Halalnya Harta Menyempurnakan Tauhid
⏰ Kajian Ifthar Jama'i
📖 Halalnya Harta Menyempurnakan Tauhid👤 Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. hafizhahullah
📆 Sabtu, 24 Ramadhan 1447 / 14 Maret 2026
🕣 16.45 - Maghrib
🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Nikmat itu akan bertambah bila kita mensyukuri nikmat yang Allah beri. Salah satunya adalah mensyukuri nikmat ramadhan ini, Allah masih memberikan kita waktu dan kesempatan untuk menikmati 10 hari terakhir ramadhan. Kita berusaha memaksimalkan hari-hari yang tersisa.
Ramadhan itu dilihat adalah penutupnya.
Nabi bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
Sebagaimana hidup kita, yang diliat adalah akhir hidup kita di dunia ini. Maka selagi masih ada usia, perbanyak amal shaleh kita.
Ujung terbaik, itulah kesuksesan orang baik.
Ibnul Jauzi menjelaskan:
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…
Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata :
“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”
Kita diberikan kesempatan 10 hari terakhir ramadhan, untuk memperoleh ampunan dari Allah dan bebas dari api neraka setiap malamnya.
Harta halal merupakan penyempurna akidah.
Orang yang mencari harta tidak mau melihat ini halal atau tidak. Ini dikhawatirkan ketauhidannya.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya tentang kedatangan satu masa dimana banyak orang yang tidak peduli lagi dengan sumber penghasilannya, apakah dari yang halal ataukah yang haram ?
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ ؟
Akan datang suatu masa, orang-orang sudah sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram?"
Orang yang tidak peduli dengan sumber penghasilannya ini bisa jadi karena memang dia tidak tahu atau mungkin juga dia sudah tahu tetapi tetap dilanggar dengan berbagai macam alasan, bahkan kemudian membuat rekayasa.
Orang pertama lebih ringan dibandingkan dengan orang kedua, karena bisa jadi dia akan meninggalkan yang haram itu dan bertaubat jika dia mengetahuinya.
Sedangkan orang kedua, gemerlapnya dunia telah mempedayainya sehingga dia tidak bisa mengendalikan dan menundukkan kerakusan nafsunya.
Sebagaimana Allah menceritakannya dalam al qur'an. Allah memerintahkan nabi Syuaib mengatakan kepada umatnya, agar mereka beribadah kepada Allah saja, tidak ada yang berhak selain Allah. Mereka adalah para pedagang, negeri mereka berada di persimpangan jalan. Kaum Madyan ini mengubah standar ukuran timbangan.
Surat Al-A’raf Ayat 85:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".
Konsekuensi tauhid yang benar adalah orang tidak akan mengurangi timbangan. Orang yang bertauhid tidak akan berhak mengambil hak manusia. Perbaikan umat tidak akan bisa, kalau tidak memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Kisah Umar Bin Khatab dengan penjual susu:
Ketika Umar bin Khattab radhiallahu anhu pada masa kekuasannya melarang mencampur laban (susu) dengan air, suatu malam dia mengelilingi kota Madinah. Kemudian dia bersandar di sebuah dinding untuk beristirahat. Ternyata seorang wanita sedang berpesan kepada puterinya untuk mencampur laban dengan air.
Maka sang puteri tersebut berkata, ‘Bagaimana aku mencampurnya sedangkan Amirul Mukminin melarang hal tersebut.” Lalu wanita tersebut berkata, “Amirul Mukminin tidak mengetahuinya.”
Maka sang anak menjawab, “Jika Umar tidak mengetahuinya, maka Tuhannya Umar mengetahuinya. Aku tidak akan melaksanakannya selama hal tersebut telah dilarang.”
Ucapan sang anak perempuan tersebut sang berkesan di hati Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu. Maka di pagi harinya dia memanggil puteranya bernama Ashim, lalu dia ceritakan kejadiannya dan dia beritahu tempatnya, kemudian dia berkata, “Pergilah wahai anakku, nikahilah anak tersebut.” Maka akhirnya Ashim menikahi puteri tersebut, dan dari perkawinan tersebut, lahirlah Abdu Aziz bin Marwan bin Hakam, kamudian darinya lahir Umar bin Abdul Aziz.
Di antara pelajaran dalam kisah ini:
● Kesungguhan kalangan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.
● Selalu merasa diawasi Allah dalam sepi dan ramai.
● Tidak mengapa memberikan nasehat kepada kedua orang tua.
● Memilihkan suami atau isteri yang saleh bagi anak laki maupun perempuan.
Allah menjelaskan dalam al qur'an hubungan akidah dengan mencari harta. Dan Allah juga menjelaskan terapinya.
Allah berfirman:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ﴿١﴾ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ﴿٣﴾ أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ ﴿٤﴾ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥﴾ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." [al-Muthaffifîn/83:1-6]
Allah akan tampakan semua yang dilakukan manusia di hari akhir.
Maka orang yang mencari harta halal, dia beriman dengan hari akhir, karena setiap amalan kita pasti akan ditampakan.
Kemudian mencari harta halal merupakan iman kepada takdir (qada dan qadar).
Rezeki halal tidak hanya membawa manfaat secara fisik, tetapi juga menenangkan jiwa. Sementara itu, permintaan untuk dijauhkan dari yang haram mencerminkan kesadaran bahwa kehalalan rezeki adalah prinsip hidup yang tidak bisa ditawar.
Terakhir, permintaan agar tidak bergantung pada selain Allah, menunjukkan tauhid yang utuh, di mana seorang hamba meyakini bahwa hanya Allah yang mampu mencukupi segala kebutuhan.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka, bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.”
Lambatnya atau cepatnya rezeki kita tidak akan menambah atau mengurangi rezeki itu sendiri. Semuanya sudah Allah tuliskan sesuai takarannya di Lauhul Mahfuz.
Jibril memberi tahu nabi, Tidak ada jiwa yang mati sampai Allah sampaikan rezekinya.
Rasūlullāh mengatakan: “Malaikat Jibrīl telah menurunkan waḥyu kepadaku bahwa seseorang tidak akan mati sebelum semua rezekinya diberikan secara penuh kepadanya, tanpa dikurangi sedikit pun, sekalipun rezeki tersebut datangnya terlambat. Bertaqwālah kalian kepada Rabb kalian, dan jangan sekali-kali keterlambatan rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara yang mendurhakai Allah. Sesungguhnya seorang mu’min dengan mu’min yang lain kedudukannya bagaikan kepala bagi suatu tubuh; apabila kepala merasakan sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya.”
Janganlah keterlambatan rezeki yang didapat, kalian mendurhakai Allah. Allah janjikan api neraka untuk mereka. 1 kali celup di api neraka, maka hilang semua nikmat yang dirasakan selama di dunia.
Maka carilah disisi Allah sesuatu yang mengekalkan kita di dunia dan akherat. Mendapatkan karunia dan rahmat di hari akhir kelak, bahagia di surgaNya Allah.
Allah Maha baik, Allah hanya menerima dari yang baik saja. Allah tidak akan menerima dari harta yang tidak baik (haram).
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla itu maha baik, tidak menerima kecuali yang baik."
Semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita semua dari tipu syaitan dan semoga Allâh Azza wa Jalla mencukupkan kita dengan yang halal sehingga tidak terpikat dan tidak merasa butuh dengan harta haram.
Yaa Allah jadikanlah sebaik-baik amal kami pada penutupannya.
بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah takdirkan keberuntungan di akhir perjalanan kita. Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Nabi bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
Sebagaimana hidup kita, yang diliat adalah akhir hidup kita di dunia ini. Maka selagi masih ada usia, perbanyak amal shaleh kita.
Ujung terbaik, itulah kesuksesan orang baik.
Ibnul Jauzi menjelaskan:
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…
Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata :
“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”
Kita diberikan kesempatan 10 hari terakhir ramadhan, untuk memperoleh ampunan dari Allah dan bebas dari api neraka setiap malamnya.
Harta halal merupakan penyempurna akidah.
Orang yang mencari harta tidak mau melihat ini halal atau tidak. Ini dikhawatirkan ketauhidannya.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya tentang kedatangan satu masa dimana banyak orang yang tidak peduli lagi dengan sumber penghasilannya, apakah dari yang halal ataukah yang haram ?
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ ؟
Akan datang suatu masa, orang-orang sudah sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram?"
Orang yang tidak peduli dengan sumber penghasilannya ini bisa jadi karena memang dia tidak tahu atau mungkin juga dia sudah tahu tetapi tetap dilanggar dengan berbagai macam alasan, bahkan kemudian membuat rekayasa.
Orang pertama lebih ringan dibandingkan dengan orang kedua, karena bisa jadi dia akan meninggalkan yang haram itu dan bertaubat jika dia mengetahuinya.
Sedangkan orang kedua, gemerlapnya dunia telah mempedayainya sehingga dia tidak bisa mengendalikan dan menundukkan kerakusan nafsunya.
Sebagaimana Allah menceritakannya dalam al qur'an. Allah memerintahkan nabi Syuaib mengatakan kepada umatnya, agar mereka beribadah kepada Allah saja, tidak ada yang berhak selain Allah. Mereka adalah para pedagang, negeri mereka berada di persimpangan jalan. Kaum Madyan ini mengubah standar ukuran timbangan.
Surat Al-A’raf Ayat 85:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".
Konsekuensi tauhid yang benar adalah orang tidak akan mengurangi timbangan. Orang yang bertauhid tidak akan berhak mengambil hak manusia. Perbaikan umat tidak akan bisa, kalau tidak memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Kisah Umar Bin Khatab dengan penjual susu:
Ketika Umar bin Khattab radhiallahu anhu pada masa kekuasannya melarang mencampur laban (susu) dengan air, suatu malam dia mengelilingi kota Madinah. Kemudian dia bersandar di sebuah dinding untuk beristirahat. Ternyata seorang wanita sedang berpesan kepada puterinya untuk mencampur laban dengan air.
Maka sang puteri tersebut berkata, ‘Bagaimana aku mencampurnya sedangkan Amirul Mukminin melarang hal tersebut.” Lalu wanita tersebut berkata, “Amirul Mukminin tidak mengetahuinya.”
Maka sang anak menjawab, “Jika Umar tidak mengetahuinya, maka Tuhannya Umar mengetahuinya. Aku tidak akan melaksanakannya selama hal tersebut telah dilarang.”
Ucapan sang anak perempuan tersebut sang berkesan di hati Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu. Maka di pagi harinya dia memanggil puteranya bernama Ashim, lalu dia ceritakan kejadiannya dan dia beritahu tempatnya, kemudian dia berkata, “Pergilah wahai anakku, nikahilah anak tersebut.” Maka akhirnya Ashim menikahi puteri tersebut, dan dari perkawinan tersebut, lahirlah Abdu Aziz bin Marwan bin Hakam, kamudian darinya lahir Umar bin Abdul Aziz.
Di antara pelajaran dalam kisah ini:
● Kesungguhan kalangan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.
● Selalu merasa diawasi Allah dalam sepi dan ramai.
● Tidak mengapa memberikan nasehat kepada kedua orang tua.
● Memilihkan suami atau isteri yang saleh bagi anak laki maupun perempuan.
Allah menjelaskan dalam al qur'an hubungan akidah dengan mencari harta. Dan Allah juga menjelaskan terapinya.
Allah berfirman:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ﴿١﴾ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ﴿٣﴾ أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ ﴿٤﴾ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥﴾ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." [al-Muthaffifîn/83:1-6]
Allah akan tampakan semua yang dilakukan manusia di hari akhir.
Maka orang yang mencari harta halal, dia beriman dengan hari akhir, karena setiap amalan kita pasti akan ditampakan.
Kemudian mencari harta halal merupakan iman kepada takdir (qada dan qadar).
Rezeki halal tidak hanya membawa manfaat secara fisik, tetapi juga menenangkan jiwa. Sementara itu, permintaan untuk dijauhkan dari yang haram mencerminkan kesadaran bahwa kehalalan rezeki adalah prinsip hidup yang tidak bisa ditawar.
Terakhir, permintaan agar tidak bergantung pada selain Allah, menunjukkan tauhid yang utuh, di mana seorang hamba meyakini bahwa hanya Allah yang mampu mencukupi segala kebutuhan.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka, bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.”
Lambatnya atau cepatnya rezeki kita tidak akan menambah atau mengurangi rezeki itu sendiri. Semuanya sudah Allah tuliskan sesuai takarannya di Lauhul Mahfuz.
Jibril memberi tahu nabi, Tidak ada jiwa yang mati sampai Allah sampaikan rezekinya.
Rasūlullāh mengatakan: “Malaikat Jibrīl telah menurunkan waḥyu kepadaku bahwa seseorang tidak akan mati sebelum semua rezekinya diberikan secara penuh kepadanya, tanpa dikurangi sedikit pun, sekalipun rezeki tersebut datangnya terlambat. Bertaqwālah kalian kepada Rabb kalian, dan jangan sekali-kali keterlambatan rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara yang mendurhakai Allah. Sesungguhnya seorang mu’min dengan mu’min yang lain kedudukannya bagaikan kepala bagi suatu tubuh; apabila kepala merasakan sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya.”
Janganlah keterlambatan rezeki yang didapat, kalian mendurhakai Allah. Allah janjikan api neraka untuk mereka. 1 kali celup di api neraka, maka hilang semua nikmat yang dirasakan selama di dunia.
Maka carilah disisi Allah sesuatu yang mengekalkan kita di dunia dan akherat. Mendapatkan karunia dan rahmat di hari akhir kelak, bahagia di surgaNya Allah.
Allah Maha baik, Allah hanya menerima dari yang baik saja. Allah tidak akan menerima dari harta yang tidak baik (haram).
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla itu maha baik, tidak menerima kecuali yang baik."
Semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita semua dari tipu syaitan dan semoga Allâh Azza wa Jalla mencukupkan kita dengan yang halal sehingga tidak terpikat dan tidak merasa butuh dengan harta haram.
Yaa Allah jadikanlah sebaik-baik amal kami pada penutupannya.
بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah takdirkan keberuntungan di akhir perjalanan kita. Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment