANA MEMAKNAI UJIAN?
Hidup ini adalah ujian. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini tidak diuji, mereka pasti memiliki ujian masing-masing.
Jika Allah mencintai seorang hamba, maka dia akan mengujinya. Karena dengan ujian, Allah akan mengetahui siapa hambaNya tersebut. Ujian itu untuk meningkatkan keimanan dan kualitas iman seseorang.
Surat Al-Baqarah Ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya. Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Semoga bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment