Step by Step Menghadapi Masalah

Bismillah
Kajian Al Fursan

🎙️ Ustadz Abdurrahman Zahier
Hafizhahullahu Ta’ala
🌀 " Step by Step Menghadapi Masalah "
📆 Selasa 11 Agustus 2026
27 Safar 1448 H
⏰ Jam 13.00

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

*Step by Step Menghadapi Masalah*

Tentu sebagai seorang yang beriman, sebagai seorang manusia, kita harus tahu kita memilikii DNA berdampingan dengan masalah. Selama kita hidup di dunia ini pasti ada masalah. Jadi sangat salah statement yang mengatakan "Menghadapi masalah tanpa masalah".

Tidak ada dari kita yang terlepas dari masalah. Misalkan ada orang miskin, terus Allah kaya kan. Bukan berarti dia terlepas dari masalah, akan tetapi dia akan menghadapi masalah yang baru setelah menjadi kaya.

Contoh lain: anaknya tidak sholeh, setelah itu Allah sholehkan anaknya. Apakah selesai masalahnya? Tentu tidak, namun kita dituntut untuk bersyukur dengan keshalehan anak tersebut.

Jadi kehidupan kita adalah dari masalah satu ke masalah selanjutnya.

Allah mengatakan kalian manusia akan terus tertatih-tatih sampai kalian berjumpa Allah.

Surat Al-Insyiqaq Ayat 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya."

Jadi jangan pernah berpikir hidup tanpa masalah. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyampaikan bahwa orang yang berakal sehat tidak mungkin lepas dari permasalahan, dan hanya orang gila saja yang hidupnya bebas dari beban serta masalah.

■ Beberapa Step by Step Menghadapi Masalah:

1. Kesadaran bahwa kita akan berdampingan dengan masalah.

Ketika kita dihidupkan pasti dipaketkan dengan masalah. Kita berpindah dari masalah satu ke masalah lain. Selesainya masalah adalah saat kita mencapai surgaNya Allah kelak.

2. Pengakuan kita ini makhluk (manusia yang lemah )
Surat Al-Ma’arij Ayat 19:
۞ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir."

Imam as-Sa'di rahimahullah mengatakan manusia itu lemahnya dari segala sisi. lemah dari tekad, lemah dari sisi keyakinan, lemah dari pendirian, dan lemah dari keilmuan. Tujuannya agar ia senantiasa menyadari ketergantungannya kepada Allah Ta'ala.

Jadi Allah memberikan masalah agar kita tahu kalau kita adalah makhluk lemah. Siapa yang kenal dirinya, maka dia kenal Tuhannya. Siapa yang mengenal dirinya sangat fakir, maka dia akan mengenal Tuhannya yang Maha Kaya.

Siapa yg mengenal dirinya miskin, maka dia mengatahui Allah Maha mencukupi.

Allah berbeda dengan makhluknya. Manusia tidak akan pernah sama dengan KhalikNya. 

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-Syura ayat 11,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ…

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat."

Jadi tahapan pertama dalam menghadapi masalah adalah bukan mencari kambing hitam. Misal: anaknya nakal, kita menyalahkan pasangan, atau menyalahi guru di sekolahnya. Tapi yang Allah perintahkan adalah menyalahkan diri kita sendiri.

Sebagaimana Firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Maka, dia tidak akan mencari benang merah dari orang lain. Dia akan berpusat dengan dirinya sendiri. Kebanyakan permasalahan karena masing-masing saling tunjuk (tidak mengakui kesalahan). Betapa sering masalah selesai dengan kata maaf (pemintaan maaf dari salah satu pihak).

DNA penuntut ilmu adalah meminta maaf. Jangan menyalahkan orang lain, tunjuk diri kita sendiri, dan butuh jiwa yang besar untuk mengakui kesalahan diri.

Fudhail bin lyadh rahimahullah berkata:
"Tatkala aku melakukan maksiat kepada Allah maka aku akan melihat akibatnya pada perubahan perilaku kendaraan ku, pelayanku, istriku dan tikus di rumahku".

Itu semuanya salah kita. Jangan pernah menyalahkan orang lain, itulah sebabnya masalah kita tidak terurai. Seringnya terjadi silent treament dari masing -masing pihak. Sehingga menyebabkan masalah kecil menjadi besar dan masalah tidak menemukan jalan keluarnya. Seharusnya kita harus Muhasabah dan intropeksi diri.

Untuk sakit fisik saja kita rela untuk MCU (medichal check up) ke Malaysia, Singapura dan jepang untuk mengetahui diagnosa penyakit didalam tubuh kita.

Kita dilarang merasa suci karena Allah tahu siapa hambaNya  yang benar-benar bertakwa.

Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal” 

Siapa yang ditanya Allah pada hari kiamat nanti, pasti akan diazab. Karenanya kita disuruh berdoa untuk dihisab yang ringan.

Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ًمَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاء

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah juga menurunkan obatnya.”

Nabi mengatakan ada 2 penyakit yang tidak bisa disembuhkan yaitu penyakit tua dan maut yang tidak  bisa diobati.

Salah satu penyakit yang sulit diobati adalah penyakit yang dimiliki oleh orang yang tidak sadar kalau dia sakit. Dia tidak akan mendengar apa kata orang, karena dia tidak sadar kalau dia sakit, Contoh: penyakit kejiwaan seperti Bipolar, dan NPD.

Apalagi penyakit hati ini sulit untuk diobati, jika orang yang memilikinya tidak sadar kalau dia sakit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَاا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya, jika seorang mukmin melakukan sebuah dosa, muncullah di dalam hatinya sebuah titik hitam. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristighfar, hilanglah titik hitam tersebut dari hatinya. Jika dosanya bertambah, bertambah pula titik tersebut sampai menutupi seluruh hatinya.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم

“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat. Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa. Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia. Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.”

3. Ridho tehadap takdir dalam menghadapi masalah.

Ungkapan ridha Allah dijelaskan dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 191:
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Kita tidak perlu mencari tahu hikmah dibalik masalah yang dihadapi. Yang Allah tugaskan adalah kita menjadi hamba bertakwa.

Allah menilai prosesnya, namun kita terlena dengan janji hasilnya. Yang Allah inginkan adalah takwa. Jalan keluarnya adalah dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Surat At-Talaq Ayat 3:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."

Tujuan dari masalah adalah supaya kita pulang (kembali kepada Allah).

Surat Al-Ahzab Ayat 21:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Surat Al-An’am Ayat 42:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri."

Kesombongan menghancurkan segala hal dan Allah akan hancurkan orang-orang yang sombong di muka bumi ini.

Sebagai contoh Raja Namrud mati karena  seekor lalat. Lalat masuk ke dalam rongga hidung hingga menembus kepalanya.

Ini menunjukkan bagaimana Allah merendahkan penguasa sombong yang mengaku sebagai Tuhan dengan perantara makhluk kecil berupa lalat. Itu karena kesombongannya.

Kenapa Fir'aun di zaman nabi Musa mengaku sebagai Tuhan? Fir'aun mengaku sebagai tuhan (Ana Rabbukumul A'la) karena kesombongannya.

Jarak kita dengan kesombongan sangatlah dekat. Kenapa sebagian salaf menangis jika tidak sakit beberapa waktu lamanya? Mereka menangis jika tidak pernah sakit karena takut hal itu tanda Allah berpaling. Mereka menganggap sakit adalah cara Allah menegur dan menghapus dosa. Jika badan selalu sehat, mereka cemas Allah melupakan mereka dan membiarkan mereka dalam kelalaian dunia.

Dalam bala itu ada kenikmatan. Kenikmatan islam, kenikmatan bermunajat kepada Allah, kenikmatan sujud-sujud panjang, kenikmatan khusyuk dan kenikmatam berdoa kepada Allah. Itu adalah hasil kiriman dari bala.

Kisah Urwah bin Zubair, seorang tabi'in besar dan anak dari sahabat Zubair bin Awwam serta Asma binti Abu Bakar. Beliau mengucapkan kalimat yang sangat indah saat diuji kehilangan kaki yang diamputasi dan anaknya secara bersamaan: "Ya Allah, dulu aku punya empat anggota tubuh, Engkau ambil satu dan sisakan tiga. Dulu aku punya anak tujuh, Engkau ambil satu dan sisakan enam. Jika Engkau mengambil, Engkau pun telah banyak memberi."

Seperti kita selama satu tahun (365 hari), berapa tahun kita sakit? Dibanding kita sehat. Karenanya kita harus banyak bersyukur. Apa yang Allah berikan lebih banyak daripada yang Allah ambil.

Nabi dan rasul adalah manusia yang paling berat cobaannya. Tapi mereka adalah orang yang paling bahagia di dunia ini dan akherat kelak.

■ Kisah Bilal diarak oleh anak kecil.
Ketika status keislaman Bilal diketahui oleh majikannya yang kejam, Umayyah bin Khalaf. Bilal mengalami berbagai penyiksaan berat agar ia kembali menyembah berhala. Salah satu metode penyiksaan yang dilakukan adalah menyerahkan Bilal kepada anak-anak kecil kaum kafir Quraisy.

Diarak Keliling Makkah: Umayyah bin Khalaf mengikat leher Bilal dengan tali, lalu menyerahkan ujung tali tersebut kepada anak-anak kecil yang nakal.

Nabi tidak pernah berhenti dalam berdakwah saat ditolak oleh kaum kafir Qur'aisy.

4. Cari Ketenangan dengan Berzikir

Satu-satu sumber ketenangan adalah berdzikir kepada Allah. Sehingga saat gelisah, kita perbanyak dzikir, bukan mikir.

Allah Maha mengetahui masa lalu dan masa yang akan datang, karenanya masalah ga usah dipikiri, tapi penuhi dengab zikir dan penuhi hati dengan istighfar.

Istighfar adalah kunci pembuka dalam menghadapi masalah. Zikir yang diucapkan paling rutin oleh nabi minimal 100 kali setiap harinya.

Surat Nuh Ayat 10:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun."

Istighfar pelancar rezeki, memperbanyak anak.

Sebagaimana Hasan al-Bashri selalu menyarankan agar manusia memperbanyak istighfar untuk menyelesaikan berbagai masalah hidup, seperti kemarau, kemiskinan, atau belum punya anak. Saat ditanya mengapa ia selalu memberi jawaban yang sama, ia menjawab bahwa itu bukan dari dirinya, melainkan dari firman Allah dalam Surat Nuh ayat 10-12.

Maka beruntunglah hamba yang catatan amalnya banyak kalimat istighfar.

Istighfar menghadirkan ketenangan. Kunci ombak kehidupan adalah dengan ketenangan.

Kisah penenang jiwa di Gua Tsur terjadi saat Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy. Ketika para pengejar berada sangat dekat hingga kaki mereka terlihat dari celah gua, Abu Bakar merasa cemas bukan untuk dirinya, melainkan keselamatan Nabi.

Rasulullah lalu menenangkannya dengan ucapannya: "La tahzan, innallaha ma'ana" (Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita) yang diabadikan dalam QS. At-Taubah ayat 40.

Wanita itu butuh ketenangan. Rumah itu tempat ketenangan bagi seorang wanita.

Dalam surat Q.S. Ar-Rum: 21, Allah berfirman agar manusia mendapat ketenteraman (sakinah) melalui pasangan hidup yang diciptakan dari jenis mereka sendiri, lengkap dengan rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Rumah tangga yang ideal berfungsi sebagai tempat kembali yang damai bagi suami dan istri.

Kisah Ummu sulaim dipuji sebagai wanita tenang (teladan sabar yang luar biasa). Ketika anaknya abu umair meninggal, beliau tenang.

Ia menyembunyikan duka, merawat jenazah anak, berdandan cantik, melayani suaminya (Abu Thalhah) dengan tenang, lalu menyampaikan berita duka itu dengan bijak menggunakan perumpamaan titipan. Nabi pun Mendengar kisah ini, nabi mendoakan keberkahan bagi malam mereka berdua, yang kemudian dikaruniai keturunan mulia.

Sebaliknya, gegabaah itu memperumit masalah, dan kepanikan itu menambah masalah baru.

Ada kaidah untuk mendapatkan ketenangan yaitu menimalisir segala potensi untuk tidak melihat yang membuat kita tidak dekat dengan Allah.

Mengkonsumi makhluk adalah penyakit, namun sebaliknya mendekatkan diri kepada Allah adalah solusi ketenangannya.

5. Bermusyawarah

Kita diciptakan tidak sendiri. Kita butuh diskusi dan pendapat dari orang lain.

Rasul sangat layak untuk tampil. Semua bisa diputuskan sendiri, namun dalam perang uhud nabi bermusyawarah. Nabi mengikuti hasil vooting dalam hasil musyawarah.

Musyawarah adalah karakter gentle orang beriman. Yang tidak menjalani hasil musyawarah berarti khianat (was-was syaitan). Kebaikan itu ada dalam musyawarah.

● Musyawarah itu dengan orang berilmu. Bertanya dengan orang yang tepat. Jangan bertanya dengan orang yang salah.

● Istikharah adalah kecondongan hati.

6. Eksekusi tindakan dalam menghadapi masalah dengan isti'anah (bergantung hanya kepada Allah).

Bergantunglah dengan yang Allah ridhai. Berobatlah, meminta tolong kepada Allah dan meminta keberkahan dalam perkara tersebut.

Contoh: Organ tubuh seperti ginjal atau usus kita hika tidak berfungsi. Maka tubuh kita akan sakit. Ini semua kebesaran Allah, semuanya Allah yang atur. 

Berharaplah pahala terhadap apa yang dijalani. Sebagaimana Ibunda Siti Hajar mencari air untuk anaknya Ismail. Padahal airnya tidak keluar dari safa dan marwah. Poinnya adalah sa'i adalah untuk mendapatkan pahala.

Ibnu qayim mengatakan kenapa 7 kali putaran dalam sai, karena jika lebih dari 7,  ibrahim akan meninggal.

Maka Bertakwalah semaksimal kalian. Allah melihat kita dari prosesnya, bukan dari hasilnya.

7.  Tawakal kepada Allah.

Tawakal kepada Allah adalah berserah diri sepenuhnya setelah berusaha dengan maksimal. Proses rangkaian dalam menghadapi masalah melibatkan niat yang benar, ikhtiar, sabar, dan ridha. Kebahagiaan orang beriman lahir dari keyakinan bahwa setiap keputusan dan takdir Allah adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Demikianlah catatan indah tentang step by step menghadapi masalah. Mudah-mudahan bermanfaat. Allaahul Musta’aan wa ‘alaihi tuklaan.

Semoga Bermanfaat
Ummu Aisyah
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Comments

Popular Posts