Mereka adalah pakaian bagian kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka
Bismillah
๐Kajian Tematik ] MT. Al-Karimah ( Ikhwan dan Akhawat)๐ Hunna Libasul Lakum wa antum Libaasul lahunna (Mereka adalah pakaian bagian kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka)
๐ค Ustadz Abu Ihsan Al Maidany, M.A.hafizhahullah
๐ Kamis, 15 Safar 1448 H / 30 Juli 2026
๐ฃ 09.00 - 11.00
๐ Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Sesungguhnya pondasi dari keterikatan suami istri adalah kebersamaan dan saling mendampingi dalam kebersamaan mewujudkan kasih sayang, perasaan senang dan saling mengasihi. Dan keterikatan seperti inilah yang merupakan keterikatan yang sangat kokoh tanpa batas waktu, seperti hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kepada kita di dalam kitabnya:
َُّูู ِูุจَุงุณٌ َُّูููู ۡ َูุงَููุۡชُู ۡ ِูุจَุงุณٌ ََُّّููู [ุณูุฑุฉ ุงูุจูุฑุฉ، ุงูุขูุฉ: 187]
“…mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka....” [al-Baqarah/2: 187]
Di dalam ayat tersebut Allah menggambarkan hubungan antara suami istri, ibarat seseorang dengan pakaiannya.
Kita mengetahui beberapa fungsi pakaian, diantaranya:
● Pertama: pakaian berfungsi sebagai perhiasan.
● Kedua: pakaian berfungsi sebagai pelindung dari panas dan dingin.
● Ketiga: pakaian berfungsi sebagai kehormatan (menjaga dan menutupi aurat seseorang).
● Keempat: Pakaian adalah kebanggaan (zinah).
Seperti dalam firman Allah dalam surat Al A'raf ayat 31: َٰูุจَِููٓ ุกَุงุฏَู َ ุฎُุฐُูุง۟ ุฒَِููุชَُูู ْ ุนِูุฏَ ُِّูู ู َุณْุฌِุฏٍ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.”
● Kelima: pakaian juga menunjukan status/tingkat kedudukan seseorang. Di surga pun ada pakaian dan berbeda-beda sesuai kedudukannya.
Hunna Libasul Lakum wa antum Libaasul lahunna (Mereka adalah pakaian bagian kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka).
Disini ada satu makna dari firman Allah ini yaitu kemampuan untuk bisa saling apapun di dalam kehidupan berumah tangga.
Saling adalah kemampuan berpikir dua arah. Kita tidak bisa saling, kalau hanya berpikir satu arah saja. Senangnya manusia itu suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Kita tidak bisa hidup lempeng-lempeng saja. Kita harus berpikir dari sudut pandang orang lain, maka akan muncul rasa empati (bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain).
Sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan baik, hendaknya kita bisa memperlakukan orang lain dengan baik terlebih dulu. Orang yang suka memperlakukan orang lain dengan buruk, maka akan mendapatkan hasil yang buruk pula.
Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga dan kematian mendatanginya dalam kondisi dia beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, maka hendaklah dia bersikap kepada orang lain dengan sikap yang ingin dia dapatkan dari orang lain.” (HR. Muslim no. 8442)
Nabi juga mengatakan, Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang tdak memiiliki sikap saling mengerti, dia tidak bisa hidup di dunia ini. Dia akan ditinggal oleh orang lain. Karenanya, tidak ada satu hubungan terjalin dengan baik, tanpa sifat saling.
Jika segala sesuatu dipaksakan menurut pandang kita, dia akan ditinggalkan semua orang. Makanya, jangan memaksakan kehendak kepada orang lain.
Kita itu satu sama lain berbeda-beda, tidak ada satu pun di dunia ini yang sama. Ada beberapa ayat yang menunjukan mengenai ini.
Surat Al-Hujurat Ayat 13:
َٰูุٓฃََُّููุง ูฑَّููุงุณُ ุฅَِّูุง ุฎَََُْٰููููู ู ِّู ุฐََูุฑٍ َูุฃُูุซَٰู َูุฌَุนََُْٰูููู ْ ุดُุนُูุจًุง ََููุจَุงุٓฆَِู ِูุชَุนَุงุฑَُููุٓง۟ ۚ ุฅَِّู ุฃَْูุฑَู َُูู ْ ุนِูุฏَ ูฑَِّููู ุฃَุชَُْٰูููู ْ ۚ ุฅَِّู ูฑََّููู ุนَِููู ٌ ุฎَุจِูุฑٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Dalam beragama pun Allah tidak memaksa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َูุง ุฅِْูุฑَุงَู ِูู ุงูุฏِِّูู ۖ َูุฏ ุชَّุจَََّูู ุงูุฑُّุดْุฏُ ู َِู ุงْูุบَِّู ۚ َูู َู َُْูููุฑْ ุจِุงูุทَّุงุบُูุชِ َُููุคْู ِู ุจِุงَِّููู ََููุฏِ ุงุณْุชَู ْุณََู ุจِุงْูุนُุฑَْูุฉِ ุงُْููุซَْٰูู َูุง ุงِููุตَุงู َ ََููุง ۗ َูุงَُّููู ุณَู ِูุนٌ ุนَِููู ٌ
“Tidak ada paksaan dalam agama; sungguh telah jelas antara jalan kebenaran dari kesesatan. Siapa yang kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia sudah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
Pekerjaan yang paling berat di dunia ini adalah bersabar menghadapi manusia. Sabar itu sendiri terbagi menjadi 3, yaitu: Sabar dalam ketaatan (menaati perintah), sabar dalam menjauhi maksiat (meninggalkan larangan Allah), sabar dalam menghadapi musibah. Dan yang paling berat adalah sabar dalam menghadapi manusia.
Manusia itu menjengkelkan. Allah bercerita di dalam al qur'an. Contohnya: Cuma manusia yang mengaku sebagai Tuhan, saking menjengkelkannya manusia.
Manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. Mereka senantiasa mencari dalih untuk membantah kebenaran ayat-ayat Alquran.
Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Kahf Ayat 54.
َََูููุฏْ ุตَุฑََّْููุง ِْูู ٰูุฐَุง ุงُْููุฑْุงِٰู َِّูููุงุณِ ู ِْู ُِّูู ู َุซٍَูۗ ََููุงَู ุงْูุงِْูุณَุงُู ุงَْูุซَุฑَ ุดَْูุกٍ ุฌَุฏًَู
"Sungguh, Kami telah menjelaskan segala perumpamaan dengan berbagai macam cara dan berulang-ulang kepada manusia dalam Alquran ini. Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah."
Dalam rumah tangga itu terdiri dari 2 manusia yang berbeda (suami istri). Ya, karakter Suami istri itu kodratnya sangat berbeda, maka kewajiban kita untuk saling memahami, saling menerima dan saling apapun.
Kisah Nabi Bangunkan Ali dan Fatimah Untuk Shalat
Ya..Nabi mengatakan itulah manusia, makhluk yang suka ngeyel.
Di dalam rumah tangga, suami istri harus saling bekerjasama dan saling membantu satu sama lain. Karena hidup itu saling memberi dan menerima.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
َูุชَุนَุงَُْูููุง ุนََูู ุงْูุจِุฑِّ َูุงูุชَّْٰูููۖ ََููุง ุชَุนَุงَُْูููุง ุนََูู ุงْูุงِุซْู ِ َูุงْูุนُุฏَْูุงِู َูุۖงุชَُّููุง ุงَّٰููู ุۗงَِّู ุงَّٰููู ุดَุฏِْูุฏُ ุงْูุนَِูุงุจِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-Mรขidah/5:2]
Di antara akhlak Rasulullah yang mulia dalam bermuamalah dengan manusia adalah membalas jasa orang yang berbuat baik kepadanya. Sebagaimana hadits dari Aisyah radiallahu ‘anha:
ูุนَْู ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฑَุถَِู ุงَُّููู ุนََْููุง َูุงَูุชْ: “َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ๏ทบ َْููุจَُู ุงَْููุฏَِّูุฉَ، ُููุซِูุจُ ุนَََْูููุง”. ุฑََูุงُู ุงْูุจُุฎَุงุฑُِّู.
“Dari Aisyah-radiallahu anhu-ia berkata: “Adalah Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-suka menerima hadiah, dan membalasnya”. (HR. Al-Bukhari).
Contoh nyata yang dilakukan oleh nabi adalah berpikir dua arah. Ini juga yang dilakukan oleh istri-istri nabi.
Ketika nabi berada di rumah aisyah. Datanglah hadiah makanan dari istri nabi yang lain. Melihat hal itu aisyah memukul mangkok berisi makanan itu dan akhirnya pecah (berhamburan). Nabi pun berkata sesungguhnga ibu kalian sedang cemburu.
Nabi memaklumi sikap aisyah ini, nabi memberi udzur untuk aisyah. Inilah yang seharusnya sikap yang dilakukan seorang mukmin.
Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
Dalam berumah tangga itu isinya harus saling menasehati. Tidak ada yang tahu dari diri kita (suami), kecuali istri kita. Istri kita akan memberikan nasehat yang paling jujur dan tulus.
Nasehat itu pasti pahit. Kebanyakan istri dibungkam oleh suaminya. Dia hanya bisa diam.
Menerima nasehat itu perlu sabar. Dalam islam itu kita dianjurkan untuk meminta nasehat. Salah satu orang yang empati adalah orang yang menghargai waktu.
Kemampuan bersabar dalam menghadapi gangguan manusia adalah puncak dari kesabaran.
Manusia itu suka berkeluh kesah, manusia itu kurang bersyukur, dan manusia itu suka membantah.
Setiap orang harus berpikir 2 arah saat berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengenalinya, Menerima kekurangannya, dan Menerima takdir buruk yang ditetapkan Allah.
■ Ada 3 level dalam menerima takdir buruk:
1. Level sabar (mau ga mau harus menerimanya).
2. Ridha menerimanya (tidak mempengaruhi dalam ketaatannya).
3. Syukur (meningkat ketaatannya, tingkat husnudzon kepada Allah baik).
Sama halnya dalam berumah tangga, kita harus bersabar dengan pasangan kita. Lebih dari itu, ridha menerima pasangannya.
Jadilah kaum mendang mending supaya bisa bersyukur.
Nabi mengatakan Lihatlah orang yg ada dibawah kita, dan bukan diatas kita.
Karenanya kita tidak boleh membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain. Karena tidak ada orang yang suka dibanding-bandingkan. Jadi dengan begitu keduanya bisa saling menjaga perasaan, saling memahami, saling toleransi, saling mengingatkan dan saling melengkapi.
■ Jika kita berbuat salah, kita maunya apa?
● Dimaafkan
● Diluruskan
● Dimengerti dan dipahami
● Dinasehati baik-baik
Apa yang kalian suka, maka lakukan. Dan sebaliknya apa yang kamu tidak suka, maka jangan kamu lakukan.
Empati itu adalah dasar akhlak (pondasinya). Dari pondasi lahirlah batangnya (tiangnya). Setelah itu barulah muncul rasa peduli kepada sesama. Dan puncak akhlak mulia adalah kemampuan dan kemauan untuk berkorban demi orang lain (mengutamakan orang lain). Begitu juga dalam berumah tangga, kita harus mengutamakan pasangan kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan keutamaan dengan nikmat ini, nikmat berkumpul dengan keluarga, saling memberikan kasih sayang, dan rasa saling terikat.
Semoga Allah memberikan kita Taufik, Rahmat dan HidayahNya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kelak berkumpul bahagia di surga Firdsus bersama-sama. Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
َََูููุฏْ ุตَุฑََّْููุง ِْูู ٰูุฐَุง ุงُْููุฑْุงِٰู َِّูููุงุณِ ู ِْู ُِّูู ู َุซٍَูۗ ََููุงَู ุงْูุงِْูุณَุงُู ุงَْูุซَุฑَ ุดَْูุกٍ ุฌَุฏًَู
"Sungguh, Kami telah menjelaskan segala perumpamaan dengan berbagai macam cara dan berulang-ulang kepada manusia dalam Alquran ini. Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah."
Dalam rumah tangga itu terdiri dari 2 manusia yang berbeda (suami istri). Ya, karakter Suami istri itu kodratnya sangat berbeda, maka kewajiban kita untuk saling memahami, saling menerima dan saling apapun.
Kisah Nabi Bangunkan Ali dan Fatimah Untuk Shalat
Suatu ketika nabi berada di rumah Ali bin abi thalib. Berkumandanglah azan shubuh, nabi membangunkan mereka. Ali berkata, “kami shalat yang wajib saja. Jika Allah menghendaki, pasti kami bangun.”
Setelah itu, beliau mengatakan dengan membaca firman Allah,
ููุงู ุงูุฅูุณุงู ุฃูุซุฑ ุดูุก ุฌุฏูุง
“Manusia itu memang banyak membantah.” (Al Kahfi: 54) (Tafsir Imam Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah)
Ya..Nabi mengatakan itulah manusia, makhluk yang suka ngeyel.
Di dalam rumah tangga, suami istri harus saling bekerjasama dan saling membantu satu sama lain. Karena hidup itu saling memberi dan menerima.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
َูุชَุนَุงَُْูููุง ุนََูู ุงْูุจِุฑِّ َูุงูุชَّْٰูููۖ ََููุง ุชَุนَุงَُْูููุง ุนََูู ุงْูุงِุซْู ِ َูุงْูุนُุฏَْูุงِู َูุۖงุชَُّููุง ุงَّٰููู ุۗงَِّู ุงَّٰููู ุดَุฏِْูุฏُ ุงْูุนَِูุงุจِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-Mรขidah/5:2]
Di antara akhlak Rasulullah yang mulia dalam bermuamalah dengan manusia adalah membalas jasa orang yang berbuat baik kepadanya. Sebagaimana hadits dari Aisyah radiallahu ‘anha:
ูุนَْู ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฑَุถَِู ุงَُّููู ุนََْููุง َูุงَูุชْ: “َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ๏ทบ َْููุจَُู ุงَْููุฏَِّูุฉَ، ُููุซِูุจُ ุนَََْูููุง”. ุฑََูุงُู ุงْูุจُุฎَุงุฑُِّู.
“Dari Aisyah-radiallahu anhu-ia berkata: “Adalah Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-suka menerima hadiah, dan membalasnya”. (HR. Al-Bukhari).
Contoh nyata yang dilakukan oleh nabi adalah berpikir dua arah. Ini juga yang dilakukan oleh istri-istri nabi.
Ketika nabi berada di rumah aisyah. Datanglah hadiah makanan dari istri nabi yang lain. Melihat hal itu aisyah memukul mangkok berisi makanan itu dan akhirnya pecah (berhamburan). Nabi pun berkata sesungguhnga ibu kalian sedang cemburu.
Nabi memaklumi sikap aisyah ini, nabi memberi udzur untuk aisyah. Inilah yang seharusnya sikap yang dilakukan seorang mukmin.
Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
Dalam berumah tangga itu isinya harus saling menasehati. Tidak ada yang tahu dari diri kita (suami), kecuali istri kita. Istri kita akan memberikan nasehat yang paling jujur dan tulus.
Nasehat itu pasti pahit. Kebanyakan istri dibungkam oleh suaminya. Dia hanya bisa diam.
Menerima nasehat itu perlu sabar. Dalam islam itu kita dianjurkan untuk meminta nasehat. Salah satu orang yang empati adalah orang yang menghargai waktu.
Allah Ta’ala berfirman:
َูุงْูุนَุตْุฑِ ﴿ูก﴾ ุฅَِّู ุงْูุฅِْูุณَุงَู َِููู ุฎُุณْุฑٍ ﴿ูข﴾ ุฅَِّูุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง َูุนَู
ُِููุง ุงูุตَّุงِูุญَุงุชِ َูุชََูุงุตَْูุง ุจِุงْูุญَِّู َูุชََูุงุตَْูุง ุจِุงูุตَّุจْุฑِ ﴿ูฃ﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3)
Kemampuan bersabar dalam menghadapi gangguan manusia adalah puncak dari kesabaran.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ุงูู
ุคู
ُู ุงูุฐู ูุฎุงูุทُ ุงููุงุณَ َููุตุจุฑُ ุนูู ุฃุฐุงูู
ุฎูุฑٌ ู
َู ุงูุฐู ูุง ُูุฎุงูุทُ ุงููุงุณَ ููุง ูุตุจุฑُ ุนูู ุฃุฐุงูู
ْ
“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka."
Manusia itu suka berkeluh kesah, manusia itu kurang bersyukur, dan manusia itu suka membantah.
Setiap orang harus berpikir 2 arah saat berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengenalinya, Menerima kekurangannya, dan Menerima takdir buruk yang ditetapkan Allah.
■ Ada 3 level dalam menerima takdir buruk:
1. Level sabar (mau ga mau harus menerimanya).
2. Ridha menerimanya (tidak mempengaruhi dalam ketaatannya).
3. Syukur (meningkat ketaatannya, tingkat husnudzon kepada Allah baik).
Sama halnya dalam berumah tangga, kita harus bersabar dengan pasangan kita. Lebih dari itu, ridha menerima pasangannya.
Jadilah kaum mendang mending supaya bisa bersyukur.
Nabi mengatakan Lihatlah orang yg ada dibawah kita, dan bukan diatas kita.
Abu Dzar berkata,
ุฃَู
َุฑَِูู ุฎَِِูููู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ ุจِุณَุจْุนٍ ุฃَู
َุฑَِูู ุจِุญُุจِّ ุงْูู
َุณَุงِِููู َูุงูุฏُُِّّูู ู
ُِْููู
ْ َูุฃَู
َุฑَِูู ุฃَْู ุฃَْูุธُุฑَ ุฅَِูู ู
َْู َُูู ุฏُِููู ََููุง ุฃَْูุธُุฑَ ุฅَِูู ู
َْู َُูู َِْูููู
“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ู
َู ุตََูุนَ ุฅُِูููู
ู
َุนุฑًُููุง ََููุงِูุฆُูู ، َูุฅِู َูู
ุชَุฌِุฏُูุง ู
َุง ุชَُูุงِูุฆُูุง ุจِِู َูุงุฏุนُูุง َُูู ุญَุชَّู ุชَุฑَูุง ุฃََُّููู
َูุฏ َูุงَูุฃุชُู
ُُูู
“Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.”
● Dimaafkan
● Diluruskan
● Dimengerti dan dipahami
● Dinasehati baik-baik
Apa yang kalian suka, maka lakukan. Dan sebaliknya apa yang kamu tidak suka, maka jangan kamu lakukan.
Empati itu adalah dasar akhlak (pondasinya). Dari pondasi lahirlah batangnya (tiangnya). Setelah itu barulah muncul rasa peduli kepada sesama. Dan puncak akhlak mulia adalah kemampuan dan kemauan untuk berkorban demi orang lain (mengutamakan orang lain). Begitu juga dalam berumah tangga, kita harus mengutamakan pasangan kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan keutamaan dengan nikmat ini, nikmat berkumpul dengan keluarga, saling memberikan kasih sayang, dan rasa saling terikat.
Semoga Allah memberikan kita Taufik, Rahmat dan HidayahNya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kelak berkumpul bahagia di surga Firdsus bersama-sama. Aamiin.
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment