Mendidik Anak di Tengah Tantangan Zaman

Bismillah

🔰 Tabligh Akbar 🔰
📖 Mendidik Anak di Tengah Tantangan Zaman

👤 Syaikh Dr. Imad Bin Yunus Bin Abdul Karim As Sawair حفظه الله (Penerjemah: Ustadz Abu Zaid Cecep Nurrohman, Lc., M.A. حفظه الله)

📆 Ahad, 27 Muharam 1448 / 12 Juli 2026
🕣 09.00 - selesai
🕌 Bertempat di masjid Mu'adz bin Jabal

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Diantara nikmat yang terbesar bagi seorang muslim setelah iman dan islam adalah nikmat Taufik untuk duduk di majelis ilmu. Tidak semua orang diberi kesempatan mendengarkan ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur atas nikmat ini. Semoga ini menjadi sebab bertambahnya ilmu yang bermanfaat, yang kelak berguna untuk dunia dan akherat kita.

Tema yang akan dibahas pada kesempatan kali ini adalah "Mendidik Anak di Tengah Tantangan Zaman".

Anak-anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Disisi lain, mereka adalah ujian yang akan diminta pertanggung-jawaban dihadapan Allah di akherat kelak. Oleh karena itu, tugas orangtua untuk membimbing anak-anaknya sesuai tuntunan al qur'an, sunnah nabi, dan pemahaman salafus shalih. Sehingga menjadi penyejuk hati bagi kedua orangtuanya.

Pertama-tama Syeikh mengawali majelis ini dengan memuji Allah. Beliau memuji Allah Azza wa Jalla Rabb semesta alam dan berdoa kepadaNya. Kita memohon pertolongan kepada Allah dan meminta perlindungan dari semua keburukan.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat) dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat).

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan tempatnya di neraka.

Pada kesempatan kali ini yang akan kita bahas berkaitan tentang anak-anak kita. Bahwasanya pembahasan tentang pendidikan anak, bukan perkara yang sifatnya sekunder dan bukan pula sifatnya pilihan. Perkara pendidikan anak adalah sifatnya primer (utama).

Bahwasanya mendidik anak adalah perintah Rabbul alamin. Allah memerintahkan langsung untuk mendidik anak-anaknya dengan baik, dan diatas akidah yang benar.

Oleh karenanya, nikmat yang besar ini menjadi sebuah pertanggungjawaban yang besar. Allah menetapkan adanya hak dan kewajiban anak. Dan Allah tetapkan anak sebagai ujian bagi orang tua. Bila mereka mampu menunaikan konsekuensi dari titipan nikmat ini sebagaimana yang Allah perintahkan, maka mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Namun, bila lalai dalam menunaikan syukur nikmat ini, maka itu sama saja menceburkan diri pada petaka di akhirat, sesuai kadar kelalaiannya.

Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras.” (QS. At-Tahrim: 6)

Bagaimana Allah memerintahkan untuk membentengi dirinya dan keluarganya dari siksa api neraka.

Karena sebagian kita hanya melihat dan memperhatikan jasadnya saja, tentang makan minumnya, tanpa melihat hati dan agama mereka.

Fenomena saat ini sangat menyedihkan, orangtua hanya terfokuskan mendidik anak-anaknya dalam urusan dunia, bagaimana kehidupan yang nyaman dan memiliki harta yang melimpah.

Setiap kalian pemikul amanah, dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas anak-anaknya. Demikian nabi mengatakan wahai muslim dan muslimah renungi hadist ini dengan baik. 

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dan istri adalah pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka. Dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 5188 dan Muslim no. 1829)

Karenanya, jangan mengira kita hanya akan diminta pertanggung jawaban akan diri kita. Kita juga akan diminta pertanggung jawaban pendidikan anak-anak kita.

Kutipan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
“Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin” adalah pengingat tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah di hari kiamat terkait amanah-amanah yang dititipkan.

Kalau kita sudah mengetahui perkara pendidikan anak adalah perkara yang sangat agung dan akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah. Maka kita harus fokus dalam perkara besar ini (mendidik anak-anak kita).

3 Perkara Dalam Mendidik Anak:

1. Keselamatan Tauhid dan Akidah Anak-anak

Hendaknya setiap ayah dan ibu memberikan perhatian yang besar dalam menanamkan akidah yang benar untuk anak-anaknya. Akidah adalah sumber kehidupan setiap muslim, azas keselamatan dan kebahagiaan dunia akherat.

Hendaklah orangtua bersedih hati, jika anak-anaknya menyimpang tauhidnya (bahkan murtad), melebihi kehilangan makanan minuman (lapar dan haus).

Oleh karena itu, berkaitan dengan hati dan keselamatan dunia dan akherat anak-anak kita. Maka orangtua hendaklah fokus untuk menanamkan tauhid dan akidah yang benar sedari kecilnya.

Bahwasanya kita diciptakan untuk beribadah kepadaNya. Kita bisa mencontoh para nabi, seperti nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar diteguhkan diatas tauhid yang lurus dan benar (dijauhkan dari syirik).

Doa nabi Ibrahim:
رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
Rabbij'al hâdzal balada âminaw wajnubnî wa baniyya an na'budal ashnâm.

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala."

Terkadang kita lalai untuk meminta kepada Allah agar anak-anak kita dijauhi dari dosa syirik, dan meminta iman yang kokoh dan tegak diatas tauhid (keselamatan akidah).

Nabi yakub ketika hendak meninggal dunia, beliau mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk istiqamah diatas akidah yang benar.

Surat Al-Baqarah Ayat 133:
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

Maka wasiat terbaik seorang ayah kepada anak-anaknya adalah agar anak-anaknya istiqamah di dalam beribadah kepada Allah, mengesakan Allah dan tidak berbuat syirik.

Dewasa ini sebagian orangtua lalai dengan akidah anak-anaknya. Apakah akidah mereka sudah lurus atau tidak? Dan anak-anak kita juga tersibuk dengan hp-hp dan media sosial mereka. Para orangtua acapkali tidak peduli dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya.

Maka nabi Muhammad sebagai suri tauladan terbaik. Nabi mengajarkan nilai-nilai kebaikan (menanamkan nilai-nilai tauhid yang benar) dan mengajarkan keimanan yang benar tentang masalah takdir kepada anak-anak sejak kecil.

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

Inilah poin yang pertama, yaitu orangtua harus fokus dalam mendidik dan menanamkan akidah/tauhid yang benar kepada anak-anaknya.

Mari kita renungkan kisah nabi Yusuf dan nabi Yakub. Setelah berpisah hampir 40 tahun antara keduanya. Nabi Yusuf diberi taufik oleh Allah, nabi Yusuf menjadi seorang pemimpin di negara Mesir.

Ketika nabi Yusuf bertemu dengan nabi Yakub. Nabi Yusuf mengatakan Wahai bapakku kenapa kau begitu bersedih setelah berpisah denganku. Nabi Yakub pun menjawab, Wahai anakku: aku bersedih dan khawatir jika kau bertemu dengan orang musyirikin, kau akan masuk kedalam kesyirikan. Jadi kita tidak akan bertemu pada hari kiamat nanti.

Inilah sebagai contoh kecintaan luar biasa nabi Yakub sebagai orang tua terhadap akidah anaknya nabi Yusuf. Beliau khawatir akan keselamatan tauhid anak-anaknya. Karena jika berbeda akidah, kita tidak akan bertemu lagi di hari kiamat nanti.

2. Kewajiban Shalat 5 waktu

Shalat anak-anak kita adalah perkara yang sangat penting. Orangtua harus memperhatikan shalat anak-anaknya di sepanjang siang dan malam. Padahal nabi telah menjelaskan tentang keagungan shalat, benteng dari perbuatan keji dan mungkar. Nabi juga mengatakan yang membedakan antara islamnya seseorang adalah shalatnya.

HADITS JABIR BIN ABDILLAH:
عَنْ جَابِرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ”

Dari Jabir, dia berkata: Aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kekafiran adalah meninggalkan sholat”.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ وصححه الألباني في “الإرواء”، رقم 247

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Para ulama mengatakan kalau ada orangtua yang tidak memerintahkan anaknya untuk tidak shalat, ketika anaknya berusia 7 tahun, maka orangtuanya berdosa. Meski sang anak belum dihisab dan berdosa atas kewajiban shalat tersebut, tapi nabi memerintahkannya.

Kisah luar biasa dinukil oleh para ulama sebagai teladan keteguhan iman (tsabat). Ibnu Abi Fursan (seorang ulama dan ahli ibadah). Beliau pernah ditawan dan disekap di sebuah penjara bawah tanah di wilayah Asqalan (Palestina/Syam) selama 7 tahun.

Meski ditahan di ruang bawah tanah yang gelap gulita tanpa melihat cahaya matahari dan tidak mengetahui pergantian siang maupun malam, beliau tidak pernah sekalipun meninggalkan salat wajib.

Bagaimana kau mengetahui waktu-waktu shalat. Maka beliau mengatakan di depan penjara tersebut, ada sebuah bukit. Dimana ayahku selama 7 tahun menaiki bukit tersebut untuk memberi tahuku setiap masuknya waktu shalat.

Sementara sebagian kita saat ini tidak peduli dan memperhatikan shalat anak-anak kita. Padahal shalat adalah perkara yang sangat besar.

Karenanya beberapa kisah hikmah tersebut, untuk mengingatkan kita sebagai orangtua agar memberikan perhatian khusus dan lebih dalam perkara shalat anak-anak kita.

3. Menanamkan Akhlak yang Mulia

Masalah akhlak adalah perkara yang sangat penting dan fundamental. Bagaimana perilaku mereka, bagaimana ucapan-ucapan mereka dan bagaimana cara anak-anak kita berpakaian. Ini semua adalah tanggung jawab setiap orangtua.

Hendaklah orangtua fokus terhadap akhlak anak-anaknya. Inilah musibah yang sangat besar, ketika orangtua tidak memperhatikan akhlak anaknya.

Orang-orang kufar ingin menghancurkan kaum muslimin dan generasinya, dengan merusak akhlak mereka.

Mereka mengetahui 2 kekuatan kaum muslimin yaitu, pertama: dari sisi keyakinan (memiliki akidah yang benar) dan kedua dari sisi akhlak (memiliki akhlak yang mulia).

Jika kita memiliki akidah yang lurus/ benar dan diatas akhlak yang baik, maka kita akan menjadi umat yang  teratas dan mulia.

Maka hendaklah orangtua untuk menanamkan nilai-nilai akhlak yang mulia kepada anak-anaknya. Setelah menanamkan akidah yang lurus dan benar kepada Allah.

Inilah 3 perkara yang hendaknya kita fokuskan dalam mendidik anak-anak kita.

Selanjutnya Syaikh mengatakan wasilah dalam mendidik anak-anak kita. Terkait sarana-sarana/ wasilah yang dengannya mendidik anak-anak kita di masa sekarang.

Ini bukan perkara yang mudah dalam mendidik anak-anak kita. Karena syahwat masuk kedalam rumah-rumah kita. Pintu-pintu fitnah terbuka lebar dalam kantong-kantong kaum muslimin. Baik fitnah syahwat maupun syubhat.

Namun kita harus yakin dengan janji Allah, tidaklah Allah membebani suatu jiwa seusai kesanggupannya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Berikut Beberapa Wasilah Dalam Mendidik Anak:

1. Poin pertama adalah Isti'ana (Meminta Pertolongan kepada Allah)

Sebagai orangtua, kita diharuskan tidak putus-putusnya meminta pertolongan kepada Allah. Ini adalah sebesar-besar wasilah dalam keberhasilan mendidik anak-anak kita.

Doa untuk anak-anak kita: Ibadurrahman (hamba Allah Yang Maha Pengasih) berdo’a,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)

Shalat sehari 5 waktu, sudah berapa banyak kita mendoakan anak-anak kita. Diantara waktu terbaik adalah berdoa saat sujud. Kita dianjurkan tidak pernah putus meminta kepada Allah untuk kebaikan anak-anak kita.

Jadi poin terbesar adalah senantiasa meminta pertolongan kepada Allah. Sebagian salaf mengatakan ya Allah aku lemah dalam memperbaiki anakku, maka perbaiki anakku untukku.

Yang menggerakan hati seorang anak adalah Rabbul alamin. Karenanya, bangun di malam hari, shalat tahajud, mintalah kepada Allah. Perbanyak doa untuk anak-anak kita, agar Allah memperbaiki mereka. Karena salah satu doa yang mustajab adalah doa orangtua untuk anak-anaknya.

2. Kesabaran

Bersabar dalam mendidik anak-anak kita. Karena sebab terbesar kegagalan dalam mendidik adalah ketidaksabaran.

Jika seseorang ingin mendapatkan buah dalam mendidik anak-anaknya adalah sabar. Maka hendaklah orangtua bersabar dalam  mendidik anak-anaknya.

Allah Ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

Maka diantara bentuk ujian Allah bagi orangtua adalah anak-anak mereka.

Syaikh membawakan kisah nabi Nuh bersabar dalam mendidik anaknya. Meski taufik ditangan Allah. Ketika anaknya hendak tenggelam, nabi Nuh mengatakan wahai anakku naiklah diatas kapal ini. Namun anaknya tidak mendengarkannya dan akhirnya putranya tewas tenggelam. Dan setelah anaknya meninggal dunia, nabi Nuh pun masih meminta dan berdoa agar Allah mengampuni anaknya.

Banyak diantara kita, menginginkan anaknya menjadi penghafal alqur'an. Namun sangat disayangkan, sikap dan ucapannya tidak berbanding lurus dengan kesabaran dalam mendidik anak-anaknya.

Imam Ahmad adalah ulama besar. Siapa dibelakang Imam Ahmad?

Setelah taufik dari Allah,  Ada perjuangan dari seorang ibu Imam Ahmad. Ibunya senantiasa mengajaknya ke majelis-majelis ilmu di waktu shubuh. Alhasil, Jadilah anaknya seorang ulama besar seperti Imam Ahmad.

Kesabaran dalam mendidik anak-anak kita, didalam mengajarkan akidah yang benar, mengajarkan dengan pendidikan yang terbaik.

Setelah memberikan nasehat kepada anak sekali dua kali tidak didengar, janganlah berputus asa. Kita harus selalu bersabar dan terus memberikan nasehat untuk mereka. Jangan sampai kalah dengan kesabaran setan dalam menjerusmuskan anak-anak kita.

Karena di tengah kita ada syaitan yang senantiasa mengintai untuk menjerumuskan anak-anak kita. Sumpah syaitan: Sungguh aku akan memalingkan anak cucu adam.

Qs.surah al-A’raf ayat 16-17:

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

“Iblis menjawab: “karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Syeikh menceritakan ada kisah seorang ayah membersamai anaknya dari ba'da ashar hingga magrib. Sampai jadilah sang anak pengahapal alqur' an dan hadist nabi. Masya Allah

Inilah wasilah terbesar yaitu bersabar dalam mendidik anak-anak kita. Maka kesabaran adalah perkara yang sangat penting dan bersifat umum.

Surat Thaha Ayat 132:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

3. Keteladanan yang baik / Keshalihan Orangtua

Hendaklah orangtua menjadi teladan terbaik bagi anak-anakya. Tidak mungkin seseorang menjadi terbaik bagi anak-anaknya, sedangkan perbuatan kita buruk.

Kita harus menjadi orangtua yang shaleh, agar anak kita juga menjadi anak yang sholeh. Mereka tumbuh dan berkembang sesuai yang dilihat. Jika dia melihat orangtuanya baik, maka anaknya akan tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan.

Jika seorang ibu mencontohkan kebaikan, sang anak akan mencontoh kebaikan ibunya. Maka hendaknya setiap orangtua berusaha mendidik anaknya, dengan ucapan dan perbuatan yang baik. Jangan sampai kita tidak mencontohkan kebaikan tersebut. Sebaliknya, jika orangtua melakukan perkara dalam hal keburukan, maka akan menjadi hujjah sang anak mencontoh perbuatan buruk tersebut.

4. Mendidik dengan beberapa bentuk amal kebaikan

Kita harus berupaya menerapkan contoh amal kebaikan bagi anak-anak kita. Agar mereka tumbuh diatas kebaikan. Sebagian dari kita tidak peduli apa yang dilakukan anak-anaknya.

Maka hendaklah orangtua mengambil amal-amal kebaikan untuk anak-anaknya. Wasilahnya jika kita ingin anak kita menjadi dokter, kita memasukannya ke fakultas kedokteran. Begitupun dalam wasilah amaliah.

Sebagai contoh wasilah amaliah yang dapat dilakukan, Kita membawa anak-anak ke majelis-majelis ilmu, daurah/kajian ilmiah, mengisi waktu liburan sekolahnya dengan membawa mereka umroh, dan lain sebagainya.

Sebuah kisah yang sangat menarik anaknya Al-Mu'tashim dan khalifah Harun al rasyid. Khalifah Harun Al Rasyid memasukan putranya itu ke dalam lembaga pendidikan. Suatu hari Harun al rasyid melihat putranya berjalan sendiri. Beliau pun bertanya: dimana teman-temanmu? Anaknya pun menjawab: Semua temanku mati karena beratnya lembaga pendidikan ini. Akhirnya Harun al rasyid memberhentikan anaknya dari lembaga pendidik tersebut.

Ketika Al-Mu'tashim menjadi khalifah menggantikan ayahnya yang telah wafat. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Ia pun mengatakan ini semua karena kecintaan orangtuaku menjadikan aku seperti ini.

Maka hendaklah orangtua mengambil wasilah dalam pendidikan anak-anaknya. Memiliki perhatian lebih dalam mendidik mereka. Karena ingat pendidikan terhadap anak adalah tanggung jawab orangtua.

Bagaimana Allah menjaga warisan untuk 2 orang anak yatim. Karena kedua bapaknya adalah orang shaleh.

Sebagaimana kisah tersebut diabadikan dalam Al Qur’an QS Al Kahfi ayat 82:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحا

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh.”

Ketika anak yang shaleh diupayakan oleh orangtua, Maka keshalehan sang anak akan bermanfaat bagi orangtuanya. Mereka akan mendapatkan kebaikan dan pahala yang terus mengalir dari anaknya.

5. Menggunakan media sosial yang ada untuk mengajarkan kebaikan bagi anak-anak

Pada hari ini kita tidak akan bisa lepas dari perkembangan teknologi, dan informasi dari dunia maya. Baik dari media sosial berupa facebook, twitter, instagram, tiktok dan lain-lain. Semuanya ada di tengah-tengah kita.

Kata syaikh, Percayalah padaku. Ketika kita melihat ada sisi mudharat/ keburukan yang besar membersamai anak-anak kita. Bahwasanya mengambil hp dari tangan-tangan mereka bukanlah perkara yang mudah dan bukanlah solusi.

Yang paling penting adalah mengarahkan anak-anak kita untuk mensyukuri nikmat hp ini. Dengan menggunakannya untuk kebaikan. Orangtua senantiasa memantau dan mengarahkan anak-anaknya dalam hal kebaikan.

Makanya orangtua punya andil dan peran agar anak-anaknya baik dalam bermedia sosial. Disana juga ada aplikasi yang bermanfaat, bisa menjadi sarana mendidik anak kita. Misalnya: Aplikasi menghafal alqur'an, aplikasi belajar agama, dan aplikasi bermanfaat lainnya.

Disamping itu juga, Adanya keseimbangan antara ancaman dan motivasi/ penghargaan dalam mendidik buah hati kita.

Hendaknya kita membangun jembatan, dengan hati kita, dengan lemah lembut, dan ucapan yang baik. Bagaimana pentingnya unsur kelembutan dalam diri seseorang, sebagaimana Allah mengajarkannya kepada nabi Muhammad.

Bahwasanya rahasia terbesar dari nabi Muhamad dalam mendidik para sahabat adalah kesabaran dan kelembutan dari nabi.

Allah ta’ala telah menyebutkan dalam salah satu firman -Nya:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah -lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. [al-Imran/3: 159]

Inilah rahasia bagi orangtua adalah dalam mendidik anak-anaknya, yaitu dengan kelemah lembutan dan penuh cinta kasih.

Syeikh pun menutup majelis ini dengan doa. Agar setiap kita memiliki pasangan shaleh/ shaleha, dan memiliki anak keturunan yang menjadi penyejuk mata.

Mudah-mudahan Allah memberikan kita taufik. Dan mempertemukan kita di hari akhir nanti, di surgaNya Allah kelak sebagaimana kita bertemu di hari ini. Aamiin.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts