Ramadhan: Antara Ampunan atau Penyesalan
Bismillah
⏰ [Kajian] Tarhib Ramadhan📖 Ramadhan: Antara Ampunan atau Penyesalan
👤 Ustadz Dr. Abu Ja'far Cecep Rahmat, Lc., M.Ag hafizhahullah
📆 Ahad, 27 Sya'ban 1447 / 15 Februari 2026
🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan ramadhan. Apakah kita senang? Mengapa kita senang dengan kedatangan ramadhan?
Sebagian orang ada yang gembira dengan datangnya ramadhan, karena perkara materi semata. Misalnya: ada banyaknya takjil saat berbuka, bisa mengais rezeki di bulan ramadhan (berjualan) dan lain-lain.
Kebaikan yang diperoleh umat Islam di bulan Ramadhan bisa meliputi ukhrowi dan duniawi. Kita terkadang lebih cepat mensyukuri nikmat yang berkaitan dengan dunia, tetapi berbeda yang berkaitan dengan agama.
■ Sebagaimana kisah yang disampaikan Ab Hurairah:
Suatu hari, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah melewati pasar di Madinah, lalu ia berhenti di sana dan berkata, “Wahai para penghuni pasar, betapa ruginya kalian!”
Mereka bertanya, “Apa gerangan, wahai Abu Hurairah?”
Ia menjawab:
ذَاكَ مِيرَاثُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُقْسَمُ، وَأَنْتُمْ هَاهُنَا لَا تَذْهَبُونَ فَتَأَخُذُونَ نَصِيبَكُمْ مِنْهُ
“Itu, warisan Rasulullah ﷺ sedang dibagikan, sementara kalian di sini!
Mengapa kalian tidak pergi dan mengambil bagian kalian darinya?”
Mereka bertanya, “Di mana itu?
Ia menjawab, “Di masjid.”
Maka mereka pun bergegas menuju masjid. Abu Hurairah menunggu mereka hingga mereka kembali.
Abu Hurairah bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian temukan?”
Mereka menjawab:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَدْ أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ، فَدَخَلْنَا، فَلَمْ نَرَ فِيهِ شَيْئًا يُقْسَمُ
“Wahai Abu Hurairah, kami telah mendatangi masjid, lalu kami masuk, tetapi kami tidak melihat sesuatu pun yang sedang dibagikan.”
Abu Hurairah bertanya lagi, “Apakah kalian tidak melihat seseorang di masjid?”
Mereka menjawab:
بَلَى، رَأَيْنَا قَوْمًا يُصَلُّونَ، وَقَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَقَوْمًا يَتَذَاكَرُونَ الْحَلَالَ وَالْحَرَامَ
“Tentu, kami melihat ada sekelompok orang yang sedang shalat, ada yang membaca Al-Qur’an, dan ada yang sedang membahas halal dan haram.”
Maka Abu Hurairah berkata:
وَيْحَكُمْ، فَذَاكَ مِيرَاثُ مُحَمَّدٍ ﷺ
“Celaka! Itulah warisan Muhammad ﷺ.”
(HR. Thabrani, no. 1429 dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, dengan sanad yang hasan).
Nikmat dunia yang Allah berikan harus kita syukuri. Karena nikmat dunia diberikan kepada semua orang. Baik itu orang yang beriman, orang yang ahli maksiat dan orang kafir sekalipun diberikan dunia oleh Allah. Dunia ini tidak ada nilainya disisi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi : 2320, shahih)
Jadi ketika berbicara tentang bulan ramadhan. Apa yang muncul didalam benak kita? Karena Cara pandang kita sesuai dengan tujuan kita dalam menjalankan ramadhan.
Rasulullah ketika mengabarkan mengenai ramadhan, nabi tidak sama sekali memberi tahu tentang dunia. Akan tetapi beliau memberitakan kabar bahagia perihal akhirat.
Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.
Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.
Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah.
Bulan Ramadhan sungguh adalah bulan yang penuh berkah, artinya mendatangkan kebaikan yang banyak. Di antara keberkahan tersebut adalah dengan menjalankan shiyam ramadhan akan mendapatkan pengampunan dosa yang telah lalu.
Keberkahan lainnya lagi adalah dalam menjalankan shalat malam (shalat tarawih). Itu juga adalah sebab pengampunan dosa. Begitu pula pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yaitu lailatul qadar. Inilah di antara keberkahan yang bisa diperoleh.
Nabi bersabda:
ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”
Begitu banyak keutamaan di bulan ramadhan, seperti: Bulan ramadhan adalah bulannya al qur'an, Bulan ramadhan merupakan bulan ampunan, bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah dan rahmat, serta bulan ramadhan adalah bulan dibebaskannya dari api neraka.
Yang tidak mendapatkan kebaikan dari bulan ramadhan, maka diharamkan kebaikan yang sangat banyak dalam dirinya. Jadi kita harus menyambut bulan ramadhan dengan suka cita, penuh kegembiraan.
Para sahabat terdahulu berdoa 6 bulan sebelum ramadhan.
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
"Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan."
■ Keutamaan Bulan Ramadhan
1. Bulan Ramadhan diturunkan Al Qur'an.
Sebagaimana firman-Nya:
( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه) سورة البقرة: 185
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.[ Al-Baqarah/2: 185]
Bagaimana sikap kita terhadap al qur'an?
Sejauh mana al qur'an menjadi pedoman hidup kita. Sedekat apa kita dengan al qur'an.
Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ }
“Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998).
Begitupun para sahabat mengkhatamkan al qur"an dan dengan mentadaburinya.
Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,
كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.”
Membaca Al-Qur’an hendaknya dalam keadaan khusyu’ dan berusaha untuk mentadabbur (merenungkan) setiap ayat yang dibaca.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :
فقراءة آية بتفكر وتفهم خير من قراءة ختمة بغير تدبر وتفهم.
“Membaca satu ayat dengan memikirkan dan memahaminya, lebih baik dibandingkan dengan membaca hingga khatam tanpa tadabur dan memahami.”
Ibnu Al Jazari berpendapat bahwa membaca Alquran dengan tajwid adalah kewajiban bagi setiap Muslim.
Beliau mengatakan:
"Membaca Alquran dengan bertajwid hukumnya wajib. Siapa yang membacanya dengan tidak bertajwid maka dia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Alquran dan dengan tajwid pula Alquran sampai dari-Nya kepada kita.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia (bersih dari maksiat) dan taat dalam kebaikan. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan ketika membacanya, maka baginya dua pahala.”
2. Bulan Pengampunan Dosa
Bulan suci Ramadhan kesempatan bersih dari dosa, seperti bayi baru lahir. Puasa pada bulan Ramadan merupakan sebab terhapusnya dosa-dosa yang lampau sebelum Ramadan jika menjauhi dosa-dosa besar.
Suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Sangat sulit manusia di muka bumi ini, yang sudah bertaubat akan benar- benar bersih dari dosa. Kemungkinan akan berbuat dosa akan terulang lagi, karena manusia itu sering berbuat salah. Ini yang menjadikan bulan ramadhan istimewa.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang shalat (qiyâm Ramadhân atau Tarawih) dengan dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu“.
Tidak ada riya, sum'ah dan tidak berharap sesuatu dari dunia. Maka dosa kita akan diampuni oleh Allah.
Abu Dzar radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda:
إنه مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa menunaikan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, dicatat baginya (pahala) qiyamul lail semalam (penuh)”.
3. Dibuka Pintu Surga dan ditutup Neraka
Di bulan ramadhan kesempatan memasuki surga dibuka lebar-lebar. Dan Pintu neraka dipersempit.
Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”.
Siapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan puasanya.
4. Diturunkan Malam Laitul Qadar
Siapa yang berdiri di malam lailatul qadar, akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Maka Carilah lailatul qadar di 10 malam terakhir. Keistimewaan Malam Laitul Qadar Senilai 83 tahun pahalanya. Sungguh sangat beruntung yang mendapatkannya.
■ Siapa Orang yang Menyesal?
Celaka dan sungguh merugi orang yang mendapatkan ramadhan. Keluar dari bulan ramadhan tapi tidak diampuni dosa dan tidak juga mendapatkan pahala, semuanya sia-sia. Orang tersebut sangat menyesal karena menyia-nyiakan bulan suci ramadhan.
■ Orang yang tidak mendapatkan pahala:
1. Amalan Tidak Ikhlas
Amalan yang dikerjakan Seperti debu-debu yang berterbangan.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)
Maka setiap amal yang kita lakukan harus karena Allah semata dan tidak mengharapkan pujian manusia (riya').
Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi riya’ berarti melakukan amalan tidak ikhlas karena Allah karena yang dicari adalah pandangan, sanjungan dan pujian manusia, bukan balasan murni di sisi Allah.
Penyakit inilah yang banyak menimpa kita ketika beribadah. Padahal riya’ ini benar-benar Nabi khawatirkan.
Hadits yang bisa jadi renungan kita,
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »
Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’
2. Dosa dan Maksiat
Bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari.
Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Ia masih berbuat dosa dan maksiat.
Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Lisan dan mata tidak dijaga.
Surat Al-Mu’min Ayat 19:
يَعْلَمُ خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati."
Pendengaran, Penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabkan. Semuanya akan dihisab.
Maka sangatlah merugi, keluar dari ramadhan, tidak mendapatkan apa-apa dan tidak diampuni dosa-dosanya.
Agar ramadhan lebih bermakna dan tidak menjadi penyesalan. Maka perbanyak taubat dan istighfar. Dosa dan maksiat adalah penghalang kita kepada Allah dan Pelemah iman. Karenanya kita harus terbebas dari dosa, supaya hati kita bersih dan lebih dekat dengan Allah.
■ Bagaimana Caranya?
● Lebih mengikhlaskan setiap ibadah kita hanya karena Allah.
Jangan sampai momen ini hilang karena ketidak ikhlasan kita. Karena bisik-bisikan setan dalam beramal ibadah di bulan suci ramadhan.
● Mengurangi media sosial
Apalagi yang berisi hal yang tidak bermanfaat dan justru menimbulkan dosa, seperti: gosip, namimah, dan video maksiat yang beredar di media sosial.
● Tanyakan program kita dan keluarga di bulan ramadhan? Merubah kita atau tidak?
Jika sebagian salaf fokus mencari rezeki diluar ramadhan dan fokus beramal ibadah saat ramadhan. Begitupun dengan Nabi kita yang mulia begitu sangat dermawan di bulan suci ramadhan.
Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”
■ Buat Target Ramadhan
1. Perbanyak membaca Al Qur'an
2. Perbanyak infaq dan sedekah
3. Menunaikan ibadah umroh di bulan ramadhan
4. Iktikaf di 10 Malam Terakhir
5. Berusaha meninggalkan dosa dan maksiat
Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita di tahun ini lebih bermakna, lebih maksimal (terbaik) dari yang sebelumnya. Jadikan Ramadhan ini seakan-akan ramadhan terakhir kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan barokah bulan suci ini. Semoga kita dapat memberikan yang terbaik di bulan suci ini. Aamin Allahumma Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment