Di Persimpangan Jalan
Bismillah
🔰 Tabligh Akbar🔰
📖 Di Persimpangan Jalan
👤 Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A. hafizhahullah
📆 Sabtu, 3 Safar 1448 H / 18 Juli 2026
🕣 09.30 WIB - selesai
🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Allâh Azza wa Jalla telah menjanjikan bahwa al-Qur’an akan Allah jadikan mudah sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang beriman, termasuk dalam hal memahami kandungannya dan meraih kemuliaan sebagai ahlinya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan atau pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?" [Al-Qamar/54:17]
Agama islam diturunkan sebagai anugerah bagi umatnya, bukan sebagai azab.
Orang yang takut belajar syariat agama (al quran dan sunnah nabi), karena dia takut kehidupannya akan susah dan serba dilarang (harus sesuai syariat yang telah ditetapkan). Ada malahan yang mengatakan jangan bawa-bawa agama dalam urusan ini. Berbagai ragam reaksi dan sikap dilakukannya. Orang semacam ini menjadikan agama sebagai azab dalam kehidupannya.
Seharusnya agama adalah Rahmat, petunjuk dan dapat menyelesaikan masalah hidup kita di dunia ini.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam
diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiya’: 107).
■ Bagaimana cara kita untuk bertahan ketika kita menghadapi permasalahan, terutama masalah ekonomi?
Siapapun yang hidup di dunia ini pasti mengalami permasalahan hidup. Ujian pasti dihadapi oleh setiap orang. Ada yang diuji Allah dari sisi ekonomi, ujian kesehatan, dan segala macam ujian/cobaan.
Sebagian orang mungkin merasakan penuh kesusahan tatkala ia kekurangan harta/ ekonomi susah sehingga membawa pikiran dan merasa hidup tak nyaman.
Padahal ia masih diberi kesehatan, masih kuat beraktivitas. Juga ia masih semangat untuk beribadah dan melakukan ketaatan lainnya. Perlu diketahui bahwa nikmat sehat itu sebenarnya lebih baik dari nikmat kaya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
“Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.”
Banyak nabi hidupnya miskin, tapi sangat sedikit nabi menderita sakit. Hanya Nabi Ayub menderita sakit selama 18 tahun. Sedangkan Nabi yang hidupnya paling miskin adalah nabi Isa.
Cara yang paling mudah bertahan ketika menghadapi permasalahan adalah Fokus dengan nikmat yang ada. Maka akan memotivasi kita untuk selalu bersyukur, selalu merasa bahagia. Ia akan melupakan ujian yang diberikan oleh Allah tersebut.
■ Kisah Abu Qilabah:
Beliau adalah seorang ulama yang selalu memuji Allah, meski dalam kondisi miskin, buta, buntung, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Namun beliau senantiasa bersyukur dan memuji Allah dengan mengucapkan:
الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..
"Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia. Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia."
■Kisah Perang Uhud
Ketika perang uhud beredar berita tentang Kematian Nabi Muhammad. Saat itu yang membawa bendera ketika perang uhud adalah sahabat Mushab bin Umar. Yang menjadi sasaran utama Ibnu Qamiah adalah membunuh nabi Muhammad. Dia berkata aku sdh berhasil membunuh Muhammad. Padahal yang syahid terbunuh adalah sahabat Mushab bin Umar. Para sahabat bingung untuk menepis dusta Ibnu Qamiah.
Nabi Muhammad saat itu bersembunyi di sebuah bukit (cela bukit namanya sahkul mihras) dan para sahabat berjaga di bukit tersebut.
Dalam peristiwa Perang Uhud (berjarak sekitar 3.5 kilometer dari pusat kota Madinah) itu, banyak wanita (ummahat) yang menunggu dengan cemas. Salah satu wanita yang berjaga menanti kabar keselamatan Nabi Muhammad adalah Nusaibah binti Ka'ab, atau yang lebih dikenal dengan julukan Ummu Imarah.
● Kita tidak boleh panik dan harus tenang dalam segala keadaan.
■ Kiat-kiat hidup tenang ketika menghadap kondisi sulit
● Dengan Menguatkan Akidah / Tauhid
Segala sesuatu selain Allah adalah alam, termasuk kita manusia bagian dari alam.
Imam Malik bin Anas, "Tidak akan baik kondisi generasi akhir umat ini, kecuali dengan aturan dan syariat seperti dengan apa yang telah dilakukan dalan memperbaiki generasi awalnya."
■ Latar belakang masyarakat jahiliyah terdahulu.
1. Dimulai dari penguatan akidah.
Bagi orang yang memiliki akidah yang kuat, dia yakin dengan semua ujian Allah pasti ada jalan keluarnya.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah yang berkata, “Ayat yang pertama diturunkan kepada nabi adalah surat Mufashal (dimulai dr surat Qaf sampai An Nas) menjelaskan tentang surga dan neraka. Lalu ketika hati orang-orang semakin meyakini kebenaran Islam, maka turunlah ayat-ayat tentang halal dan haram.
Andaikan sejak semua yang turun adalah ayat seperti ‘Jangalah meminum khamar.’ Maka orang-orang akan berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan kebiasaan meminum khamar selamanya.’ Andaikan yang pertama kali turun adalah ayat ‘Jangan berzina’ maka, orang-orang akan berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan perbuatan zina selamanya.”
■ Karakter dunia itu manis..
Harta dunia itu yang halal dihisab, yang haram diazab. Orang beriman akan membatasi hartanya halal saja, yang penting selamat di akherat kelak.
Para ulama menasehati bagi orang yang merasa ragu, jika hartanya bercampur dengan yang haram, maka diwajibkan baginya berwasiat 1/3 hartanya disedekahkan setelah wafat.
■ Rezeki itu sudah diatur Allah.
Pertama: kita harus sadari bahwa yang hijrah belum tentu hidupnya akan enak dan pasti kaya. Hijrah itu ujian syariat. Ekonomi itu ujian takdir.
Solusi dalam hidup itu tidak langsung diberikan Allah. Allah memberikan prosesnya sampai titik terakhir.
■ Kisah Ibunda Hajar dan nabi Ismail ditinggal nabi Ibrahim di lembah yang tandus (Mekkah).
Ketika Hajar melihat Nabi Ibrahim pulang, maka Hajar segera mengejarnya dan memegang bajunya sambil berkata, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?” Hajar terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semua ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar berkata,
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا
“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Kemudian Hajar mulai menyusui Ismail dan minum dari air persediaan. Hingga ketika air yang ada pada geriba (wadah kulit) habis, ia menjadi haus, begitu juga anaknya. Lalu ia memandang kepada Ismail sang bayi yang sedang meronta-ronta, kemudian Hajar pergi meninggalkan Ismail dan tidak kuat melihat keadaannya.
Maka dia mendatangi bukit Shafa sebagai gunung yang paling dekat keberadaannya dengannya. Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun.
Maka dia turun dari bukit Shafa dan ketika sampai di lembah, dia menyingsingkan ujung pakaiannya lalu berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras, hingga ketika dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana namun dia tidak melihat ada seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah).
Saat dia berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya “diamlah” yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha mendengarkannya maka dia dapat mendengar suara itu lagi, maka dia berkata, “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.”
Ternyata suara itu adalah suara malaikat yang berada di dekat air Zam-zam, lantas malaikat tersebut mengais air dengan tumitnya atau sayapnya hingga air keluar memancar. Akhirnya Hajar dapat minum air dan menyusui anaknya kembali.
Beberapa sahabat juga pernah mengalami ujian. Seperti Ka'ab bin malik pernah diboikot nabi karena tidak ikut dalam Perang Tabuk tanpa alasan yang dibenarkan.
● Ujian Keimanan: Selama diboikot, bumi terasa sempit dan bahkan ada godaan dari penguasa Ghassan (kerajaan Kristen) yang membujuk Ka'ab untuk bergabung dengan wilayahnya. Ka'ab memilih tetap teguh.
● Buah Kejujuran: Berkat keteguhan dan kejujurannya yang luar biasa, Allah akhirnya menurunkan wahyu (Surah At-Taubah ayat 118) yang menyatakan bahwa tobatnya diterima.
■ Kita diuji Allah dengan 2 ujian: ujian syariat dan ujian takdir.
● Ujian Syariat, dengan Mentaati perintah dan larangan Allah.
● Ujian Takdir: Semua kondisi yang kita alami, baik kenikmatan maupun musubah. Misalnya ujian dalam bentuk kekurangsn ekonomi, dan ujian sakit.
Jangan sampai ujian takdir mengalahkan ujian syariat. Kita harus tetap istiqamah dan bertahan untuk Allah. Inilah ujian untuk tetap istiqamah, berhasil atau tidak.
Sejarah itu berulang tapi beda pelakunya. Dia masuk islam tapi tidak serius. Karenanya Jangan sampai menjadi orang munafik.
Surat Al-Hajj Ayat 11:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata."
2. Siapkan Pondasi keluarga yang kuat
Keluarga adalah salah satu faktor untuk menjadi orang baik, terutama istri dan anak. Orang bisa berubah dengan nasehat dari orang lain (ulama/ustadz).
■ Kisah Hasan Al Bashri
Hasan Al Basri berangkat ke Mekkah, kota suci yang penuh dengan keajaiban dan keagungan. Ia datang dengan tujuan untuk menunaikan ibadah haji. Suatu waktu Hasan Al Basri pergi ke pasar untuk membeli baju, tetapi ia malah menemui seorang pedagang kain yang sangat pintar dalam berkata-kata.
Pedagang itu mulai memuji-muji dagangan yang dijualnya dan bersumpah dengan tingkah laku yang tidak sopan. Hasan Al Basri merasa tidak nyaman dengan sikap pedagang tersebut dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pedagang itu dan membeli dari pedagang lain yang lebih terpercaya.
Dua tahun kemudian, Hasan Al Basri kembali menunaikan ibadah haji dan tiba kembali di Mekkah. Di sana, beliau bertemu lagi dengan pedagang kain yang pernah ditemuinya dahulu.
Namun, kali ini pedagang itu tampak berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi memuji-muji dagangan dan bersumpah seperti dahulu. Hasan Al Basri pun heran dan bertanya kepadanya, “Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?” Pedagang itu menjawab, “Iya, benar.
Engkau adalah orang yang pernah meninggalkan dagangan saya di pasar dahulu.” Hasan Al Basri bertanya lagi, “Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!”
Pedagang itu pun menceritakan kisahnya. Ia mengungkapkan bahwa dahulu ia memiliki istri yang sangat tidak bersyukur. Ia selalu merasa kurang dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Namun, setelah Allah mewafatkan istrinya tersebut, ia kemudian menikah dengan seorang wanita yang memiliki sifat Qana'ah.
Pedagang itu menjadi selalu merasa cukup dan tidak perlu memuji-muji dagangan dan bersumpah lagi. Ia mengaku bahwa sifat Qana'ah istrinya baru adalah pengajaran yang sangat berharga baginya.
“Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata, 'Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). “Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain),” tutur sang pedagang.
■ Keluarga hancur karena salah komunitas.
■ Tanya Jawab:■
■ Kalau kamu mempunyai keinginan sesuatu, maka kerjakanlah 2 rakaat selesai shalat wajib yaitu shalat istikharah.
■ Bagaimana kita mengetahui ini petunjuk atau hawa nafsu?
Allah tidak memberikan jawab itu lewat mimpi. Allah tidak memberikan mimpi sebagai tambahan syariat. Namun ketika selesai istikharah, mengalir saja. Apapun setelah itu berarti itu jawabannya.
Abu Hurairah: Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Mimpi ada tiga macam, yaitu: kabar gembira dari Allah, (mimpi yang di sebabkan) dari kondisi kejiwaan, dan rasa takut yang di timbulkan oleh syetan untuk menakut-nakuti."
■ Bagaimana memberikan keyakinan kepada hati agar bisa menghadapi ujian hidup di dunia ini?
Semakin tinggi iman akan semakin tinggi tawakal. Serahkan semua masalah itu kepada Dzat Yang Maha Penguasa dan Meniru semua yang dicontohkan oleh Rasulullah.
■ Kisah Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim saat akan dibakar api yang sangat besar. Nabi Ibrahim ditawari malaikat jibril untuk menyelamatkannya. Dengan tegas Nabi Ibrahim menolak. Beliau menjawab, adapun kepadamu, aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu. Aku hanya membutuhkan Allah."
● Doa Penyerahan Diri: Sebelum dilempar, beliau mengucapkan kalimat agung: Hasbiyallahu wa ni'mal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).
● Mukjizat Allah: Atas kehendak dan kekuasaan-Nya, Allah berfirman mengubah sifat api menjadi dingin dan menyelamatkan nabi Ibrahim. Api yang berkobar hebat itu tidak membakar atau melukai beliau sedikit pun.
Allah akan mencukupi semua urusan orang yang bertawakal kepadaNya.
Allah Berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. [Ath-Thalaq/65 : 3]
■ Apakah benar kita boleh bekerja di instusi haram, dengan alasan agar tidak dikuasi oleh orang non muslimin?
Menjadi seorang Pekerja bank, penarik pajak dan petugas bea cukai harus ditinggalkan. Jangan sampai dituntut pada hari kiamat kelak.
Di hari kiamat, setiap perbuatan zalim akan berbalik menjadi kegelapan, dan pelakunya wajib mempertanggungjawabkannya.
■ Kapan rezeki itu dikatakan habis?
Tidak ada satu jiwa yang mati sampai dia mendapatkan rezeki dan menghabiskan jatah rezekinya. Sekaya apapun manusia, dia tidak akan mampu melampaui rezekinya.
Apa defisini rezeki sebenarnya? Yaitu yang kau makan sampai habis, yang kau pakai sampai rusak, dan yang kau sedekahkan atau infakkan.
Berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta sudah membuat kalian lalai.
Cinta Dunia Lalai Akhirat
اَلْهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُ ۙ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”.
(QS. Al Takatsur ayat 1)
■ Sabar saya masih lemah, tapi kenapa ujiannya semakin berat?
● Siapa yang berat ujiannya?
Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, orang shaleh, dan setelahnya. Ujian itu sesuai kadar imannya.
Posisi kesabaran yang dialami seorang anak adam bertingkat, dan tidak boleh menyimpang dari syariat. Karenanya kita tidak boleh suudzhan dengan diri sendiri.
Kita selalu butuh nasehat dan saran dalam menghadapi ujian, termasuk ulama sekalipun.
Ibnu Qayim mengatakan kekuatan dalam ketabahan itu bertingkat dan berbanding lurus dengan ilmu seseorang.
Maka pandai-pandailah mengatur diri dalam memilih komunitas agar kita dapat bertahan. Karena dengan circle yang baik dapat memberikan solusi dan motivasi kebaikan untuk kita.
Mudah-mudahan Allah memberikan kita taufik, Rahmat, kemudahan dan Semoga Allah memberikan kita keistiqamahan dalam menjalani syariat yang benar dari al quran dan sunnah nabi. Aamiin..
Semoga bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment