TAFSIR SURAT AN NAAS
Bismillah
⏰ Kajian TAFSIR AL MUYASSAR
📖 TAFSIR SURAT AN NAAS
👤 Ustadz Mahfudz Umri, Lc. hafizhahullah
📆 Kamis, 12 Dzulqa'dah 1447 / 30 April 2026
🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Al-Qur'an adalah pedoman hidup utama bagi manusia, berfungsi sebagai nasehat (pemberi peringatan), obat bagi penyakit hati (seperti syirik, keraguan, munafik), petunjuk (huda) menuju kebenaran, serta rahmat bagi orang beriman.
Al Qur'an memberikan ketenangan jiwa, menyembuhkan kegelisahan, dan membimbing manusia agar selamat di dunia dan akhirat.
Keutamaan dan kedudukan Al Qur'an
Surat Yunus Ayat 57:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (nasehat) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Intisari Keutamaan Al-Qur'an:
• Sebagai Nasehat/Peringatan: Al-Qur'an mengandung pelajaran dari kisah umat terdahulu dan nasihat Allah untuk menuntun manusia ke jalan lurus, serta peringatan terhadap hal-hal yang merusak hati.
• Sebagai Obat Hati (Syifa'): Al-Qur'an menyembuhkan penyakit rohani, seperti kebodohan, keraguan, kebimbangan, kemunafikan, dan kesyirikan, sekaligus menjadi ketenangan jiwa.
• Sebagai Petunjuk (Huda): Al-Qur'an menjadi petunjuk bagi manusia untuk membedakan yang hak (benar) dan yang bathil (salah) agar terhindar dari kesesatan.
• Sebagai Rahmat: Al-Qur'an adalah bentuk kasih sayang Allah yang membawa keberkahan, ketenangan, dan menuntun orang beriman menuju surga-Nya.
Dengan berpegang pada Al-Qur'an, hati menjadi lembut, iman menguat, dan perilaku menjadi lebih baik.
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Bagaimana Mempelajari Al Qur'an?
Berusaha mengamalkan ilmu yang diperoleh
Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إِذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتىَّ يَعْرِفَ مَعَانِيْهِنَّ، وَالعَمَلُ بِهِنَّ
“Dahulu orang-orang di antara kami (yaitu para sahabat Nabi) mempelajari sepuluh ayat Qur’an, lalu mereka tidak melampauinya hingga mengetahui makna-maknanya, serta mengamalkannya.”
Orang tidak mungkin menjadikan al qur'an sebagai pedoman hidup, kecuali dengan membaca, memahami, mengamalkan dan menghafalkannya.
SURAT AN NAS
Surat An Nas terdiri dari enam ayat. Kata An Nas berarti manusia diambil dari ayat pertama. Ia disebut pula surat Qul a’udzu birabbin naas. Surat ini turun bersama surat Al Falaq.
Bersama surat Al Falaq, keduanya disebut al mu’awwidzatain. Yakni dua surat yang menuntun pembacanya menuju tempat perlindungan.
Surat Al Falaq disebut al mu’awwidzah al ‘ula. Sedangkan Surat An Nas disebut al mu’awwidzah ats tsaaniyah. Bersama Surat Al Falaq juga disebut al muqasyqisyatain. Yaitu yang membebaskan manusia dari kemunafikan.
Keutamaan Surah An Nas
1. Surah yang tak ada bandingannya
Keutamaan surah muawwidzatain (surah An Nas dan Al Falaq) yang pertama adalah keduanya merupakan surah yang turun di malam hari dan tiada bandingannya.
عن عقبة بن عامر قال :قال رسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلّم : «ألم تر آيات أنزلت هذه الليلة لم ير مثلهن قط : قُلْ : أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وقُلْ : أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ». رواه مسلم وأحمد والترمذي والنسائي.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan malam ini? Tidak ada yang semisal dengannya, yakni qul a’udzu birabbin nas, dan qul a’udzu birabbil falaq.”
2. Sebagai perlindungan dari keburukan
Keutamaan yang kedua adalah dapat digunakan sebagai sarana (wasilah) perlindungan dari berbagai keburukan, seperti sihir, ‘ain (pandangan mata yang dapat membinasakan), godaan setan dan lain-lain.
Dari Ibnu Abbas. Beliau bersabda:
يا ابن عابس ألا أدلك أو قال ألا أخبرك بأفضل ما يتعوذ به المتعوذون قال بلى يا رسول الله قال قل أعوذ برب الفلق و قل أعوذ برب الناس هاتين السورتين
“Wahai Ibnu Abbas, maukah kamu aku tunjukkan atau maukah kamu bertahu sesuatu yang paling baik digunakan untuk berlindung?” Ibnu Abbas menjawab, “Iya wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda: “Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin nas, dua surah ini.”
3. Berfungsi sebagai obat dan penjagaan
Keutamaan yang ketiga adalah dapat dijadikan sebagai obat dan penjagaan.
Ibunda Aisyah mengatakan kebiasaan Rasulullah membaca surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah an-Nas sebelum tidur.
عن عائشة أن النبى – صلى الله عليه وسلم – كان إذا أوى إلى فراشه كل ليلة جمع كفيه ثم نفث فيهما فقرأ فيهما (قل هو الله أحد) و (قل أعوذ برب الفلق) و (قل أعوذ برب الناس) ثم يمسح بهما ما استطاع من جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلَّاتٍ َ
Dari Aisyah ra bahwasanya nabi Muhammad jika pergi ke tempat tidur beliau setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangan beliau, kemudian beliau meniupkan dalam terbukanya dan membaca surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah an-Nas.
Kemudian dengan kedua telapak tangan tersebut, beliau mengusap tubuh beliau, dimulai dari kepala dan wajah serta anggota tubuh lainnya. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali."
Rasulullah ﷺ juga menganjurkan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (tiga qul) setiap selesai shalat fardhu.
Kita juga dianjurkan untuk membaca ketiga surat ini pada zikir pagi dan petang.
Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya ia berkata:
خَرَجْنَا فِى لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِيُصَلِّىَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ « أَصَلَّيْتُمْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »
“Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?”
Namun, sedikit pun aku tidak berkata-kata.
Beliau bersabda, “Katakanlah.” Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah.” Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah.”
Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah (bacalah surah) QUL HUWALLAHU AHAD (surah Al-Ikhlas) dan al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.”
Selain itu kita dianjurkan Membacanya Saat Shalat Subuh. Rasulullah ﷺ pernah membaca surah Al-Falaq dan An-Nas dalam shalat Subuh, sebagaimana riwayat Uqbah bin 'Amir, "Rasulullah ﷺ mengamini keduanya pada shalat Fajr (Subuh)"
Amalan ini bertujuan sebagai bentuk perlindungan diri (tashni') kepada Allah dari kejelekan makhluk, setan, dan sihir.
Kalau kita membaca al qur'an hendaklah membaca ta'awuz ( meminta perlindungan dari setan yang terkutuk).
Surat An-Nahl Ayat 98:
فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ
"Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk."
Kemudian membaca basmalah setiap memulai membaca al qur'an, kecuali surah At Taubah. Bismillah itu bagian dari al qur'an, sebagaimana firman Allah dalam surat An Naml.
Surat an-Naml Ayat 30-31:
إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
"Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
Ba disini sebagai ba isti'ana (meminta pertolongan kepada Allah). Dalam beribadah, kita memerlukan pertolongan Allah.
Nabi bersabda: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan."
Kita bisa mengikuti kajian ini, karena pertolongan Allah.
Hadits Qudsi, Allah mengatakan:
"...يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ"
"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku mencatatnya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya. Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur (memuji) kepada Allah, dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri."
Harapannya kita tidak sombong dan riya'. Kita akan selalu bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan.
SURAH AN NAS
Allah Ta’ala berfirman QS. An-Naas Ayat 1-6:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)
Artinya:
• Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.
• Raja manusia.
• Sembahan manusia.
• Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
• yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
• dari (golongan) jin dan manusia.
Surat An Nas ayat 1:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Surat An Nas ayat 2:
مَلِكِ النَّاسِ
"Raja manusia"
Surat An Nas ayat 3:
إِلَهِ النَّاسِ
"Sembahan manusia."
Surat An Nas ayat 4:
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
"Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi."
Rabb adalah Tuhan yang memelihara, Yang mengarahkan, Yang menjaga dan Yang melindungi. Tuhan Yang berkuasa, Yang menentukan keputusan, Yang mengambil tindakan. Seluruh makhluk menuju serta bermohon kepada-Nya dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Sedangkan an nas (الناس) berarti kelompok manusia. Yang menyuruh adalah Allah dan yang diperintah nabi Muhammad.
Doa Perlindungan itu ada 2 macam:
1. Berlindung kepada Allah (DzatNya Allah)
2. Sifat-sifatNya Allah
Beberapa kisah terdahulu
1. Kisah pertama
Khaulah binti Hakim raḍiyallāhu 'anha meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang singgah di suatu tempat lalu berdoa: 'A'uzu bikalimatillahit-tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung pada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan), tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai dia beranjak dari tempatnya itu."
Kisah Kedua:
Suatu saat, sahabat 'Utsman bin Abu Al 'Ash Ats Tsaqafı radhiyallahu 'anhu datang dan mengadu kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, apa yang diadukannya? la mengadukan tentang rasa sakit yang dideritanya sejak masuk kedalam Islam.
Jadi 'Utsman bin Abu Al 'Ash Ats Tsaqafi ini dahulunya kafır lalu masuk Islam, dan sejak masuk islam ia terus merasakan sakit. Maka Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam mengatakan:
فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأَحَاذِرُ
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Letakkan tanganmu di tubuhmu yang terasa sakit, kemudian ucapkan Bismillah tiga kali, sesudah itu baca tujuh kali: A'udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru." (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari penyakit yang aku derita dan aku cemaskan).
Kita dilarang berlindung dengan selain Allah, hal itu adalah perbuatan syirik.
Surat Al-Jin Ayat 6:
وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan."
Oleh karenanya, sebagai orang yang beriman, jangan berbuat syirik dan mantapkan tauhid. Maka berlindunglah kepada Allah. Allah akan memberikan hidayah dalam hati.
Allah Berfirman dalam QS. At-Taghabun ayat 11:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Setan selalu membisiki dan menakut-nakuti kemiskinan, kesusahan dan disuruh berbuat jahat.
Surat Al-Baqarah Ayat 268:
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui."
Nafsu itu selalu menyuruh kita untuk berbuat jahat.
Surat Yusuf Ayat 53:
۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang."
Nabi Bersabda: "Tidaklah seseorang di antara kalian melainkan ada jin yang selalu menemaninya." Para sahabat pun bertanya, "Engkau juga seperti itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Iya, aku juga termasuk. Namun Allah telah menolongku, qorin yang biasa menemaniku telah masuk Islam dan ia tidaklah memerintahkanku kecuali pada kebaikan."
Selain nabi dan Rasul, seluruh manusia itu tidak maksum, selalu berbuat kesalahan. Setan tidak pernah berputus asa menggoda manusia untuk berbuat dosa.
Surat Al-A’raf Ayat 201:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."
Syirik kecil itu lebih samar dibandingkan jejak semut. Manusia bisa terjerumus ke dalamnya tanpa dia sadari.
Dari Mu’qil bin Yasar, beliau berkata,
انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
“Aku berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا أَبَا بَكْرٍ لَلشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ
“Wahai Abu Bakar, sungguh syirik di tengah-tengah kalian itu lebih tersembunyi daripada jejak semut.”
Abu Bakar berkata,
وَهَلِ الشِّرْكُ إِلَّا مَنْ جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخر؟
“Tidakkah kemusyrikan itu kecuali seseorang yang menjadikan sesembahan yang lain di samping Allah Ta’ala?”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟ قَالَ: (قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا أعلم
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh kemusyrikan itu lebih tersembunyi daripada jejak semut.
Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika Engkau ucapkan, maka akan hilang kemusyrikan darimu, baik sedikit ataupun banyak? Ucapkanlah, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat menyekutukanmu dalam kondisi aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepadamu dari apa yang aku tidak ketahui.”
Kita harus yakin rububiyah-Nya Allah. Tauhid Rububiyah adalah keyakinan murni bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Pemberi rezeki di alam semesta. Ini mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, termasuk menghidupkan, mematikan, dan menetapkan takdir. Konsep ini menegaskan Allah sebagai satu-satunya Rabb Pemelihara, mengurusi semua urusan manusia dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan [artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya].”
Allah Maha kaya, tidak perlu dengan makhlukNya. Allah tidak membutuhkan bantuan, ibadah, atau ketaatan dari manusia sama sekali. Sebaliknya, manusia-lah yang fakir (sangat butuh) kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Kita selalu dihantui oleh bisikan-bisikan syaitan. Syaitan selalu berusaha menanamkan keraguan, rasa was-was, dan ketakutan ke dalam hati manusia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan ketidaksukaan setan dengan suara adzan. Sampai-sampai setan berusaha agar tidak mendengarnya dengan cara yang cukup hina menurut pandangan manusia yaitu dengan mengeluarkan kentut dan suaranya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻯَ ﺑِﺎﻷَﺫَﺍﻥِ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻪُ ﺿُﺮَﺍﻁٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺛُﻮِّﺏَ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻟﺘَّﺜْﻮِﻳﺐُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻳَﺨْﻄُﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ
“Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqamah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya”
Surat An-Naml Ayat 38:
قَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَؤُا۟ أَيُّكُمْ يَأْتِينِى بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِى مُسْلِمِينَ
Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".
Kita makhluk lemah, karenanya mintalah segala sesuatu kepada Allah. Maka Allah akan memberikan kekuatan di hatinya. Allah akan memberikan kenikmatan di dunia dan akherat.
Setiap beraktivitas, kita harus selalu mengingat Allah, berzikir kepada Allah dan beristighfar kepadaNya.
Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:
سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ
“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun”
Oleh karenanya, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah."
Ketika tauhidnya kuat, maka kita akan ikhlas dengan semua yang kita lakukan dan menerima dengan ikhlas apapun takdir yang Allah tetapkan.
Kita menyerahkan segala urusan kita kepada Allah. Karena Allah yang mengatur semua urusan manusia. Kita tidak boleh takut dengan apapun, karena kita memiliki Allah.
Kita tidak boleh menakut-nakuti manusia, dan jangan pernah menyebarkan berita buruk kepada manusia. Ketika kita dihantui rasa takut, maka berlindunglah kepada Allah.
Dari Ubaidullah bin Mihshan al-Khatmi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.”
Bisikan syaitan itu merusak akidah, merusak kehidupan seorang muslim. Karenanya janganlah bersedih dan risau.
Surat Ali ‘Imran Ayat 139:
وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
Pandangan manusia, tolak ukur kesuksesan adalah harta. Jika memiliki harta yang berlimpah berarti berhasil dan sukses. Namun anggapan itu salah, kesuksesan yang sebenarnya adalah kaya hati.
Hati yang merasa cukup, diliputi dengan kenikmatan dan kebahagian. Oleh karenanya, jika kita diberi kelebihan harta, maka hendaklah bersyukur. Sebaliknya, jika diberi kekurangan harta, maka bersabarlah.
Hati seharusnya menjadi perhatian utama daripada lahiriyah. Karena baiknya hati, baik pula amalan lainnya. Karena hati yang bersih, amalan yang lain bisa diterima.
Beda halnya jika memiliki hati yang rusak, terutama hati yang tercampur noda syirik. Karena itu perhatikanlah hatimu!
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.”
Ibadah itu merendahkan diri. Merendahkan diri dan menghambakan diri hanya kepada Allah. Jangan pernah merendahkan diri kepada manusia dan selain Allah. Setelah itu, kita berlindungan hanya kepada Allah (rububiyah dan uluhiyah Allah).
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
Surat An Nas ayat 5
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
"yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia."
Kata Shudur (صدور) artinya adalah dada, yang dimaksudkan adalah tempat hati manusia.
Yang menebarkan/meniupkan pikiran-pikiran buruk dan jahat di dalam hati atau dada manusia.
Surat An Nas ayat 6:
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
"dari (golongan) jin dan manusia"
Kata min (من) dalam ayat ini bermakna sebagian. Karena memang sebagian manusia dan jin melakukan bisikan-bisikan negatif, tidak semuanya.
Makna setan adalah yang jauh dari sikap kasih sayang. Setan itu bisa jin, manusia, dan hewan.
Surat Al-An’am Ayat 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan."
Kalau setannya dari kalangan jin, maka bacakanlah ayat kursi. Oleh karena itu, kita harus senantiasa membaca surat An Nas sebagai penjagaan dan perlindungan dari Allah.
Sebagian orang terpedaya dengan dirinya sehingga dia merasa bahwa dirinya mampu mengatasi fitnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى ، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه
“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barangsiapa yang mencari fitnah, maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung, maka hendaknya dia berlindung.”
CATATAN INTISARI DARI TAFSIR AN-NAS:
• Allah itu Rabb manusia, yaitu Allah sebagai pencipta dan yang menguasai manusia.
• Disebut Rabb manusia dalam surah An-Naas ini karena nantinya yang dibicarakan adalah godaan pada hati manusia.
• Manusia dikhususkan dalam ayat ini sehingga disebut Rabbin Naas, karena manusia itu sangat mulia.
• Allah itu Raja manusia.
• Allah itu sesembahan manusia. Allah sebagai Rabb dan sebagai Malik dari manusia, itulah yang layak disembah dan diibadahi.
• Kita harus berlindung kepada Allah dan sifat Allah. Minta perlindungan kepada selain Allah, termasuk syirik.
• Sifat setan itu memberikan waswas (godaan) dan al-khannaas (bersembunyi) kala seseorang mengingat Allah. Karenanya, kita disuruh berlindung dari bisikan yang tersembuyi (was-was syaitan).
• Setan menggoda manusia ketika ia lalai.
• Ada dua pengertian: (1) setan yang menggoda ada dari kalangan jin dan manusia, (2) setan yang menggoda dalam hati hanya dari kalangan jin. Namun, yang lebih tepat adalah setan yang menggoda bisa dari kalangan jin dan manusia.
• Setan bisa menggoda lahiriyah, akhirnya masuk ke dalam kalbu (hati).
Semoga Allah memberikan kita Taufik, Hidayah, Rahmat serta menambah ilmu dan iman kita. Allah menjaga kita dari godaan syaitan yang terkutuk. Aamiin..
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment