Menjemput Ampunan di Sisa Waktu

Bismillah

Kajian MT Baabulkhairaat Kota Wisata- Masjid Al Fursan

Materi: 📚 *Menjemput Ampunan di Sisa Waktu*

Bersama
*Ustadz Abdullah Taslim MA*
*Hafidzahullahu ta'ala*

📆  Ahad 26 April 2026
       7 Dzulqaidah 1447         

🕌  Masjid Al-Fursan
Jalan raya parpostel 102 Jatiasih
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Menjemput Ampunan Allah di Sisa Waktu

Kira-kira  berapa sisa usia kita? Hanya Allah yang mengetahuinya. Yang pasti usia kita ada akhirnya, karena setiap orang pasti akan merasakan kematian.

Surat Ali ‘Imran Ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."

Menjemput Ampunan Allah di Sisa Waktu. Ini adalah perkara yang luar biasa. Sebagai manusia dan hamba Allah, kita mengakui banyaknya nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita.

Tetapi tetap kita sebagai manusia mempunyai dosa, kekurangan dan kelemahan. Yang dengan sebab itu, kita sebagai manusia butuh Allah, sebagai tempat bersandar, memohon ampunan dan meminta semua kebutuhan untuk kehidupan kita. Hanya Allah yg dapat memberikan Hidayah, Taufik dan RahmatNya.

Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
“Wahai manusia, kamulah yang fakir (membutuhkan) kepada Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ini menunjukan kita butuh pengampunan Allah. Karena kita sebagai manusia banyak salah dan dosa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.”

Lebih daripada itu, permasalahan ini membahas nama-nama Allah yang indah. Beberapa nama Allah yang mengandung makna pengampunan.

● At Tawwab (Allah Maha Penerima Taubat)
● Al Ghafur (Allah Maha Pengampun)

Al-Afuww (Allah Maha Pemaaf)

Doa yang Diajarkan Nabi: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku).

Belum lagi, nama Allah Ar Rahman Ar Rahim (Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nah disini kita harus mengingat. Orang yang selalu mencari pengampunan Allah adalah ciri hamba Allah yag shaleh (hamba yang bertakwa).

Surat Ali ‘Imran Ayat 17:
ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ
"(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur."

Waktu di sepertiga malam. Waktu saat Allah turun ke langit bumi untuk mengabulkan doa-doa hambaNya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ لَهُ
Rabb kami Tabaaraka wa Ta’aalaa turun ke langit dunia pada setiap malam ketika tinggal sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’anya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi permintaannya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya."

Mereka shalat tahajud, berdoa dan meminta ampunan kepada Allah.

Surat Az-Zariyat Ayat 17:
كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
"Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam."

Surat Az-Zariyat Ayat 18:
وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar."

Inilah hamba-hamba Allah yang sholeh. Mereka segera beristighfar dan amal kebaikannya banyak. Lebih dari itu, Allah dengan nama-nama Allah yang Maha indah. Allah mencintai hambanya yang berdoa dengan menyebut nama Allah. Inilah adalah amalan yang tinggi dan mutlak (sangat disyariatkan dalam islam).

Surat Al-A’raf Ayat 180:
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."

Dari sekian banyak lafal permohonan ampunan (istighfar), ada satu yang menempati posisi puncak, yang disebut langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai "rajanya para istighfar". Doa agung itu adalah Sayyidul Istighfar.

Ia bukan sekadar permintaan maaf biasa. Ia adalah sebuah deklarasi ketundukan, sebuah pengakuan total atas kebesaran Allah dan kehinaan diri kita sebagai hamba. Mengamalkannya secara rutin bukan hanya akan membersihkan catatan dosa kita, tetapi juga dijanjikan sebuah ganjaran yang tak ternilai berupa Surga. 

Secara bahasa, Sayyidul Istighfar berarti "Pemimpin/Raja dari Permohonan Ampunan". Rasulullah ﷺ memberinya gelar ini karena doa ini adalah lafal istighfar yang paling unggul, paling lengkap, dan paling sempurna maknanya.

Keistimewaannya terletak pada strukturnya yang luar biasa, yang mengandung adab tertinggi seorang hamba saat memohon kepada Tuhannya. 

Doa syaidul istighfar
(Dibaca saat zikir pagi dan petang)

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā 'abduk, wa anā 'alā 'ahdika wa wa'dika mastaṭa'tu, a'ūdzu bika min syarri mā ṣana'tu, abū'u laka bini'matika 'alayya, wa abū'u laka bidzanbī faghfir lī, fa innahū lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.

Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji-Mu dan ikrar-Mu (untuk taat) semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau."

Rasulullah ﷺ melanjutkannya dengan sebuah jaminan yang luar biasa:

...وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Artinya: "...Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu ia meninggal pada hari itu sebelum sore tiba, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu ia meninggal sebelum pagi tiba, maka ia termasuk penghuni surga."

Inilah puncak adab dalam berdoa. Kita melakukan dua pengakuan secara bersamaan: mengakui bahwa semua kebaikan dan nikmat (bahkan kemampuan untuk bertaubat) adalah murni dari Allah, sementara semua kesalahan dan dosa adalah murni dari diri kita sebagai hamba.

Setelah semua pengakuan dan ketundukan itu, barulah kita mengajukan permintaan inti: ampunan. Dan kita menutupnya dengan kembali menegaskan tauhid, bahwa ampunan adalah hak prerogatif Allah semata.

Orang beriman tidak menganggap dirinya besar, hebat dan tinggi. Namun dia merasa lemah, mengakui kekurangan dan dosanya.

Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.

Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2)

Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.

Tapi karena agungnya istighfar, nabi selalu menghambakan dirinya dengan nama-nama Allah yang maha indah dan maha tinggi.

Jadi kita tidak harus menunggu ketika berdosa saja. Tetapi menjemput ampunan Allah, dengan melihat banyak nikmat yang Allah berikan, agar menjadi hamba yang bersyukur.

Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah/bengkak. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.” 

Jadi disinilah kita harus paham, hamba Allah yang sholeh, bukan berarti maksum terjaga dari kesalahan. Hanya nabi dan rassul yang terjaga dari kesalahan, terjaga dari dosa besar. Saat nabi dan rassul melakukan dosa kecil, mereka langsung bertaubat.

Kenapa Allah tidak menjaga kita dari dosa?
Apakah Allah mampu menjaga hambanya untuk tidak berbuat dosa sama sekali?

Jawabannya: Allah dapat melakukan semua yang Allah inginkan, namun Allah tidak menjaga kita dari dosa. Karena ada hikmah dibalik itu semua.

● Allah tidak membinasakan iblis, karena manusia selalu berbuat dosa.

● Dengan dosa agar hamba tersebut mengamalkan doa-doa yang indah dan bertaubat.

Ibnu Rajab mengatakan ada 2 hikmah dibalik dosa:

Hikmah pertama: Penghambaan diri: Agar manusia itu selalu merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui bahwa dia hamba yang lemah, membutuhkan Allah untuk bersandar dan meminta pertolongan hanya kepada Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kesempurnaan makhluk (manusia) adalah dengan merealisasikan al-‘ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Allah, dan semakin bertambah (kuat) realisasi penghambaan diri seorang hamba (kepada Allah Ta’ala) maka semakin bertambah pula kesempurnaannya (kemuliaannya) dan semakin tinggi derajatnya (di sisi Allah Ta’ala).

Orang yang rajin beribadah dan merasa bangga dengan amal ibadahnya. Kedudukannya jauh lebih rendah  dibanding dengan Orang yang kurang ibadahnya tapi banyak beristighfar kepada Allah.

Imam Mutharrif bin 'Abdillah bin asy-Syikhkhiir Rahimahullah. Beliau adalah seorang imam besar dari kalangan Tabi'in senior yang mulia dan sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, Beliau rahimahullah berkata:

"Sungguh jika aku tertidur di malam hari tapi aku (bangun) di pagi hari dalam keadaan menyesali (dosa-dosaku) lebih aku sukai dari pada aku berdiri (beribadah) di malam hari tapi ketika di pagi hari aku bangga (dengan diriku sendiri)".

Sungguh tidak beruntung orang yang bangga dengan dirinya (amal ibadahnya).

Nabi bersabda:
لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ: الْعُجْبَ الْعُجْبَ
"Kalau kalian tidak berdosa, Aku khawatir kalian tertimpa dengan penyakit yang lebih berbahaya dari itu yaitu ujub, ujub.”

Hikmah kedua: Agar kita bisa mengamalkan kandungan nama-nama Allah yang maha indah, agar kita mengakui kebaikan-kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita.

Ketika hamba keliru dan berbuat dosa, Allah memberikan taufik dan hidayah agar hambanya mengakui dosanya dan meminta ampunan kepada Allah.

Ucapan penghuni surga: mereka berkata segala puji bagi Allah untuk kami masuk surga. Sungguh kalau bukan Hidayah Allah kami tidak bisa.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf Ayat 43:
وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلْحَقِّ ۖ وَنُودُوٓا۟ أَن تِلْكُمُ ٱلْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".

Sifat pemaaf manusia tidaklah sama dengan sifat pemaafnya Allah. Pengampunan Allah adalah sempurna.

Surat Az-Zumar Ayat 53:
۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Nabi bersabda:
التَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
"Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak berdosa sama sekali."

Syarat Taubat yang Diterima: taubat yang dilakukan haruslah Taubat Nasuha (taubat yang semurni-murninya), yaitu:
• Menyesali perbuatan dosa secara mendalam.
• Meninggalkan dosa tersebut seketika.
• Bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosa itu lagi selamanya.
• Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, wajib meminta maaf atau mengembalikan hak tersebut.

Taubat itu sangatlah dicintai Allah.

Allah befirman: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah ayat 222)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.”

Al-Wadud (الودود) adalah salah satu dari  Asmaul Husna, yang berarti Allah Maha Mencintai dan Maha Dicintai. Nama ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mencintai hamba-hamba-Nya yang shaleh dengan kasih sayang yang murni, tetapi Dia juga dicintai oleh hati wali-wali dan orang-orang beriman.

Surat Ali ‘Imran Ayat 31:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Hikmahnya adalah ketika Allah menerima pengampunan, maka Allah akan menjadikan dia sebagai hamba yang Allah cintai. Ini berarti yang menjadi motivasi kita agar dapat menjadi kekasih Allah (dicintai Allah).

Jadi menjemput ampunan Allah harus dilakukan setiap saat, jangan menunggu (ditunda-tunda). Ini adalah ciri taubat yang sempurna, syarat diterimanya taubat.

Kenapa kita berlarut-larut untuk berbuat dosa. Bersegeralah untuk bertaubat. Karena kita belum tentu mendapatkan waktunya.

Surat An-Nisa Ayat 17:
إِنَّمَا ٱلتَّوْبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

" Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Faedah di tafsir As Sa'di:
1. Taubat yang diterima Allah adalah disegerakan (selama kita masih hidup, nyawa belum sampai di kerongkongan).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقْبَلُ تَوْبَةَ اْلعَبْدِ مَالَمْ يُغَرْغِرْ.
Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di kerongkongan.”

2. Bertaubat dengan segera, tidak boleh menunda-nunda, karena bertaubat adalah amal ibadah yang besar. Kita mengakui kelemahan diri kita. Maka hamba itu dalam kebaikan.

Orang yg menunda taubatnya memiliki 2 dosa, yaitu:

1. Dosa itu sendiri

2. Menunda kebaikan itu tipu daya iblis. Termasuk senjata iblis, membangkitkan angan-angan untuk berbuat baik tapi ditunda (dibuat angan-angan masih ada waktu).

Oleh karena itu melakukan kebaikan ini diperintahkan didalam alquran dan sunnah nabi. Selama tidak meremehkan dosa, ini adalah hamba yang terpuji.

Hadist Qudsi: Allah berfirman:
"Seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu ia berkata: 'Ya Allah, ampunilah dosaku.' Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu ia mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa itu.' Kemudian ia kembali lagi melakukan dosa, lalu berkata: 'Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.' Maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu ia mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa itu.' Kemudian ia kembali lagi melakukan dosa, lalu berkata: 'Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.' Maka Allah berfirman: 'Berbuatlah sesukamu, sungguh Aku telah mengampunimu.'" 

Karenanya, Jangan pernah berputus dosa dari Rahmat Allah. Kita belajar agama ini, agar kita paham agama dengan benar, Cara beragama dengan benar. Ilmu itu membimbing manusia untuk membenarkan imannya, berdasarkan amalan hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takwa itu terletak di sini”, sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dada/hati beliau tiga kali."

Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 32:
ذٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَآئِرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ 
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” 

Sahabat Abu bakar mengungguli sahabat lainnya, karena kuatnya iman di hati beliau.

Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu,
مَا فَاقَ أَبُوْ بَكْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أَصْحَابَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِصَوْمٍ وَلاَ صَلاَةٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ ، قَالَ : الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الحُبُّ للهِ – عَزَّ وَجَلَّ – ، وَالنَّصِيْحَةُ فِي خَلْقِهِ
“Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.”

Di saat-saat akhir kehidupannya, Rasulullah ﷺ mendapatkan pilihan yang tidak pernah diberikan kepada manusia lain: hidup kekal di dunia dengan segala perbendaharaan harta, lalu masuk surga, atau meninggalkan dunia untuk segera bertemu Allah dan surga-Nya.

Rasulullah ﷺ naik ke atas mimbar dalam khutbahnya, beliau berkata:
إنَّ عبدًا خيَّره اللهُ بيْنَ أنْ يُؤتيَه مِن زَهرةِ الدُّنيا ما شاء وبيْنَ ما عندَه فاختار ما عندَه
"Sesungguhnya ada seorang hamba, yang diberi pilihan oleh Allah antara dunia dengan segala perhiasannya, atau apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah."

Para sahabat saat itu belum memahami, kecuali Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau menangis karena menyadari “hamba” yang dimaksud adalah Rasulullah ﷺ sendiri.

Inilah contoh bukti keimanan, menjadikan kedudukan tinggi disisi Allah. Berusaha memperbaiki diri, memperbaiki hati, dan Menjadikan hati kita tunduk hanya kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Beliau berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” 

Surat Al-Hadid Ayat 16:
۞ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."

Jadi ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menyentuh hati dan selalu meminta pertolongan dari Allah.

Arti taufik yang sesungguhnya adalah dengan Allah, tidak bersandar dengan diri sendiri tapi bersungguh-sungguh memohon semuanya hanya kepada Allah.

Oleh karena itu, inilah sifat dari hamba-hamba yang muiia. Setelah kita mengetahui ini semua, seharusnya kita memanfaatkannya. Kita bersungguh-sungguh untuk bertaubat dan mengakui kelemahan kita.

Berbuat baiklah di sisa waktu yang masih ada.

Nasehat  Imam Fudail  Bin Iyyad, ulama besar di masa Tabi’ Tabii. Beliau pernah bertemu dengan seorang yang sudah tua.
“Berapa usia anda?”, tanya Fudhail.
“60 tahun.”, Jawab orang itu.
“Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan.

“Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail.
“Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya.

“Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail.

“Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail.
Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas,

تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ

Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang.

Maka kita yang berakal akan memilih segera bertaubat, memohon ampunan kepada Allah, agar kita dapat menjadi kekasih Allah.

Semoga Allah memberikan kita taufik dan RahmatNya, mewarisi amal shaleh, serta senantiasa beristighfar hingga akhir hayat kita.

Semoga kita termasuk hamba yang beruntung dan dimasukan ke dalam surga bersama nabi dan para sahabat. Aamiin..

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■


Comments

Popular Posts