Dua Sayap Keimanan

📚 Bismillah 📚

📖 Dauroh Sehari TASLAM — Menata Hati, Menata Akhir

📅 Sabtu, 13 Juni 2026
/ 27 Dzulhijjah 1447 H
🕌 Masjid Babussalam, Cimanggis, Depok

SESI 1:
🎙️ Ustadz  Ustadz Ahmad Bazher dan Abu Fahd Ega, Lc.
“Dua Sayap Keimanan”

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

■ DUA SAYAP KEIMANAN ■

Ketahuilah penuntut ilmu agama Allah memiliki keutamaan disisi Allah. Banyaklah bersyukur atas karunia Allah ini. Karena Mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah yang diangkat derajatnya, didoakan oleh para malaikat, dan dimudahkan jalannya menuju surga.

Nikmat islam, nikmat iman di dalam dada kita, dan nikmat istiqamah di atas sunnah nabi. Mensyukuri ini semua adalah kunci agar ilmu tersebut menjadi berkah dan terus bertambah.

Akan tetapi banyak manusia tidak mengetahuinya. Kebanyakan manusia berpikir bahwa kebahagiaan itu adalah dengan banyaknya harta dan pembendaharaan dunia.

Karenanya, janganlah melihat hanya kenikmatan dunia saja dan lalai akan kehidupan akherat.

Bahwasanya saat seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada 3 rukun yang harus dijalankan, yaitu:

Pertama: Rukun Al Mahabbah (Rasa cinta kepada Allah)
Kedua: Al-khauf  (Rasa takut kepada Allah)
Ketiga: Ar-Raja‘ (Rasa harap kepada Allah)

1. Rukun Al Mahabbah (Rasa cinta kepada Allah)

Dalam konsep ibadah hati, Al-Mahabbah (rasa cinta kepada Allah) diibaratkan sebagai kepala seekor burung yang tanpanya ibadah menjadi hampa. Artinya Jika tidak ada rasa cinta akan hampa ibadahnya. Tapi bukan cuma cinta saja.
Namun, agar burung tersebut bisa terbang sempurna menuju Allah, diperlukan dua sayap penyeimbang: Khauf (rasa takut) dan Raja' (rasa penuh harap).

2. Rasa harap (Ar Raja')
Berharap hanya kepada Allah. Rasa penuh harap akan rahmat, ampunan, dan pahala dari Allah yang membuat hamba tidak mudah putus asa.

3. Al Khauf (Rasa takut)

Rasa takut kepada murka dan azab Allah yang berfungsi menahan diri dari perbuatan maksiat atau dosa.

3 rukun ini harus ada dalam ibadah kita. Karena seperti 2 sayap burung, antara raja' dan khauf harus seimbang.

Ungkapan Ali bin abu thalib: "Janganlah seorang hamba berharap kecuali hanya kepada Allah. Dan tidaklah takut kecuali pada dosanya."

Ini menunjukan bahwasanya ketika dia ingin mendapatkan kebahagiaan, harus memiliki kedua ini (rasa harap dan rasa takut kepada Allah).

Jika harapannya (raja') lebih besar dari rasa takutnya (khauf), maka dia akan terjebak ke dalam kubangan dosa. Dia akan tertipu karena berpikir Allah Maha Pengampun (jadinya menyepelekan dosa). Karenanya, raja' harus diimbangi rasa takut (khauf) kepada Allah.

■Definisi Ar Raja'■

Ar Raja' adalah keterikatan hati dengan sesuatu yang diinginkan untuk didapatkan/diraih di waktu yang akan datang.

Sayangnya banyak manusia ketika berharap kepada Allah adalah masalah duniawi. Seharusnya kita berharap/ meminta hidayah, istiqamah, kesucian jiwa, meminta surga, dilindungi dari siksa neraka dan mati husnul khatimah.

Doa nabi agar Allah menjaga agama kita:
اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا , وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَهَمِّنَا , وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا [1]

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah menimpa agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami."

Makna Doa ini adalah:
• Menjaga Agama: Memohon agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan dosa atau maksiat yang dapat merusak agama, karena musibah terbesar seorang muslim adalah rusaknya agamanya.
• Tidak Menjadikan Dunia sebagai Tujuan Utama: Mengingatkan agar kita tidak menjadikan urusan dunia (harta, jabatan, popularitas) sebagai ambisi atau tujuan hidup yang paling utama.
• Tidak Menjadikan Dunia sebagai Puncak Ilmu: Berdoa agar ilmu yang kita pelajari tidak hanya berorientasi pada keuntungan duniawi semata, melainkan ilmu yang bermanfaat untuk bekal akhirat.

Ketika seseorang mendapatkan kenikmatan ukrawih dan batin, mereka banyak bersyukur.

Allah berfirman Surat Yunus Ayat 107:
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Surat Fatir Ayat 2:
مَّا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

2 ayat ini menunjukan kewajiban seorang hamba dan mengaitkan hatinya berharap hanya kepada Allah. Jika hatinya berharap kepada manusia,  maka dia akan kecewa.

Nabi mengatakan: "Kemuliaan seorang mukmin ketika dia bangun malam dan keperkasaan seseorang ketika dia tidak butuh kepada makhluk."

Para ulama mengatakan ar raja' bisa jadi ibadah. Kapan ar raja' selaras dengan tauhid dan bernilai ibadah?

1. Ketika harapan ini mengandung perendahan dan ketundukan yang sempurna. Ini hanya boleh ditunjukan kepada Allah. Kita tidak boleh merendahkan diri kepada makhluk.

2. Sesuatu yang diharapkan adalah jenis perkara yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah.

Jika harapan yang mengandung ibadah digantungkan dengan manusia dan merendahkan diri kepada makhluk, maka itu termasuk ke dalam kesyirikan.

Surat Al-Kahfi Ayat 110:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Karenanya janganlah jadi orang yang tertipu dan terperdaya.

Seorang muslim dan muslimah pasti memliki 2 sifat ini (2 sayap keimanan), rasa takut dan rasa harap.

Surat As-Sajdah Ayat 16:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan."

Kebanyakan kita rasa harapnya lebih besar kepada Allah. Ketika raja' lebih besar dari rasa khauf, maka dia harus membaca dalili-dalil tentang khauf, seperti rasa takut terhadap siksa neraka dan hari pembalasan.

Ada juga rasa takutnya lebih besar dari rasa harapnya. Maka dia harus obati rasa rakutnya dengan membaca dalil-dalil mengenai raja' nya. Allah Maha pengampun, Allah Maha memberikan banyak kenikmatan dan Allah Maha Penyayang (RahmatNya begitu luas).

Keyakinan kita terhadap dunia 3 kali lipat dibanding akherat. Karena kita mengetahui ilmu tentang dunia, melihat dunia dan merasakan dunia.

Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh iman itu dapat lusuh di dalam dada salah satu di antara kalian, sebagaimana lusuhnya pakaian yang sudah usang. Maka mohonlah kepada Allah agar memperbarui iman didalam hati kalian."

Karenanya, kita harus mencharge keimanan kita. Pondasi kita harus kuat, dipupuk dengan Tauhid, iman, surga dan takut akan siksa neraka.

Salah satu keadaan yang sangat ditekankan adalah saat akhir hidup kita yaitu saat sakaratul maut.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang menjelang sakaratul maut (saat menjelang kematian), maka beliau  bertanya kepada pemuda tersebut:
«كَيْفَ تَجِدُكَ؟». قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  «لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ» رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما.

“Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?”. Dia menjawab: “Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar) mengharapkan (rahmat) Allah dan aku (benar-benar) takut akan (siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut) dalam hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya”

Setiap cerek/teko akan mengeluarkan persis apa yang ada di dalamnya. Sebagaimana manusia akan berakhir sesuai kesehariannya saat sakaratul maut.

Semua tergantung pada kebiasaan masing-masing saat hidup. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam as-Sa'adi serta ulama lainnya rahimahumullaah.
أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ
"Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, ia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut"

Bagaimana menumbuhkan rasa harap kepada Allah?

1. Mengetahui Luasnya Rahmat Allah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tatkala Allah menciptakan para makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”

Jadi jangan ragu untuk taubat dan kembali kepada Allah, karena rahmat Allah sangatlah luas dan Allah maha pengampun. Maka, berharaplah kepada Allah dengan hati yang jujur.

2. Mengenal anama Allah tentang Rahmat Allah.

Belajarlah fiqih asmaul husna. Ini adalah ilmu yang paling mulia.

3. Mengingat janji Allah bagi orang-orang yang beriman.

Hadist bitoqoh kartu lailahaillahu:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi.

4. Perbanyak Taubat kepada Allah.

5. Mengingat kisah para pendosa yang diampuni oleh Allah.

Salah satunya: pemuda yang membunuh 99 orang.

Semoga kita termasuk hamba yang hanya berharap kepada Allah, sehingga kita memiliki banyak keutamaan disisi Allah.

■AL KHAUF■

Raja' berharap kepada Allah. Ini berkaitan dengan nama Allah Ar Rahman (Allah Maha Penyayang). Allah memilkii 100 rahmat dan Allah hanya menurunkan 1 rahmatNya ke dunia ini. Dengan 1 RahmatNya saja begitu besar kenikmatan yang bisa kita rasakan(yang tak kan pernah ada habisnya).

Allah juga mensifati dirinya Allah Maha pemberi hukuman (hukumannya itu pedih dan menyakitkan). Kita dapat melihatnya dari ayat-ayatNya tentang neraka dan kemurkaan Allah.

Tujuannya agar setiap muslim harus memiliki rasa takut. Jika rasa takut dan harapnya timpang, maka kehidupannya akan menjadi berantakan. Pelaku maksiat selalu berharap ampunan Allah, maka dia akan selalu berbuat maksiat. Karena dia berpikir Allah Maha Pengampun, menjadikan dia meremehkan dosa dan maksiat.

Ketika dia delalu diberikan kenikmatan, tapi dia masih selalu berbuat dosa. Berarti orang ini telah terkena istidraj.

Istidraj adalah jebakan berupa limpahan rezeki yang diberikan Allah kepada seseorang yang terus-menerus bermaksiat kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman,
ِفَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Surat Ali ‘Imran Ayat 178:
وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّمَا نُمْلِى لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِى لَهُمْ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan."

Kita harus mengetahui Allah itu memiliki azab yang sangat pedih. Agar seimbang rasa harap dan takut dalam diri seorang hamba.

Jika dia memiliki sikap raja'/ berharap lebih besar dari khauf (rasa takutnya), Orang itu akan malas dalam beribadah.

Allah tidak menerima amalan kita kecuali kita mewujudkan taqwa dalam amalan tersebut, Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّـهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa saja.” (QS. Al-Maidah: 27)

Surat Al-Furqan Ayat 23:
وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
"Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."

Khauf (rasa takut kepada Allah) itu adalah jenis ibadah sendiri.

Orang yang diberi gelar orang shaleh adalah orang yang senantiasa mengharap Rahmat Allah dan takut akan azam Allah.

Surat Al-Isra Ayat 57:
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti."

■Rasa Takut Terbagi Menjadi 3:■
1. Rasa takut yang disyariatkan
2. Rasa taukut yang terlarang
3. Rasa takut yang diperbolehkan

Rasa takut yang disyariatkan kepada Allah, yaitu rasa takut dengan murkanya Allah.

4 kata rasa takut dalam bahasa arab memiliki makna yang berbeda, yaitu: adalah Khauf (خَوْف), Khasyah (خَشْيَة), Rahbah (رَهْبَة), dan Wajel (وَجَل).

Berikut adalah perbedaannya:

• Khauf (خَوْف): Merupakan ketakutan umum yang didasari oleh ancaman atau bahaya (seperti takut pada musuh atau hewan buas). Takut jenis ini juga merujuk pada rasa cemas terhadap akibat dari perbuatan buruk atau dosa.

• Khasyah (خَشْيَة): Benar-benar rasa takut kepada Allah yang didasari dengan ilmu. Karena mereka benar-benar mengenal Allah dan tahu hukuman Allah.

• Rahbah (رَهْبَة): Takut yang mendorong seseorang untuk bersikap waspada dan hati-hati. Ketakutan ini diiringi dengan tindakan preventif, ketaatan, serta menjauhi hal-hal yang dilarang.

• Wajel (وَجَل): Getaran, rasa gentar, atau debaran di dalam hati. Biasanya merujuk pada rasa takut bercampur cemas bahwa amalan atau ibadah yang dilakukan tidak diterima oleh Allah.

Allah memuji orang yang memiliki rasa takut.

Surat Az-Zumar Ayat 23:
ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun."

Allah memuji para ulama karena memiliki rasa takut kepada Allah.

Surat Fatir Ayat 28:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

" Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."

Zaman Imam Malik bin Annas. Datang utusan dari kafilah Afrika. Bertanya hampir 40 pertanyaan kepada Imam Malik. Namun yang dijawab hanya 2 pertanyaan, sisanya Imam Malik mengatakan tidak tahu.

Begitu juga dengan para sahabat. Para sahabat saling melempar pertanyaan itu untuk dijawab oleh sahabat yang lain. Dan jika mereka tidak mengetahui jawaban, mereka akan mengatakan tidak mengetahuinya. Dan seharusnya itu juga yang kita lakukan. Jika kita tidak mengetahui jawabannya, cukup mengatakan saya tidak tahu.

Rasa takut kepada Allah adalah identitas seorang muslim.

Surat Ali ‘Imran Ayat 175:
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengibaratkan hati seorang mukmin seperti burung tersebut. Apabila kepala dan kedua sayapnya sehat, ia dapat terbang dengan sempurna. Jika burung itu kehilangan kepalanya, ia akan mati. Namun, jika hanya cinta yang ada tanpa sayap khauf dan raja', burung akan kehilangan kendali dan mudah jatuh diterkam rintangan dunia.

Ibnu Qayim juga mengatakan dari rasa takut kepada Allah menjadikan sehatnya iman. Hilangnya rasa takut berarti hilangnya iman.

Ketika kita dalam sendiri rasa takutnya terjaga berarti imannya benar. Namun sebaliknya, jika dia sendiri berani berbuat maksiat dan tidak takut kepada Allah, maka imannya salah/ tidak ada iman didalam hatinya.

Madinah itu lebih baik jika kalian mengetahui.

Surat Al-Bayyinah Ayat 8:
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Artinya: "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya."

Maka rasa takut itu harus dibangun oleh setiap mukmin.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Dua jenis mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tidak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah."

Orang-orang yang takut kepada Allah akan mendapat naungan pada hari kiamat.

7 golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat. Salah satunya seorang pemuda diajak berzina oleh wanita cantik. Tapi dia menolak karena takut kepada Allah.

Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kebaikan dan keburukan, lalu Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan, namun dia tidak (jadi) mengamalkannya, Allah mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika dia berniat melakukan kebaikan lalu mengamalkannya, Allah mencatatnya sebagai sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kebaikan.
Jika dia berniat melakukan keburukan, namun dia tidak (jadi) mengamalkannya, Allah mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengamalkannya, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja."

Allah memuji orang yang memiliki rasa takut. Ini menunjukan kita harus memperdalam rasa takut kepada Allah.
Bagaimana caranya?

1. Mengenal Allah

Dengan cara mengenal nama-nama dan sifat Allah. Nabi dan rasul adalah orang-orang terbaik dari setiap kaumnya. Bahwsanya para nabi dan rasul adalah orang-orang terbaik yang terpilih disisi Allah.

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.

Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

2. Merenungkan naz-naz dan ayat-ayat yang berisi ancaman dari Allah. Maka kita akan takut dengan Allah.

Beberapa contoh ayat Allah yang berisi ancaman:

1. Penduduk neraka akan disiram kepalanya dengan air yang sangat panas. Kepalanya akan hancur.

Allah berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 16:
لَهُم مِّن فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّارِ وَمِن تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥ ۚ يَٰعِبَادِ فَاتَّقُونِ [1]

"Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun ada lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku."

3. Tanda-tanda alam, terjadinya bencana seperti gempa bumi, tanah longsor dan gunung meletus.

gerhana itu adalah tanda kebesaran Alah dan itu tanda Allah menakut-nakuti.

Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 59:
"Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti."

Bahwsanya kita itu mahkluk lemah. Karenanya kita harus takut kepada Allah. Disinilah kita harus taubat kepada Allah sebelum terlambat (ajal tiba).

■Rasa takut ada 5 hal:■

1. Takut kepada Allah.

2. Takut dari Azab Akherat

Surat Hud Ayat 103:
إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ ٱلْءَاخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ ٱلنَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)."

Aisyah Radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
“Sesungguhnya di alam kubur akan terjadi penghimpitan. Andaikan ada orang yang selamat darinya, maka sungguh Sa’ad bin Mu’adz akan selamat darinya”

3. Rasa takut: amal shaleh tidak diterima oleh Allah.

Ibnu Umar: "Jika saja aku mengetahui ada satu sujud dan sedekah yang diterima. Maka aku berharap kematian."

4. Rasa takut dari dosa-dosa yang telah lalu.

Ini menjadi sikap bertentangan dengan sikap orang munafik.

Ibnu Mas'ud: "Bahwsanya seorang mukmin melihat dosanya seperti sebuah gunung yang akan menimpanya. Orang munafik melihat dosanya seperti lalat menempel di hidungnya."

Surat Thaha Ayat 82:
وَإِنِّى لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا ثُمَّ ٱهْتَدَىٰ
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar."

Syarat taubatan nasuha yaitu: ikhlas, menyesal dan bertekad tidak kembali dengan dosanya itu.

5. Rasa takut jatuh kedalam maksiat di masa depan.

Nabi ibrahim saja yang mendapat gelar kekasih Allah, imamnya ahli tauhid masih berdoa kepada RabbNya.

Surat Ibrahim Ayat 35:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala."

Kita harus takut hidayah iman dicabut oleh Allah dalam hati kita. Sebagaimana para sahabat takut termasuk orang munafik yang disebutkan oleh nabi. Hanya Sahabat Huzaifah bin abu yaman diberi tahu nabi daftar orang munafik.

Ketika Umar ibnul Khaththab mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan secara rahasia nama orang-orang munafik kepada Hudzaifah ibnul Yaman. Suatu rahasia yang tidak diberitahukan kepada sahabat yang lain selain Hudzaifah. Ia segera menemui Hudzaifah. Sambil berharap, ia berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, mohon engkau jawab, apakah aku termasuk orang munafik?”

Karena kasihan melihat Umar ibnul Khaththab, Hudzaifah menjawab, “Tidak, tapi aku tidak bisa menjamin seorang pun selainmu.” Hal itu ia katakan agar ia tidak menyebarkan rahasia yang telah diamanahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.

Ketika Umar ibnul Khaththab menjadi khalifah –setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq, wafat– ia bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah ada di antara pejabat-pejabatku di berbagai daerah yang termasuk orang munafik?”
Hudzaifah menjawab, “Ya, ada satu.”
“Siapa dia?” tanya Umar.
“Tidak akan aku sebutkan.”

Tapi tidak berapa lama setelah itu Umar ibnul Khaththab mengetahui siapa orang yang dimaksud sehingga ia segera memecatnya dari jabatannya.

Apabila ada salah seorang kaum muslimin yang wafat, Umar ibnul Khaththab segera bertanya tentang Hudzaifah. Apabila ia tahu Hudzaifah ikut menyalatkannya, maka ia juga akan menyalatkannya. Tapi apabila Hudzaifah tidak ikut menyalatkannya maka Umar juga tidak akan ikut menyalatkannya.

Semoga Allah ﷻ memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, hati yang khusyuk, serta taufik untuk mengamalkan setiap ilmu yang dipelajari. Hati yang selalu berharap dan takut hanya kepada Allah. Aamiin..

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■




Comments

Popular Posts