Anak Anugerah Terzalimi

Bismillah

Tabligh Akbar
📖 Anak Anugerah Terzalimi
👤 Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A hafizhahullah
📆 Senin, 22 Muharram 1448 / 6 Juli 2026
🕣 Ba'da Maghrib - selesai
🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Nikmat yang Allah berikan kepada kita banyak sekali. Berbagai macam nikmat yang Allah berikan, yaitu berupa nikmat duniawi, nikmat ukhrowi, nikmat yang besar, dan nikmat yang kecil, baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat berupa anak. Anak adalah anugerah terbesar dari Allah. Karena tidak semua pasangan suami istri diberikan anak. Ada yang diberi Allah anak laki-laki saja, ada yang hanya dianugerahi anak perempuan, dan ada juga diberi nikmat keduanya (anak laki-laki dan perempuan).

Sebagaimana Allah berfirman:
QS. Surat Asy-Syura Ayat 49
لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ

"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki."

Surat Asy-Syura Ayat 50:
أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَٰثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

"Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa."

Yang amat sangat disayangkan adalah sebagai orangtua saat ini mengabaikan anugerah Allah ini dan kurang bersyukur.

Surat Ibrahim ayat 7, di mana Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [1]

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan/memberitahukan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'."

Dan Amat sangat disayangkan banyak orangtua sekarang ini berbuat zalim kepada anaknya. Karenanya, Kita masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri agar menjadi orangtua shaleh dan baik (menjadikan anak sebaik-baik anugerah).

■ 4 Contoh Kezaliman terhadap anak:

1. Memandang Anak Sebagai Beban

Fenomena saat ini, sebagian orang tua memandang anaknya sebagai beban, bukan sebagai anugerah. Kenapa anak menjadi beban? Karena mereka memikirkan sesuatu itu dengan nilai materi (ekonomi).

Padahal kalau kita memandang ekonomi kita dengan orang tua kita dahulu (nenek buyut), kita jauh lebih baik dibanding mereka.

Kita terlalu takut dan khawatir, padahal Allah sudah menjamin rezekinya. Rezeki setiap anak sudah ditetapkan oleh Allah (masing-masing anak memiliki rezekinya sendiri).

Surat Hud Ayat 6:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."

Karenanya anak itu adalah Nikmat, anugerah sekaligus amanah dari Allah.

2. Berlaku sewenang-wenang kepada anak

Ini adalah kezaliman orang tua kepada anak dan sering terjadi. Berlaku sewenang-wenang kepada anak-anaknya, baik dari sifatnya materi maupun non materi.

Contoh secara materi: tidak berlaku adil terhadap anak-anaknya (pemberian hibah saat zaman nabi).

Dikisahkan dalam sebuah hadis yang cukup panjang, termaktub dalam kitab al-Hibah, diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir:

عَنْ عَامِرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ، يَقُولُ : أَعْطَانِي أَبِي عَطِيَّةً ، فَقَالَتْ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ : لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : إِنِّي أَعْطَيْتُ ابْنِي مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً ، فَأَمَرَتْنِي أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا ، قَالَ : لَا ، قَالَ : فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ ، قَالَ : فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ .

Dari Amir, aku mendengar Nu’man bin Basyir r.a bercerita sedangkan ia sedang berada di atas mimbar, ia berkata, “ayahku memberikanku hadiah, kemudian Amrah bin Rawahah (ibuku) berkata: aku tidak ridha hingga engkau menjadikan Rasulullah sebagai saksi.

Kemudian Ayahku mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, ‘sesungguhnya aku memberikan anakku (yang berasal dari Amrah binti Rawahah) sebuah hadiah, lalu dia memerintahkanku untuk menjadikan engkau saksi ya Rasulullah’.

Rasulullah bersabda, ‘apakah engkau memberikan anak-anakmu yang lain hadiah?’ ayahku menjawab, ‘tidak’. Rasulullah bersabda, ‘bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah adil di antara anak-anakmu.’ Nu’man berkata, ‘ayahku kemudian kembali dan menarik kembali hadiahnya (dariku) (HR. Bukhari)

Dalam hadis ini,  Rasulullah menegur sahabatnya yang hanya memberikan hadiah kepada anak lelakinya saja. Tindakan tersebut dianggap sebagai perbuatan yang tidak adil. Perintah adil disampaikan setelah perintah untuk bertakwa kepada Allah. Artinya, perbuatan adil kepada anak-anak termasuk perbuatan yang menunjukkan ketakwaan seseorang kepada Allah. 

Kita harus mengeluarkan titipan itu sesuai aturan Allah. Terkadang permusuhan atau percekcokan timbul karena sikap dan perilaku orang tuanya sendiri (tidak adil).

Kecuali dalam hukum waris, ada aturannya sendiri dari Allah.

Selain kesewenangan materi, ada juga non materi yaitu perhatian, kasih sayang dan pujian. Ketika orangtua membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Yang satu disambut dengan suka cita, dan yang lain dibiarkan (pilih kasih). Dan itu juga menyakitkan untuk anak-anak.

Setiap anak yang memiliki kekurangan, dia juga pasti memiliki kelebihan. Kita tidak tahu yang terjadi di masa akan datang. Bisa jadi anak yang kita anggap kurang, dialah yang akan menjaga dan merawat kita saat berusia senja.

Allah membagi potensi anak berbeda-beda, ada yang diberikan kecerdasan dan adapula yang diberi sifat empati (penuh cinta kasih). Sehingga anak-anak itu harus kita berikan perhatian dan kasih sayang yang sama (adil).

3. Mengabaikan Pendidikan Anak

Sebagian orangtua tidak peduli, apakah anaknya bisa membaca alquran, tidak peduli apakah anaknya paham akidah, dan tidak perhatian apakah anaknya bisa shalat atau tidak.

Sehingga anaknya tumbuh berkembang tidak mengenal allah. Setiap kita adalah pemimpin, setiap kita akan diminta pertanggung jawaban. Nanti di hari kiamat, kita akan ditanya dan diminta tanggung jawab terhadap anak-anak yang Allah titipkan tersebut.

Tanggung jawab laki-laki yang terbesar adalah membimbing dan mendidik keluarganya agar terhindar dari api neraka.

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka”, sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
أدبوهم وعلموهم
“Didiklah dan ajarkanlah mereka (perkara agama).”

Minimal orang tua mengajari anaknya untuk shalat, menghafal surat Alfatiha dan surat-surat pendek. Karena surat-surat tersebut akan dipakai seumur hidup. Agar pahalanya mengalir kepada orangtuanya.

Seharusnya kita yang mengajari mereka shalat dan ibadah lainnya. Kita pikir setelah anak dititipkan di pondok pesantren, itu sudah cukup. Sikap kita ini salah. Kita masih bertanggung jawab dengan perkembangan anak-anak kita.

Kenakalan orang tua adalah membuang anaknya ke pondok, orangtua tidak mau repot dan melepas diri/ cuci tangan dengan anak-anaknya. Mereka pikir pondok itu seperti laundry tempat mencuci dan membersihkan anaknya.

Padahal anak di pondok itu sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Salah satunya, kita bisa memberi mereka surat yang berisi nasehat, motivasi dan ungkapan kasih sayang kepada mereka. Nasehat orang tua dari hati yang tulus dan ikhlas, akan sampai ke hati anak-anaknya dengan izin Allah.

4. Menafkahi anak dengan harta haram

Yang masuk ke tubuh kita, akan mempengaruhi perilaku dan pola pikir kita. Sehingga dalam agama kita yang menjadi salah satu prioritas adalah cara mendapatkan rezeki. Kita diharuskan mendapatkannya dengan cara halalan thoyyibah (halal dan baik).

Halalan artinya barang yang kita makan adalah halal. Thoyyib adalah cara mendapatkannya dengan cara baik (bukan dari hasil korupsi, mencuri dan lain-lain.) Makanya di dalam al qur'an dianjurkan halalan thoyyibah.

Jangan-jangan anak kita nakal, ngeyel dan susah untuk dinasehati, karena yang kita berikan dari harta yang tidak halal dan tidak baik.

HALAL DAN HARAM SUDAH JELAS

عَنِ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (( إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ )). رواه البخاري ومسلم، وهذا لفظ مسلم.

Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya.

Barangsiapa yang menghindari perkara syubhat (samar-samar), maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar, maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki larangan (undang­undang). Ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati. [Diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafazh Muslim].

Keberkahan rezeki sangat mempengahuri terhadap sikap/ perilaku istri dan anak-anak kita. Jadi hiduplah yang lurus-lurus saja.

Tapi hidup di dunia ini banyak godaannya, baik dari dalam dan juga godaan dari luar. Salah satunya godaan dari dalam yaitu anak dan istri.

Surat At-Taghabun Ayat 14:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Mendapatkan rezeki halal itu adalah komitmen suami istri. Jangan sampai anak dan istri sebagai provokator untuk mendapatkan harta haram. Justru anak istrilah  yang memberikan motivasi kepada suami dan ayahnya untuk mendapatkan harta yang halal. Karena pada hakikatnyq, yang paling mahal itu adalah ketenangan diri dan kebahagiaan hati.

Semoga Allah memudahkan dan menghindari kita dari semua keburukan-keburukan dalam mendidik anak-anak kita. Aamiin Allahumma Aamiin.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■


























Comments

Popular Posts