Memaafkan, Pintu Ampunan Dan Kebahagian
Bismillah
Dauroh AKHLAK Babussalam🎙 Bersama pemateri
SESI 1 (09.00-11.00 WIB)
Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, MA
*Memaafkan, Pintu Ampunan Dan Kebahagian*
In syaa Allah:
🗓 Ahad, 19 April 2026 | 1 Dzulqa'dah 1447 H
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Memaafkan, Pintu Ampunan Dan Kebahagiaan
Materi kajian mengenai Memaafkan adalah perkara yang sangat penting dan besar untuk kita. Banyak orang melupakan amalan ibadah ini, yaitu memaafkan.
Memaafkan adalah amalan ibadah. Dimana orang tidak sadar kalau itulah sebuah amalan yang begitu agung.
Apa itu hakikat ibadah?
Ibadah adalah sebuah nama dan istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan dan perbuataan yang tampak ataupun tidak tampak.
Memaafkan itu dicintai dan diridhai oleh Allah. Terdapat banyak dalil yang memerintahkan kita untuk memaafkan orang lain. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, itu menunjukan bahwa amalan itu dicintai oleh Allah. Kalau amalan itu tidak dicintai atau tidak diridhai Allah, maka Allah tidak akan memerintahkannya.
Allah mengatakan barangsiapa yang memaafkan dan memperbaiki hubungannya dengan orang lain, maka pahala tergantung dari Allah. Pahala suatu amalan sesuai dengan jenis amalannya.
Memaafkan sangat besar manfaatnya dan dibutuhkan oleh kita semua. Karena kita hidup dengan manusia, dan manusia itu banyak berbuat salah.
Jangan mengingat-mengingat kesalahan orang lain. Dan itu sangat memberatkan kehidupan kita. Maka kita harus mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Karena kita juga ingin diperlakukan seperti itu (dimaafkan).
Sekuat apapun kita tidak ingin melakukan kesalahan, kemungkinan besar kita juga akan melakukan kesalahan.
Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa Saja manfaat Ibadah Memaafkan ?
1. Memaafkan adalah Pintu Ampunan
Dengan memaafkan kesalahan orang lain, Kita akan mendapatkan ampunan dari Allah.
Beberapa dalil yang menjelaskan ini.
Pertama: Kisah sahabat Abu Bakar.
Sahabat Abu Bakar terkenal sangat dermawan. Dia selalu membantu orang-orang miskin, salah satunya adalah sahabat Misthah. Misthah termasuk di antara beberapa tokoh lain yang menebar kabar palsu/fitnah kepada ibunda aisyah.
Abu Bakar pun marah kepada misthah dan menghentikan bantuannya kepada Misthah, karena ikut menyebarkan fitnah bahwa Ibunda Aisyah berselingkuh.
Setelah itu, Allah menegur Abu Bakar dan memerintahkan untuk memaafkan Misthah.
Surat An-Nur Ayat 22:
وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dengan turunnya surat An Nur ayat 22 ini, sahabat Abu Bakar pun memaafkan kesalahan Misthah dan memberikan bantuan kembali kepadanya.
Kesalahan kita kepada Allah lebih banyak, dibanding kesalahan kita kepada manusia. Ini menunjukan amalan ini lebih besar daripada amalan yang kita lakukan. Yang berarti ketika kita memaafkan kesalahan orang lain, maka kita akan diberi ampunan dan dimaafkan oleh Allah. Maka keuntungan kita jauh lebih besar.
Allah memerintahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana Allah berfirman dalam alquran.
QS. Surat At-Taghabun Ayat 14:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Di dalam Surat At-Taghabun Ayat 14, ada 3 amalan yang diperintahkan oleh Allah:
A. Memaafkan (meninggalkan kesalahannya) dengan tidak menghukumnya dan tidak menjelekannya.
B. Berpaling darinya, sehingga tidak ada sisa sakit hati kepada orang tersebut (lapang dada dan hatinya bersih).
C. Menutupi kesalahan orang tersebut (seakan-akan orang itu tidak pernah melakukan kesalahan).
2. Memaafkan adalah Pintu Kebahagiaan
Dengan memafkan hati kita akan bahagia. Berarti menjauhi diri kita dari hati yang sedih, jauh dari marah, dan jauh dari dendam. Jika kita bisa menjauhi dari sikap sedih, marah dan dendam maka hati kita akan bahagia.
Ketika keadaan hati kita bersih, hati kita akan bahagia. Penduduk surga itu akan dibersihkan dari sifat dendam, agar kebahagiaannya sempurna.
QS. Surat Al-Hijr Ayat 45:
إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)."
Surat Al-Hijr Ayat 46:
ٱدْخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ
"(Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman."
Surat Al-Hijr Ayat 47:
وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَٰبِلِينَ
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."
Inilah kenikmatan yang sempurna. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, hati kita akan menjadi bahagia.
Jika kita disakiti oleh orang lain, maka hati kita tergores. Jika kita tidak segera obati, hati kita akan terasa perih dan sakitnya akan lama. Maka kita harus menghilangkan goresan-goresan didalam hati ini, sehingga hati kita akan sehat kembali.
3. Dengan memaafkan, Allah akan mencintainya.
Cinta Allah akan mudah kita dapatkan dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Ini menunjukan memaafkan kesalahan orang lain adalah amalan kebaikan dan sangat dicintai oleh Allah.
Surat Al-Ma’idah Ayat 13:
فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Banyak orang merasa rugi kalau memaafkan kesalahan orang lain. Dia mau menuntutnya dihadapan Allah pada hari kiamat. Namun pada hakikatnya, kalau dia memaafkan kesalahan orang lain di dunia ini, untungnya jauh lebih besar. Allah akan mencintainya dan mengampuninya.
4. Pahala yang sangat Agung dari Allah
Ketika kita memaafkan kesalahan orang lain, kita akan mendapatkan pahala yang sangat Agung dari Allah.
Surat Asy-Syura Ayat 40:
وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim."
Pahalanya bergantung Aku. Maksudnya adalah Allah akan memberikan pahala yang sangat besar. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Kaya, Maha Pemberi dan Maha Dermawan.
Ibnu Taimiyah mengatakan Allah membagi manusia menjadi 3:
1. Orang yang membalas dengan balasan yang setimpal.
2. Orang yg membalas kezaliman orang lain dengan sikap memaafkan.
3. Orang yang ketika dizalimi, dia membalas dengan balasan yang lebih berat.
5. Kita akan Mendapatkan Derajat yang tinggi disisi Allah (orang yg mulia).
Nabi mengatakan orang yang paling mulia adalah orang yg hatinya makhmum (orang yang bertakwa, hatinya bersih, tidak ada dendam, dia tidak ada hasad) dan lisannya jujur.
Dari sahabat Abdullah bin 'Amru dia berkata, Rasulullah ﷺ ditanya; “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Setiap (orang) yang hatinya makhmum dan lisan yang jujur.” Mereka berkata, “Lisan yang benar kami telah ketahui, lantas apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda, “Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kedurhakaan, keterbelengguan dan kedengkian padanya.” Lalu kami bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah yang mampu menempuh jalan tersebut?" Nabi menjawab, “Orang yang benci dengan dunia dan cinta kepada akhirat.” Kami menimpali, kalau yang seperti ini maka kami tidak mengetahuinya kecuali sahabat Rafi` Maula Rasulullah ﷺ; siapakah yang mampu mengikuti jejaknya? Nabi menjawab, “Orang mukmin yang berakhlak baik.” kami menimpali, Adapun yang ini, kami mampu melakukannya.”
Jadi kita harus menjadi orang yang bertakwa, memiliki hati yang bersih, tidak ada dendam dan tidak hasad serta lisan yang jujur.
6. Dimudahkan Jalannya Menuju Surga.
Surat Ali ‘Imran Ayat 133:
۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
Surat Ali ‘Imran Ayat 134:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang bertakwa dan yang dimasukan ke dalam surga.
Sifat-sifat Ahli Surga:
1. Menginfakan hartanya, baik di waktu lapang ataupun sempit.
2. Menahan Amarah.
3. Mudah Memaafkan kesalahan manusia.
Shahabat Anas ibn Malik ra menceritakan:
كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى. فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى
Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw, beliau bersabda: “Akan datang kepada kalian sekarang seorang calon penghuni surga.” Tiba-tiba datang seorang Anshar yang air bekas wudlunya menetes dari janggutnya. Ia mengikatkan sandalnya pada lengan kirinya. Keesokan harinya Nabi saw bersabda seperti itu lagi. Tiba-tiba datang lelaki yang sama dengan sebelumnya. Hari ketiga Nabi saw bersabda seperti itu lagi dan datang lelaki itu lagi dalam keadaan seperti ketika hari pertama.
قَالَ أَنَسٌ: وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ.
Anas berkata: ‘Abdullah (ibn ‘Amr) menceritakan bahwasanya ia bermalam di rumah lelaki itu pada tiga malam tersebut. Ia tidak melihat orang itu shalat malam barang sebentar pun. Tetapi setiap kali ia terbangun malam dan beralih posisi di atas kasurnya ia berdzikir kepada Allah azza wa jalla dan bertakbir sampai bangun untuk shalat shubuh.
قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: … سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِيَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ.
Abdullah (ibn ‘Amr) berkata: “Tetapi aku tidak pernah mendengarnya berkata melainkan yang baik.” Setelah lewat tiga hari dan aku hampir saja menganggap remeh amalnya aku berkata: …”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda tentang kamu tiga kali: ‘Akan datang kepada kalian sekarang seorang calon penghuni surga’.
Lalu ternyata anda yang datang pada ketiga harinya. Aku bertamu di rumah anda bermaksud melihat amal anda agar bisa aku teladani. Tetapi aku tidak melihat anda banyak beramal. Lalu apa yang istimewa dari anda sehingga Rasulullah saw memuji anda?” Ia menjawab: “Tidak ada selain yang anda lihat.”
قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ
Setelah aku (Ibn ‘Amr) keluar, ia memanggilku: “Tidak ada selain yang anda lihat. Kecuali mungkin aku tidak merasakan dalam diriku kotor hati kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasud kepada seorang pun yang Allah berikan kebaikan kepadanya.” ‘Abdullah berkata: “Inilah keistimewaan yang anda miliki dan kami tidak mampu.”
Masya Allah, Bahwa amalan memaafkan kesalahan orang lain, memudahkan kita untuk memasuki surgaNya Allah.
Nabi kita nabi Muhammad sallallāhu 'alaihi wa sallam adalah seorang yang pemaaf.
Berikut beberapa kisahnya..
Kisah dari Jabir bin abdillah:
Dari Jābir raḍiyallāhu 'anhu bahwa ia berperang bersama Nabi sallallāhu 'alaihi wa sallam ke arah Nejd. Ketika Rasulullah sallallāhu 'alaihi wa sallam pulang, ia pulang bersama mereka. Ketika tiba tengah hari mereka telah berada di sebuah lembah yang banyak pohon berdurinya. Rasulullah sallallāhu 'alaihi wa sallam lalu turun (dari tunggangannya), dan orang-orangpun berpencar mencari naungan pohon. Adapun Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, maka beliau singgah beristirahat di bawah pohon Samurah (salah satu jenis pohon berduri).
Beliau menggantungkan pedang di pohon ini dan kami pun tidur sesaat. Tiba-tiba Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memanggil kami, dan ternyata di depannya ada seorang arab badui.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang ini menghunus pedangku untuk mencelakaiku saat aku tidur, lalu aku bangun sedang pedang terhunus di tangannya. Ia berkata, “Siapa yang bisa melindungimu dariku?” Aku menjawab, “Allah”. Ini terjadi tiga kali. Beliau tidak menghukum orang tersebut, dan beliau duduk.”
Pemaafan Terhadap Pemuka Quraisy:
Saat menguasai Makkah, Rasulullah bertanya kepada pemuka Quraisy tentang apa yang mereka kira akan beliau lakukan. Mereka menjawab dengan baik karena menganggap beliau saudara yang mulia. Rasulullah pun bersabda:
"Hari ini aku katakan kepada kalian seperti apa yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya, 'Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian, semoga Allah mengampuni kalian'".
Kisah Wahsyi bin Harb (Pembunuh Hamzah):
Wahshi, yang membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, sempat melarikan diri karena takut. Namun, Rasulullah ﷺ memaafkannya setelah ia masuk Islam. Rasulullah hanya meminta Wahsyi untuk tidak menampakkan wajah di depannya karena kehadirannya mengingatkan pada kesedihan kehilangan paman tercinta.
Ketika kita mengakui mencintai nabi, maka kita harus meniru sikap nabi, yaitu menjadi orang yang pemaaf.
Bagaimana menjadi orang yang mudah Memaafkan?
1. Kita harus ingat terus keutamaan-keutamaan dari memaafkan kesalahan orang lain. Maka kita akan bersemangat untuk memberikan maaf.
2. Kita harus terus ingat bahwa manfaat memaafkan orang lain di dunia ini, jauh lebih besar daripada menuntut hak kita dihadapan Allah di hari kiamat nanti.
3. Ingatlah bahwa apabila kita tidak memaafkan, maka kerugiannya akan lebih besar. Karena hari-hari kita akan dihantui dengan rasa sakit hati, dendam dan akhirnya pikirkan kita tidak fokus untuk masa depan (hidup tidak bahagia).
4. Ingatlah dengan memaafkan, berarti kita mengalahkan hawa nafsu didalam diri kita.
5. Ingatlah bahwa tidak ada yang bisa mempengaruhi kita, kecuali Allah.
Usaha orang lain untuk menganggu kita tidak berpengaruh sama sekali, jika Allah tidak mengizinkannya. Orang tersebut adalah alatnya Allah untuk mewujudkan takdirNya untuk kita.
Nabi bersabda: "Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’”
Kezaliman orang lain kepada kita adalah bagian dari takdir dari Allah. Dan sebaliknya bisa jadi Allah menakdirkan kita untuk menzalimi orang lain.
Kalau kita mengingat ini, kita akan jauh lebih mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Kelak Allah menganugerahkan kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa, berupa surgaNya Allah. Aamiin..
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment