Pintu-Pintu Kebaikan di Bulan Ramadhan

Bismillah

⏰ Kajian Ifthar Ramadhan
📖 Pintu-Pintu Kebaikan di Bulan Ramadhan

👤 Ustadz Abu Zaid Cecep Nurrohman hafizhahullah

📆 Sabtu, 3 Ramadhan 1447 / 21 Februari 2026
🕣 16.45 - Menjelang Maghrib
📝 Mohon hadir sebelum kajian dimulai
🍱 Dilanjutkan dengan buka puasa bersama

🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Bulan ramadhan adalah bulan suci dan mulia. Nabi Muhammad mensifati bulan ramadhan dengan bulan yang penuh dengan keberkahan.

Nabi bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” 

● Makna Albarkah adalah kebaikan yang banyak dan sifatnya tetap.

Bahwasanya bulan ramadhan diliputi dengan keberkahan dan kebaikan, seperti yang disampaikan oleh nabi.

■ Diantara Keberkahan Bulan Ramadhan:

1. Bulan ramadhan adalah bulan yang Allah pilih sebagai momentum diturunkan al qur'an secara keseluruhan.

Di antara hal-hal yang menunjukkan kemuliaan bulan Ramadhan adalah turunnya Al-Qur’an Kalamullah di bulan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun di banyak ayat yang lain serta melalui kisah perjalanan hidup Nabi kita, dapat diketahui bahwa Al-Quran ini tidaklah turun secara spontan pada satu waktu kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, melainkan turun secara bertahap dan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan dan kejadian yang terjadi saat itu. 

Al qur'an diturunkan secara bertahap dengan perantara malaikat Jibril yang disampaikan selama 23 tahun.

2. Di bulan ramadhan, Allah pilih sebagai momentum diangkatnya Muhammad sebagai seorang nabi, dengan turunnya wahyu pertama di gua hira (5 ayat surat Al Alaq).

3. Allah pilih sebagai bulan berpuasa bagi orang-orang beriman dan merupakan salah satu dari 5 rukun islam.

4. Bahwasanya di bulan ramadhan, Allah buka semua pintu surga.

5. Dan Allah menutup semua pintu neraka, dan tidak ada pintu neraka satupun yang dibuka.

6. Bahwsanya Allah membelenggu gembong-gembong syaitan, orang-orang beriman berlomba-lomba melakukan kebaikan.

7. Di setiap malam bulan ramadhan, Allah memerdekakan sebagian hamba-hambaNya dari api neraka.

8. Allah melipat gandakan amal kebaikan setiap hamba di bulan ramadhan.

9. Terdapat malam lailatul qadar (malam kemuliaan), amal kebaikan yang dikerjakan di malam lailatul qadar lebih baik dari sebaik seribu bulan.

Begitu banyak kebaikan yang diturunkan di bulan ramadhan.

Diantara bentuk keberkahan bulan ramadhan, Allah membukakan pintu-pintu kebaikan bagi orang-orang beriman. Agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat. Dengan iman dan amal sholeh yang mereka kerjakan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat
QS. Surat An-Nahl Ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Maka kualiatas kebahagiaan seorang hamba adalah berbanding lurus dengan kualitas iman dan amal shalehnya. Semakin maksimal iman seorang hamba, dia akan semakin lapang dadanya dan semakin bahagia (kebahagiaan yang hakiki).

■ Diantara pintu kebaikan yang Allah bukakan di bulan ramadhan:

1. Pintu puasa

Nabi bersabda:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “

Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/perjalanan jauh).

Yang menunjukkan bahwa puasa Ramadhan adalah wajib yaitu firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

Meninggalkan puasa tanpa uzur termasuk dosa besar yang sangat besar. Dosanya lebih besar daripada dosa seorang pezina dan pecandu khamr.

Diantara dalil ancaman untuk orang yang meninggalkan puasa ramadhan:

■ Sebuah kisah dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu. 

Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”.

Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. 

Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i)

Ini adalah hukuman bagi orang yang berpuasa tapi tidak sabar. Sebelum waktu berbuka puasa, ia membatalkan tanpa adanya uzur. Apalagi dengan orang-orang yang tidak pernah berpuasa, hukumannya jauh lebih berat.
Bagi orang yang berpuasa karena iman dan takwa, Allah akan mengampuni dosanya.

Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa adalah tameng dan benteng dari api neraka. Dengan pondasi ikhlas dan i'tiba.

Puasa yang diterima adalah puasa yang dilandasi dengan ketulusan dan ketundukan lisan, hati dan anggota badan. Tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga. Tanpa menjaga lisan yang diharamkan oleh Allah, maka tidak akan jadi kebaikan untuknya.

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Wahai Rasulullâh! Jelaskan kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sungguh, engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, namun itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalamnya, yaitu: engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, melaksanakan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam.” 

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiang, dan puncaknya?” Aku berkata, “Mau, wahai Rasulullâh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” 

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku jelaskan mengenai hal yang menjaga itu semua?” Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullâh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya kemudian bersabda, “Jagalah ini (lidah).” Aku berkata, “Wahai Nabiyullâh, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita katakan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menyayangi ibumu, wahai Mu’adz! bukanlah manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka -atau beliau bersabda: di atas hidung mereka-  melainkan dengan sebab lisan mereka.” 

Siapa yang tidak meninggalkan semua perbuatan yang diharamkan Allah, maka  Allah tidak butuh lapar dan dahaganya. Karena tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, mentarbiyah jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi jiwa yang bertakwa kepada Allah.

Oleh karenanya bagi orang yang berpuasa, wajib meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Seperti: Puasakan lisannya dari ghibah, namimah dan berdusta.

■ Diantara pintu kebaikan di bulan ramadhan: dibukanya pintu qiyam (shalat malam).

Ibnu Hajar Al Asqolani menyebutkan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih) atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2009 dan Muslim no. 759).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari, no. 1901)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”

● Qiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shaleh.

Dari Abu Umamah Al-Bahily Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ

"Hendaklah kalian bagnun malam, sebab dia adalah kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kalian, dia mendekatkan kalian kepada Tuhan kalian, menghapuskan keburukan dan mencegah perbuatan dosa."

Allah mensifati orang-orang beriman, Allah menjelaskannya dalam surat QS. Surat As-Sajdah Ayat 16:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan."

Makna lambung mereka dari tempat tidurnya adalah mereka tahajud, mereka shalat malam.

Surat Az-Zariyat Ayat 15:
إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ
" Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air,

Surat Az-Zariyat Ayat 16:
ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ
"Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan."

Surat Az-Zariyat Ayat 17:
كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
"Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam."

Seorang mukmin seharusnya menggabungkan antara ihsan dan istighfar dalam hidupnya.

■ Pintu Sedekah/ Kedermawan

Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”

● Diantara keagungan bulan puasa, ada 3 pintu kebaikan sekaligus, yaitu pintu sedekah, pintu puasa dan pintu shalat malam.

Mu’adz bin Jabal berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka.” beliau menjawab, “Yang kamu tanyakan adalah perkara yang besar, namun akan menjadi mudah bagi yang dimudahkan Allah swt. Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan dengan yang lain, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadlan dan haji ke Baitullah.” Lalu beliau bersabad, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, shadaqah dapat menghapuskan kesalahan seperti air yang memadamkan api, dan shalat malam.” 

■ Diantara bentuk sedekah yang paling utama di bulan ramadhan adalah memberikan makan bagi orang yang berpuasa.

Dari Zaid bin Kholid Al-Juhani berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائمًا، كانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْر الصَّائمِ شيءٍ رواه الترمذي ( 807 ) وابن ماجه ( 1746 ) وصححه ابن حبان ( 8 / 216 ) والألباني في ” صحيح الجامع ” ( 6415 )

“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.”

Kedermawan itu tentang karakter, bukan status sosial kaya atau miskin. Betapa banyak orang miskin memiliki kedermawan dan sebaliknya betapa banyak orang kaya yang bakhil (pelit). Maka nabi mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang dermawan di bulan yang mulia ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik." (HR. Bukhari dan Muslim).

■ Pintu Tilawatil Qur'an

Bulan ramadhan adalah bulannya al qur'an.

Kita disuruh bersungguh-sungguh dengan al qur'an. Usahakan di dalam bulan ramadhan ini, kita harus bersemangat mengkhatamkan al qur'an. Dan sunnah nabi adalah bagi orang yang beriman adalah mengkhatamkan al qur'an.

● Imam Syafei khatam qur'an 60 kali di bulan ramadhan.

muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan: "Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat.

● Qatadah: diluar ramadhan seminggu sekali khatam al qur'an. Ketika masuk ramadhan, beliau 1 kali khatam dalam 3 hari.

Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,
كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276)

● Imam malik: kesibukan imam malik hanya dengan mushaf dan membaca al qur'an.

Untuk itu, kita targetkan Minimal khatam al qur'an sebanyak 3 kali di bulan suci ini.

Imam abdul razak: jika mengkhatamkan al qur'an kurang 3 hari diluar ramadhan tidak diperbolehkan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ »

“Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.”

Maka jadikanlah bulan ramadhan menjadi bulannya al qur'an.

Mudah-mudahan Allah memberikan kita taufik dan kebaikan di bulan suci ramadhan yang mulia ini. Aamiin.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts