Istiqamah Setelah Ramadhan
Bismillah
Tabligh Akbar & Muhadharah Kubro HSI ke 21 bersama :
🎙️Pemateri: Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.
📅 Hari/Tanggal : Ahad ini! 16 Syawwal 1447 H / *5 April 2026*
🕙 Waktu : 10:00 WIB
Tema: Istiqamah Setelah Ramadhan
📍Tempat: Masjid Al Barkah Cileungsi
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Istiqamah setelah ramadhan bukan sesuatu yang mudah. Karena istiqamah itu berat. Kenapa berat? Pertama: karena manusia punya hawa nafsu dan syahwat. Kedua: Setan tidak pernah diam, dia tidak akan pernah ridha jika kita melakukan kebaikan.
Istiqamah itu butuh kesungguhan..
Di bulan ramadhan kita dilatih dengan berbagai macam ketaatan, yaitu dengan puasa, shalat malam, sedekah, iktikaf dan kebaikan lainnya.
Ramadhan menjadi sebuah wasilah agar setelah ramadhan kita terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan itu. Sehingga dia mengenal Allah di bulan itu. Jika dia menjadikan wasilah, dia akan terus berbuat ketaatan dan kebaikan pada bulan-bulan setelahnya.
Sebaliknya, jika ramadhan tidak dijadikan wasilah, maka dia akan meninggalkan kebaikan setelah ramadhan, justru berbuat dosa dan maksiat.
Allah menceritakan dalam alquran, seorang wanita menyulam. Ini adalah gambaran sederhana bagi keadaan upaya merajut kebahagiaan dan keberhasilan di bulan Ramadhan.
Setelah kita mulai merasakan betapa manisnya keimanan. Akankah semuanya itu kembali kita uraikan satu demi satu? Akankah tumpukan pahala yang telah tersusun rapi di lembar catatan amal selama ramadhan akan kita lanjutksn di bulan selanjutnya?
Allah berfirman:
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An Nahl: 92)
Ada satu indikasi yang dapat kita jadikan pedoman dalam mengenali apakah sekarang ini kita sedang memupuk subur pahala yang telah kita kumpulkan atau sedang meruntuhkannya kembali. Karenanya, kita harus berusaha menyulam kebaikan, agar terbiasa mengerjakan kebaikan.
Merugi sekali orang yang telah diberikan ketatan, tetapi dia tidak mensyukurinya. Malahan meninggalkan ketaatan tersebut.
3 pintu kebaikan itu adalah puasa, shalat malam, sedekah.
Hadist Muadz bin Jabbal:
Nabi ﷺ bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pada pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai dan sedekah akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seorang laki-laki pada pertengahan malam.”
Saat ini kita telah berada di pertengahan bulan Syawwal. Di bulan Ramadhan yang telah kita lalui dapat kita saksikan bahwa kaum muslimin begitu giat dalam beramal, mentadabburi Kalamullah, menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih, dan juga sebagian lainnya giat untuk berbagi dengan sesama melalui kelebihan harta yang dimiliki (infaq, zakat dan sedekah).
Namun yang sangat disayangkan, amalan-amalan ketaatan semacam ini kadang terhenti setelah Ramadhan itu berakhir.
Amalan-amalan tersebut terasa hanya musiman saja karena baru muncul dan laris manis di bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan berakhir akan lenyap begitu saja. Padahal amalan yang paling baik dan dicintai oleh Allah tidaklah demikian. Yang diinginkan dari amalan itu adalah amalan yang langgeng (continue).
Dari ’Aisyah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ
”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”
Yang diinginkan adalah istiqamah setelah ramadhan. Setelah syawal kita akan menemui 3 bulan haram, yaitu bulan Dzulqodah, Dzulhijah dan bulan Muharam.
Surat At-Taubah Ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
" Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."
Perbuatan dosa yang dilakukan di bulan haram, dosanya jauh lebih besar.
Setelah ramadhan kita dianjurkan untuk berpuasa syawal. Yang paling agung adalah di bulan dzulhijah. Kenapa Allah telah memberikan keistimewaan pada bulan-bulan tersebut? Karena di dalamnya terdapat ibadah yang istimewa dan agar kita terbiasa diatas kebaikan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menekankan bahwa manusia pasti bergerak, dan jiwanya tidak pernah vakum. Jika tidak disibukkan dengan ketaatan dan kebaikan, ia pasti akan disibukkan dengan keburukan. Oleh karena itu, konsistensi beramal saleh adalah kunci menjaga diri dari kesia-siaan dan menjemput rahmat Allah.
Seseorang itu akan mati diatas kebiasaannya..
Istiqamah adalah perkara yang besar. Pokok istiqamah badan adalah istiqamahnya hati. Karena hati itu adalah raja. Maka perhatikan hati kita!
Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat.
Rusaknya hati adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya).
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”
Para sahabat tidak diberikan keistimewaan dengan banyaknya ibadah puasa, sedekah, shalat. Tapi para sahabat diberikan keistimewaan dengan hati mereka, ketakwaan, kekuatan iman dan keikhlasan hati mereka.
Surat At-Talaq Ayat 5:
ذَٰلِكَ أَمْرُ ٱللَّهِ أَنزَلَهُۥٓ إِلَيْكُمْ ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ وَيُعْظِمْ لَهُۥٓ أَجْرًا
"Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."
Nabi bersabda:
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya."
Karenanya, yang terpenting adalah keimanan dan ketakwaan di dalam hati.
Abu Rib’iy Hanzhalah bin Ar Rabi’ Al-Usaidiy Al-Katib salah seorang juru tulis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – berkata:
لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ، فَقالَ: كيفَ أَنْتَ؟ يا حَنْظَلَةُ قالَ: قُلتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قالَ: سُبْحَانَ اللهِ ما تَقُولُ؟ قالَ: قُلتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، يُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا، قالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللَّهِ إنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هذا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ، حتَّى دَخَلْنَا علَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، قُلتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، يا رَسُولَ اللهِ، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ وَما ذَاكَ؟ قُلتُ: يا رَسُولَ اللهِ، نَكُونُ عِنْدَكَ، تُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِكَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، نَسِينَا كَثِيرًا فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ إنْ لو تَدُومُونَ علَى ما تَكُونُونَ عِندِي، وفي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ المَلَائِكَةُ علَى فُرُشِكُمْ وفي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Abu Bakar radhiallahu’anhu menjumpaiku dan berkata, ‘Bagaimana kabarmu ya Hanzhalah?‘ Aku pun menjawab, ‘Aku telah menjadi munafik.‘ Abu Bakar berkata, ‘Subhanallah, apa yang sedang kau katakan?‘ Jawabku, ‘Ketika kami berada di majelis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seakan-akan surga dan neraka ada di hadapan kami (ketika Rasulullah mengingatkan kami tentangnya).
Namun, saat kami berada diluar majelisnya maka kami disibukkan dengan istri-istri, anak-anak dan kehidupan kami hingga kami banyak lupa (terhadap akhirat).‘ Maka berkata Abu Bakar radhiallahu’anhu, ‘Demi Allah, Aku pun merasakan hal yang sama.‘ Maka kami pun bermaksud mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Aku pun berkata, ‘Hanzhalah telah munafik wahai Rasulullah.‘ Rasulullah bertanya, ‘Apa maksudmu?‘ Jawabku, ‘Wahai Rasulullah seakan surga dan neraka ada dihadapan kami ketika engkau mengingatkan kami tentangnya dalam majelismu. Akan tetapi, ketika kami tidak lagi berada di majelismu kamipun lalai dengan anak, istri dan kehidupan kami sehingga kami banyak melupakan (akhirat).‘
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwa aku ada pada genggaman-Nya, jika kalian terus beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan selalu mengingat akhirat, maka niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur kalian maupun di jalan-jalan. Namun Hanzhalah, manusia itu sesaat begini dan sesaat begitu.‘ Beliau mengulanginya sampai tiga kali.” (HR. Muslim no. 2750).
Surat An-Nisa Ayat 142:
إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali."
Bagaimana cara hati kita tetap istiqamah?
Ibnu Qayim mengatakan untuk isitiqamah hati kita dengan 2 perkara:
1. Mencintai Allah, harus melebihi dari segala sesuatu.
2. Mengagungkan perintah dan larangan Allah.
■ Mencintai Allah, harus melebihi dari segala sesuatu ( kepada diri sendiri, anak kita, harta kita, perniagaan dan lain-lain).
Ini tidak mudah. Karena hati kita itu bagaikan bejana. Sebagaimana cinta kita kepada Allah akan berkurang, jika kita memasukan cinta dunia yang berlebihan.
Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”
Disinilah perjuangan kita:
1. Mengenal Allah (mentaduburi al qur'an, mengenal nama & sifat Allah).
2. Mentaati Allah.
3. Meninggalkan kemaksiatan.
4. Zuhud dengan kehidupan dunia.
Mencintai Allah adalah pokok keimanan. Orang yang cintanya kuat, mencarinya pun akan kuat dan akan semakin kuat mengejarnya. Jika dia mencintai Allah, dia akan memberikan yang terbaik untuk Allah, zikir semaksimal mungkin (mengingat Allah). Merasa asyik berzikir kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)
Nabi mengatakan Mufarridun, orang yang banyak berdzikir, yaitu orang yang banyak mengingat Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah mendahului al-mufarridun (orang-orang yang menyendiri dalam ibadah).” Para sahabat bertanya, “Siapakah al-mufarridun itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
Sebaliknya jika mengaku mencintai Allah, tapi amal perbuatan biasa saja, jauh dari perbuatan baik atau justru berbuat dosa. Maka itu bukan mencintai Allah.
Dalam surah Al-Hadid ayat 14, yang mengisahkan tentang orang-orang munafik pada hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Orang-orang munafik itu akan menyeru orang-orang yang beriman dan berkata: ‘Bukankah kami dahulu di dunia bersama-sama dengan kalian?’ Mereka orang-orang yang beriman berkata: ‘Benar, akan tetapi kamu memfitnah dirimu sendiri dan menunggu-nunggu kekalahan kami dan kalian merasa ragu serta tertipu oleh angan-angan (dunia) sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.”
Di sini Allah mengisahkan bahwa orang-orang munafik itu memfitnah dirinya sendiri.
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa memfitnah diri sendiri berarti memperdaya diri dengan kelezatan, syahwat, syubhat, maksiat dan fitnah dunia.
Ayat ini menjadi sebuah renungan. Bahwa memfitnah diri sendiri hakikatnya adalah mengotori hati kita sendiri. Karena hati sangat mudah terpengaruh.
Hati itu seperti bejana yang apabila dipenuhi oleh sesuatu, maka dia akan mengeluarkan hal itu. Jika kita terbiasa dengan kelezatan dunia, seperti syahwat dan maksiat, hal itu akan mempengaruhi kesungguhan kita dalam beribadah. Kalau kita selalu mencari kelezatan duniawi, maka ibadah akan terasa berat.
Salafus shahih mengatakan kalau kamu mempunyai teman yang suka masbuk saja. Jangan kamu dekat dengannya.
■ Mengagungkan perintah dan larangan Allah
Orang yang mengagungkan Allah, dia akan mengagungkan amal ibadah, seperti: shalat, sedekah dan tidak berani berbuat maksiat (takut karena Allah).
Hikmah kenapa kita banyak mengucapkan takbir dalam shalat. Siapa yang lebih besar mengagungkan Allah, pasti shalatnya akan khusyuk.
Setiap kali dia jatuh dalam dosa, langsung bertaubat. Dia akan berusaha melakukan perintah Allah sebaik-baiknya. Dia akan berusaha dengan sungguh-sungguh agar shalatnya diterima.
Ada orang yang masuk neraka karena amal shalehnya (karena riya') dan sebaliknya ada yang berbuat maksiat dan bertaubat kepada Allah, sehingga dia masuk surga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari)
Siapa yang meninggalkan sunnah karena meremehkan, maka jatuh pada dosa. Beda dengan meninggalkan karena malas atau futur, hanya membuat seseorang kehilangan pahala dan keutamaan, namun tidak berdosa.
Semoga Allah menganugerahi kita amalan-amalan yang selalu dicintai olehNya. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment