Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan
Bismillah
Kajian Islam IlmiahUntuk Umum - Ikhwan dan Akhwat
Masjid Al - Fursan Jatiasih
MT Baabulkhairaat Kota Wisata
📚 Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan
Bersama Ustadz Maududi Abdullah Lc
Hafidzahullahu ta'ala
📆 Rabu 5 Agustus 2026/ 22 Safar 1448H
🕤 09.30 ( Waktu Dhuha - Selesai )
🕌 Masjid Al-Fursan
Jalan raya parpostel 102 Jatiasih
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Jadilah hamba yang pandai bersyukur dalam segala hal dan keadaan. Karena kebanyakan manusia tidak pandai bersyukur.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Itulah keadaan kita dan itu nyata, sedikit yang mau bersyukur. Telah banyak diberi nikmat malah dikata masih sedikit dan kurang. Padahal sebaik-baik hamba adalah yang mau bersyukur baik yang diberi sedikit atau pun banyak. Ini petanda orang yang ada di muka bumi ini, orang yang tidak pandai bersyukur.
Maka jadilah orang asing di tengah mayoritas kebiasaan manusia. Dan bukankah kita diperintahkan nabi dalam hadistnya. Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara (orang yang melewati jalan). Karenanya, tidak ada syariat Allah dan yang nabi ajarkan salah.
Meraih husnul khatimah adalah cita-citanya orang yang beriman. Bukan bersifat mutlak dunia, akan tetapi keselamatan agamanya.
Jika cita-citanya hanya berhenti di dunia saja, itu hanya kesia-sian, tidak berguna untuk akheratnya.
Oleh karena itu, orang beriman mengidamkan keberkahan dalam usianya, berkah dalam hartanya, hati yang bahagia, hati yang tenang dalam keridhaan Allah serta kebaikan dunia dan akheratnya.
Orang beriman yang istiqamah dalam ketaatan dan meninggalkan semua yang dilarang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat kelak. Sebagaimana hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”
Adapun cita-cita akherat tidak ada khilaf dari satu mukmin pun. Dia ingin mendapatkan Rahmat Allah, Mendapatkan keselamatan di padang masyar, Dijauhi dari NerakaNya Allah, diselamatkan saat melintasi Sirath, Mendapatkan surga tertinggi yaitu Surga Firdaus. Ya..ini salah satu cita-cita orang beriman adalah wafat diatas Husnul Khatimah.
Agama Allah ini adalah agama yang padu, tidak bisa dipisahkan, saling berkaitan, bagai satu bangunan yang utuh, tidak bisa berdiri sendiri, saling mengokohkan satu sama lain.
Jika kita berbicara tentang husnul khatimah, berarti kita harus mengetahui dan menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan Allah.
Kita akan memperbanyak berbuat kepada manusia, memperbanyak menuntut ilmu, dan memperbanyak infaq & sedekah.
Bagi siapa saja yang mendambakan kebaikan akherat, maka dia akan serius untuk mendapatkan husnul khatimah. Akhir kehidupan yang baik, diatas ketaatan, diatas ridha Allah, maka setelahnya adalah kebaikan.
Oleh karena itu, husnul khatimah adalah cita-cita seorang mukmin dan ketakutannya mati suul khatimah.
Husnul khatimah adalah Penilaian Allah kepada seorang hamba siapa dia yang sebenarnya, yang Allah wujudkan di akhir hayatnya. Kalau dia orang shaleh dia akan wafat di atas keshalehannya dan sebaliknya jika dia bukan orang shaleh, dia akan wafat diatas keburukan.
■ Ada 2 penilaian di dunia ini:
1. Penilaian manusia terhadap kita.
2. Penilaian Allah terhadap kita.
2 penilaian ini bisa sama dan bisa berbeda. Manusia bisa memandang kita orang shaleh, Allah pun menilai kita sebagai orang shaleh dan berlaku sebaliknya, Allah dan manusia menilai kita orang yang tidak shaleh. Ada juga pendapat, manusia menilai kita shaleh, namun Allah menilai kita sebagai hamba yang munafik (tidak shaleh).
Sebagaimana hadist nabi: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.”
Bukan berarti kita melakukan amal kebaikan disaat usia tua. Itulah kenapa kematian itu dirahasiakan oleh Allah, agar kita selalu berusaha untuk tetap istiqamah menjadi hamba yang bertakwa.
Surat Ali ‘Imran Ayat 102:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."
■ Bagaimana wafat diatas keshalehan? Cara nya adalah dengan istiqamah, yaitu:
1. Istiqamah diatas ketaatan.
2. Istiqamah meninggalkan kemaksiatan.
Allah menjanjikan surga bagi orang yang istiqamah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 30:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
Saat kematian orang mukmin, ia akan diperlihatkan neraka, setelah itu diperlihatkan surga. Maka dia senang dan ingin cepat-cepat bertemu Allah.
Jika dia seorang Mukmin, maka kalimat yang dia dengar dari malakul maut adalah :
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ
"Wahai nafs (jiwa, ruh, nyawa) yang baik, keluarlah menuju ampunan Allâh dan keridhaan-Nya !"
Sebaliknya, jika dia seorang yang kafir, maka kalimat yang dia dengar dari malakul maut adalah :
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ
“Wahai nafs (jiwa, ruh, nyawa) yang keji, keluarlah menuju kemurkaan Allâh dan kemarahan-Nya !"
Sifat kita adalah karakter yang dilakukan setiap harinya. Berharap sifat itu adalah diatas ketaatan dan kebaikan.
Allah menguji siapa hamba yang benar-benar mencari ridha Allah. Salah satu sahabat yang diuji adalah Abdurrahman Bin Auf.
Saat tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah, Abdurrahman bin Auf datang tanpa membawa harta karena kekayaannya ditinggal atau disita kaum Quraisy. Ia menolak tawaran setengah harta dari saudaranya dari kaum Anshar, Sa’ad bin Ar-Rabi’, dan memilih berkata, "Cukup tunjukkan kepadaku di mana pasar."
Maka jalan untuk husnul khatimah adalah istiqamah. Terdapat kebaikan yang luar biasa dari Allah untuk hambaNya. Allah bahagia dan senang kalau kita selamat. Allah juga bergembira dengan taubat hambaNya.
■ Kenapa Nilai seorang hamba diberi saat akhir?
1. Agar orang yang maksiat gampang bertaubat.
2. Agar orang yang terlalu banyak berbuat maksiat tidak terlalu sedih dengan masa lalunya.
Surat Al-Furqan Ayat 70:
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
■ Manfaat Penilaian saat akhir hidup untuk orang yang taat adalah:
1. Tidak sombong dan tidak memandang orang sebelah mata. Maka, Janganlah jadi orang sombong.
Orang yang sholeh tidak akan pernah menilai dirinya orang sholeh, karena dia tidak khawatir dengan akhir hidupnya.
2. Agar tetap istiqamah diatas ketaatan.
● Kalau kita dikabarkan pasti masuk surga, apakah kita akan terus berbuat baik? Itulah kenapa Allah merahasiakannya, karena iman kita tidak kuat (rapuh).
● Kenapa para sahabat diberi tahu? Karena iman mereka tidak akan goyah lagi. Walau mereka sudah tahu Allah menjanjikan mereka mendapatkan surga.
Sebagaimana nabi kita selalu meminta pertolongan kepada Allah dalam perjuangannya menegakkan islam di muka bumi ini.
Untuk istiqamah kita butuh bantuan orang lain, kita butuh teman yang mengingatkan dan menguatkan. Carilah teman-teman yang shaleh, tinggalkanlah teman-teman buruk dan masa lalu yang jelek.
Bertemanlah dengan orang-orang yang bertakwa dan memiliki akhlak yang baik, orang yang cerdas dan menunaikan janji-janjinya.
Karena sahabat buruk akan memberikan kebiasaan buruk.
Salah satu kisahnya adalah Kisah Firaun dan Haman. Kisah ini diabadikan di dalam Al-Qur'an, menggambarkan bentuk persahabatan yang buruk. Seorang penguasa yang melampaui batas dan menteri kepercayaannya yang menjadi provokator, penjilat, sekaligus arsitek maksiat yang mendukung kekufuran secara total.
Berkumpul dengan teman yang baik juga harus bersabar dengan sifatnya. Karena dia seorang manusia walau dia adalah orang shaleh.
Nabi Muhammad bersabda:
“ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ، وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
"Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka."
Hidup di dunia ini tidak semuanya harus sesuai yang kita harapkan. Terkadang kita harus menjalani skenario hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
■ Beberapa Ayat Allah yang membicarakan tentang husnul khatimah.
Doa orang shaleh agar diwafatkan diatas ketaatan.
Surat Ali ‘Imran Ayat 191:
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
Surat Ali ‘Imran Ayat 193:
رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ
" Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti."
Surat Ibrahim Ayat 27:
يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki."
Surat Yusuf Ayat 101:
۞ رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِى مِنَ ٱلْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِى مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ
"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh."
■ Bagaimana Wafatnya para sahabat nabi?
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
Mengalami sakit demam tinggi selama kurang lebih 15 hari di akhir hayatnya.
2. Utsman bin Affan
Dibunuh saat sedang berpuasa dan duduk tenang membaca Al-Qur'an.
3. Ali bin Abi Thalib
Diserang dan ditikam dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam. Peristiwa tersebut terjadi saat beliau bersiap-siap dan berjalan keluar rumah untuk menunaikan salat Subuh di Masjid Kufah.
Kita boleh iri dengan guru-guru dan sahabat kita yang mati husnul khatimah diatas kebaikan.
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”
Rangkaian usaha besar kita untuk tetap beramal ibadah dan wafat diatas ketaatan. Karena istiqamah adalah jalan menuju husnul khatimah.
■ DIANTARA TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH:
1. Mengucapkan kalimat syahadat saat datangnya ajal.
2. Meninggal dalam keadaan kening berkeringat.
3. Meninggal pada malam Jum’at atau siang harinya.
4. Mati syahid di medan perang
5. Mati dalam berperang di jalan Allah.
6. Mati karena wabah penyakit.
7. Mati karena sakit perut
8. Mati tenggelam dan terbakar
9. Meninggalnya seorang wanita yang melahirkan anaknya di saat nifas.
Semoga kelak saat kematian kita tiba, saat itu adalah hari terbaik kita. Mati diatas husnul khatiman. Aamiin..
Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Comments
Post a Comment